
Keesokan pagi nya setelah hujan badai yang mengguyur kota itu sedari sore hingga tengah malam, terlihat Elizabeth sedang sibuk menulis sebuah surat di meja belajar nya.
"Itu sudah kertas ke delapan, sebenarnya nona hendak mengirim surat nya kepada siapa?" gumam Leila selagi melihat sang empunya melempar kertas ke delapan nya setelah meremas nya menjadi bulat.
Beberapa menit kemudian, "Fyuh, akhirnya selesai juga. Leila cepat kirimkan surat ini." kata Elizabeth.
Tanpa bertanya lebih lanjut Leila segera melaksanakan titah Elizabeth. Di bawa nya sepucuk surat itu ke kotak surat yang ada di depan kediaman Count Swan.
Setelah menimbang saran dari Raymond kemarin, ia memutuskan untuk memberikan Peter Bernhard kepercayaan nya, walau sebenarnya ia juga sedikit ragu apa keputusan nya itu sudah benar.
...****************...
Dua hari kemudian, di kediaman Count Swan.
"Saya terkejut ketika tiba-tiba mendapatkan sebuah surat dari anda. Sebab saya belum pernah menerima surat dari seorang bangsawan kecuali dari Marquess Forsberg." tutur Peter, "Lalu, saya mohon maaf karena baru bisa datang kemari hari ini."
Elizabeth tersenyum, pagi itu ia menjamu Peter di ruang tamu nya. Ia bahkan sengaja menyajikan berbagai macam makanan ringan hanya untuk Peter seorang.
"Tidak apa-apa, saya memaklumi karena mungkin surat itu datang sedikit terlambat sebab beberapa hari ini terus turun hujan. Untungnya hari ini cerah, perjalanan Peter jadi menyenangkan bukan berkat cuaca nya?" tanya Elizabeth seraya merekahkan senyuman manis dari bibir ranum nya.
Peter tertegun melihat pesona seorang Elizabeth, wanita yang pernah menjadi Putri Mahkota itu memang sangatlah cantik. Terlebih nona bangsawan itu menyebut nama Peter dengan begitu lembut sembari tersenyum, pria mana yang tak terpesona karena hal itu sudah dapat dipastikan jika ia bukan pria normal.
"A-ah ya, perjalanan saya cukup menyenangkan." ucap Peter yang kemudian meneguk secangkir teh dihadapan nya untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu.
"Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan mu." kata Elizabeth.
Peter meletakkan cangkir teh nya kembali ke meja, "Silahkan, saya pasti akan membantu anda dengan senang hati." ucap nya.
__ADS_1
"Perihal renovasi toko, apakah aku dapat mengandalkan Peter untuk mengawasinya dari awal hingga akhir? Seperti yang kau tahu, aku sama sekali tak memiliki pengetahuan tentang masalah itu. Apa Peter bisa menolong ku?" tanya Elizabeth dengan berusaha bersikap semanis mungkin.
"Dari awal hingga akhir? Saya... ehm..." Peter terlihat ragu-ragu entah apa yang sedang ia pikirkan.
Elizabeth segera mengambil tindakan, "Maaf jika aku membuat Peter merasa terbebani. Sejenak aku lupa jika Peter adalah orang yang sibuk. Maaf, lupakan saja. Aku akan meminta tolong pada oranglain meskipun aku sungguh berharap Peter bisa membantu ku karena hanya Peter orang dapat ku percaya dan andalkan." ucap nya dengan wajah yang memelas sehingga membuat Peter merasa bersalah jika hendak menolak permintaan Elizabeth.
"Lady dihadapan ku ini berkata percaya pada ku? Apa aku tidak salah dengar? Wanita terhormat yang pernah menjadi putri mahkota ini mengandalkan ku? Aku tentu tidak boleh mengecewakan nya." ucap Peter dalam hati.
"Bukan saya menolak, tidak. Tapi saya yang hanya rakyat biasa ini merasa tidak pantas mendapat wewenang seperti itu dari seorang lady terhormat seperti anda." pungkas Peter.
Elizabeth mengerutkan dahi nya, "Siapa yang memutuskan pantas atau tidak nya? Justru menurutku tidak ada orang yang lebih baik daripada Peter untuk melakukan hal se-penting ini. Jadi jangan merasa rendah diri seperti itu." kata Elizabeth seolah memberi Peter keyakinan jika dirinya sungguh membutuhkan sosok Peter untuk membantu nya.
Peter menghela nafas nya, "Baiklah jika anda sudah berkata begitu, selain itu saya juga sejak awal sudah berkata akan membantu anda disaat anda butuh bantuan." ucap nya.
Clap!
Kali ini dia sedang tidak berpura-pura antusias, sebab semakin cepat toko perhiasan nya selesai di renovasi, semakin cepat pula ia bisa mendekati Edgar dengan menjadi mitra bisnis nya.
Peter merinci setiap pengeluaran yang berkemungkinan besar harus Elizabeth keluarkan untuk renovasi toko-toko nya. Ia sesekali menawarkan harga yang lebih rendah pada Elizabeth agar dapat menghemat anggaran biaya operasional lapangan nya.
"Ini dan ini dapat dibeli dengan harga lebih rendah jika membeli nya dalam jumlah banyak sekaligus. Lalu, untuk upah pekerja nya saya mengajurkan jangan membayarnya secara harian, lebih baik jika membayarnya setengah di awal dan di akhir. Kebanyakan jika diberi upah secara harian mereka bekerja dengan malas-malasan sebab semakin lama pekerjaan nya selesai semakin banyak upah yang mereka terima. Jika anda setuju saya akan membicarakan hal itu dengan kepala pekerja nya, bagaimana?" tanya Peter.
Elizabeth menganggukkan kepala nya berulang-ulang, "Yah, terserah Peter saja, mana menurutmu yang terbaik. Aku kan sudah mempercayakan ini sepenuh nya pada mu."
Elizabeth sempat mengira jika pria yang dikenal materialistis ini akan memberikan harga-harga yang tak masuk di akal agar sebagian anggaran nya dapat masuk ke kantong nya sendiri, ternyata tidak. Peter justru memberikan opsi lain nya agar Elizabeth bisa menyimpan sisa anggaran nya.
Jika di lihat dengan seksama sebetulnya Peter juga memiliki wajah yang tak kalah rupawan dengan para pria bangsawan yang seumuran dengan nya.
__ADS_1
Namun sayang nya aku tak tertarik dengan pria tampan, aku hanya tertarik dengan pria yang dapat berguna untuk rencana ku menghancurkan Edgar.
"Apa ada sesuatu di wajah saya?" tanya Peter sembari memegangi wajah nya.
Tanpa sadar Elizabeth tertegun memandangi wajah pria di hadapan nya itu, "Y-ya?" tanya nya salah tingkah karena seolah ketahuan sedang melakukan hal tak sopan seperti itu.
Tapi ini bukan waktu nya meminta maaf, Elizabeth!
"Aku hanya baru menyadari jika selain pandai dalam berbagai hal ternyata Peter juga memiliki wajah yang tampan." ucap Elizabeth dengan polos nya, ia sengaja ingin membuat Peter salah tingkah.
Pena yang di genggam nya terjatuh, "Y-ya?" Peter seolah tak percaya dengan yang baru saja di dengarnya, tapi melihat Elizabeth terus memandangnya sembari tersenyum manis membuat ia tersadar jika itu bukan mimpi, "Lady bagaimana anda bisa mengatakan hal seperti itu dengan begitu mudah nya?" kata nyamengataka sembari tersipu malu.
"Hm? Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran, apa itu salah?" jawab Elizabeth dengan polos nya, "Lalu bukankah kita sudah setuju untuk saling memanggil nama satu sama lain?" imbuh nya.
Elizabeth lalu berdiri dari tempat duduknya, ia mengambil sekantong emas yang dikembalikan oleh Raymond tempo hari dan memberikan nya pada Peter.
"Gunakanlah ini untuk biaya akomodasi pribadi mu." kata Elizabeth sembari kembali ke tempat duduk nya semula.
Peter menunjuk ke kantong yang satu lagi, "Ini sudah lebih cukup." lalu ia mendorong kantong yang baru saja diberikan Elizabeth ke hadapan wanita itu, "Gunakanlah ini untuk hal yang lain nya saja."
"Peter, tolong terima saja. Jangan anggap ini upah, seperti yang aku bilang ini adalah biaya akomodasi pribadi mu." terang Elizabeth, "Jika kau menolak nya aku akan benar-benar kecewa pada mu." ancam nya.
"Aku sebenarnya juga tidak mau menolak ini, hanya saja aku tidak ingin terlihat buruk di mata mu sebagai seorang pria." bathin Peter.
Dengan paksaan Elizabeth pada akhirnya Peter membawa kedua kantong penuh emas itu.
Bukankah kita berdua sama-sama pandai berakting, Peter?
__ADS_1
Tapi tak masalah, aku akan menganggap sekantong emas itu sebagai harga yang harus ku bayar untuk membeli seekor hewan peliharaan yang manis di petshop.