
Kilauan cahaya mentari pagi masuk melalui celah-celah tirai jendela, terasa hangat ketika menyentuh pipi Elizabeth.
Gadis itu pun lekas membunyikan lonceng kecil yang ada di atas nakasnya guna memanggil pelayan. Di goyangkan nya lonceng itu sebanyak dua kali.
Cring~ Cring~
Tak lama kemudian seorang pelayan masuk membawakan Elizabeth air untuknya mencuci muka beserta handuk.
"Apa ada sesuatu yang ingin anda makan untuk sarapan pagi, Nona?" tanya pelayan itu.
"Ayah ku, apakah beliau sudah sarapan pagi?"
"Count Swan sudah pergi sejak pagi buta, Nona. Beliau bilang ada urusan bisnis mendadak diluar kota."
Eliza meletakkan handuk basah yang sudah ia pakai kembali ke nampan, "Hmm.. Kalau begitu bawakan aku dua telur rebus dan segelas susu hangat. Aku ingin sarapan di kamar saja."
"Baik, Nona." kata pelayan itu seraya mengambil kembali air dan handuk yang sudah selesai digunakan oleh Elizabeth.
Beberapa menit kemudian sarapan yang diminta nya pun datang. Leila yang membawakan nya. Beserta sepucuk surat.
"Ini bukan stempel dari kediaman Grand Duke, apa anda punya teman baru lagi, Nona?" ucap Leila pada Eliza yang baru saja menyelesaikan sarapan nya.
"Bukan dari Grand Duke?" kata Eliza sembari menautkan kedua alisnya, kemudian membuka amplop surat itu.
Dear, Lady Elizabeth Swan.
Perkenalkan saya adalah Regina Meyer, putri kedua dari Duke Meyer.
Maaf atas ketidaksopanan saya karena mengirimi anda surat tanpa pernah bertegur sapa dengan anda sebelumnya.
Namun ketika melihat anda di pesta perayaan panen raya, saya benar-benar terpukau dan saya berniat untuk bisa akrab dengan anda.
Jika anda berkenan, maukah Lady menghadiri acara minum teh dikediaman saya nanti sore?
From, Regina Meyer.
Elizabeth menyeringai, membuat Leila bertanya-tanya kini apalagi yang tengah direncanakan oleh sang empunya itu, gumam Leila dalam hati.
"Pucuk di cinta, ulam pun tiba." kata Elizabeth, "Leila, tolong ambilkan kertas dan pena." imbuhnya.
Lalu Leila pun meletakkan secarik kertas dan pena yang diminta Elizabeth keatas meja.
__ADS_1
Dear, Lady Regina Meyer.
Salam kenal, saya senang sekali mendapat undangan minum teh dari anda.
Pasti akan menyenangkan menghabiskan sore yang hangat bersama dengan seorang teman.
Terimakasih atas undangan nya, saya pastikan akan hadir.
From, Elizabeth Swan.
"Kirimkan sekarang juga." Eliza memberikan surat tersebut kepada Leila.
Secepat kilat Leila segera pergi mengirimkan surat tersebut sesuai permintaan sang empunya.
...****************...
Sore hari di kediaman Duke Meyer.
Elizabeth turun dari kereta kuda nya dan langsung disambut oleh seorang pelayan yang sepertinya memang sudah ditugaskan untuk menjemputnya.
"Selamat datang, Lady Elizabeth. Apa perjalanan nya menyenangkan?" sambut seorang pria yang sangat tampan melebihi Putra Mahkota dan Grand Duke kepada Elizabeth, "Perkenalkan saya adalah Raymond Meyer putra pertama Duke Meyer." ucapnya memperkenalkan diri, kemudian mengecup telapak tangan Elizabeth sebagai sopan santun kepada seorang Lady.
"Salam kepada Duke Muda Meyer, saya Elizabeth Swan." ucap Elizabeth, "Ya, perjalanan nya menyenangkan karena cuaca cerah jadi saya dapat menikmati pemandangan disekeliling. Apa Lady Regina sedang urusan?" tanya nya kepada Raymond, mengingat yang mengundangnya kemari adalah sang adik, Regina.
Lalu Elizabeth pun duduk sembari menanti Lady Regina datang. Kemudian Raymond menatap salah satu pelayan nya sehingga mereka semua pergi meninggalkan nya berduaan saja. Elizabeth mendadak merasa aneh sebab semua ini begitu mencurigakan.
"Apa menyenangkan hidup menjadi orang yang seharusnya sudah mati?" ucap Raymond dengan tatapan mata nya yang entah sungguh membuat bulu kuduk Elizabeth meremang.
Elizabeth berusaha untuk tetap tenang walau sebenarnya tidak, "Apa maksud anda Tuan Duke Muda?" tanya nya pada Raymond.
Raymond meneguk secangkir teh chamomile nya lalu meletakkan nya kembali ke atas meja, "Siapa nama asli mu?" ucap Raymond, terus berusaha mengorek kebenaran tentang jati diri Elizabeth.
Elizabeth menautkan kedua alisnya, sebenarnya siapa pria dihadapan nya ini? Mengapa tingkah dan sikapnya seolah mengetahui rahasia besar tentang dirinya.
"Regina tidak akan hadir disini, sebab akulah yang menulis surat itu." pungkas Raymond, membuat Elizabeth terkejut.
"Kenapa harus berbohong seperti itu? Jika dari awal pun anda menulis nama anda, saya juga pasti akan tetap datang."
Raymond menatap Elizabeth tanpa ekspresi khusus, walau sebenarnya ia sedikit terkejut gadis itu mengatakan hal seperti itu. Ia mengira jika mengundangnya secara pribadi dengan tiba-tiba, undangan nya akan di tolak begitu saja, tapi ternyata tidak.
"Lalu, siapa nama asli mu?" tanya Raymond lagi.
__ADS_1
"Maksud anda?" Elizabeth masih berpura-pura tak paham.
"Aku yang membuatmu berada ditubuh itu, jadi tidak ada rahasia. Jawab, siapa nama mu?"
Elizabeth terdiam sejenak, sebelum memberitahu Raymond nama aslinya adalah Eleanor.
"Eleanor ya?"
Mendengar nama Eleanor tiba-tiba saja kenangan masa kecil Raymond menyeruak muncul membuatnya sejenak terlarut kembali ke masa-masa yang paling dirindukan nya.
13 tahun yang lalu, di kediaman Baron Avellar.
"Eleanor, perkenalkan, ini adalah Raymond putra kami." kata Duchess Meyer kepada Eleanor yang saat itu masih berusia 7 tahun, sedangkan Raymond berusia 10 tahun.
"Lihat, betapa serasinya mereka berdua." sahut Baroness Avellar.
Duchess Meyer mengangguk setuju, "Kapan mereka lekas dewasa, aku sudah tak sabar untuk menimang cucu yang tampan dan cantik." pungkasnya.
"Hoho... Itu masih sangatlah lama, Duchess." imbuh Baroness Avellar.
Keluarga Avellar dan Meyer berhubungan baik, saking dekatnya kedua anak mereka pun sudah bertunangan sejak usia belia.
"Bukankah mereka berbicara terlalu jauh?" kata Raymond pada Eleanor yang sedang membaca buku.
"Biar saja, jika itu membuat mereka senang." jawab gadis kecil itu layaknya orang dewasa sembari tetap fokus pada buku yang ada dihadapan nya.
Raymond muda yang sehari-harinya dibuat jengkel oleh tingkah sang adik yang manja dan kekanak-kanakan karena selalu merebut barang-barang miliknya merasa terpikat oleh sikap tenang dan dewasa Eleanor yang seumuran dengan sang adik.
Pemuda kecil yang selalu membenci anak-anak kecil itu merasa tak masalah jika itu adalah Eleanor. Menurut Raymond ia tak perlu oranglain jika ada Eleanor disisinya.
"Buku apa yang sedang kau baca?" tanya Raymond pada Eleanor.
"Politik dan sejarah." jawab Eleanor dengan cepat.
Raymond mengerutkan dahinya, "Apa Tuan Baron Avellar yang menyuruhmu untuk mempelajari buku ini?" tanya nya penasaran.
Eleanor menutup buku nya, lalu menatap Raymond yang masih menunggu jawaban dari nya, "Apa anda biasa nya juga terlalu ingin tahu seperti ini dengan oranglain?"
Raymond yang selalu bersikap cuek dan acuh tak acuh terhadap oranglain itu merasa salah tingkah karena ucapan Eleanor barusan, "Ma-maaf, jika aku terlalu banyak bertanya." pungkasnya.
Eleanor menghela nafasnya perlahan, "Ayah tidak pernah menuntut saya untuk memenuhi ekspektasinya, beliau membebaskan saya untuk melakukan apapun yang saya mau. Tapi saya memilih untuk giat belajar dalam berbagai bidang agar bisa membantu beliau dan suami saya di masa mendatang. Bukankah dibalik pria sukses ada seorang wanita yang hebat?" kata Eleanor yang penuh percaya diri itu selalu terkenang dalam benak Raymond bahkan sampai 13 tahun kemudian.
__ADS_1