ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 11 - Merangkul Musuh


__ADS_3

Di wilayah Kekaisaran Alexandria bagian barat hanya ada beberapa keluarga bangsawan saja. Tak seperti di bagian lain nya, wilayah yang kebanyakan penduduk nya bekerja sebagai petani dan peternak itu jarang diperhatikan oleh Kaisar.


Padahal jika dilihat baik-baik justru wilayah bagian barat itu sendirilah kekuatan Kekaisaran Alexandria sebenarnya. Hasil panen yang bagus dan melimpah ruah, hewan-hewan ternak yang sehat dan terawat, semua itu hasil kerja keras petani dan peternak yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh.


Elizabeth terbayangkan suatu strategi yang mana bisa membuat usaha nya berkembang di wilayah yang di anggap sebelah mata oleh para kaum bangsawan itu. Elizabeth menawarkan sistem cicilan bagi para rakyat biasa yang ingin membeli perhiasan. Dengan bunga rendah dan tempo cicilan yang panjang. Tak lupa ia juga mengedukasi orang-orang tentang betapa penting nya berinvestasi dalam bentuk perhiasan yang memiliki nilai inflasi.


"Elly, ayah tak tahu jika ternyata kamu sangat berbakat dalam berbisnis dan mencari keuntungan." ucap Count Swan setelah mendengarkan semua rencana putri tercinta nya itu.


Elizabeth menunjukkan sedikit kesombongan di wajah nya, "Tentu saja, itu semua kan karena darah ayah mengalir dalam tubuh ku." ucapnya untuk menyenangkan hati sang Count.


Mendengar ucapan Elizabeth itu, kepala Count seperti balon yang hendak meletus kapan saja, "Hohoho... Memang kejeniusan itu adalah turunan, turunan!" tawa nya menggelegar.


"Jadi, bagaimana? Ayah akan memberikan ku modal bukan?"


"Berapa yang Elly ayah ini butuhkan? Ayah akan memberi sebanyak yang kamu minta."


Mata lebar Elizabeth yang berwarna hijau muda itu berbinar, secerah sinar matahari pagi ini, "Terimakasih, ayah... Ayah memang yang terbaik!" ucapnya kegirangan.


                                         ✧༺❀༻✧


Setelah mendapat sejumlah modal dari sang ayah, Elizabeth menulis sebuah surat yang ia tujukan untuk Edgar guna membicarakan perihal toko-toko di wilayah barat yang sudah ia abaikan selama bertahun-tahun itu.


Edgar awalnya menganggap remeh seorang gadis muda yang baru saja menginjakkan kaki nya di dunia bisnis itu, Elizabeth, dan membalas surat nya sebatas karena kesopanan saja.


"Yang benar saja?! Pokoknya saya minta uang saya kembali!"


"Tidak bisa, Tuan. Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan kecuali anda menjualnya tapi tentu saja ada potongan harga serta biaya administrasi."

__ADS_1


Keributan di toko perhiasan itu membuat orang berkerumun untuk mencari tahu apa yang sedang pria bangsawan dan karyawan toko itu perdebatkan.


"Selamat siang, Tuan. Saya Edgar Fosberg pemilik toko ini, silahkan duduk dulu mari kita bicarakan ini dengan nyaman." ucap pria setengah paruh baya yang memancarkan aura bangsawan itu pada pelanggan nya.


"Saya tidak perlu duduk! Saya hanya minta uang saya kembali!" pekik pria itu.


"Kalau begitu apa anda bisa menjelaskan hal apa yang telah membuat anda kecewa seperti ini dengan perhiasan kami?" tanya Edgar dengan nada yang sopan.


"Saya adalah pelanggan tetap di toko ini tapi bisa-bisa nya saya ditipu! Saya memesan cincin dengan permata saffire biru tapi yang kalian kirim justru adalah barang palsu seperti ini?!" pria itu melemparkan kotak kecil yang berisikan cincin bermata saffire hitam ke lantai.


Seorang gadis memungut kotak itu kemudian membuka nya, "Anda tidak tertipu, Tuan. Ini sama-sama saffire hanya saja berwarna hitam." terang gadis itu yang tak lain adalah Elizabeth.


Serentak Edgar, karyawan toko serta pria bangsawan itu menoleh ke arah Elizabeth, "Nona, anda pasti telah berkomplot dengan mereka untuk menipu saya kan? Jangan buang-buang waktu, karena saya tidak akan percaya!" kata pria itu.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Elizabeth Swan. Dan saya berani menjamin jika ini adalah permata saffire asli. Bukan karena saya berkomplot dengan tuan pemilik toko ini, tapi melainkan karena saya sendiri juga kolektor batu mulia. Mata cufflink anda adalah Summer Apples, batu mulia jenis zamrud. Melihat dari kilaunya anda sudah memakai cufflink itu lebih dari 10 kali, sudah saatnya untuk anda mencuci nya agar kilaunya kembali terpancar." kata Elizabeth panjang lebar.


"Tentu saja, Tuan. Barang mahal harus diperlakukan secara istimewa bukan? Saya akan membagikan rahasia merawat batu mulia pada anda, sehingga anda bisa merawatnya sendiri di rumah." kata Elizabeth.


"Ha, pasti ada biaya nya kan?"


"Tidak, saya akan membagikan nya secara cuma-cuma. Tiap batu mulia memiliki cara perawatan nya sendiri, bahkan ada juga yang justru tidak boleh dicuci."


Pria itu mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Elizabeth dengan seksama, tak ingin terlewat satu kata pun. Ia memasang wajah serius nya sembari mengangguk sesekali.


"Lalu, jika anda menyinari batu saffire hitam ini dengan cahaya matahari," Elizabeth membawa cincin dengan batu saffire hitam itu keluar toko agar mendapatkan cahaya matahari, "barulah terlihat jelas kilauan di dalam nya. Bukankah ini seperti langit malam yang dipenuhi bintang-bintang?" ucap Elizabeth.


Pria itu mengambil cincin miliknya dari tangan Elizabeth, kini ia mengamati cincin itu dengan seksama.

__ADS_1


Begitu pelanggan itu pergi dengan hati gembira, Edgar yang dibuat terkejut oleh pengetahuan Elizabeth tentang batu mulia pun mulai menganggap eksistensi gadis yang semula dipandang sebelah mata oleh nya.


"Terimakasih, Lady Elizabeth. Karena bantuan anda saya tidak jadi mengalami kerugian secara material maupun imaterial." pungkas Edgar yang terlihat tulus berterimakasih pada Elizabeth.


Hal itu sedikit membuatnya bergidik ngeri, sisi nya ini benar-benar kontras dengan bajingan yang melekat dalam ingatan nya.


Elizabeth tersenyum sopan, "Kalau begitu bukankah artinya anda menjadi berhutang pada saya?" celetuk Elizabeth secara terang-terangan menunjukkan isi hati nya.


Namun Edgar sama sekali tak mempersalahkan kelancangan gadis muda di depan nya itu, ia justru membalas senyuman Elizabeth, "Saya tak mengira jika anda adalah gadis muda yang begitu bersemangat seperti ini. Jadi, dengan cara apa saya harus membayar hutang saya ini?" ucap Edgar, "Bagaimana jika membicarakan nya di dalam? Saya takut sinar matahari nya membuat anda tak nyaman."


Elizabeth mengangguk, ia lalu mengikuti langkah kaki Edgar yang menuju ke ruangan nya di toko itu.


Melihat sang tuan masuk ke ruangan nya bersama Elizabeth, karyawan toko itu pun segera membawakan teh untuk keduanya tanpa diminta oleh Edgar.


"Silahkan di minum. Anda pasti haus setelah berbicara selama itu tadi." ucap Edgar.


Elizabeth meneguk teh hijau di hadapan nya, "Saya tidak akan berbelit dan langsung pada inti nya." Edgar meneguk teh miliknya, "Saya ingin anda menjual toko-toko perhiasan anda di wilayah barat pada saya dengan setengah harga." kata Elizabeth dengan tegas.


Edgar meletakkan cangkir teh nya kembali ke meja, "Meski toko itu tidak terpakai sejak bertahun-tahun tapi menjualnya dengan setengah harga..?? Itu, sedikit sulit." tutur Edgar.


Elizabeth masih mempertahankan sikap tenang nya, "Bukan toko, tapi toko-toko. Tak hanya satu, semua, saya akan membeli semua toko anda yang ada di wilayah barat. Tidakkah hal itu membuat saya pantut mendapatkan setengah harga? Apalagi jika mengingat apa yang telah saya perbuat tadi."


Meski terkejut, Edgar tetap berusaha untuk tak menunjukkan nya pada Elizabeth, "Sebentar, jika boleh tahu, akan anda apakan semua toko itu? Membeli semua toko itu tentu saja membutuhkan uang yang tak sedikit."


Elizabeth tersenyum, "Untuk saat ini itu masih menjadi rahasia. Tapi kedepannya anda pasti akan mengetahui nya."


Gadis muda didepannya ini benar-benar membuatnya penasaran akan apa yang bisa dilakukannya esok.

__ADS_1


__ADS_2