
Keesokan harinya, Elizabeth datang kembali ke kediaman Duke Meyer menanggapi surat dari Raymond.
"Jadi, apa maksud mu dengan mengatakan bahwa pelaku nya belum ditemukan?" kata Elizabeth langsung pada inti nya.
Raymond lalu menjelaskan hasil penyelidikan yang telah dilakukan oleh Tristan pada Elizabeth secara detail.
"Jika pelaku nya tidak bisa temukan, ini akan sangat menganggu pikiran serta pekerjaan ku, Raymond. Apa tidak ada cara lain untuk mengetahui nya?" tanya Elizabeth.
"Sebenarnya aku dapat melacak orang melalui darah nya." kata Raymond, "Tapi di TKP tidak ada jejak darah sama sekali terlebih pelaku nya juga tidak akan mungkin turun tangan sendiri, sebab sejak awal dia tak berniat untuk membuat tangan nya kotor."
Elizabeth menghela nafas nya frustasi, "Hahh~ Bagaimana jika dia merusak furnitur ku lagi kedepannya? Ini benar-benar membuatku gila." kata nya.
"Aku punya sebuah rencana." kata Raymond.
"Apa?" tanya Elizabeth penasaran.
Raymond mengatakan rencana nya pada Elizabeth, gadis itu nampak sumringah mendengarkan nya. Ia sesekali menganggukkan kepala nya.
"Tapi apa kau tak masalah, Raymond? Melibatkan seorang Duke Muda seperti mu sepertinya agak..." kata Elizabeth ragu.
Raymond tersenyum nakal, "Tentu saja upah ku sangat mahal, Elizabeth. Apa kau kira aku akan melakukan nya dengan cuma-cuma? Kau tak senaif itu kan?"
"Ya, ya... Apapun itu aku akan membalas mu." kata Elizabeth.
Raymond tersenyum lebar, "Apapun itu? Oke, aku akan menagih ucapan mu setelah ini selesai." kata Raymond.
...****************...
Sekitar tiga minggu kemudian, tiga orang orang yang bertugas mengantarkan furnitur Elizabeth sedang melintasi sebuah wilayah yang menghubungkan wilayah timur dan barat.
Suasana malam hari ditempat itu sungguh sepi karena memang di wilayah itu hanya ada hutan sejauh mata memandang.
Brak!
Tiba-tiba ada seseorang yang melompat naik ke atas gerobak mereka dari atas pohon. Orang itu seolah telah menanti ke datangan mereka bertiga.
Brak! Brak!
Dua oranglain nya menyusul, melompatkan dirinya ke atas gerobak. Kusir seketika menarik tali kuda yang tengah dipegangnya. Mengisyaratkan agar kuda itu berhenti berjalan.
"Jika kalian ingin hidup, diam saja jangan mencoba untuk menghentikan kami!" kata seseorang dengan wajah nya yang sangar kepada ketiga pria yang bertugas untuk mengirim furnitur Elizabeth ke toko nya.
__ADS_1
"Sepertinya kalian lah yang seharusnya memohon pada ku agar aku membiarkan kalian hidup orang-orang sinting tak tahu diri!!" pekik Raymond yang sedang menyamar.
"Wah, besar juga nyali mu? Maju!" kata pria berwajah sangar itu lagi.
Raymond menyeringai dan segera menghajar ketika orang itu seorang diri. Setelah berhasil menumbangkan semua nya, giliran Tristan untuk mengikat tiga orang itu.
Duak!
Raymond menendang pria yang sedang bersimpuh di tanah berlumpur itu dengan sangat keras.
"Siapa yang menyuruh kalian hah?!" tanya Raymond.
Namun tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut nya.
Tristan berjongkok di hadapan salah satu pria itu, "Apa ada anggota keluarga mu yang sedang sakit parah?" tanya nya.
Pria itu membelalakan mata terkejut, "Bagaimana kau bisa tahu?!" tanya nya.
Tristan berdiri menghampiri Raymond, "Seperti nya ini juga sama sekali yang kemarin, tuan." kata nya.
Raymond mengernyitkan dahi nya, "Dengarkan aku! Kalian bertiga telah ditipu oleh penyewa jasa mu! Orang itu sengaja mencari orang yang mempunyai kelemahan seperti kalian." kata nya dengan suara lantang.
Salah satu orang tak lantas percaya, "Apa maksud mu ditipu? Beliau menyewa kami dengan menawarkan upah yang begitu besar. Mana mungkin beliau berbohong!"
Mereka menggelengkan kepala nya secara bergantian, "Apa hubungan nya itu dengan kami?"
"Mereka semua sudah mati." kata Raymond.
Ketiga orang itu membulatkan mata nya seolah tak percaya.
"Lebih tepatnya mereka semua dibunuh setelah menyelesaikan tugas nya. Entah dibunuh atau bunuh diri kami tak tahu jelas nya. Tapi yang kami tahu pasti, keluarga yang mereka tinggalkan tidak pernah mendapatkan apapun yang pernah di janji kan oleh orang ini. Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku sudah mendatangi rumah mereka masing-masing." kata Tristan menjelaskan.
"Lalu apa yang kami lakukan?"
"Beritahu kami info apapun mengenai penyewa jasa kalian." jawab Tristan.
"Jika kami tak mau?"
Raymond menyeringai, "Hanya ada dua pilihan, kau mati ditangan ku atau mati ditangan pria ini." kata nya sembari menunjuk ke arah Tristan.
Glek!
__ADS_1
Mereka bertiga pun memberikan informasi tentang orang itu, meski tak begitu jelas tapi setidaknya ini lebih baik daripada tidak mendapatkan informasi apapun.
...****************...
Dua hari kemudian di kediaman Count Swan.
"Apa kau sudah menemukan pelaku nya, Raymond?" tanya Elizabeth dengan antusias.
Ia sudah tak sabar untuk memulai bisnis nya namun itu tak akan berjalan lancar sebelum orang itu tertangkap.
Raymond mengangguk, "Ini sebenarnya hanya sebuah percikan api dari kebakaran yang kita buat tempo lalu." kata nya.
Elizabeth mengernyitkan dahi nya, "Apa maksud mu?"
"Ini ulah Viscountess Magnus. Awalnya mereka hanya memberikan petunjuk jika penyewa jasa mereka adalah seorang wanita bangsawan berusia paruh baya yang mempunyai satu orang anak pria. Namun setelah ku selediki lagi lebih lanjut dengan Tristan semua petunjuk mengarahkan ke Viscountess Magnus." terang Raymond.
Elizabeth tersenyum jahat, "Ahh, jadi dia berusaha balas dendam. Dasar wanita tua yang licik!"
"Apa kau ingin aku membunuhnya sekarang juga? Akan ku buat seolah rumah mereka tengah kebakaran." kata Raymond dengan ekspresi muka yang mengerikan.
Sementara Tristan tetap memasang wajah datar nya seperti biasa.
"Tidak perlu, kamu sudah banyak membantu ku, Raymond. Selanjutnya biar aku sendiri yang membalasnya. Ini urusan antar wanita, kau tahu?" kata Elizabeth sembari menyeringai.
Raymond menghela nafas nya, "Yah, baiklah. Jika ada yang perlu ku tangani lagi jangan sungkan untuk mengatakan nya." kata nya.
Elizabeth mengangguk.
Karena urusan mereka telah selesai Raymond dan Tristan pamit kepada Elizabeth untuk kembali ke kediaman nya sendiri karena setelah dari perbatasan wilayah timur dan barat mereka berdua langsung menuju ke kediaman Count Swan tanpa pulang terlebih dulu.
"Leila, tolong belikan aku satu keranjang bunga mawar hitam. Sekarang juga." kata Elizabeth.
Leila pun segera berangkat tanpa bertanya apapun pada sang empu nya. Selagi Leila pergi membeli bunga yang di minta Elizabeth, ia mengambil sebuah kertas dan mulai menuliskan sesuatu.
...----------------...
Kepada Yang Terhormat Viscountess Magnus,
Terimakasih atas perhatian yang anda berikan pada saya akhir-akhir ini. Saya jadi sedikit sibuk karena nya, untung saja Duke Muda Meyer sebagai teman dekat sangat membantu saya. Beliau menitipkan salam kepada Viscount Magnus dan menyuruh suami anda untuk berkunjung jika kejantanan nya sudah pulih sepenuhnya, meskipun itu mustahil.
Sekali lagi, terimakasih Viscountess. Saya hanya bisa membalas kebaikan anda itu dengan sekeranjang bunga, mungkin lain kali saya akan memberikan balasan yang lebih mewah dan luarbiasa lagi daripada ini.
__ADS_1
Salam, Elizabeth Swan.
...----------------...