ELIZABETH SWAN

ELIZABETH SWAN
Bab 23 - Pasangan Yang Sepadan


__ADS_3

Di ibukota kekaisaran Alexandria.


Setelah Peter bertanya mengenai spesifikasi furnitur yang diinginkan nya, terbersit sebuah rencana dalam benak Elizabeth dan ia pun lalu memutuskan untuk mengajak Peter pergi ke ibukota membeli memilih furnitur nya secara langsung.


Mereka berangkat dengan menggunakan kereta kuda yang sama karena Peter hanya membawa kereta tanpa kuda. Ternyata sifat kikir Edgar dapat melancarkan rencana Elizabeth. Rumor baru akan tercipta tatkala orang-orang melihat Elizabeth membawa seorang pria di dalam kereta kuda nya.


Walau ia mengatakan kepada Peter jika tujuan mereka kesana hanya ke toko furnitur, sebetulnya Elizabeth tak akan berhenti sampai disitu saja. Ia akan mengajak Peter untuk menikmati teh di sebuah kedai teh para bangsawan berkumpul setelah membelikan pria itu sebuah hadiah.


Hanya dengan memikirkan nya saja Elizabeth yakin jika rumor itu akan menjadi perbincangan dimana-mana dengan tajuk 'Pria Baru Elizabeth'. Akibat kepribadian Elizabeth asli yang kekanak-kanakan semua ini akan berjalan semakin mudah.


"Arsitek kemarin menyarankan sebuah toko furnitur yang memiliki kualitas terbaik di setiap barang nya, bagaimana jika kita langsung kesana, Peter?" tanya Elizabeth setelah kedua nya turun dari kereta kuda.


Elizabeth sengaja tidak turun tepat di depan toko, ia ingin mempertontonkan kebersamaan nya dengan Peter di sepanjang jalan ini.


Peter nampak canggung karena menjadi pusat perhatian, "Ah, ya.. jika itu yang anda ingin kan, mari segera kesana." kata pria itu.


Elizabeth menghentikan langkah nya, "Kenapa kau bicara seperti itu lagi? Kita kan sudah setuju untuk saling berbicara santai." protes nya.


"Tapi.. saya yang seorang rakyat biasa berbicara santai kepada seorang lady di tempat umum seperti ini.. bukankah itu bisa membuat anda malu?" kata Peter yang sebenarnya lebih memikirkan dampaknya untuk Elizabeth daripada dirinya sendiri.


Elizabeth memiringkan kepala nya sedikit ke kanan, "Kenapa Peter memikirkan hal tak berguna seperti itu? Aku sama sekali tak tertarik untuk mempedulikan pandangan orang lain terhadap ku, sebab akan selalu ada alasan pembenci untuk membenci kita sekeras apapun kita berusaha menjadi baik. Jadi hiduplah untuk dirimu sendiri, Peter. Jangan berusaha memuaskan penilaian oranglain karena itu sungguh hal yang sia-sia." terang nya.


Sebetulnya ia sendiri pun tak pernah mempedulikan pandangan oranglain terhadapnya terlebih ketika para bangsawan menjuluki nya perompak daratan, ia sama sekali tak marah ataupun merasa keberatan.


Namun entah mengapa ketika itu menyangkut wanita dihadapan nya ini, Peter menjadi merasa tak tenang hanya dengan memikirkan rumor buruk yang akan timbul karena kedekatan mereka di tempat umum seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa diam saja? Kau paham dengan yang ku maksud barusan, bukan?" tanya Elizabeth memastikan.


"Ya, saya mengerti." Elizabeth menatapnya tajam, "Ah, ya.. aku mengerti jadi tolong jangan menatap ku dengan menyeramkan seperti itu." kata Peter.


Elizabeth tersenyum, "Kalau begitu mari pergi ke toko furnitur sekarang!" ucap nya sembari melingkarkan tangan nya pada lengan Peter.


Tindakan tiba-tiba Elizabeth itu membuat Peter tercengang, "Elizabeth, bisakah kita berjalan seperti biasa saja? Menurutku ini terlalu... dekat?" kata Peter.


"Apa Peter tidak suka jika kita jadi dekat?" tanya nya dengan polos seperti remaja pada umumnya.


Peter memalingkan wajah nya yang tengah tersipu karena tingkah polos Elizabeth yang menggemaskan, "Bukan nya tak suka, tapi..."


"Berarti tidak ada masalah, karena Peter juga suka." timpal Elizabeth sebelum Peter menyelesaikan kalimat nya.


Rencana Elizabeth bisa dibilang cukup berhasil mulai dari Peter yang terlihat jelas menyukai nya serta sorot mata para orang-orang yang berada di sekitar. Bahkan ada beberapa yang secara terang-terangan membicarakan mereka berdua dari dekat.


"Astaga, benar-benar wanita yang tak memiliki harga diri. Bisa-bisanya dia mengejar pria lain setelah pertunangan nya batal dengan putra mahkota." kata salah seorang yang ada disana.


"Dia seperti akan mati jika tak ada pria di samping nya. Menjijikan!" kata satu nya lagi.


"Aku justru merasa Yang Mulia beruntung sebab akhirnya beliau bisa lepas dari wanita seperti nya. Lagipula dia juga tak pantas menyandang gelar Putri Mahkota, seorang putri mahkota berdarah rakyat jelata? Bukankah itu akan merusak garis keturunan darah kaisar yang terhormat?" timpal lain nya lagi.


Darah kaisar yang terhormat kata nya? Seorang calon pemimpin yang suka berpesta dan memiliki hutang dimana-mana itu kalian sebut terhormat? Ckck, ternyata rakyat atau pemimpinnya sama-sama bodoh. Pantas saja kekaisaran ini tak kunjung mengalami perubahan yang berarti.


Beberapa orang tertawa setuju bahwa Elizabeth sama sekali tak pantas bersanding dengan Putra Mahkota.

__ADS_1


"Setidaknya kini dia sadar diri dan memilih pasangan yang pantas untuk nya. Bukankah seorang lady berdarah rakyat biasa sangat cocok bersanding dengan seorang perompak daratan?" kata salah satu nya yang diikuti tawa dari beberapa orang yang juga berada disana.


Peter mengeratkan rahang nya, kesal, karena mendengar Elizabeth direndahkan dan ditertawakan secara terang-terangan seperti itu.


Elizabeth yang mengetahui hal itu segera menenangkan Peter dengan cara mengusap lengan Peter yang masih di gandeng nya, "Aku tidak apa-apa. Jadi jangan pedulikan mereka, biarkan saja para anjing kelaparan itu menggonggong sesuka nya." kata nya.


Peter terkekeh, "Kenapa tiba-tiba tertawa?" tanya Elizabeth kebingungan melihat nya.


"Kau benar, mereka bukan manusia tapi anjing." jawab Peter.


Tiba di toko furnitur, Elizabeth melihat beberapa contoh furnitur yang sudah jadi. Sebelum pergi ia sudah mengingat daftar furnitur yang diberikan oleh Dietrich jadi ia tak perlu membawa catatan itu lagi.


Semua furnitur dibuat menurut pesanan jadi barang yang ada di toko itu hanyalah contoh. Sebab furnitur bukanlah kebutuhan pokok yang akan rutin dibeli untuk bertahan hidup. Pemilik toko menjelaskan jika semakin banyak jumlah yang di pesan ia akan memberikan potongan harga.


Mendengar kalimat 'potongan harga' membuat Elizabeth menjadi bersemangat. Akhirnya ia pun membayar sebagian dari jumlah total dan membayarkan sisa nya setelah barang jadi.


Usai melakukan tujuan utama nya, kini Elizabeth mengajak Dietrich untuk pergi ke sebuah butik. Peter tak curiga sebab ia hanya mengira jika Elizabeth akan berbelanja pakaian untuk dirinya sendiri. Namun betapa terkejutnya dia tatkala Elizabeth membeli sebuah mantel dari kulit sapi dengan kualitas baik untuk nya.


"Aku akan sangat senang jika Peter memakainya saat kita bertemu lagi." kata Elizabeth sembari memberikan mantel itu pada Peter.


"Ini terlalu mahal untuk ku." kata Peter.


"Peter, apa kau akan terus membuat tangan ku seperti ini? Cepat ambil sebelum tangan ku sakit!" desak Elizabeth.


Mau tak mau ia pun mengambil itu dari tangan Elizabeth, "Aku pasti akan memberikan mu sesuatu yang lebih mahal daripada mantel ini, Elizabeth." kata Peter dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2