ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 8 - Prioritas Ku, Balas Dendam


__ADS_3

"..da? Duke Muda?" Elizabeth terus memanggil Raymond yang larut dalam kenangan masa lalu nya.


"Ya? Maaf. Aku jadi teringat kenangan lama." kata Raymond padanya.


"Tidak masalah." pungkas Elizabeth.


"El-"


"Jadi apa maksud dan tujuan anda mengundang saya kemari? Apa anda hendak menuntut ucapan terimakasih dari saya?" kata Elizabeth memotong pembicaraan Raymond, "Lalu jika alasan anda melakukan hal itu karena teringat hubungan masa lalu kita, sebaiknya anda hentikan perasaan sepihak anda itu. Sebab saya bukan lagi gadis yang bertunangan dengan anda dulu." imbuhnya.


Raymond terbelalak, tak menyangka jika Eleanor masih mengingatnya, "Kau masih ingat pada ku, Eleanor?" tanya pria berumur 23 tahun itu dengan penuh harap.


Elizabeth memutar kedua bola mata nya, "Saya sakit pneumonia bukan nya amnesia. Tentu saja saya ingat, walau kenangan kita berdua bisa dihitung dengan jari." tuturnya.


Raut muka Raymond yang semula dingin berganti menjadi sedih, "Maaf karena aku tidak bisa membantu disaat-saat kau terpuruk. Kau sudah menderita sendirian untuk waktu yang sangat lama, Eleanor."


"Tidak perlu merasa bersalah, lagi pula apa yang bisa diperbuat seorang anak laki-laki untuk masalah saya pada saat itu selain menonton dari balik gaun ibu nya?" ledek Elizabeth.


Raymond menautkan kedua alisnya, "Kapan aku pernah seperti itu?" elak nya.


"Saya tidak sedang membicarakan anda, jadi jangan tersinggung begitu." ucap Elizabeth, "Dimana keluarga anda? Kenapa saya tak melihat Regina maupun kedua orangtua anda sejak tiba tadi?" tanya Elizabeth sembari melihat ke sekelilingnya.


"Aku sudah lama tinggal disini sendirian. Regina ada di desa bersama dengan nenek dan kakek ku. Sedangkan kedua orangtua ku beberapa bulan sekali akan kemari untuk urusan pekerjaan." jelas Raymond sembari menikmati teh nya.


"Sejak kapan?"


"Setelah ulang tahun ku yang ke 15."


"Bukankah itu sudah lama sekali? Kenapa tiba-tiba jadi seperti itu?"

__ADS_1


"Begitu keluarga mu hancur dan rumor buruk menyebar dengan cepat. Otomatis pertunangan kita pun batal, karena kau juga hilang entah kemana. Banyak keluarga lain menginginkan posisi yang kau tinggalkan itu diisi oleh putri nya, jadi pada waktu itu begitu banyak gadis yang sering datang kemari untuk mencari ku."


"Hoo, bukankah menyenangkan dikelilingi para gadis cantik?"


"Dengarkan dulu. Karena aku sering bersikap dingin terhadap mereka semua, lama kelamaan mereka pun jadi menyerah dan mundur satu persatu. Tapi ada satu gadis yang entah bodoh atau naif dia tak juga menyerah walau aku sudah mengusirnya."


"Lalu anda akhirnya bertunangan dengan gadis itu? Selamat~"


Raymond mengeratkan rahang nya kesal, "Kau ini, benar-benar! Dengarkan dulu sampai selesai!" ucap pria itu diikuti anggukan Elizabeth, "Pada hari ulangtahun ku yang ke 15, Regina yang saat itu berusia 12 tahun masih saja bertingkah seperti balita. Dia membuka semua hadiah-hadiah ku dan merusakkan nya. Aku benar-benar marah saat itu. Lalu karena saat itu dirumah sering muncul tikus, ada beberapa tempat yang diberi racun tikus. Aku pun menyuruh gadis yang mengejarku tadi untuk memasukkan racun itu ke cangkir teh milik Regina. Regina meneguknya sekali lalu ia pun keracunan."


Elizabeth nampak sangat terkejut, "Anda berencana membunuh Regina? Dengan menggunakan tangan oranglain?"


"Apa itu membuatmu takut?" tanya Raymond, khawatir jika Elizabeth menjadi membencinya.


"Jika itu saya, saya akan mendorongnya dari balkon alih-alih meracuninya. Dengan begitu orangtua anda hanya akan memarahi anda kemudian memaafkan anda lagi karena menganggap itu hanya tindakan seorang anak kecil yang sedang marah saja." jelas Elizabeth dengan santai tanpa menunjukkan rasa kecewa sedikitpun pada Raymond.


"Pftt!" Raymond menutupi wajahnya yang hendak tertawa, "Hahaha.."


"Kau memang lain daripada yang lain. Tidak ada yang lebih cocok bersanding dengan ku daripada kau, Eleanor." kata pria itu dengan penuh percaya diri.


"Elizabeth, nama ku sekarang, Elizabeth. Dan siapa yang akan bersanding dengan siapa? Jangan bicara konyol. Ada hal penting yang harus saya lakukan, lebih penting daripada sekedar percintaan klasik yang anda inginkan itu." ucap Elizabeth dengan penuh penekanan.


Cinta? Bagi Eleanor yang kini mendapatkan kesempatan hidup untuk kedua kali ditubuh Elizabeth, hal yang disebut cinta itu hanyalah sebuah penghalang bagi rencana balas dendam nya. Ia sama sekali tak berniat membuang-buang waktunya untuk melakukan hubungan yang penuh drama dan konflik itu. Prioritasnya kini hanya demi membuat orang-orang yang telah menyengsarakan hidup nya merasakan hal yang sama sepertinya.


"Aku tahu, aku tahu. Tenang saja, aku tidak akan menjadi penghalang bagimu. Pergunakanlah aku sebanyak yang kau mau. Sampai saatnya tiba, aku akan terus menunggu disampingmu." ucap Raymond dengan tenang tanpa menunjukkan adanya obsesi ataupun memaksakan kehendaknya pada Elizabeth.


Elizabeth menyeringai, "Tergantung seberapa berguna nya anda bagi saya." ucap gadis itu seraya melengkungkan seringai diujung bibir tipisnya yang kemerahan.


Raymond menjentikkan jari nya, seketika bunga yang berada dalam vas ditengah-tengah meja menjadi terbakar. Elizabeth reflek menyiramkan teh yang ada dihadapan nya ke bunga itu.

__ADS_1


"Apa anda sudah gila?" kata Elizabeth setelah berhasil memadamkan api nya.


"Kau sendiri yang memintaku untuk menunjukkan nya. Lagipula itu hanya api kecil, apa kau ingin melihat yang lebih besar untuk bahan pertimbangan?" ucap Raymond dengan jari yang sudah siap untuk melakukan jentikkan sekali lagi.


"Tidak! Sudah cukup!" Elizabeth menghela nafasnya, "Darimana anda belajar sihir pengendalian api?" tanya nya kemudian.


"Aku tidak belajar, aku melakukan kontrak perjanjian darah dengan iblis dunia bawah setelah aku tinggalkan oleh keluarga ku." pungkas Raymond.


Elizabeth benar-benar kehabisan kata-kata dibuatnya, "Itu adalah tindakan ilegal, jika kaisar tahu anda akan dihukum gantung saat itu juga. Sudah tahu begitu pun anda sama sekali tak khawatir dan malah menunjukkan kekuatan anda pada saya dengan sembrono." tutur Elizabeth seraya menggelengkan kepala nya yang sedikit pening.


"Siapa yang mengkhawatirkan siapa? Jika tidak begini, apa menurutmu aku bisa membuatmu hidup ditubuh itu?" ucap Raymond tanpa menunjukkan penyesalan sama sekali dalam ekspresinya, "Sekarang beri tahu aku apa rencana awal mu?" tanya Raymond pada Elizabeth dengan sorot mata pembunuh.


"Hmm, anda sungguh tak sabaran." kata Elizabeth, "Apa anda tahu toko bunga Flowers Garden yang berada di ujung jalan St. Madeline?"


Raymond menautkan kedua alisnya yang tebal seperti ulat bulu itu, "Kau ingin membeli bunga disana?"


"Saya serius!"


"Kau pikir aku juga sedang bercanda?!"


Elizabeth menghela nafasnya frustasi, "Itu bukan sekedar toko bunga biasa, ditempat itu juga menjual bunga-bunga pemuas birahi para pria bangsawan yang tak puas dengan istrinya di rumah."


Raymond mengepalkan telapak tangan kanan nya, "Kurang ajar! Berani-berani mereka mengotori wilayah ku yang suci ini dengan perbuatan hina seperti itu?!" membuat api tiba-tiba saja muncul dari tangan nya.


Byuurr~


Elizabeth menyiram pria itu dengan segelas air putih yang ada dihadapan nya tanpa rasa bersalah.


"Apa yang sedang kau lakukan ini?!" pekik Raymond yang telah basah karena ulah Elizabeth itu.

__ADS_1


"Tentu saja memadamkan api." ucap Elizabeth dengan berpura-pura polos, ia hanya sengaja saja ingin melakukan nya pada Raymond.


__ADS_2