
Sesampainya di kota nya Romagnya.
"Terimakasih atas tumpangannya, Yang Mulia." ucap Elizabeth sembari sedikit membungkuk.
"Hah... Kita sudah beberapa kali bertemu tapi kamu masih saja bersikap formal pada ku begini. Apa aku masih belum layak untuk menjadi teman mu?" protes Sebastian.
Elizabeth tersenyum, "Justru saya lah, yang masih belum layak untuk menjadi teman anda, Yang Mulia."
"Yang Mulia, maaf, kita harus sudah sampai di rumah singgah sebelum hari gelap." ucap sang sekretaris mengingatkan.
"Ehm, aku tahu, aku tahu." Sebastian nampak sedikit kesal karena waktu terasa singkat untuk pertemuan nya kali ini, "Aku harus pergi, Elizabeth. Pastikan di pertemuan selanjutnya kau sudah bisa berbicara santai dengan ku."
"Saya akan berusaha, Yang Mulia."
Sebastian merasa sedikit kecewa, seolah begitu berat bagi Elizabeth untuk mengiyakan keinginan sederhana nya itu.
Ia pun segera menaiki kereta kuda nya dan pergi menuju rumah singgah keluarga ke Kaisaran, di ibu kota wilayah barat.
"Permisi Lady, apakah benar anda Lady Elizabeth Swan?" tanya seorang pria yang datang dari arah belakang nya.
Elizabeth berbalik, "Ya, benar. Lalu apa anda ini Sir Peter Bernhard orang yang diutus oleh Marquess Fosberg untuk menemani saya melihat toko-toko nya?"
Pria itu mengangguk, "Benar. Mari saya antarkan ke toko pertama, itu ada disana." kata Peter sembari menunjuk ke sebuah toko yang terlihat sudah lama tidak terjamah itu.
Peter membuka kunci pintunya, kemudian ia masuk ke dalam. Diikuti oleh Elizabeth dan Leila setelah nya.
Elizabeth mengedarkan pandangan nya, "Diluar nampak terabaikan, tapi dalam nya masih sangat kokoh meski sudah lama tak terpakai."
"Itu semua sebab bahan-bahan yang digunakan untuk membangun toko ini memakai kualitas yang terbaik dan mahal, Lady." terang Peter.
Ya, tentu saja aku tahu. Karena keluarga ku lah yang membangun toko ini!
Elizabeth memasang muka polos nya, "Hm, begitu ya? Pantas saja." ucapnya berpura-pura tidak tahu tentang sejarah toko ini.
Mereka bertiga berkeliling, melihat-melihat mana saja bagian yang perlu di renovasi.
Setelah puas berkeliling, tak terasa hari sudah mulai gelap.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita lanjutkan besok pagi saja? Hari sudah mulai gelap, saya yakin pasti kita akan sampai ditempat kedua pada malam hari." kata Peter menyarankan.
Elizabeth mengangguk, "Ya, saya setuju. Ini semua karena roda kereta kuda saya sempat tersangkut tadi. Maaf sudah mengakibatkan jadwal kita meleset, Sir Peter."
Peter menggelengkan kepala nya, "Tidak apa-apa, Lady. Saya bisa memaklumi, lagipula tidak ada orang yang ingin roda kereta nya untuk tersangkut."
Elizabeth tertawa, "Ya, tentu saja. Orang gila mana yang ingin terkena musibah."
Peter lalu ikut tertawa, ia sempat mengira jika Lady yang akan ia temui adalah wanita yang sombong dan angkuh seperti Lady bangsawan pada umum nya.
Ternyata diluar dugaan, Elizabeth sangat sopan dan ramah. Ia bahkan tidak merasa risih ketika memasuki toko yang begitu banyak debu-debu disetiap sudut nya.
"Mari saya antar ke penginapan yang sudah di pesan oleh Marquess Fosberg." kata Peter.
"Ya, terimakasih, Sir Peter." Elizabeth pun mengekor dibelakang nya.
...****************...
Elizabeth terkejut melihat Peter yang sudah berdiri di depan nya.
"Sir Peter, apa anda sudah menunggu lama?" tanya Elizabeth.
"Tidak, saya baru saja sampai." tutur nya, walau sebenarnya dia sudah menanti disana sejak beberapa menit yang lalu.
Elizabeth menghela nafasnya lega, "Syukurlah kalau begitu."
"Mari kita pergi, Lady." kata Peter.
Elizabeth tak melihat kereta kuda yang lain, hanya ada kereta kuda nya saja yang sudah siap untuk berangkat ke tujuan selanjutnya.
"Mana kereta kuda anda?" tanya Elizabeth.
Peter menunjuk ke arah kuda berwarna hitam, "Itu kuda saya, namun tanpa kereta." ucapnya sembari tertawa, "Kemana pun saya pergi, dia selalu ada. Dia sudah seperti teman saya sendiri." imbuhnya.
Bilang saja jika orang gila (Marquess) itu tidak memberikan mu kereta kuda karena terlalu sayang dengan uang nya jika harus dikeluarkan untuk mu.
__ADS_1
Kondisi setiap toko kurang lebih sama seperti sebelumnya. Diluar memang usang karena terpapar sinar matahari dan air hujan, namun bagian dalam nya masih bagus.
Mereka tidak bisa langsung menyelesaikan urusannya saat itu juga. Dikarenakan wilayah barat juga sama luasnya dengan wilayah kekaisaran yang lain.
"Ini adalah toko terakhir." terang Peter.
Elizabeth nampak lega, "Aku tak mengira jika membutuhkan waktu hampir seminggu lama nya hanya untuk melihat toko-toko ini."
Peter tertawa, "Perjalanan anda masih panjang, Lady. Anda masih harus merenovasi, setelah renovasi pun anda masih harus mengisi toko dengan barang-barang yang hendak anda jual. Kemudian mencari karyawan untuk setiap toko nya."
Elizabeth seketika mulai merasa lelah hanya dengan membayangkannya saja, "Ah, tolong, Sir Peter. Jangan membuat saya membayangkan semua itu." ia memasang ekspresi lesu, "Ternyata memulai bisnis itu benar-benar melelahkan, saya tak mengira jika akan menjadi sesibuk ini dalam waktu sekejap." imbuhnya.
"Anda merasa seperti ini karena memulainya secara serempak. Pada umumnya oranglain akan memulai bisnis dari satu toko terlebih dahulu, lalu ketika toko itu sudah berjalan stabil barulah membuka toko kedua." pungkas Peter.
Elizabeth seketika tersadarkan karena ucapan Peter barusan, "Ya, anda benar, Sir Peter. Tapi tak apa saya akan tetap melanjutkan sesuai rencana awal."
"Jika ada hal yang bisa saya bantu, silahkan Lady katakan saja. Saya pasti akan membantu anda sebisa saya." tutur Peter.
Bingo!
"Benarkah? Saya awalnya mengira jika Sir Peter orang kaku, tapi ternyata sebaliknya anda begitu baik hati dan ramah."
Elizabeth berniat untuk memanfaatkan moment ini untuk membuat Peter menjadi dekat dan berpihak pada nya.
Setelah berhasil mendapatkan Peter dalam genggamannya, ia akan menggunakan Peter sebagai alat untuk mengorek informasi mendalam tentang kebusukan Edgar lalu menghancurkan nya saat itu juga.
"Ya? Apa saya terlihat seperti itu pada pertemuan pertama?" tanya Peter.
"Ehm, wajah anda sedingin salju. Tapi mungkin itu hanya karena saya belum mengenal anda saja, bukan?"
Peter tersenyum, "Sejujurnya awalnya saya berpikir jika saya akan melayani seorang wanita bangsawan yang sombong dan angkuh, itu sebabnya saya terlihat begitu kaku pada hari pertama." terang Peter, "Tapi setelah berbicara dengan anda, saya jadi menyadari jika anda berbeda dari dugaan saya sebelumnya." imbuhnya.
Elizabeth memasang senyum termanis nya, "Ahh, jadi begitu. Saya benar-benar merasa senang jika Sir Peter menilai saya seperti itu."
"Anda bisa memanggil saya Peter saja mulai sekarang." pinta Peter.
Elizabeth tertawa licik dibalik topeng nya karena telah berhasil memasukkan Peter dalam perangkap nya. Kini hanya menunggu waktu untuk menjinakkan Peter dan menjadikan pria itu sebagai peliharaan nya.
__ADS_1