Eternal World Online: Rising Of Chaos Knight

Eternal World Online: Rising Of Chaos Knight
Chapter 2, Part 3: VS NPC


__ADS_3

"FINA!! JIKA KAU MENDENGARKAN AKU, MAKA BERPEGANGLAH PADA SUATU BENDA YANG KOKOH, SEKARANG!! Aku harap dia mendengarnya," ucapku berharap.


"TUAN PAHLAWAN, SILAHKAN LAKUKAN!!" balas Fina berteriak. Mendengar balasannya, tanpa ragu aku segera melepaskan Fire Wave kearah salah satu roda kereta kuda tersebut.


Tepat sasaran, kini kereta kuda tersebut telah kehilangan salah satu rodanya. Terlihat wajah kepanikan di wajah pemanah tersebut, aku pun tersenyum sinis padanya. Kemudian setelah Cooldown berakhir, aku menggunakan Fire Wave sekali lagi pada roda yang lain dan hasilnya sama. Namun kereta kuda tersebut belum berhenti. Aku juga sempat mendengar teriakan kepanikan mereka.


"Maaf saja yah tuan kuda! Tapi aku harus melakukannya!! Shadow Hands!!" Merasa belum bisa menghentikan pergerakan mereka, aku pun menggunakan skill Crowd Control. Sebuah tangan bayangan keluar dari tanah dan menahan pergerakan kuda-kuda tersebut yang kemudian berakhir terjatuh.


Beberapa saat kemudian, seorang gadis keluar dan berlari kearah ku lalu memelukku dengan erat.


"Terimakasih.. hiks.. jika bukan.. hiks.. karena Tuan Pahlawan.. hiks.. mungkin, mungkin," Fina menangis dipundak ku, aku pun mengelus kepalanya.


"Yosh, yosh. Kau sudah berjuang yah, Fina," ucapku menenangkannya. Walaupun tingginya hampir setara denganku, tetap saja dia adalah seorang gadis. Tapi momen tersebut tidak berlangsung lama, karena sebuah panah baru saja melesat dan mengincar Fina. Aku pun segera melindungi dirinya dan berakhir dengan tidak bisa menggerakkan tubuhku.


Pelumpuh, tidak salah lagi. Itu adalah pelumpuh. Aku segera menyuruh Fina untuk pergi dan mencari tempat yang aman, namun dia sempat menolak. Sekali lagi aku menyuruhnya untuk cepat pergi, dia pun melakukannya.


"Tidak akan kubiarkan kabur!!" ucap seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka, berlari mengejar Fina. Tapi sebelum itu, dia harus melawanku. Aku mendorongnya dengan pedang di tanganku, dia pun terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Oleh sebab itu aku benci minum obat berbentuk pil, rasanya benar-benar pahit, hueek.." gumam ku seperti ingin muntah.


"Maaf membuatmu menunggu yah, sekarang waktunya untuk kita bertarung!!"


***


"Mustahil! Bagaimana kau bisa lepas dari pelumpuh itu?" tanya orang yang ku dorong dengan pedang tadi.


"Oh, itu rupanya.." jawabku dan langsung menunjukkan sebuah pil berwarna hijau dengan bentuk lonjong. ".. ini adalah Paragon Pil, dengan mengkonsumsinya, membuat kita bisa menghapus efek Debuff Paralyzed dengan mudah. Jadi itu lah kenapa aku masih baik-baik saja," lanjut ku yang kemudian menggenggam kuat pil tersebut hingga hancur.


Sebenarnya aku membeli pil tersebut dari tempat pelelangan setelah aku menjual berbagai item dari Inventory yang ku miliki. Harganya cukup murah, untuk 1 pak dihargai 100 Eternal Bronze Coin. 1 pak berisi 10 keping, dan aku membelinya sebanyak 10 pak. Setelah melihat hal tersebut, sepertinya itu membuat mereka kesal.


"Barret! Siapkan serangan terkuat milikmu! Aku dan juga Axel akan menahan dirinya!!" perintah seseorang yang ku dorong sebelumnya. Orang yang dipanggil Axel olehnya segera mengeluarkan sebuah tombak dari dalam kereta, sedangkan Barret yang memegang busur tersebut langsung mengangguk pelan dan memulai persiapannya.


"Apa yang sebenarnya yang kalian inginkan, huh? Kenapa kalian mengincar Fina!?" tanya ku pada mereka.


"Tujuan kami adalah untuk menyelamatkan gadis itu dari mereka! Player seperti dirimu mana mungkin akan bisa memahaminya!!" jawabnya.

__ADS_1


"Menyelamatkan? Jangan bercanda!! Yang kalian lakukan itu adalah kesalahan, kalian pasti sudah tahu itu bukan!!" balasku.


"Tuan Deo, percuma saja tuan memberitahunya! Pada dasarnya semua player itu hanya mementingkan diri mereka sendiri," sahut Axel.


"Jangan samakan aku dengan mereka. Jika aku memang mirip seperti pengecut sampah tersebut, lalu untuk apa aku repot-repot datang untuk menyelamatkan Fina!!" Aku dengan segera memeriksa status mereka, tapi yang terlihat lengkap hanyalah Deo.


NPC Deo •Golden Warrior•


Gender: Male


Class: Swordsman


HP: 2650


MP: 1280


Level: 36


NPC Axel •Greatest Spear•


Gender: Male


Class: ???


HP: ???


Level: ???


NPC Barret •Eagle Eye•


Gender: Male


Class: ???


HP: ???

__ADS_1


Level: ???


"Sudah cukup bicaranya! Matilah!!" Deo segera melompat kearah ku dan mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Aku segera menangkisnya dan mendorongnya cukup kuat hingga dia mundur kebelakang.


"Thousand Strikes!!" Kali ini giliran Axel yang maju dan mencoba menyerang ku dengan tusukan berulang-ulang. Aku mencoba menghindarinya dan beberapa kali menangkisnya dengan pedang. Kemudian Deo yang melihat kesempatan itu segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menyerang diriku dari belakang. Namun karena telah mengetahui hal ini, aku segera menunduk dan hasilnya senjata Axel dan Deo saling berbenturan.


"Sword Wave!!" Aku menggunakan Skill Sword Wave dengan sedikit MP agar tidak terlalu melukai mereka, hal itu juga membuat mereka terdorong menjauh dariku. Aku juga mengaktifkan Skill Sword Magic milikku, yaitu Fire Cloak.


Mereka pun seperti saling memberikan kode satu sama lain, sebelum akhirnya berlari memutari ku dan menyerang dari arah yang sama. Aku segera menggunakan Dark Prison untuk membutakan penglihatan mereka.


"Sial! Aku tidak bisa melihat apapun!" ucap Deo.


"Tuan Deo, kita harus-- aargh!!" Aku segera menendang Axel kearah Barret berada, walaupun tidak mengenai dirinya.


"Axel!! Huh? Uaargh!!" Tepat setelah durasi Dark Prison berakhir, aku segera menendang Deo juga kearah yang sama dengan Axel tadi.


"Tuan Deo! Tuan Axel! Menyingkir dari sana!" peringat Barret yang tengah menahan panah yang dilapisi sihir angin cukup kuat. Aku segera mengganti Fire Cloak dengan Dark Cloak.


Deo dan Axel segera menyingkir kemudian Barret pun melepaskan panah tersebut. "Magic Arrow: Hurricane Shot!!" Panah tersebut menciptakan bekas pada tanah saat melintasinya, juga angin kuat tercipta disekitar panah tersebut.


"Chaos Soul, Sword Magic: Dark Slash!!" Aku menebas panah tersebut, membuat angin yang menyelimuti panah tadi menyebar ke segala area sekitar. Bahkan aku terdorong beberapa meter dari tempatku berdiri.


"Aku tidak terlalu terkejut lagi, saat melihatnya bisa menebas panah sihir ku tadi," gumam Barret.


"Ada apa Tuan Deo?" panggil Axel saat menyadari Deo tengah berpikir.


"Aku baru menyadari satu hal, orang itu benar-benar tidak berniat membunuh kita," balas Deo. Aku yang mendengarnya pun hanya bisa menghela nafas, karena hal itu memang benar.


"Tunggu, Tuan Deo. Apa maksud perkataan mu itu?" tanya Barret.


"Tadi saat dia berhasil membuat kita buta sementara, dia memiliki kesempatan untuk membunuh kita dengan cara memenggal kepala. Tapi dia tidak melakukannya," jelas Deo.


"Huft.. jika kalian sudah mengerti, sebaiknya kalian pergi saja. Tujuanku saat ini adalah menyelamatkan Fina, jika kalian mau mundur, aku tidak akan mengejar kalian," balasku, memasukkan kembali pedang ku.


"Maaf saja, walaupun kau tidak ingin membunuh kami. Tapi tugas kami tetap sama, kami akan membawa gadis tersebut ketempat yang aman. Karena itulah, percayakan gadis itu pada kami. Tetapi, jika kau juga masih tidak ingin membiarkan kami melakukan tugas, aku akan benar-benar membunuhmu kali ini," ucapnya. Aku pun segera memasang sikap waspada, sedangkan dia menyuruh Barret dan Axel untuk menjauh. Namun pada saat ia ingin melancarkan serangan, seseorang datang membawa dua orang yang tidak terlalu asing bagiku.

__ADS_1


"Cukup sampai disana!" ucapnya menghentikan perbuatan Deo.


__ADS_2