
Malam hari nya, di kediaman sang arsitek. Hari sudah cukup larut, ketika ia hendak memejamkan mata nya.
Tok! Tok!
Suara ketukan di kaca jendela kamar nya membuat pemuda itu membeku seketika.
Orang gila mana yang bisa naik ke lantai tiga tanpa tangga?
Apa dia pembunuh?
Tidak-tidak, siapa yang berniat membunuh orang seperti ku?
Tidak ada keuntungan apapun yang akan dia dapat dengan membunuh ku.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu semakin jelas dan keras. Ia pun memberanikan diri nya untuk membuka tirai jendela kamar nya.
"WUAAAA!!!" teriak pemuda itu dengan histeris.
Jantung nya seperti akan keluar dari dalam tubuh nya tatkala melihat sesosok penampakan yang menyeramkan.
Sosok di balik jendela itu mengeluarkan sepucuk surat dari saku nya. Di surat itu terdapat stempel cap milik Keluarga Meyer.
Pemuda itu langsung tahu siapa yang menyuruh sosok itu datang kepada nya di larut malam seperti ini.
"Dasar orang gila! Apa dia ingin aku mati terkena serangan jantung?! Bisa-bisanya dia mengutus ksatria bayangan nya untuk mengirim surat pada ku selarut ini?!" oceh nya dengan penuh kekesalan.
Ia pun segera membuka jendela nya. Setelah urusan nya selesai, sosok itu segera menghilang dalam satu kedipan mata.
Dear Teman Terbaik Ku,
Besok pagi datanglah ke kediaman Count Swan. Tolong bantulah putri Count Swan yang bernama Elizabeth untuk mendesign toko perhiasaan nya.
__ADS_1
Setelah urusan mu disana selesai, pergilah ke rumah ku untuk meminta imbalan. Akan aku berikan apapun yang kau minta jika pekerjaan mu cukup bagus.
Teman Mu, Raymond Meyer.
"Elizabeth Swan ya? Gadis seperti apakah yang sudah menarik perhatian pria licik ini? Sampai-sampai ia akan memberikan imbalan apapun yang ku mau hanya karena telah membantu gadis ini." kata nya penasaran, "Apa gadis itu tahu jika Raymond adalah seorang pria pelit yang bahkan tidak mau membagi secuil roti nya dengan ku?"
...****************...
Keesokan pagi nya di Kediaman Count Swan.
Tok! Tok!
Elizabeth mengubah posisi tidur nya, ini masih terlalu pagi untuk nya bangun.
Tok! Tok!
"Sepertinya itu tidak akan berhenti sampai aku benar-benar bangun." gumam nya, "Masuk!" sahut nya kemudian dengan sedikit kesal.
Leila pun muncul dari balik pintu, "Maaf sudah mengganggu tidur anda, Nona. Tapi arsitek kenalan Duke Muda Meyer sudah tiba." terang nya.
Aku tak mengira jika yang dimaksud Raymond pagi adalah sepagi ini.
"Katakan pada nya untuk menunggu ku sebentar. Lalu suruh orang untuk membawakan ku air cuci muka, secepatnya!" titah Eliza.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan masuk dengan membawa yang ia minta. Begitu Eliza selesai muka dan memilih baju, Leila kembali untuk membantunya bersiap.
Sekitar 15 menit kemudian.
"Maafkan saya karena telah membuat anda menunggu lama, Sir. Saya tidak mengira jika anda akan datang sepagi ini sebelumnya." tutur Eliza.
Oh, ku kira arsitek kenalan Raymond adalah seorang yang lebih tua daripada kami.
Ternyata ia masih muda, justru lebih muda daripada Sebastian atau Caspian, mungkin?
Pemuda itu meletakkan cangkir teh yang baru saja ia teguk, lalu berdiri memberikan hormat karena ia bukan seorang bangsawan, "Senang bertemu dengan anda, Lady Elizabeth. Perkenalkan saya sahabat baik Duke Muda Meyer, Dietrich."
"Tidak perlu bersikap sopan begitu jika Sir Dietrich adalah sahabat baik Raymond. Anggap saja saya juga teman baik anda." kata Eliza.
__ADS_1
Dietrich sedikit terkejut, biasanya para bangsawan akan menganggapnya rendah karena hanya seorang rakyat biasa. Meskipun dia seorang arsitek sekalipun.
Pemuda itu pun tersenyum, "Kalau begitu, anda juga harus memanggil saya Dietrich juga." ucapnya.
"Baiklah kalau begitu, Dietrich." kata Eliza mengiyakan.
Dietrich menunjukkan katalog hasil design nya agar dijadikannya referensi oleh Elizabeth. Ia juga menyarankan agar Elizabeth memilih warna yang cenderung gelap namun memiliki kesan mewah. Contoh nya warna merah yang dikombinasikan dengan sedikit warna emas.
Elizabeth awalnya menginginkan warna yang cerah agar memberikan kesan baru yang segar pada toko-toko yang lama tak terpakai itu. Namun Dietrich menjelaskan menurut pandangan nya sebagai seorang arsitek, warna cerah cenderung untuk toko seperti kedai teh dan sejenis yang menjual produk dengan harga standart, serta suasana santai dan menyenangkan. Sedangkan untuk toko perhiasan karena produk yang ditawarkan adalah barang-barang mahal, toko itu sendiri harus sudah memiliki kesan mewah dan elegan bahkan sebelum pembeli masuk.
"Sebagian besar orang yang akan membeli buku bagian pertama yang mereka lihat adalah judul dan sampul nya, maka dari itu kesan pertama dari sebuah toko juga sangat penting menurut saya." pungkas Dietrich.
"Memang ya, mata seorang ahli arsitek sungguh berbeda dengan ku yang hanya seorang awam ini." kata Elizabeth kagum, memuji kemampuan Dietrich.
"Ah, anda terlalu berlebihan. Ini memang sudah tugas seorang arsitek untuk memberikan saran terbaik pada pelanggan nya." tutur Dietrich.
Elizabeth tersenyum, "Untung saja Raymond mempunyai teman seperti mu, jika tidak pasti aku pasti akan tetap memilih warna cerah untuk toko-toko ku." kata Elizabeth bersyukur, "Raymond bilang jika Dietrich seringkali menolak untuk diberi imbalan atas jasa nya, kenapa?"
Dietrich kebingungan, "Y-ya?" sebab ia sama sekali tak pernah menolak, tentu saja jasa nya harus dihargai. Dia bekerja memang untuk mencari pundi-pundi uang.
"Meski Raymond berkata begitu, tapi tolong terima ini dari ku walau hanya sedikit. Dietrich sudah sangat membantu ku, setidaknya hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menghargai jasa mu." kata Elizabeth sembari menyuruh Leila memberikan sekantong emas pada Dietrich.
Kenapa si pelit itu bilang kalau aku tidak mau dibayar?
Orang bodoh mana yang bekerja secara cuma-cuma?
Tapi jika aku menerima sekantong emas dari kekasih nya ini, pasti dia akan membunuh ku.
Tubuh Dietrich seketika bergetar ketakutan dan bulu kuduk nya meremang, ia lalu mengusap-usap tubuh nya sendiri.
"Tidak perlu, repot-repot seperti itu Lady, sungguh."
Elizabeth menyipitkan kedua mata nya tatkala pemuda itu memanggilnya Lady lagi, "Bukankah kita teman, Dietrich?" tanya dengan penuh penekanan pada kata teman.
Dietrich sebenarnya juga ingin menerima sekantong emas itu tapi ia lebih menyayangi nyawa nya. Untuk apa menerima itu jika pada akhirnya dia mati dibunuh oleh Raymond dan tidak bisa menggunakan emas tersebut?
"Justru karena kita ini teman, Lady. Eh, maksud saya Elizabeth. Bukankah sesama teman harus saling tolong menolong?" Dietrich sangat berharap jika alasan nya itu bisa diterima oleh Elizabeth.
__ADS_1
Tapi sepertinya tidak, ia tetap dipaksa oleh Elizabeth menerima sekantong emas itu. Jika tidak Elizabeth mengancam tidak akan merekomendasikan nya pada bangsawan lain. Tentu saja itu hal yang buruk bagi Dietrich jadi ia terpaksa menerima nya dan sedang memikirkan alasan apa yang harus ia buat untuk Raymond di sepanjang perjalanan menuju kediaman Meyer.