ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 12 - Rumor & Pujian


__ADS_3

Count Swan hendak pergi ke wilayah selatan kekaisaran untuk urusan bisnis dagang nya di pelabuhan yang mengalami sedikit kendala. Dengan berat hati ia mengijinkan Elizabeth untuk pergi ke wilayah barat guna mengecek toko-toko yang baru didapatkan nya dari Edgar, hanya berdua dengan Leila.


"Apa harus hari ini juga? Apa tidak bisa Elly mengundurnya sampai ayah kembali?" tanya Count Swan yang hendak menaiki kereta kuda nya dengan raut muka khawatir bercampur sedih.


Elizabeth menggelengkan kepala nya, "Tidak bisa, ayah. Lagipula putri ayah ini bukan anak kecil lagi yang harus selalu pergi dengan orangtua nya. Ayah jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri." tutur Elizabeth.


Count Swan menghela nafasnya sedih, "Walau Elly ayah kini sudah dewasa, tetap saja ayah khawatir jika harus membiarkan mu bepergian ke tempat yang jauh sendirian."


"Aku tidak sendirian, ayah. Ada, Leila juga. Lalu, Sir Bernhard juga sudah berangkat lebih dulu. Justru sepertinya ia sudah berada disana sekarang."


"Tuan, sudah waktu nya berangkat." kata kusir kereta kuda kepada Count Swan.


Count Swan menghela nafasnya lagi, lalu menaiki kereta kuda itu dengan berat hati.


Sesudah mengantarkan kepergian sang ayah, Elizabeth bergegas bersiap untuk keberangkatan nya ke wilayah barat.


...****************...


Di tengah perjalanan nya menuju ke wilayah barat, karena medan yang sulit penuh bebatuan licin serta jalanan berlubang, roda kereta kuda Elizabeth terselip masuk ke lubang kecil yang cukup dalam.


Kusir nampak ke susahan mendongkrak seorang diri. Leila yang menyadari itu pun segera turun dari kereta kuda agar beban nya sedikit berkurang. Tapi kusir itu masih tetap saja tak berhasil mendongkrak roda kereta nya.


"Lumpur ini benar-benar menyusahkan." gerutu sang kusir.


"Apa sebaiknya aku turun juga?" tanya Elizabeth dari dalam kereta.


"Tidak boleh! Ada genangan lumpur dimana-mana, Nona. Pakaian anda akan kotor jika turun." sahut Leila dengan cepat, melarang nona nya untuk turun.


"Tidak apa-apa. Bukankah aku bisa mengganti pakaian nanti?" jawab Elizabeth.


"Tapi anda hanya membawa satu pasang sepatu, Nona. Jika sepatu itu kotor karena lumpur noda nya akan membekas walau sudah dicuci sekali pun." pungkas Leila.


Ketoplak! Ketoplak!


Suara beberapa pasang sepatu kuda itu sontak membuat kusir dan Leila menoleh kearah sumber suara.


"Syukurlah, kita bisa meminta bantuan pada mereka." ucap Leila senang.


Kereta kuda beserta beberapa ksatria pengawal dibelakang nya itu pun berhenti, karena jalan kecil itu hanya cukup untuk satu kereta kuda.


"Ada apa? Kenapa berhenti?" suara pria yang sudah jelas juga bangsawan terdengar dari dalam kereta kuda.


"Maaf, Yang Mulia. Ada sedikit kendala." jawab kusir itu.


"Ha? Yang Mulia?" ucap Leila, lalu gadis itu pun penasaran dengan simbol keluarga yang ada di kereta kuda itu, "Grand Duke?" ia menyadari jika simbol itu adalah milik Grand Duke Dominique.

__ADS_1


Sebastian lalu turun dari kereta kuda nya, "Yang Mulia, hati-hati! Anda sebaiknya kembali saja ke dalam kereta, sepatu anda bisa kotor, Yang Mulia." kata sekretaris Grand Duke yang mau tak mau juga ikut turun.


Sontak kusir dan Leila membungkuk, "Salam kepada Yang Mulia Grand Duke Dominique." ucap kedua nya secara serentak memberikan salam.


"Salam kepada Yang Mulia Grand Duke Dominique. Mohon maaf atas ketidaksopanan saya karena memberi salam dari atas kereta, Yang Mulia." kata Elizabeth dari balik jendela kereta kuda nya.


"Elizabeth? Kenapa kau ada disini?" tanya Sebastian penasaran namun juga senang dalam waktu yang bersamaan karena bisa bertemu dengan Elizabeth lagi setelah sekian minggu.


Elizabeth hendak membuka pintu kereta kuda nya, "Sepertinya tidak sopan jika kita berbicara dengan posisi seperti ini. Sebentar, saya akan turun."


Bruk!


Sebastian menahan pintu kereta kuda Elizabeth dengan tangan kanan nya, "Tidak, jangan turun. Sepatu mu akan kotor." kata Sebastian.


"Tapi sepatu anda juga kotor, Yang Mulia." ucap Elizabeth setelah melihat ke bawah kaki Sebastian.


"Tidak masalah. Tapi kau seorang Lady, tentu saja aku tidak bisa membiarkan sepatu mu kotor meski sekecil apapun noda nya." Elizabeth tak bisa membalas perkataan Sebastian, ia memilih untuk tetap diam, "Kenapa kau diam saja dan tidak membantu nya? Apa kau tidak lihat kusir itu sedang kesulitan mendongkrak roda nya seorang diri?" kata Sebastian kepada sekretaris nya.


"Y-ya? Saya, Yang Mulia?" sekretaris itu terlihat kebingungan, terlihat jelas di wajah nya jika ia mempertanyakan kenapa harus dia sedangkan ada empat orang ksatria yang kuat dan gagah sedang berdiri dibelakang sana.


"Jadi menurutmu aku yang harus melakukan nya?" ucap Sebastian dengan tatapan nya yang tajam.


"Ba-baik, Yang Mulia!"


Pria itu segera berlari menghampiri sang kusir dan membantunya menekan dongkrak bersama-sama. Tapi tetap saja tak berhasil, lumpur dibawah roda itu benar-benar padat dan licin.


Elizabeth mengangguk, lalu Sebastian mundur beberapa langkah karena tubuh kekar nya berada tepat didepan pintu.


Begitu pintu itu sudah terbuka, ia maju kehadapan Elizabeth, "Sebelumnya maaf jika tidak sopan, sekarang bisakah kau melompat kemari? Aku akan menangkapmu, jangan khawatir." kata Sebastian sembari membuka kedua tangan nya lebar-lebar, bersiap menerima tubuh Elizabeth ke dalam pelukan nya.


Elizabeth mengangkat kedua alisnya, "Y-ya? Ta-tapi, Yang Mulia, itu agak.. Maksud saya, tubuh saya berat. Lebih baik saya turun saja."


"Cepat! Apa kau akan membiarkan kedua tangan ku terus seperti ini?" desak Sebastian.


Elizabeth tak bisa menolak, lalu ia pun melompat. Sebastian menangkapnya, "Maaf jika saya berat." kata Elizabeth malu.


"Berat? Aku justru merasa seperti sedang membawa gumpalan kapas." tutur Sebastian, "Kau bantulah kusir itu menekan dongkrak, lalu kalian bertiga dorong kereta kuda nya." titah sang Grand Duke kepada empat orang ksatria nya, sebelum membawa Elizabeth masuk ke dalam kereta kuda miliknya.


Di dalam kereta kuda milik Grand Duke Dominique, Elizabeth terlihat canggung setelah diperlakukan seperti itu oleh pria dihadapan nya.


"Jadi, kau hendak kemana?" tanya Sebastian memecahkan keheningan.


"Saya hendak ke kota Romagnya. Lalu Yang Mulia sendiri ada urusan apa diwilayah barat ini?"


"Selama seminggu ini sudah jadwal ku memang untuk melakukan kunjungan rutin di wilayah barat."

__ADS_1


"Setahu saya bukankah wilayah barat adalah wilayah otoritas Putera Mahkota? Mengapa justru anda yang melakukan kunjungan?"


Sebastian menatap keluar jendela dengan ekspresi sendu, "Bagaimana lagi, ini adalah tugas yang diberikan oleh Kaisar secara langsung pada ku. Menolaknya sama saja seperti membangkang pada Kaisar bukan?" ucap Sebastian sembari melengkungkan senyuman yang terlihat ia paksakan.


"Maaf sudah terlalu banyak bicara, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud buruk." Elizabeth jadi merasa tak enak pada Sebastian.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah." tutur Sebastian, "Jika aku boleh bertanya, ada urusan apa di Romagnya?" imbuhnya.


"Saya hendak melihat toko yang baru saja saya beli dari seseorang. Toko itu sudah lama terabaikan jadi saya berniat untuk melihat kondisinya dulu sebelum mulai melakukan beberapa renovasi." terang Elizabeth.


Sebastian menatap gadis di depan nya dengan tatapan yang entah, "Ternyata rumor yang beredar itu sangat berbeda dengan kenyataan nya." kata nya kemudian.


"Rumor?"


"Ya, rumor tentang mu. Mereka bilang jika Lady Elizabeth hanya tahu cara merayu Putera Mahkota. Kekanak-kanakan dan sembrono. Tapi Elizabeth yang ku kenal justru sangat kontras dengan Elizabeth yang mereka bicarakan."


"Terimakasih, saya akan menganggap itu sebuah pujian dari seorang Grand Duke Dominique." ucap Elizabeth sembari memberikan senyuman termanis nya.


Sebastian menyilangkan kedua tangan nya, tepat di depan dada, "Tentu saja itu sebuah pujian. Lalu, setelah selesai di renovasi, akan kau gunakan untuk apa toko itu?"


"Saya hendak membuka toko perhiasan."


Sebastian mengernyitkan kedua alisnya, "Apa kau yakin? Tidak ada yang berani menjual barang mahal di wilayah barat ini. Bahkan toko perhiasan sebelumnya juga gulung tikar karena sedikitnya minat dari pembeli, sebab hanya ada sedikit bangsawan disini. Dan mereka pun akan pergi ke ibu kota jika menginginkan perhiasan baru."


Elizabeth sama sekali tak terkejut dengan penjelasan Sebastian barusan, "Ya, saya sudah tahu itu, Yang Mulia. Tidak mungkin seorang pengusaha tidak melakukan riset lapangan sebelum memulai bisnis nya bukan? Saya sudah memikirkan sebuah strategi sejak sebelum membeli toko itu. Dan saya yakin jika strategi saya ini akan berhasil." ucap gadis itu dengan penuh percaya diri.


Sebastian seperti tersihir oleh semangat Elizabeth yang membara, "Hmm, baiklah jika memang itu keputusan mu. Sepertinya kamu juga sudah benar-benar yakin dengan rencana mu itu. Sebagai teman aku hanya bisa mendukung dan memberikan saran untuk mu." ucap nya.


"Terimakasih sudah memperdulikan saya, Yang Mulia." kata Elizabeth dengan sopan kemudian.


Tok! Tok!


"Yang Mulia, masalahnya sudah teratasi." seru sekretaris Grand Duke dari luar kereta.


"Ya. Kau bisa duduk disana bersama pelayan Elizabeth. Sementara Elizabeth akan tetap disini bersama ku sampai tiba di Romagnya." jawab Sebastian.


Sekretaris nya terdiam sejenak, mencerna ucapan sang empunya. Tidak biasanya Grand Duke akan seperti ini. Pria yang selalu menghindari penyebab timbulnya segala rumor, entah politik ataupun percintaan, tiba-tiba menjadi tertarik dengan seorang Lady bernama Elizabeth.


Pria yang sangat cinta kebersihan itu bahkan sampai rela sepatu nya kotor demi menemui seorang Lady. Dan bahkan menggendongnya masuk ke dalam kereta kuda nya.


Sebastian masih melihat bayangan sang sekretaris dari tirai jendela kereta kuda nya, "Tunggu apa lagi? Kenapa kau masih diam disana? Apa telinga mu bermasalah setelah ku minta untuk menekan dongkrak?"


"Ti-tidak, Yang Mulia. Saya akan kesana sekarang." sahut sekretaris Grand Duke yang kemudian berlari kearah kereta kuda milik Elizabeth.


Elizabeth terkekeh, "Apa menekan dongkrak itu menggunakan telinga, Yang Mulia? Setahu saya harusnya menggunakan tangan."

__ADS_1


Sebastian pun ikut tertawa, "Dia memang suka tiba-tiba diam mematung seperti itu, tapi pekerjaannya sangat bagus." pungkas Sebastian.


__ADS_2