
Seminggu setelah pertemuannya dengan Jessica, Nick dengan gencar terus mengumpulkan bukti-bukti yang menjurus ke arah anak yang berada di dalam kandungan Hana dibantu oleh Samuel.
"Bagaimana?" tanya Nick.
"Sudah ku temukan jadi kau ingin menemuinya?" tanya balik Samuel.
Nick mengangguk.
Di tengah obrolan mereka berdua, Matthew berlari kecil mengarah ke mereka berdua yang sedang berada di ruang tamu.
"Pa" panggil Matthew manja sambil memeluk tubuh Nick.
"Apa, Son?" tanya Nick sambil mengelus puncak kepala Matthew.
"Mau ketemu Kak Jes" rengek Matthew. Sudah beberapa hari ini Matthew memang lebih sering merengek untuk dipertemukan oleh Jessica dari pada sebelumnya.
Mungkin karena Matthew merasakan sesuatu yang membuatnya takut kalau Jessica akan meninggalkannya.
"Sabar ya dikit lagi" ucap Nick.
"Kapan pa?" rengeknya lagi kali ini dengan tangisan.
Samuel mendekati keponakannya tersebut, "Matt jangan nangis ya karena sebentar lagi Matt akan bertemu Kakak Jessica kok"
"Uncle gak bohong kan?" tanyanya sesenggukan.
Samuel menggeleng.
"Matthew kamu pergi main ke kamar aja ya. Papa sama uncle Sam mau keluar ada urusan sebentar" ucap Nick.
__ADS_1
Matthew mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya.
"Kita pergi sekarang" ucap Nick.
Samuel mengangguk lalu berjalan berbarengan bersama Nick menuju mobil masing-masing.
~
Sampailah mereka di cafe yang menyediakan kopi paling enak. Tanpa basa-basi dua pria dewasa ini langsung menemui ownernya.
Pria dengan celemek berlogo brand kopi miliknya ini berjalan mendekati Nick dan Samuel yang sudah menunggu kedatangannya.
"Kalian" ucap pria itu, Edward.
"Hai Ed lama gak ketemu" sapa Samuel.
Edward pun ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Saya ingin bertanya soal Hana" jawab Nick dingin.
"Hana? Kenapa lagi dengan wanita ular itu?" tanya Edward, ia tak habis pikir dengan Hana yang selalu saja menjadi masalah dalam kehidupannya.
"Jadi benar kau kenal dengannya?" tanya Samuel.
"Begitulah. Dulu aku menyukainya, terus mengejar-ngejarnya namun aku sadar kalau aku terus dimanfaatkan olehnya jadi kita berpisah walaupun memang sebelumnya tak terjalin ikatan apapun, hanya sebagai kekasih pun tidak" ucap Edward sambil menertawakan dirinya sendiri.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?" lanjut Edward.
"Jadi gini, beberapa Minggu yang lalu Hana menjebak saya sampai saya melakukan sesuatu yang buruk bersama Hana hingga Hana mengaku kalau dia hamil anak saya" jelas Nick.
__ADS_1
Edward langsung teringat pertemuannya yang terakhir kali dengan Hana, "Terus?"
Nick menghela nafas berat, "Saya sudah memiliki seorang kekasih jadi saya gak mau kehilangan dia. Saya dan Sam mencari seluk beluk Hana yang sebelumnya belum kami ketahui dan Sam mendapatkan informasi kalau Hana itu pernah menjadi p*l*c*r di tempat prostitusi yang dimiliki oleh seorang pria bernama Andra.
Edward mengangguk, "Kau benar jadi kau berfikir kalau mungkin saja anak yang dikandung Hana itu bukan anak kau seperti itu kan?"
Nick mengangguk, "Saya benar-benar mencintai kekasih saya saat ini"
"Itu ada kemungkinan. Akhir-akhir ini saya sering melihat Hana bersama seorang pria bernama Hugo. Saya tahu karena mereka berdua sering mampir ke cafe saya hanya untuk yah you know mencemooh saya karena Hana begitu dendam semenjak saya menolak permintaannya agar membuat kau" tunjuk Edward ke arah Nick, "dekat dengannya"
"Kau juga dimintai tolong sama, Hana?" tanya Samuel.
"Iya, dan saya menolak karena wanita seperti Hana itu pasti akan melakukan hal kotor untuk memiliki sesuatu"
Nick tersenyum miris, "Kau lebih baik dari pada sepupu saya, Ed"
Samuel melirik Nick sekilas. Ia tahu kalau Nick sedang menyindirnya karena perbuatan bodohnya, Samuel akui itu dia benar-benar bodoh.
Edward hanya tersenyum, "Kalian bisa menemui Hugo untuk mencari tahu lebih jelasnya lagi"
Nick mengangguk, "Kau benar, Terima kasih Edward kau sangat membantu" ucap Nick menjabat tangan Edward.
"Sama-sama. Aku mengerti tentang keadaan yang sedang kau alami aku mendoakan yang terbaik untuk kau dan juga kekasihmu agar cepat mendapat jalan keluar untuk masalah kalian yang dibuat oleh Hana" ucap Edward.
Mereka bertiga berdiri dari duduknya.
"Kalian bisa bertemu Hugo di bar miliknya lokasinya sebenarnya gak jauh dari sini hanya tinggal lurus ke timur dan tepatnya persis disebelah utara perempatan pertama" jelas Edward.
Samuel mengangguk, "Baiklah kami berdua pamit pergi kesana"
__ADS_1
Nick berjalan mendahului, ia tak sabar cepat-cepat memperoleh informasi yang sesuai dengan ekspektasinya disusul Samuel yang juga bergegas menyusul Nick yang sudah lebih dulu menjalankan mobilnya.
"Semoga cepat dapat apa yang kau mau, Nick" gumam Edward lalu kembali kepada pekerjaan yang sempat ia tinggal.