
Esok hari nya di rumah kaca kediaman Duke Meyer.
Elizabeth memutuskan untuk datang menemui Raymond dan membicarakan tentang masalah pengerusakan barang nya kemarin secara empat mata. Tidak sopan rasa nya jika menyuruh Raymond untuk datang kepada nya sementara Elizabeth lah yang memerlukan bantuan nya.
Meski Elizabeth sudah menduga jika penerus Duke Meyer ini telah mendengar perihal kabar buruk tersebut namun ia tak mengira Raymond terlihat seolah telah mengetahui akan kedatangan nya kemari. Macam-macam kudapan yang disajikan membuat semua nya begitu jelas.
"Aku rasa kudapan ini terlalu banyak untuk kita berdua." kata Elizabeth.
"Semakin banyak pilihan bukan nya semakin baik?" kata Raymond sembari meminta seorang pelayan untuk menuangkan teh ke cangkir mereka berdua.
Pelayan itu segera pergi setelah menyelesaikan tugas nya. Seolah tahu jika sang empunya sedang ingin membicarakan suatu hal yang rahasia.
"Jadi bagaimana? Kau ingin aku berbuat apa?" tanya Raymond langsung kepada inti nya.
Bulu kuduk Elizabeth meremang, "Terkadang terlalu peka akan sesuatu itu menakutkan, Raymond. Apa kau tidak bisa berbasa-basi terlebih dahulu?" kata nya.
"Semakin cepat kau memberiku perintah akan semakin cepat pula dalang dari pengerusakan itu terungkap. Jadi kenapa harus berbasa-basi dahulu? Itu terlalu membuang-buang waktu." pungkas Raymond.
Elizabeth meletakkan secangkir teh yang baru saja di teguknya, "Oranglain bisa salah paham jika mendengar ucapan mu barusan. Jadi jaga bicara mu, Raymond, kau itu calon penerus Duke Meyer selanjutnya." terang Elizabeth mengingatkan akan posisi mereka.
Raymond beranjak dari tempat duduk nya, melangkah kan kaki jenjang nya ke arah Elizabeth.
"Bukankah aku sudah mengatakan nya pada mu sebelum nya? Pergunakanlah aku sesuka mu, apapun itu aku pasti akan melakukan nya dengan senang hati. Jadi jangan pernah mengingatkan ku tentang pandangan oranglain, karena aku sama sekali tak peduli dengan hal lain kecuali dirimu." tutur Raymond sembari berlulut di samping tempat duduk Elizabeth, "Berikanlah perintah mu sekarang juga."
__ADS_1
Deg!
Untuk beberapa saat Elizabeth tersipu, pipi nya merona bak buah peach yang baru saja masak. Ia sama sekali tak pernah membayangkan akan diperlakukan seperti ini oleh Raymond.
Ia tahu jika Raymond memang pria yang baik bahkan sejak saat mereka masih belia. Namun ketulusan nya kini mampu membuat Elizabeth berdebar meski hanya untuk sesaat.
Apa aku pantas menerima perlakukan seperti ini dari mu? Aku bahkan sudah mengatakan jika aku tak tertarik dengan hubungan percintaan sejak awal.
Tapi mengapa kau tetap bersikap seperti ini? Mengapa harus aku? Sedangkan ada banyak gadis bangsawan lain yang pasti akan dengan senang hati menyambut cinta mu.
Tidak, tidak! Jangan terpengaruh dengan kebaikannya, Elizabeth! Ingat tujuan utama mu!
"Perintah pertama ku adalah.." Elizabeth memandang Raymond dengan tatapan serius, "kembali ke tempat duduk mu sekarang juga. Orang akan mengira kau itu seekor anjing peliharaan alih-alih seorang Duke Muda."
Raymond segera kembali ke tempat duduk nya semula, ia menyilangkan kedua tangan nya tepat di depan dada nya, "Bisa memiliki majikan secantik dirimu tentu saja itu adalah suatu kehormatan untuk ku."
Raymond tak nampak terkejut, "Oh, jadi kau sudah berhasil menjinakkan Peter Bernhard? Selamat." kata nya dengan nada yang terkesan dingin.
"Hm? Kenapa nada bicara mu jadi seperti itu? Ucapan selamat mu itu tidak terdengar tulus sama sekali. Aku kira kau akan senang mengetahui hal ini, tapi sepertinya tidak begitu." ucap Elizabeth sembari memotong kudapan nya dengan sendok khusus.
"Aku senang tapi juga kesal." kata pria yang tengah merajuk itu, "Bukankah harusnya aku yang pertama jadi peliharaan mu? Kenapa kau hanya mengakui Peter saja?"
Elizabeth terbahak hingga hampir menangis, "Kenapa pria besar seperti mu mempersalahkan hal sepele seperti ini? Astaga, Raymond..." kata nya sembari mengusap beberapa bulir air mata nya yang tertahan di pelupuk mata nya menggunakan jari telunjuk.
Raymond masih tetap diam sembari mengalihkan pandangan nya ke arah lain dengan kedua tangan nya yang menyilang di depan dada bidang nya.
"Ya, ya, aku akan meralat posisi nya, kau yang pertama sedangkan Peter ada di urutan kedua. Bagaimana? Apa itu cukup membuatmu untuk-" belum selesai Elizabeth berbicara pria besar itu sudah menjadi kegirangan dibuatnya.
__ADS_1
Hahaha, lihatlah ekspresi muka yang seolah mengatakan "Benarkah?" pada ku itu. Bahkan Raymond yang terkenal berhati dingin dan kepala batu juga bisa berekspresi seperti itu.
"Apa menjadi yang nomer satu masih belum cukup?" tanya Elizabeth lagi.
Raymond segera duduk dan berdeham, mengembalikan wibawa nya yang hilang untuk sesaat barusan.
"Ehem, itu sudah lebih dari cukup. Jadi kau mau aku melakukan apa? Sebenarnya saat mendengar kabar itu kemarin, aku ingin segera berlari menangkap orang-orang kurang ajar itu dan langsung memotong kedua tangan yang mereka gunakan untuk merusak barang milikmu. Setelah mereka berteriak kesakitan, aku akan memotong sepasang kaki yang mereka gunakan untuk berlari ke arah kereta pengantar barang mu. Begitu kehilangan tangan dan kaki nya, aku akan menebas kepala kosong tanpa otak itu satu persatu lalu membakar semua mayat itu sampai menjadi debu." pungkas Raymond dengan ekspresi yang sangat mengerikan.
Hm, pria psychopath ini apakah pria yang sama dengan anjing hitam yang menggemaskan tadi? Dia benar-benar memiliki kepribadian yang menarik.
Alih-alih merasa takut dengan dua kepribadian Raymond, Elizabeth justru kembali menyantap kudapan nya dengan santai.
"Lalu, jika kau membunuh mereka semua bagaimana kau akan mengetahui siapa yang telah mengutus mereka, bodoh?" kata Elizabeth yang kemudian menyuapkan satu kudapan ke dalam mulutnya sendiri, "Hmm, ini enak!" ucap nya setelah kudapan itu menyentuh lidah nya.
"Ah, ya, benar juga. Setidaknya aku harus menginterogasi salah satu nya sebelum menebas kepala nya."
Elizabeth menggelengkan kepala nya, "Meski sulit, kontrol lah amarah mu. Tujuan kita adalah untuk mencari orang dibaliknya." tutur nya.
"Ya, aku tahu. Lalu apa kau sudah menanyai Peter tentang kemungkinan Edgar yang berada dibalik insiden ini?" tanya Raymond.
Elizabeth mengangguk, "Dia dengan yakin mengatakan jika Edgar sama sekali tak terlibat dalam insiden ini."
Raymond menyeringai sinis, "Hah, dia bahkan membela orang itu sampai seperti itu."
"Sepertinya dia tidak membela nya tanpa alasan, Raymond. Dia berkata jika Edgar mendukung hubungan ku dengan nya. Tapi mengingat Edgar adalah pria licik yang tamak. Tentu ada sesuatu yang ia inginkan dari ku, sesuatu yang akan menguntungkan nya. Tapi aku masih belum tahu apa itu." terang Elizabeth.
"Hmm, begitu ya. Ini menjadi kian rumit, begitu banyak cabang dan kita tak tahu cabang itu menuju ke arah mana. Sebaiknya untuk sementara jangan dulu menanyai Peter tentang kesibukan Edgar, masih terlalu dini, setidaknya sampai kita tahu apa alasan Edgar menginginkan kau dan Peter menjadi dekat. Berpura-puralah menjadi pasangan kekasih yang saling mencintai mungkin dengan begitu Edgar akan mulai mempercayai mu dan mengundang kau untuk ke rumah nya. Sebab menurut informasi yang ku dapat tidak semua orang dapat memasuki kediaman nya, meski itu seorang bangsawan sekalipun." terang Raymond.
__ADS_1
"Benar-benar mencurigakan." sahut Elizabeth.