Eternal World Online: Rising Of Chaos Knight

Eternal World Online: Rising Of Chaos Knight
Chapter 5, Part 9: War Cry


__ADS_3

"Diri kami sudah membantu dirimu hingga seperti ini, kenapa dirimu malah memihak diri mereka?" tanya Zeldra padaku.


"Maaf saja, tapi tujuanku kesini adalah untuk menghabisi mahluk raksasa itu, hanya itu saja!" jelasku.


"Heh~ apa kau berpikir bisa mengalahkannya sendiri?" ucap Gorgo bertanya.


"Bodoh! Mana mungkin aku bisa mengalahkannya sendiri," jawabku. "Oy, Knight Pillar! Apa kau bisa menggunakan serangan yang kau lancarkan sebelumnya lagi?" lanjutku bertanya pada Vector.


"Yah, aku masih bisa menggunakannya sekali lagi. Tapi itu butuh waktu, beri aku 10 menit!" balasnya.


"Itu sudah cukup! Baiklah, aku akan menahan mereka. Kau siapkan serangan itu saja! Shadow Hands!!" Aku menggunakan Shadow Hands untuk menahan pergerakan dari Behemoth. Lalu menciptakan 3 Shadow Clone, salah satu dari mereka menahan Shadow Hands, sedangkan sisanya melindungi Vector.


Saat aku akan menyerang, Reus datang dan berkata akan menahan Gorgo, selagi aku berhadapan dengan Zeldra. Aku tidak mempermasalahkannya, entah kenapa aku merasa bisa menghadapi mereka berdua sekaligus. Tapi karena ada bantuan dari Reus, membuatku menjadi lebih leluasa untuk menghadapi Zeldra. Lagipula, dia lah yang paling menyebalkan.


"Berusahalah untuk tidak membebani ku!"


"Heh, itu seharusnya kata-kataku! Untuk seseorang yang tidak bisa menahan Zeldra." Aku membalas ejekan Reus, membuat kami berdua tertawa kecil, sebelum akhirnya mulai menyerang.


Kemudian kami berdua secara bersamaan melesat menuju lawan kami masing-masing. Aku menyerang Zeldra berkali-kali, tapi dia menghindarinya. Ini tentunya membuatku tidak bisa mengumpulkan Chaos Stack untuk menggunakan Chaos Soul. Sepertinya dia mengantisipasi hal ini, karena jika dia terkena serangan yang diperkuat oleh Chaos Soul, dia pasti akan mati. Aku bisa menjamin itu.


Ditengah pertarungan, Zeldra mengatakan sesuatu padaku. "Hema, diri kami akan membuat dirimu menjadi lebih kuat, apa dirimu mau membantu?"


"Apa yang kau katakan? Disaat tengah bertarung, kau harus fokus!" Zeldra melompat mundur untuk menghindari seranganku.


"Yang diriku maksud adalah, dirimu membunuh Behemoth. Dengan begitu, dirimu akan mendapatkan Exp yang cukup banyak. Bagaimana?" jelasnya.


Tunggu, bukankah Behemoth itu mahluk panggilan? Dan mahluk panggilan tidak akan bisa memberikan Exp bukan?


"Memangnya aku akan percaya dengan perkataan mu? Behemoth adalah mahluk panggilan, jadi bagaimana dia bisa--"


"Apa dirinya terlihat seperti mahluk panggilan bagi dirimu?" potong Zeldra bertanya.


Memang benar apa yang dia katakan, Behemoth tidak terlihat seperti mahluk panggilan, karena setelah salah satu pemanggilnya dibunuh oleh para player tadi, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menghilang.


"Bagi dunia ini, Behemoth adalah mahluk penghancur yang akan membawa dunia ini kedalam kehancuran. Artinya, dirinya adalah Eksistensi berbahaya bagi dunia ini," jelas Zeldra padaku. Mendengar penjelasan itu, membuatku naik pitam.


"DASAR BODOH! Kau mengatakan padaku untuk melindungi para Super AI, tapi yang kau lakukan ini menentang perkataan mu sebelumnya padaku! Apa kau ingin membunuh mereka, huh?" Sial! Aku ingin sekali memukul wajahnya yang menyebalkan itu!


"Tentu saja tidak, lagipula diriku yakin kalau dirimu bisa membunuh mahluk itu!" sahutnya, kemudian dia pun mulai menyerang ku dengan cepat. Untungnya aku bisa menangkis serangannya, dia lalu mengulangi serangannya, tapi aku bisa menangkisnya. Hal ini terus-menerus terjadi hingga persiapan Vector telah selesai dan itu tepat bersamaan dengan durasi Shadow Hands berakhir.


Zeldra langsung mundur dan meninggalkan tempat itu, aku mencoba menghentikannya, tapi dia terlalu cepat dan menghilang dari tempat itu. Begitupun dengan Gorgo, dia segera mundur setelah membuat Reus terhempas dengan salah satu skillnya.


"Wahai engkau mahluk dari dunia bawah! Kembalilah ke tempat asalmu sekarang juga, Holy Saber!!" Sebuah energi suci lagi-lagi menyerang Behemoth, membuatnya mengerang kesakitan karenanya.


Behemoth (Legendary)


HP: 1738573590


Level: 500


"Kuh, aku terlalu menggunakan banyak tenaga," gumam Vector. Behemoth yang menerimanya pun menjadi geram dan bersiap menembakkan ledakan energi dari dalam mulutnya.


"Kerja bagus! Sekarang, sisanya serahkan saja padaku!" ucapku berdiri didepan Vector.


"Oy! Apa kau gila!? Menjauh dari sana, dasar bodoh!" teriak Reus mencoba memperingatiku.


"Hentikan itu, tinggalkan saja aku. Lagipula aku hanya akan kehilangan level saja. Tapi jika kau sampai kehilangan levelmu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," pinta Vector.


"Gila atau bodoh, kita lihat saja nanti. Karena saat ini aku.. tidak akan mati!!" sahutku dan mengarahkan tangan kananku ke depan selagi menunggu waktu yang tepat. Lalu setelah beberapa lama, Behemoth melepaskan ledakan energi dari mulutnya. Aku pun mengaktifkan kemampuan aktif perlengkapan yang ku gunakan saat ini, yaitu Iris Flower Shield.


Sebuah bunga biru muncul dan perlahan mekar, menahan serangan energi tersebut selama 10 detik. Tapi itu belum cukup, serangan yang dilancarkan Behemoth terus berlanjut, bahkan aku tidak tahu hingga kapan. Jadi aku memutuskan untuk mengaktifkan Absolute Barrier yang merupakan kemampuan dari Blue Silver Ring. Belum berakhir, aku pun bertaruh dengan mengaktifkan Shadow Protection, setelah Absolute Barrier berakhir.


Benar saja, serangannya berakhir. Jadi aku memanfaatkan saat ini untuk menyerangnya, aku melempar Iris Blue Sword yang telah dilapisi oleh Ice Cloak dan Ice Prison. Kemudian saat Iris Blue Sword menancap di tanah tempat Behemoth berada, aku segera mengaktifkan Ice Field untuk membekukan area sekitarnya. Selain itu, aku juga mengaktifkan Iris Ballack yang mana merupakan kemampuan aktif dari Iris Blue Sword, membuat Behemoth menjadi tidak bisa bergerak dengan bebas karenanya.


Aku lalu menggunakan Flare Accel untuk menambah laju lari ku, merasakan dirinya dalam bahaya, Behemoth menembakkan bola-bola api dari mulutnya ke arahku. Tentu saja aku bisa menghindarinya tanpa masalah yang berarti. Kemudian saat aku sudah berada dihadapannya, tanpa ragu aku mengayunkan Chaos Sword dan menggunakan Chaos Slash.


[Thunderbolt terpicu! Memberikan 10% True Damage dari Total HP target yang telah hilang!]


[Anda memberikan 921857605 True Damage pada Behemoth!]


Behemoth mengerang kesakitan, tapi itu belum berakhir. Sekali lagi aku mengangkat pedangku keatas dan bersiap untuk memberikan serangan terakhir. Kali ini aku mengaktifkan Chaos Soul dan mengerahkan semua MP yang kumiliki dan juga Mana Alam kedalamnya. Lalu aku pun melepaskan gelombang hitam gelap dan berhasil membelahnya menjadi dua.


[Judgement terpicu! Memberikan 30% True Damage dari Damage sebelumnya!]


[Anda memberikan 917741653 True Damage pada Behemoth!]


Dunia: [Selamat untuk Player Hema! Telah berhasil mengalahkan Legendary Monster untuk pertama kalinya! Mendapatkan 1000000 Fame, Unique Chest, serta mendapatkan Title Legendary Killer!]


[Anda telah berhasil membunuh Behemoth, mendapatkan 1250000 EXP!]


[Perbedaan 450 Level memberikan anda bonus EXP, EXP telah dikalikan dengan setengah dari selisih Level!]


[Anda mendapatkan 281250000 EXP!]


[Selamat! Anda naik Level 164!]


[Anda mendapatkan 2 Title baru!]


*ketuk untuk informasi*


Mengabaikan pemberitahuan sistem, aku segera memasukkan kembali Iris Blue Sword dan Chaos Sword kedalam sarungnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Vector dan Reus meminta penjelasan tentang apa yang terjadi, tapi aku mengabaikan mereka dengan berkata, "Itu bukan urusan kalian! Urusan ku sudah selesai disini, jadi sampai jumpa!" Kemudian mengaktifkan Flare Accel untuk meninggalkan tempat tersebut, aku juga mengabaikan Drop Item yang dijatuhkan oleh Behemoth disana.


Sekarang aku harus kembali ke tempat Fina berada, aku yakin dia aman bersama dengan Rin dan Souma, tapi tetap saja aku khawatir. Jadi secepatnya aku harus sampai disana, walaupun harus menghabiskan semua Stamina ku yang ada.

__ADS_1


"Fina! Waktunya kita kembali! Aku sudah mengalahkan.. nya.." Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ada didepan mataku saat ini. Pisau Souma memiliki bercak darah, Rin mengangkat Handgun miliknya yang berasap, serta Fina yang saat ini tengah tergeletak dengan darah yang mengalir dari dirinya.


"Wah~ kau datang lebih cepat dari dugaan yah, He-ma~"


"Apa yang kalian lakukan, Rin, Souma? Katakan padaku kalau ini bohong bukan? Hey, Rin, ini bohong kan? Souma? Jawab aku! Ini bohong kan!?" tanyaku dengan nada tidak percaya.


"Sayang sekali, tapi ini kenyataannya." Jawaban itu sudah cukup membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku mencoba mendekati Fina, tapi sebuah tembakan melesat tepat disamping wajahku. Pelakunya tidak lain adalah Rin.


"Jangan bergerak!" peringat Rin padaku. "Gadis ini masih hidup, jadi jangan khawatir. Kami hanya ingin menyiksanya lebih lama saja. Jeritannya itu, ah~ benar-benar tak tertahankan," lanjutnya kemudian tertawa bersama Souma.


Mendengar itu, benar-benar membuatku sangat marah. "Dash!!" Aku menggunakan kemampuan Iris Blue Leather Shoes, lalu aku mengepalkan tangan kanan dan bersiap untuk memberikan pukulan pada mereka. "Mereka yang bahagia diatas penderitaan orang lain.. tidak akan pernah.. AKU MAAFKAN!!" Aku memukul wajah Souma dengan cukup keras, membuatnya hingga terhempas dan menabrak salah satu pohon disana. Rin yang terkejut dengan itu, segera mengarahkan Handgun miliknya kepadaku. Tapi aku menepis tangannya dengan tangan kiri dan menendang perutnya dengan cukup keras. Yah, aku tahu kalau mereka adalah sahabatku. Tapi amarah ku sudah tak terbendung lagi dan lagipula itu adalah tubuh Virtual. Jadi aku tak memperdulikannya.


Aku segera mengeluarkan Potion dari dalam Inventory dan berniat memberikannya pada Fina. Tapi Souma segera bangun untuk mencoba menghentikan perbuatanku. Disaat itulah, seseorang muncul dan menahan Souma.


"Kau.. Gale!!"


"Uruslah urusanmu sendiri! Aku akan menahan selama yang ku bisa!" Gale langsung menyerang Souma setelahnya. Aku sama sekali tidak mengerti, kenapa dia bisa dengan mudah memberikan bantuan padaku, padahal waktu itu aku sempat membunuhnya dan itu membuat levelnya turun. Tapi dia sama sekali tidak menyimpan dendam padaku.


Aku lalu mencoba meminumkan Life Potion pada Fina, namun tidak terjadi apapun padanya. Aku melihat Bar HP miliknya turun sedikit demi sedikit, membuatku menjadi tambah khawatir. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan kemampuan dari Iris Blue Bracer.


"Fast Heal!!"


"Tu-an.. Pah-la-wan..?"


"Syukurlah.. akhirnya kau membuka matamu! Sekarang, minumlah!" ucapku lega dan memintanya untuk segera meminum Life Potion yang tengah ku pegang. Namun, Fina menggelengkan kepalanya.


"Itu.. sudah cukup, Tuan Pahlawan. Fina.. sudah tidak.. bisa diselamatkan lagi."


"Apa yang kau katakan! Kau pasti selamat! Aku berjanji padamu bukan sebelumnya? Karena itulah.. jangan mengatakan hal tersebut." Aku mencoba untuk menahan tangisan yang sudah hampir tak terbendung ini.


"Ufufu.. kenapa dengan wajah menyedihkan itu? Tidak seperti dirimu saja, Tuan Pahlawan." Fina tertawa dan mengomentari wajah yang ku buat. Kemudian dia pun melanjutkan perkataannya, "Kau tahu? Fina.. sangat senang. Bisa bertemu denganmu saat itu, Fina.. sangat senang. Saat Fina dalam masalah, Tuan Pahlawan datang dan membantu, Fina.. sangat senang. Bisa mengajari Tuan Pahlawan, Fina.. sangat senang. Waktu yang kita habiskan, itu sangat menyenangkan."


Fina tersenyum dengan air mata yang keluar. Bukan hanya itu saja, sepertinya langit juga melakukan hal yang sama. Rintikan air hujan perlahan-lahan jatuh dan membasahi semua yang berada disana.


"Karena itulah.. Fina mohon, hentikan i--"


"JANGAN BERCANDA!!" Aku berteriak cukup kencang, memotong perkataan miliknya.


"Seenaknya berkata dengan kalimat perpisahan seperti itu. Kau tahu, aku sudah berjanji bukan, pada dirimu? Kalau aku pasti akan menyelamatkanmu.. karena itulah.. jangan mengucapkannya," lanjutku yang perlahan mulai mengeluarkan suara isak tangis.


Lalu dua buah tangan merangkul wajahku, dia mengeluarkan senyum bahagianya. Benar, dia sangat-sangat bahagia saat itu. "Tuan Pahlawan itu.. orang yang baik yah! Karena itulah, Fina menyukainya! Ehm.. malah, Fina mencintaimu, Tuan Pahlawan," ucapnya.


Aku yang mendengar itu benar-benar menangis karenanya. Aku tidak bisa menahannya lagi, rasanya sakit, seperti ada sebuah jarum yang menusuk jantungku.


"Eh? Tuan.. Pahlawan? Dimana.. kamu berada?"


"Apa yang kau katakan, aku ada dis--" Aku gagal menyelesaikan kalimatku, ketika melihat matanya yang perlahan mulai kehilangan cahayanya.


Aku segera memeluknya dengan erat dan berkata, "Tenang saja, aku ada disampingmu! Aku tidak akan meninggalkanmu, karena itulah.. kumohon, jangan tinggalkan aku!"


"Hangatnya.. Fina bisa melihat Tuan Pahlawan disana. Tuan Pahlawan, terimakasih atas segalanya.. kamu tahu? Fina saat ini.. sangat bahagia! Terimakasih.. dan.. selamat tinggal..."


Fina berubah menjadi partikel cahaya dan lepas dari pelukanku dengan sebuah senyuman. Aku pun mencoba meraih partikel-partikel tersebut sembari berkata, "Tidak.. jangan pergi.. kumohon padamu.. jangan menghilang!!" Setelahnya, aku pun menjerit dengan keras. Kesedihan, jeritan, menyakitkan, serta putus asa. Mereka kurasakan semuanya saat ini. Sungguh, ini benar-benar.. menyedihkan.


[Title, War Cry. Berhasil didapatkan!]


[Karena hal ini, anda berhasil memicu salah satu Main Quest Eternal World Online, Chaos Beginning!]


Dunia: [Selamat untuk Player Hema! Telah memicu Main Quest keempat dari Eternal World Online, Chaos Beginning!]


[Effect dari Title War Cry aktif! Disaat pemakai mengalami Depresi berlebihan, mengurangi 50% Status semua yang ada disekitar dan memberikan debuff Fear pada mereka selama 5 detik!]


Main Quest - Chaos Beginning


Engkau adalah sosok dari kekacauan, Engkau adalah yang terpilih, Engkau adalah kehancuran, Engkau jugalah yang akan mengakhiri keputusasaan.


+Story Quest - Heir


Receiver: Hema


Anda telah dipilih oleh sang kekacauan! Kumpulkan ke-7 Chaos Item untuk menyelesaikan Story Quest ini dan membuka Story Quest berikutnya!


- Chaos Sword [1/1] √


- Chaos Light Armor [1/1] √


- Chaos Crown [0/1]


- Chaos Armlet [1/1] √


- Chaos Boots [0/1]


- Chaos Amulet [0/1]


- Chaos Ring [0/1]


Reward: 250000 EXP


+Story Quest - Chaos Exam


[Selesaikan "Story Quest - Heir" untuk membuka informasi!]


+Story Quest - Chaos Lair

__ADS_1


[Selesaikan "Story Quest - Chaos Exam" untuk membuka informasi!]


+Story Quest - Eternal Blade


[Selesaikan "Story Quest - Chaos Lair" untuk membuka informasi!]


Selesaikan seluruh Story Quest, untuk mendapatkan Reward berikut:


- Hero Name: Apocalypse Hero


- 2500000 EXP


- 1000000 Fame


- S+ Material Box ×10


Berbagai panel dan juga suara sistem muncul dan terdengar di pikiranku. Tapi karena berisik, aku segera mematikan mereka. Saat itu, yang kuinginkan hanyalah satu.


"Lenyaplah..."


Chapter 1: Permulaan (End)


Chapter 2: Penculikan (End)


Chapter 3: Penyergapan (End)


Chapter 4: Pembantaian (End)


Chapter 5: Keputusasaan (End)


Epilogue (Begin)


Volume 1 - Side Story I: Duo, Hema dan Alicia, Tujuan Alicia (???)


Volume 1 - Side Story II: Devi adik yang Brocon, Kunjungan Alicia, Duel Membara (???)


***


Name: Hema (-)


Ras: Human


Fame: 1264870 (Green)


Gender: Male


Class: Swordmage


Bonus Class:


- STR +20%


- INT +25%


- MP +40%


- Magic Damage +30%


- Saat naik level STR +3, INT +5


Sub Class: Apprentice (Novice)


Sub Point: 5


HP: 18004


MP: 26838


Level: 164 [6995780/8500000]


Title: Serious Player


Damage: 13546


Magic Damage: 16042


Defense: 5449


Magic Defense: 5310


SP: 570


STR: 8116 (+1830)


VIT: 5414 (+3840)


AGI: 7459 (+2690)


DEX: 5958 (+2150)


INT: 8680 (+2260)


Charm: 1000

__ADS_1


__ADS_2