
Pada acara minum teh terakhir kali yang diadakan oleh Baroness Lu Vettel, Elizabeth yang berhasil menarik perhatian Baroness yang memiliki reputasi tinggi di kalangan sosialita itu mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah afternoon tea selanjutnya.
Undangan untuk acara afternoon tea biasanya di kirim tiga hari sebelum acara itu diadakan, agar tamu yang berhalangan hadir bisa memberitahu terlebih dahulu sehingga dapat memudahkan tuan rumah dalam menyiapkan teh dan camilan yang akan di hidangan kan.
Di istana Putra Mahkota Kekaisaran Alexandria pada sore hari.
Lady Priscilla Van Porsche seringkali datang mengunjungi Putra Mahkota setelah berita pembatalan pertunangan nya dengan Elizabeth tersebar.
Priscilla mengerucutkan bibir nya yang ranum, "Yang Mulia sedari tadi hanya sibuk membaca buku, sedangkan saya ada di depan anda. Apakah buku itu lebih menarik daripada saya?" protes nya.
Putra Mahkota yang sebenarnya tidak hobby membaca itu hanya berpura-pura sibuk karena sudah mulai bosan dengan putri sulung dari Marquess Van Porsche itu.
Putra Mahkota hanya diam tak menghiraukan, ia sudah begitu selama beberapa hari. Tapi Lady Priscilla sama sekali tak jerah telah diabaikan seperti itu oleh nya. Sangat mirip dengan seseorang yang dulu ia kenal.
"Kemarin saya menerima undangan afternoon teh dari mantan tunangan anda itu, Elizabeth." tuturnya.
Putra Mahkota sedikit mulai tertarik dengan topik pembicaraan nya, ia melirik Priscilla menanti berita apa lagi yang akan ia sampaikan tentang Elizabeth.
"Saya sebenarnya sedikit penasaran kenapa tiba-tiba dia yang menjadi tuan rumah afternoon tea kali ini. Karena absen nya saya dari afternoon tea yang diselenggarakan oleh Nyonya Baroness Lu Vettel saya jadi tidak tahu apa sudah terjadi disana hari itu hingga bisa membuat wanita kampungan seperti Elizabeth yang menjadi tuan rumah afternoon tea. Dia kan bukan sosialita seperti saya dan juga bukan dari bangsawan asli." Priscilla nampak tak senang, "Apa saya harus absen lagi ya, Yang Mulia?"
Tap!
Putra Mahkota menutup buku yang tengah ia baca dengan terpaksa, "Kenapa harus absen lagi, Lady? Bagaimana jika saya menemani anda ke acara itu?" ia memberikan buku nya kepada pelayan di samping nya.
Lady Priscilla membulatkan mata nya, seolah tak percaya dengan apa yang di dengar, "Apa anda bersungguh-sungguh akan menemani saya pergi kesana?" tanya nya memastikan.
Putra Mahkota mengangguk, "Sungguh, jika Lady tak keberatan tentu nya."
Kedua ujung bibir Priscilla hampir menyentuh mata nya karena amat bahagia mendengar ucapan sang Putra Mahkota, "Tentu saja saya tidak akan keberatan sama sekali dan justru merasa terhormat atasnya." tuturnya, "Namun sebaliknya, apakah Yang Mulia tidak masalah datang kesana menjadi menjadi pasangan saya? Bagaimana jika kejadian tempo lalu terulang kembali?" imbuhnya.
__ADS_1
"Tenang saja, itu tidak akan terjadi." kemudian Putra Mahkota meneguk teh nya sembari melengkungkan seringai di sudut bibir nya.
...****************...
Dua hari kemudian, di kediaman Count Swan.
"Tidak salah kami sepakat agar anda menjadi tuan rumah afternoon tea kali ini, acara hari ini benar-benar menyenangkan, Lady Elizabeth." kata Baroness Lu Vettel.
"Benar, Nyonya Baroness. Awalnya saya sedikit ragu hendak meminum teh dengan campuran bunga lavender kering ini karena baru pertama kali melihat nya. Namun setelah meneguk nya saya sungguh tak menyangka jika teh dipadukan dengan bunga kering akan menghasilkan rasa dan wangi yang enak!" kata salah satu nona bangsawan yang hadir.
"Saya merasa terhormat jika anda sekalian yang hadir bisa menikmati jamuan saya yang sederhana ini." tutur Elizabeth, "Nanti akan saya berikan resep cara membuat teh nya untuk anda semua." imbuh nya.
Semua nya terlihat sangat gembira hanya karena Elizabeth berkata hendak membagikan resep teh buatan nya.
"Maafkan atas keterlambatan kami berdua, tiba-tiba saya mendadak ada urusan penting yang harus ditangani terlebih dulu." tutur sang Putra Mahkota.
Putra Mahkota menatap Elizabeth, berharap mantan tunangan nya itu akan cemburu pada nya dan Priscilla yang mengenakan pakaian se nada.
Alih-alih cemburu, Elizabeth justru nampak tak peduli pada mereka berdua dan asik menyantap camilan yang ada di depannya.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Putra Mahkota pasti sangat sibuk tentu nya. Silahkan duduk." kata Baroness Lu Vettel yang mendadak menjadi tuan rumah nya.
Putra Mahkota mempersilahkan Lady Priscilla untuk duduk, setelahnya ia pun duduk di samping nya.
"Tidak biasa nya anda datang ke acara seperti ini, Yang Mulia. Ada apa gerangan?" tanya salah seorang nona bangsawan yang terkenal sebagai biang gossip merasa penasaran.
"Yah, karena Lady Priscilla baru saja sembuh dari sakit flu nya, saya hanya khawatir jika membiarkan nya pergi seorang diri." terang Putra Mahkota.
__ADS_1
Lihatlah aku, Elizabeth!
Aku begitu perhatian pada gadis lain di depan mu.
Ayo, cemburu lah!
Beberapa orang nampak terkejut mendengar penjelasan Putra Mahkota, ia dulu bahkan tak seperhatian itu pada Elizabeth. Setelah insiden tempo lalu pun Putra Mahkota sama sekali tak pernah terlihat datang menjenguk tunangan nya yang hampir tewas itu. Hingga berita pembatalan pertunangan mereka terdengar.
"Apa anda berdua kini sedang dalam hubungan yang serius?" tanya si biang gossip itu lagi yang mendadak menjadi wartawan.
Lady Priscilla tersenyum, ia sangat berharap jika Putra Mahkota mengiyakan pertanyaan si biang gossip itu.
"Bisa dibilang kami lebih dekat dari sekedar teman, tapi juga belum seserius yang anda duga. Pertunangan saya baru saja batal, jika saya langsung bertunangan dengan oranglain bukankah itu akan menyakiti hati Lady Elizabeth?" tutur Putra Mahkota sembari menunggu reaksi Elizabeth.
Semua mata tamu undangan yang hadir disana seketika tertuju ke arah Elizabeth, tak terkecuali Priscilla, mereka semua menanti jawaban Elizabeth sebab sudah jadi rahasia umum jika Elizabeth sangat terobsesi dan tergila-gila pada Putra Mahkota.
Elizabeth meletakkan cangkir teh yang baru saja ia teguk, "Hm? Kenapa anda berpikir seperti itu, Yang Mulia? Saya justru senang jika anda menemukan wanita yang cocok dengan anda. Bukankah anda dan saya juga memang tidak pernah cocok sebelumnya? Hanya saja saya yang saat itu masih begitu kekanak-kanakan dan egois memaksa anda untuk selalu bersama saya." tutur nya, "Meski agak terlambat, mohon maafkan sikap saya saat itu, Yang Mulia. Kini saya sudah sadar dan merelakan anda, serta saya akan mendoakan hubungan anda berdua berjalan lancar dan diberkati dewa dewi." imbuh Elizabeth dengan iringi senyuman yang begitu tulus di pandangan oranglain, namun bagi Elizabeth dan Putra Mahkota itu jelas senyuman mengejek.
Dia pikir dirinya sebegitu pentingnya untuk ku?
Anda salah orang, Yang Mulia!
Saya bukan lagi Elizabeth yang dulu!
Baroness Lu Vettel menyeringai puas atas jawaban yang diberikan Elizabeth, sikap Elizabeth saat ini benar-benar mencerminkan harga diri yang tinggi seorang lady bangsawan.
Putra Mahkota yang datang kesana dengan niat untuk membuat Elizabeth cemburu hanya bisa mengepalkan tangan nya yang ada di bawah meja dengan sekuat tenaga karena niatnya itu sudah gagal.
__ADS_1