
Setelah urusannya di kediaman Count Swan selesai, Dietrich kini tengah menuju kediaman Duke Meyer untuk menemui Raymond.
Ketika memasuki area halaman depan kediaman sang Duke, Dietrich sudah merasakan hawa dingin yang menusuk sekujur tubuh nya.
Dietrich mendongakkan kepala nya, tatapan membunuh Raymond dari balik jendela lantai dua menyambut ke datangan nya.
Glek!
Dietrich menelan saliva nya dengan susah payah sebelum memasuki ruang tamu kediaman Duke Meyer.
"Kau, kenapa menerima sekantong emas yang diberikan oleh Elizabeth, Dietrich???" seketika ruangan itu penuh dengan aura hitam pekat yang muncul dari diri Raymond.
Dietrich sudah mengira sebelumnya jika Raymond telah mengetahui hal tersebut. Sebab Duke Muda itu pasti mengirim ksatria bayangan nya untuk mengintai dari jauh.
Dietrich meletakkan sekantong emas pemberian Elizabeth itu di atas meja, "Dia, kekasih mu itu, sangat mirip seperti mu. Dia tidak menerima penolakan dan justru balik mengancam ku jika tidak mau menerima ini. Jadi mau tak mau aku harus membawa nya." terang Dietrich yang kemudian duduk di sofa bernuansa putih di hadapannya.
"Ya, dia memang seperti itu." sahut Raymond sembari tersenyum hangat.
"Jika kau tahu kenapa kau bersikap seperti barusan kepada ku?!" protes Dietrich.
"Siapa tahu kau dengan sengaja meminta upah kan? Bukan nya kau juga seperti itu pada ku?"
Dietrich menghela nafas nya, "Dasar pria ini, selalu saja berpikiran buruk tentang ku."
Raymond bertanya tentang apa yang mereka berdua bicara kan tadi, Dietrich menceritakan semua nya sampai pada akhirnya Elizabeth memilih warna yang ia saran kan sebagai warna toko nya. Design interior di dalam nya juga Elizabeth percayakan pada Dietrich sepenuh nya.
"Apa dia tidak membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan ku?" tanya Raymond dengan memasang muka datar namun Dietrich tahu jika di dalam hati sebenarnya ia sangat penasaran.
Dietrich menggelengkan kepala nya, "Sama sekali?" tanya Raymond memastikan.
"Oh ya, ada satu kalimat dimana ia mengucapakan nama mu." kata Dietrich kemudian, membuat kedua mata Raymond menjadi berbinar.
__ADS_1
"Untung saja Raymond mempunyai teman seperti mu, jika tidak pasti aku pasti akan tetap memilih warna cerah untuk toko-toko ku." ucap Dietrich sembari menirukan mimik muka dan nada bicara Elizabeth kala itu, "Begitulah kata nya."
Raymond tersenyum, merasa senang karena dirinya bisa sedikit berguna untuk Elizabeth. Dietrich mengangkat kedua alisnya keheranan dengan sikap Raymond yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Kau, tersenyum bahagia hanya karena ucapan seperti itu? Raymond kau sudah tidak waras, ini bukan teman yang ku kenal. Siapa kau sebenarnya?!" kata Dietrich sembari mencengkram kedua pundak Raymond dengan kuat seraya mengguncang nya sebanyak dua kali.
Plak!!
Raymond melayangkan tangan nya ke kepala Dietrich, "Kau sudah bosan hidup rupanya? Bilang saja, akan langsung ku buat kau hangus tak tersisa." kata Raymond dengan tatapan membunuh.
Dietrich mengusap-usap bagian kepala nya yang sakit karena ulah Raymond, "Jika wanita itu tahu kau adalah psikopat gila yang dengan mudah nya ingin membunuh orang seperti ini, kau pasti akan ditinggalkan. Jadi berubah lah jika kau memang mencintainya, wanita tidak suka pria gila seperti mu." terang Dietrich yang kemudian kembali duduk ke tempat nya semula.
Raymond menyeringai, "Dia sudah tahu. Bahkan aku sudah menceritakan tentang gagal nya rencana pembunuhan ku pada Regina." tutur nya.
Dietrich membulatkan mata nya hingga seolah hampir terlepas keluar dari wajah nya, "Apa?! Lalu bagaimana tanggapan nya? Gila, dasar sinting! Kenapa kau menceritakan aib mu sendiri?!" cerocos Dietrich.
Raymond meneguk teh nya, "Dia justru menyarankan ku agar dulu mendorong Regina dari balkon dengan keras daripada meracuninya dengan tangan oranglain, sehingga ayah dan ibu ku tidak menyadari kelicikan ku sejak kecil. Dan hanya menganggap itu sebuah kecelakaan karena aku yang masih kecil kesal terhadap adik ku yang bodoh dan menyebalkan." Raymond lalu terkekeh, "Pftt, aku masih ingat bagaimana wajahnya ketika mengatakan hal itu seolah bukan sesuatu yang buruk. Dia sangat mengerti aku, bukan, Dietrich?"
"Bukankah mati di tangan wanita cantik itu suatu kehormatan? Setidaknya kau harus senang karena jika aku yang membunuhmu tidak akan ada bagian tubuh mu yang dapat di kebumikan." Raymond benar-benar membicarakan hal seperti itu dengan nada santai seolah membicarakan sesuatu hal yang wajar dan menyenangkan.
"Kehormatan kata mu?! Lebih baik aku terus sengsara seumur hidup daripada harus mati dengan terhormat!"
Setelah obrolan tentang rencana pembunuhan Dietrich itu, Raymond memberikan Dietrich sejumlah emas yang besar nya dua kali lipat daripada yang diberikan oleh Elizabeth pada nya. Namun, ia meminta agar Dietrich menyerahkan kantong emas dari Elizabeth itu padanya. Agar ia sendiri yang mengembalikan nya pada wanita itu.
Dengan senang hati Dietrich menerima tawaran Raymond, setelah mengetahui kelicikan kedua nya Dietrich tak berniat untuk bertemu dengan Elizabeth lagi.
Bisa-bisa nya, seorang Lady terhormat membicarakan rencana pembunuhan dengan Duke Muda dari keluarga ternama dengan begitu santai nya.
Apa kehidupan seorang bangsawan sekeras itu? Sehingga membuat kedua orang ini tumbuh menjadi pribadi yang menakutkan seperti ini?
Dietrich yang hanya seorang rakyat dari golongan menengah ke bawah tidak akan pernah paham dan tahu bagaimana busuk dan rumitnya kehidupan para bangsawan.
__ADS_1
Bahkan demi gelar, saudara kandung akan saling membunuh tanpa belas kasihan. Demi tahta akan ada saudara atau bahkan kaisar dan raja itu sendiri yang digulingkan oleh anak nya.
...****************...
Sore hari nya, di kediaman Count Swan.
Elizabeth terlihat kesal karena kedatangan Raymond yang tiba-tiba. Bukan nya tidak suka, ia hanya tak ingin ada rumor yang muncul karena kunjungan Raymond ini. Elizabeth tidak ingin rencana nya untuk menjinakkan Peter Bernhard gagal.
"Kenapa muka mu kusut sejak tadi? Apa kau tidak suka aku berkunjung kemari?" tanya Raymond.
"Kau bukan orang bodoh. Jadi jangan berpura-pura tidak tahu alasan ku tidak suka kau ada disini sekarang." sahut Elizabeth dengan nada kesal sembari kedua tangan nya terus menyilang di atas perut.
Raymond tergelak puas alih-alih merasa sedih atau kecewa atas perlakuan Elizabeth, "Aku senang kau memuji ku pintar. Tapi aku kesini hanya untuk mengembalikan ini dan sekedar meminum teh di sore yang cerah ini dengan mu."
Ctarr!!
Suara petir yang menggelegar terdengar dari luar.
"Kau buta? Hujan badai seperti ini kau bilang cerah?!" kata Elizabeth sembari menunjuk ke luar jendela, "Jika urusan mu sudah selesai cepatlah pulang kembali ke rumah mu serta bawa kembali yang kau bawa, karena aku memang memberikannya pada Dietrich."
Raymond yang masih memegang gelas cangkirnya itu mendadak memasang raut muka yang serius, "Duduklah, beri aku waktu lima menit." kata nya dengan nada yang rendah namun penuh tekanan.
Tanpa terasa Elizabeth menuruti perkataan Raymond karena merasakan aura dominannya.
"Serahkan perihal renovasi toko mu pada Peter, beri dia wewenang untuk itu. Dia akan merasa dihormati." Raymond mendorong sekantong emas yang dari awal adalah milik Elizabeth itu ke hadapan nya, "Gunakan ini sebagai upah untuk Peter daripada kau berikan pada Dietrich, dia sudah mendapatkan nya dari ku."
Elizabeth mengerutkan dahi nya, "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayakan hal sepenting renovasi toko pada nya? Kau ini sedang bercanda, Raymond?"
"Apa aku sekarang terlihat seperti sedang bercanda? Jika kau ingin mendapatkan hati seorang pria puaskan lah ego nya lebih dulu. Buat dia merasa dihormati dan dipercaya oleh mu. Setelahnya dia akan memberikan hatinya dengan suka rela." Raymond menghela nafas nya tampak kecewa, "Kau ini ternyata tak sepintar yang ku kira." imbuhnya.
Meski telah diremehkan seperti itu oleh Raymond, Elizabeth hanya bisa menggigit bibir bawah nya kesal, karena ia tak bisa membalasnya. Sebab apa yang dikatakan Raymond itu benar.
__ADS_1