ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 9 - Nona Rubah & Tuan Serigala


__ADS_3

Keesokan hari nya di jalan St. Madeline.


"Benar ini tempatnya?" tanya Raymond pada Elizabeth.


Elizabeth mengangguk yakin, lalu kedua nya yang memakai jubah penutup yang biasa saja pun masuk ke dalam toko tersebut.


"Selamat datang. Apa ada bunga khusus yang Anda cari, Tuan?" tanya pemilik Flowers Garden tanpa mengetahui dengan siapa dia sedang berhadapan.


"Tunjukkan daftar tamu VIP ditempat ini." titah Raymond pada pria dihadapan nya itu.


"Maaf, Tuan. Itu adalah privasi setiap tamu, apalagi tamu VIP. Saya tidak bisa membuka informasi tamu kepada sembarang orang." pungkas pria yang masih cukup muda untuk menjadi gigolo itu.


Raymond membuka tudungnya, "Hah.. Dasar bajingan tengik!" umpat nya sebelum mendaratkan beberapa pukulan pada sang pemilik Flowers Garden.


Setelah dibuat babak belur oleh calon penguasa duchy itu, akhirnya pria itu menunjukkan dimana letak buku tamu yang ia simpan dengan hati-hati. Asisten Raymond segera mengambil buku itu dan memberikan nya pada sang empunya.


"Ini?" tanya Raymond pada Elizabeth sembari menunjuk sebuah nama yang tertera di buku itu.


"Benar!" jawab Elizabeth diikuti dengan seringai puas di ujung bibirnya.


"Kapan orang ini akan datang kemari?" tanya Raymond pada pemilik Flowers Garden.


"Biasanya beliau akan datang dua kali setiap bulan nya. Pada tanggal 10 dan 20." terang pria itu.


"Kebetulan hari ini tanggal 20. Pukul berapa tepatnya?" tanya Raymond lagi.


"Sesudah jam makan siang, Tuan." jawab nya.


Beberapa jam kemudian, benar saja orang yang dimaksudkan tiba sesuai dengan ucapan sang pemilik Flowers Garden.


"Selamat datang, Viscount Magnus. Apa ada bunga khusus yang ingin anda pesan hari ini?" tanya pemilik Flowers Garden pada pria paruh baya yang baru saja datang.


"Apa tidak ada bunga baru untuk ku, Gordon?" tanya Viscount Magnus.


"Tentu ada. Bunga ini baru saja dipetik tadi pagi, Tuan." pungkas Gordon, "Silahkan masuk di kamar utama." imbuh nya.


Begitu membuka pintu kamar utama, Viscount Magnus disambut oleh seorang gadis belia yang cantik dengan gaun minim yang sedikit menerawang sedang duduk sembari berpose sensual diatas ranjang.

__ADS_1


Pria paruh baya itu duduk di ujung tempat tidur, "Apa kau baru datang dari desa?" tanya nya pada gadis itu.


Gadis itu mengangguk perlahan, "Siapa nama mu?"


"Rosetta." jawabnya dengan segera.


"Usia?"


"15 tahun."


"Dasar penipu, jelas-jelas terlihat seperti usia 20 tahunan." gumam Viscount Magnus, walau masih sempat mengoceh perihal usia. Ia tetap saja melancarkan aksi bejatnya terhadap gadis di depan nya.


Viscount Magnus membuka kancing kemeja nya perlahan dari atas ke bawah. Setelah menanggalkan kemeja nya, ia pun mulai membuka zipper celana nya.


Ketika hendak menggagahi gadis itu dalam waktu sekelebat mata, buah ***** nya disabet oleh sebuah pisau kecil yang amat tajam.


"Aahhh!!!" teriak pria paruh baya itu merasa kesakitan yang menjalar diseluruh area selangkangannya.


Ia pun kehilangan kesadarannya setelah nya.


Tadi, sebelum Viscount Magnus tiba di Flowers Garden. Rosetta terlebih dulu ditemui oleh Raymond. Ia di iming-imingi imbalan yang cukup banyak jika berhasil memotong kejantanan sang Viscount.


"Berapa yang akan saya dapat?" tanya Rosetta pada sang penerus penguasa duchy itu.


"500 keping emas." bagi Raymond jumlah itu tidak ada harga nya, tapi tidak bagi Rosetta, dengan emas sebanyak itu dia bisa memulai usaha nya sendiri di desa.


"Baiklah, saya akan melakukan nya, Tuan." kata Rosetta dengan penuh keyakinan.


Beberapa waktu kemudian di kediaman Duke Meyer.


"Ughh.. Dimana aku?" Viscount Magnus yang baru saja sadar dari pingsannya merasa asing dengan ranjang yang ia tempati.


Raymond yang sedang duduk tak jauh dari ranjang itu menatap Viscount Magnus yang baru saja siuman dengan tatapan jijik, "Anda sudah bangun?"


"Du-duke Muda Meyer?" Viscount Magnus gelagapan dibuatnya, ia hendak berdiri dari tempat tidur namun dicegah oleh Raymond.


"Tetaplah berbaring. Kondisi anda sangat mengkhawatirkan. Walau itu sudah tak berfungsi seperti sedia kala setidaknya anda masih bisa bernafas." terang Raymond, membuat Thomas kembali mengingat kejadian sebelum nya.

__ADS_1


"Dimana gadis sialan itu?! Saya harus memberinya pelajaran!" pekik Thomas dengan angkara murka tersirat di kedua sorot mata nya.


Raymond berdiri dari tempat duduknya semula, "Tenanglah, Viscount. Karena kejadian ini terjadi di wilayah ku, tentu aku yang akan membereskan nya."


"Terimakasih, Duke Muda. Saya benar-benar berterimakasih dengan tulus. Lalu, apa anda bisa menyembunyikan perihal ini? Saya tidak ingin ada orang lain yang tahu. Hal ini benar-benar melukai harga diri saya sebagai seorang pria."


Raymond menautkan kedua alisnya, "Harga diri? Kau masih bisa memikirkan harga diri mu bahkan setelah mendatangi tempat hina seperti itu?!"


Raymond menjentikkan jari nya, "Ahh!! Pa-panass!!" Thomas bergegas membuka selimut yang menutupi tubuh bagian bawah nya karena merasa daerah kejantanannya sedang terbakar.


"Teruslah merengek jika ingin ku jadikan daging panggang!" kata Raymond dengan sungguh-sungguh.


"Ma-maafkan saya, Duke Muda! Saya yang tak tahu diri ini sudah bersalah dan banyak mau nya! Tolong matikan api nya, saya masih ingin hidup!" ucap Thomas Magnus yang berdaya karena kobaran api yang membakar selangkangannya tak juga kunjung padam.


Raymond berjalan ke arah Thomas, ia mengambil segelas air putih diatas nakas samping tempat tidur kemudian menyiramkan air itu tepat ke Thomas.


Sebenarnya Raymond bisa saja memadamkan api nya semudah ia menyalakan nya, namun ia ingin menyiksa Thomas sedikit lagi.


Elizabeth yang berada di kamar sebelah sedang menguping menggunakan segelas kaca kosong yang ditempelkan nya ke dinding tersenyum puas.


Tok! Tok! Tok!


Elizabeth buru-buru meletakkan gelas kosong itu ke atas nakas dan membuka pintu nya.


"Kau pasti baru saja selesai menguping?" kata Raymond pada Elizabeth.


"Bagaimana kau tahu?"


"Apa kau puas dengan pertunjukan nya?" tanya Raymond lagi.


Elizabeth mengangguk, "Ya, tentu saja!" jawabnya dengan senyuman merekah dibibirnya, "Tapi masih ada yang kurang." imbuh nya.


"Jika kau meminta aku untuk membakar seluruh tubuh nya hidup-hidup, aku tidak bisa melakukannya disini. Terlalu banyak saksi mata." ucap Raymond dengan serius.


"Apa?! Tidak! Kau terdengar seperti seorang pembunuh bayaran berdarah dingin, Duke Muda Meyer!"


"Raymond, panggil saja Raymond." pinta nya pada Elizabeth.

__ADS_1


"Baiklah, Raymond. Terimakasih atas bantuan mu tapi sisa nya biar aku sendiri yang mengurusnya." kata Elizabeth sembari melengkungkan seringai di ujung bibirnya.


"Aku tak sabar menanti kegaduhan apa yang akan kau buat." ucap Raymond seraya menatap Elizabeth dengan penuh harap.


__ADS_2