ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 24 - Memasangkan Rantai Di Leher Peter


__ADS_3

Satu minggu kemudian, di kediaman Count Swan.


Leila berlari secepat yang ia bisa lalu masuk ke dalam kamar Elizabeth tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


Drap! Drap! Drap!


Brak!


Elizabeth mengernyitkan dahi nya, "Ada apa, Leila? Apa tangan mu hilang sehingga kau lupa mengetuk pintu sebelum masuk?" tanya nya dengan nada kesal karena sikap tak sopan pelayan pribadi nya barusan itu.


Leila membungkukkan badan nya tanda menyesal, "Maafkan atas ketidak sopanan saya ini, Nona. Tapi ada situasi darurat." terang nya, "Furnitur anda yang sudah dalam proses pengiriman dirusak oleh sekelompok orang tak dikenal."


Elizabeth sontak terkejut dan berdiri dari kursi, "Apa?! Siapa orang-orang kurang ajar itu?!"


"Lebih baik anda langsung mendengarkan cerita lebih jelas nya dari sang pemilik toko. Beliau ada di ruang tamu." kata Leila.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Elizabeth segera menuju ke ruangan itu untuk menemui sang pemilik toko bersama dengan Leila yang mengekor dibelakangnya.


Melihat ke datangan Elizabeth sang pemilik toko itu membungkukkan badan nya, "Maafkan saya, Nona Elizabeth. Ini adalah hal yang sangat jarang sekali terjadi."


Elizabeth lekas duduk dengan kasar di sofa yang lain nya, "Sebenarnya bagaimana ini bisa terjadi?" tanya nya kemudian dengan raut muka yang amat kesal.


"Dari keterangan yang saya dapat dari kusir dan dua orang lainnya yang juga turut mengantarkan furnitur nya, ada segerombolan orang yang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak dan langsung merusak seluruh furnitur tanpa terkecuali." terang sang pemilik toko.


Tiba-tiba muncul dari balik semak-semak dan langsung merusak semua nya tanpa kecuali?


Elizabeth menyilangkan kedua tangan nya tepat dibawah dada nya, "Apa ketiga orang mu itu ada yang terluka?"


"Untungnya mereka bertiga sama sekali tidak mendapatkan luka yang serius. Hanya luka-luka kecil akibat mencoba menghentikan tindakan orang-orang itu yang berniat merusak furnitur nya." terang sang pemilik toko lagi.


Hmm, berarti orang-orang itu sama sekali tak berniat untuk menjarah ataupun melukai ketiga orang anak buah nya.


Tujuan mereka hanya ingin merusak furnitur ku, tapi kenapa? Bukankah akan lebih berguna untuk menjarah nya saja lalu menjualnya lagi di pasar gelap?

__ADS_1


Atau ini adalah ulah seseorang yang tak suka pada ku? Orang itu ingin menggagalkan rencana bisnis ku. Tapi satu-satunya saingan bisnis ku adalah... Edgar??!!


Tok! Tok!


"Nona, ada Sir Peter mencari anda." kata Leila dari balik pintu.


Hmm, kebetulan sekali dia datang secepat ini.


"Biarkan Peter masuk." sahut Elizabeth dari dalam, "Anda bisa kembali pulang terlebih dulu, Tuan. Saya akan mengirimkan beberapa emas untuk membantu meringankan kerugian yang anda alami nanti setelah saya selesai berbicara dengan Peter." kata nya pada sang pemilik toko.


Sang pemilik toko merasa sangat terbantu sekaligus terbantu, ternyata Elizabeth adalah seorang bangsawan yang memiliki hati tidak seperti bangsawan lain nya.


"Ba-baik, terimakasih banyak atas kemurahan hati anda, Nona Elizabeth." kata sang pemilik toko sembari membungkukkan badan nya hingga nyaris menyentuh lantai.


Setelah sang pemilik toko itu pergi, gini giliran Peter yang duduk di hadapan Elizabeth. Ia menatap Peter dengan penuh tanda tanya.


"Aku sudah mendengar kabar nya, Elizabeth." kata Peter membuka mulut terlebih dulu.


"Ya, bukankah aneh segerombolan orang itu hanya berniat merusak furnitur yang akan di kirim ke toko ku. Bukan nya nya menjarah, mereka hanya sekedar ingin merusak nya." kata Elizabeth sembari terus menatap Peter dengan tajam.


"Entahlah, aku hanya mencurigai seseorang yang berpotensi sebagai saingan bisnis ku." kata Elizabeth.


Meski bukan seorang bangsawan Peter tidak bodoh, ia tahu maksud dari ucapan Elizabeth barusan.


"Mungkinkah yang kamu maksud saingan bisnis itu Tuan Edgar?" tanya Peter memastikan dugaan nya.


Elizabeth menatapnya lurus, "Memang nya siapa lagi yang akan menjadi saingan bisnis ku, Peter?"


Peter terkejut bagaimana Elizabeth bisa mencurigai Edgar sementara ia tahu betul jika tuan nya itu sangat mendukung jika mereka berdua menjalin suatu hubungan yang lebih dari sekedar teman dekat.


"Itu sama sekali tidak mungkin, Elizabeth. Aku yakin seratus persen jika Tuan Edgar sama sekali tak terlibat dalam insiden ini." terang Peter dengan penuh keyakinan.


Melihat reaksi Peter yang begitu yakin jika Edgar tak turut andil dalam pengerusakan furnitur nya ia jadi penasaran, "Apa yang membuatmu begitu yakin seperti itu? Apa karena dia adalah tuan mu, lantas kamu membela nya, begitu?"

__ADS_1


Peter menghela nafas nya, "Meski aku adalah orang kepercayaan beliau tapi aku tak akan membela beliau tanpa bukti." kata nya, "Walau ini terdengar memalukan, tapi Tuan Edgar sangat mendukung jika aku bisa menjadi dekat dengan mu. Tapi tentu saja aku menjawab hubungan kita masih belum sedekat itu." tutur Peter.


Seorang Edgar mendukung Peter untuk menjadi dekat dengan ku? Manusia tamak seperti nya tak akan mendekati seseorang tanpa tujuan, jadi apa yang dia ingin kan dari ku?


Yah, sebaiknya aku mengurungkan niatku untuk menginterogasi Peter lebih jauh. Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menjadi dekat dengan nya lebih dulu.


Memang urusan seperti ini hanya bisa dibicarakan dengan Raymond. Dia adalah informan terbaik untuk hal-hal seperti ini. Mungkin dia bahkan bisa segera menangkap pelaku pengerusakan nya juga.


Jadi untuk saat ini mari fokus pada Anjing Kecil ku ini.


Elizabeth memasang wajah sedih, "Aku kira kita bahkan sudah lebih dekat dari sekedar teman." kata Elizabeth sembari berdiri dari tempat duduk nya, "Aku tak tahu jika ternyata Peter begitu tak menyukai ku hingga secara terang-terangan mengatakan bahwa kita tak dekat kepada Marquess Edgar." kata nya lagi sembari berjalan ke arah jendela dan mulai meneteskan air mata palsu nya.


Melihat bulir-bulir air mata menetes dari mata Elizabeth yang indah membuat Edgar sontak berdiri menghampiri Elizabeth.


Elizabeth berdiri membelakangi Edgar yang tengah menundukkan kepala nya, "Maaf, aku tak tahu jika perbuatan ku itu melukai mu, Elizabeth. Aku hanya.. aku berpikir.. seorang perompak daratan seperti ku ini bahkan tidak pantas untuk sekedar memimpikan seorang wanita terhormat seperti mu. Apalagi berharap untuk memiliki hubungan selayaknya pria dan wanita dewasa pada umum nya. Itu benar-benar seperti hal yang mustahil." kata Peter.


Elizabeth masih terus menatap keluar jendela membelakangi Peter, "Tapi aku menyukai Peter." kata nya dengan suara yang lirih membuat Peter tak dapat mendengar nya dengan jelas.


"Ya?" tanya Peter memastikan apa yang barusan ia dengar.


Elizabeth berbalik dengan air mata yang mengalir kian deras, "Aku menyukai mu, Peter. Maka dari itu jangan berkata seperti itu lagi jika kamu juga menyukai ku. Tapi jika Peter tidak menyukai ku maka aku.. maka.. lebih baik kita tak bertemu lagi setelah ini." kata Elizabeth.


Peter merasakan sesak yang teramat tatkala melihat Elizabeth berlinang air mata, tanpa sadar ia menarik tubuh kecil Elizabeth ke dalam pelukan nya.


"Jangan berkata seperti itu, Elizabeth. Bagaimana mungkin aku bisa berhenti bertemu dengan mu, sementara semenit berpisah dari mu rasa nya seperti seminggu." kata Peter sembari memeluk Elizabeth dengan erat.


"Apa Peter juga menyukai ku?" tanya Elizabeth memastikan hal yang sudah pasti.


"Aku sangat menyukai mu." jawab Peter.


"Sebanyak apa?" tanya Elizabeth lagi.


"Lebih banyak dari rasa suka mu kepada ku." jawab Peter.

__ADS_1


Elizabeth yang masih dalam pelukan Peter itu menyeringai puas atas jawaban yang diberikan oleh Peter barusan.


__ADS_2