
Di rumah singgah kekaisaran Alexandria wilayah barat.
Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Sebastian yang duduk di balik meja kerja nya sembari terus beradu dengan tinta dan pena nya.
Baru saja sang sekretaris melangkah kan kaki memasuki ruangan, ia langsung dihujani dengan beberapa pertanyaan dari Sebastian.
"Hari ini aku hanya perlu menyelesaikan laporan ini kan, Anthony? Setelah itu aku bebas pergi kemana saja, kan? Jangan sampai kau tiba-tiba menambahkan kegiatan baru dalam jadwal ku hari. Segera siapkan kereta kuda ku dalam 10 menit, aku akan pergi sebentar lagi." titah Sebastian sembari terus fokus dengan laporan yang harus ia setorkan pada Kaisar ketika kembali ke wilayah timur besok.
"Anda hendak pergi kemana, Yang Mulia?" tanya Anthony.
"Romagnya."
Anthony langsung tahu apa niat Sebastian, "Anda mau pergi menemui Lady kemarin?"
"Elizabeth, nama nya Elizabeth."
Anthony memutar kedua bola matanya dengan malas, "Ya, maksud saya Lady Elizabeth. Anda ingin menemuinya kan?" tanya Anthony sekali lagi.
Sebastian yang masih bergelut dengan pena nya itu tersenyum, membuat Anthony merinding seketika. Pria yang bahkan tak pernah tersenyum pada Kaisar sekali pun itu, bisa-bisa nya melengkungkan bibirnya hanya karena sebuah nama seorang Lady.
"Baguslah ternyata kau peka juga." jawab Sebastian dengan senyuman yang masih merekah di bibir nya.
"Memang nya anda sudah memastikan jika Lady Elizabeth masih berada di Romagnya sampai hari ini? Seperti nya belum, bukan? Apa mungkin beliau masih disana sedangkan sudah hampir seminggu sejak beliau tiba di Romagnya?" tutur Anthony panjang lebar.
Sebastian menaruh pena nya, lalu memandang Anthony dengan dingin.
"Kenapa itu jadi urusan mu? Hari ini kau terlalu banyak bicara ya, Anthony."
Anthony bergidik ngeri, kepalanya otomatis menunduk. Empunya itu benar-benar menakutkan jika sudah seperti itu.
__ADS_1
"Memangnya kenapa jika aku ingin pulang lebih cepat? Bertemu atau tidak, setidaknya aku sudah berusaha untuk menyelesaikan tugas ku agar segera kembali kesana dan menemuinya. Cepat siapkan kereta kuda nya!" titah Sebastian.
Anthony masih menunduk, "Maaf, Yang Mulia. Tidak bisa, Tuan Putri sudah menunggu anda di depan sejak tadi. Itulah mengapa saya datang kesini, saya hendak memberitahu anda akan kedatangannya."
Cletak!
Wadah tinta yang ada di dekat tangannya tumpah, karena tak sengaja tersenggol.
Anthony segera berhamburan membereskan catatan laporan yang telan di kerjakan oleh Sebastian dengan susah payah agar tak terkena tumpahan tinta itu.
Raut muka Sebastian seketika berubah menjadi masam, "Ada perlu apa, Tuan Putri datang kemari lagi hari ini?"
"Beliau berkata sudah menyiapkan acara minum teh dengan anda di taman kerajaan. Karena hari ini adalah hari terakhir anda disini beliau ingin menjamu anda secara pribadi." tutur Anthony sembari menutup tinta yang tumpah di meja dengan kertas agar tidak mengotori pakaian Sebastian.
Ia lalu membunyikan lonceng kecil untuk memanggil pelayan yang bertugas membersihkan ruang kerja ini.
Sebastian menarik kedua alisnya yang tebal seperti ulat bulu itu hingga hampir menjadi satu, "Bukankah dia bahkan sudah mengikuti ku berkeliling wilayah barat selama seminggu ini? Apa dia tidak bosan menempel dengan ku terus seperti ini?" Sebastian menghela nafasnya dengan kasar, "Bilang saja kalau aku masih menyelesaikan catatan laporan untuk Baginda Kaisar." imbuh nya kemudian.
"Lalu apa bagaimana tanggapan nya?"
"Beliau berkata akan menunggu sampai anda selesai mencatat laporan nya."
Sebastian memijat dahi nya yang mendadak terasa pening secara perlahan sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Jika dia bukan seorang tuan putri, aku pasti akan mengusirnya sekarang juga. Benar-benar merepotkan, menempel pada pria seperti ini, menggunakan posisinya sebagai tuan putri untuk mendekati ku. Apa dia tidak punya yang nama nya harga diri? Wanita itu seharusnya yang dikejar oleh pria, bukan sebaliknya." cerocos Sebastian tanpa henti.
Anthony hanya bisa mendengarkan keluh kesah yang terangkai menjadi sebuah ocehan itu sembari sesekali mengangguk, ia tak berani menyela Sebastian yang sedang kesal.
...****************...
Dengan berat hati Sebastian menghadiri undangan minum teh tuan putri dari kerajaan di wilayah barat itu.
Wanita seperti tuan putri lah yang sangat tak disukai oleh Sebastian, niat dan tujuan nya dengan mudah terbaca oleh Sebastian.
__ADS_1
Tuan putri itu meminta semua pelayan yang ada disana untuk pergi, hanya menyisakan mereka berdua disana.
Tuan Putri menuangkan teh ke dalam cangkir Sebastian, "Ini adalah teh kesukaan saya, saya sangat harap Yang Mulia Grand Duke menyukai nya juga." ucapnya dengan suara lembut nan manis yang terkesan dibuat-buat.
Saat ini aku benar-benar berharap jika aku terlahir sebagai seorang penyihir agar bisa melenyapkan wanita dihadapan ku ini dan menggantikan nya dengan Elizabeth.
"ke.. Grand Duke.. Kenapa tiba-tiba melamun? Apa anda tidak suka aroma teh nya? Saya akan meminta pelayan untuk menyajikan teh yang lain. Anda suka teh apa?" tanya Tuan Putri yang terus memandang Sebastian dengan mata berbinar nya.
Sebastian berusaha untuk tetap bersikap sesopan mungkin, "Tidak perlu, Tuan Putri. Saya hanya merasa sedikit lelah karena berkeliling wilayah barat." tuturnya, lalu meneguk teh nya sekali.
"Lelah? Kenapa saya justru sebaliknya ya? Saya justru merasa sangat bersemangat dan senang karena selama enam hari ini saya bisa menemani Yang Mulia Grand Duke berkeliling." pungkas Tuan Putri dengan senyuman manis yang merekah dari bibirnya yang mengkilap karena riasan, "Bukankah itu seperti sebuah kencan, Yang Mulia?" imbuhnya.
Sebastian mengeratkan rahangnya, menahan emosi yang hendak naik ke ubun-ubun nya.
Kencan? Dia bilang kencan?
Jika ada wanita yang ku ajak kencan itu pastilah Elizabeth, bukan nya wanita seperti mu.
Pria itu mengangkat bibirnya dengan terpaksa, senyuman nya yang kaku lebih terlihat seperti sebuah seringai ketimbang senyuman.
"Saya sedang menjalankan tugas dari Baginda Kaisar, bagaimana mungkin itu menjadi sebuah kencan?" elak nya.
Tuan Putri itu terkekeh, "Yang Mulia, anda memang se-kaku seperti yang di rumor kan. Tapi tidak apa, saya yakin saya akan membuat anda menjadi pria yang menyenangkan."
Menyenangkan menurutmu sama dengan menyebalkan bagi ku!
Tuan Putri yang naif itu tiba-tiba terpikirkan sebuah ide, "Bagaimana jika anda disini lebih lama lagi? Biar ayah saya yang mengirimkan surat pada Baginda Kaisar menjelaskan bahwa urusan anda terkendala satu dan lain hal sehingga mengharuskan anda untuk tinggal lebih lama."
Sebastian tercengang beberapa saat, "Berbohong kepada Baginda Kaisar adalah suatu kejahatan. Saya tidak bisa melakukan hal itu, jadi saya permisi kembali dulu. Sepertinya saya harus istirahat, kepala saya benar-benar pening sekarang." ucapnya kemudian seraya berdiri dari tempat duduknya.
Tanpa menunggu izin dari Tuan Putri, Sebastian pergi begitu saja dari tempat itu karena sudah tak tahan lagi dengan tingkah laku kekanak-kanakan Tuan Putri.
__ADS_1