
Malam tiba Nick baru saja sampai di rumahnya. Ia keluar mobil setelah memarkirkannya di Garasi. Dapat ia lihat anaknya sedang makan malam sendirian di meja makan. Nick pun menghampiri Matthew.
"Lagi makan apa, Son?" tanya Nick.
"Lagi makan mie tek tek dibeliin sama pak Murdi tadi" jawab Matthew.
"Papa dibeliin juga gak?"
"Dibeliin dong pa udah ada di dapur papa siapin sendiri ya" ucap Matthew.
"Baiklah kalau gitu papa mau mandi dulu"
"Iya pa"
Nick pun berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk bersih-bersih sebelum ia melanjutkan untuk makan malam.
Matthew sendiri sudah menghabiskan makanannya setelah itu meletakkan piringnya di wastafel. Matthew mendorong kursi sebagai tumpuan agar ia bisa meraih wastafel untuk mencuci piringnya. Setelah selesai mencuci dan menaruh piringnya di rak papanya belum juga kunjung datang untuk makan malam.
"Papa mandi lama sekali. Di kamar mandi ngapain aja sih" ucap Matthew heran.
Dari pada menunggu papanya yang tak pasti ia memutuskan untuk menonton televisi. Sore tadi ia sudah belajar dan mengerjakan PR sisa hiburan saja yang belum ia lakukan. Upin & Ipin adalah kartun favorit. Matthew tak pernah bosan walaupun episode yang di mainkan sudah sering kali ia tonton.
Matthew merasa cukup terhibur di rumah walaupun tak ada sosok ibu atau pengasuh. Saat sedang tertawa melihat kartun favoritnya dari arah tangga papanya baru saja turun dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan mie tek tek yang sudah dibelikan Pak Murdi.
"Matt kau gak belajar?" tanya Nick yang sudah duduk di kursi ruang makan.
"Sudah Pa tadi sore" jawab Matthew.
Lalu keadaan jadi sepi hanya ada suara channel tv dan sendok garpu yang menimbulkan suara ketika beradu di atas piring.
"Pa" panggil Matthew tiba-tiba.
"Iya Son ada apa?" tanya Nick.
"Coba aja Matthew punya mama pasti rumah bakal ramai" jawab Matthew.
Nick spontan berhenti. Tangannya yang akan menyuapkan Mie ke dalam mulutnya langsung terhenti ketika mendengar ucapan putranya. Nick tak jadi menyuapkan mie nya itu ke dalam mulut.
"Sabar ya pasti nanti rumah kita akan ramai seperti yang kamu inginkan" ucap Nick.
"Papa kapan bawa Kak Jes untuk tinggal di rumah buat jadi mama Matthew?" tanya Matthew penuh harap.
"Ini sedang diusahakan" jawab Nick.
Hening kembali. Kali ini Nick sudah menghabiskan Mie nya lalu mencuci piring kotor bekas makanannya. Terdengar air keran yang meluncur dengan deras.
Sedangkan Matthew mematikan tv nya karena kartun favoritnya sudah selesai ganti acara lain yang muncul. Matthew berjalan mendekati Nick yang berada di dapur.
__ADS_1
"Pa" panggil Matthew.
Nick melihat ke arah Matthew lalu berjongkok di depannya menyamakan tinggi Matthew, "Jangan sedih ya nanti papa juga ikut sedih"
"Aku harap secepatnya Kak Jes mau menerima kita sebagai kelurganya" ucap Matthew.
"Kamu banyak berdoa saja. Besok hari Sabtu kan?" tanya Nick.
Matthew mengangguk.
"Bagaimana kalau malam Minggu kita ajak Kak Jes makan malam" tawar Nick.
"Boleh itu pa"
"Nanti papa kabari Kak Jes nya dulu ya sekarang kamu istirahat udah malam" ujar Nick.
"Iya pa selamat malam" ucap Matthew sambil mengecup pipi Nick lalu berjalan menuju kamarnya.
Nick hanya tersenyum ia juga berharap dan ingin mempunyai keluarga yang lengkap seperti dulu sebelum istrinya meninggal dunia.
..._...
Hari ini jadwal istirahat kembali seperti semula. Jessica kembali lagi istirahat bersama Rani setelah temannya yang bernama Bimo dan Fadlan.
"Kau ini kemarin enak ya makan kayak pengunjung" ucap Rani.
"Siapa yang iri" ucap Rani padahal faktanya juga iya ia iri melihat kemesraan antara Jessica dan Nick kemarin.
"Pakai pelet apa kau? Kok sampai bisa menaklukkan duda hot kayak Om Nick mau juga aku" ucap Rani.
Pertanyaan Rani dijawab dengan kalimat gurauan oleh Jessica "Aku tuh punya dukun pelet sakti. Mantranya tuh mantap betul pokoknya langsung sampai pada target"
"Ah yang bener kau" ucap Rani.
"Canda temen yakali aku pakai pelet udah jelas kali kalau aku tuh emang gak sejelek itu sampai gak bisa dapetin pria spek Om Nick" ucap Jessica percaya diri.
"Iya deh mbak Jessica yang cantik" ucap Rani lalu melanjutkan makannya.
Beberapa waktu mereka berdua makan dengan diam hingga Rani menyeletuk lagi membahas masalah Nick dan Jessica kemarin, "Jes kalau boleh tahu hubungan kau sama Om Nick udah sejauh mana sih?"
Pertanyaan Rani mampu membuatnya tersedak ketiak sedang minum, "Maksud kau?" ujarnya melempar pertanyaan balik.
"Iya maksudnya tuh kemarin aku lihat kalian tuh sweet banget gitu sampai kau nyuapin Om Nick segala lagi" jelas Rani.
"Gitu ya. Gimana ya aku mau ceritain ke kamu" ucap Jessica bingung untuk memulai bercerita tentang hubungannya dengan Nick.
"Cerita aja gakpapa kita kan besti" ucap Rani.
__ADS_1
"Jadi gini dua hari yang lalu tuh Om Nick ke rumahku sama Matthew" ucapnya.
"Terus?"
"Waktu itu Om Nick bilang kalau dia mau mengenal aku lebih dekat dan Matthew juga terus-terusan minta aku buat jadi mamanya" jelas Jessica.
"Amazing, garcep kali nih Om Nick" ucap Rani sambil bertepuk tangan sebagai tanda kagum dengan apa yang dilakukan oleh Nick.
"Ya gitu deh terus akhirnya aku juga memutuskan untuk mengenal Om Nick lebih dekat kayak apa ya" ucapnya sambil menerawang, "waktu itu perasaanku campur aduk lebih ke gak enak gitu waktu mereka pamit pulang dari rumah karena posisinya aku belum kasih jawaban dan entah kenapa hati dan pikiran aku tuh refleks buat aku ngejar bapak anak itu kayak aku merasa aku gak mau kehilangan mereka"
"Jodoh tuh kalian udah sampai punya ikatan batin gitu, pokoknya aku selalu berdoa yang terbaik buat kau dan juga hubunganmu dengan Om Nick dan Matthew" ucap Rani.
"Makasih ya Ran kau emang besti ku yang pengertian" ucap Jessica.
Suara langkah seseorang mendekat. Mereka berdua serempak menoleh dan mendapati Yohan sedang menghampiri mereka berdua.
"Kenapa lagi ini?" pikir Rani.
"Kalian asyik sekali ngobrolnya" ucap Yohan ketika berdiri di hadapan kedua karyawannya.
Seketika Jessica dan Rani berdiri dari duduknya menghadap ke arah bosnya.
"Waktu istirahat sudah akan habis cepat selesaikan makan kalian dan kembali lagi bekerja saya itu gak membayar kalian hanya untuk berdiskusi hal yang gak penting" ucap Yohan.
"Tapi pak jam istirahat kita kan masih lama" sanggah Rani.
"Jangan membantah kamu. Kamu sudah mulai berani dengan saya" ucap Yohan terdengar mengintimidasi.
"Maaf pak" ucap Rani lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Dan kamu Jessica" ucap Yohan sambil menunjuk ke arah Jessica.
"Jangan mentang-mentang kemarin saya kasih kelonggaran buat kamu sekarang kamu jadi seenaknya jadi orang" ucap Yohan marah.
Jessica terlihat bingung di tempatnya pasalnya dirinya gak merasa sering membuat kesalahan dan bukan menurutnya saja tapi menurut karyawan yang lainnya Jessica adalah karyawan yang paling bagus dalam menjalankan pekerjaannya. Dirinya juga gak pernah selama bekerja disini melakukan kesalahan yang diluar batas wajar.
"Maaf Pak kalau Pak Yohan tidak berkenan dengan kejadian kemarin menyangkut saya jika Pak Yohan tidak menyukainya seharusnya Bapak tidak menyuruh saya untuk menemani pelanggan meja sepuluh Pak" ucap Jessica. Tentu saja dia berbicara seperti itu karena Yohan seperti menyalahkannya atas kejadian kemarin bukannya dia juga yang menyuruhnya untuk makan bersama Nick.
"Kan kamu tahu kalau Nick temen saya jadi saya sungkan untuk menolak permintaannya dan seharusnya kau bisa menolak permintaan saya kemarin" ucap Yohan.
Disini Rani tampak memicingkan mata ketika menangkap perkataan Yohan dan gaya bicaranya seperti orang yang sedang cemburu.
"Baik Pak saya tidak akan mengulanginya lagi sekali lagi mohon maaf untuk hal yang sudah menyinggung perasaan bapak" ucap Jessica mengalah dari pada nanti dia kehilangan pekerjaan kalau terus membantah.
"Bagus kalau kamu sadar" ucap Yohan lalu meninggalkan tempatnya.
Jessica dan Rani saling pandang.
__ADS_1
"Sabar ya Jes, kita habis kan makan siang kita setelah itu kita langsung saja masuk ke restoran walaupun waktu istirahat kita masih banyak untuk dibuat santai entah kenapa aku sekarang jadi jengkel" ucap Rani yang disetujui oleh Jessica.