Eternal World Online: Rising Of Chaos Knight

Eternal World Online: Rising Of Chaos Knight
Chapter 4, Part 8: Kebenaran


__ADS_3

"Yaa, lama tidak bertemu, Hema," sapa seseorang tepat disamping pintu keluar, membuatku segera menarik Chaos Sword dan menghentikan langkah Fina dengan tangan kiri ku. Fina terkejut karena aku menghentikan langkahnya tadi, tapi saat melihat orang itu, wajahnya langsung dipenuhi dengan rasa takut lagi.


"Apa yang kau inginkan sekarang, Gorgo?" tanyaku padanya. Yah, orang itu adalah Gorgo. Dia juga sebelumnya ingin menculik Fina, tapi aku berhasil mengagalkannya.


"Tenanglah, aku tidak punya niat untuk bertarung denganmu," jawab Gorgo. "Sepertinya nona muda ini takut kepadaku yah?" lanjutnya menatap Fina.


"Itu karena kau sempat ingin menculiknya!" sahutku.


"Apa yang kau katakan? Aku hanya ingin menyelamatkan gadis itu saja," balasnya.


"Jangan mengalihkan topik! Apa tujuanmu kali ini!?" tanyaku.


"Huft.. tak bisakah kau tenang?" balasnya dan mengambil sesuatu dari Inventory miliknya, lalu melemparnya ke Fina. "Nona muda, aku ada urusan dengan Pahlawanmu ini, jadi gunakan Crystal itu dan kembalilah ke rumahmu lebih dulu yah!" lanjutnya.


Fina lalu melihat kearah ku. Aku pun memberikan senyuman dan berkata, "Pergilah, Paman Raven sudah menunggumu kembali."


"Tapi.. bagaimana dengan Tuan Pahlawan?"


"Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir. Aku juga memiliki urusan dengannya."


"Baiklah, tolong kembali dengan selamat! Teleport, Everland City!" Setelah mengatakannya, Fina menggunakan Teleport Crystal dan menghilang dari sana. Kemudian, aku pun menatap Gorgo dengan tajam.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" kataku.


"Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu. Apa yang terjadi pada tubuh ini setelah kita melakukan Log Out?" tanya Gorgo memulai percakapan.


"Bukankah itu sudah jelas? Saat kita Logout, tubuh ini akan menghilang."


"Tapi sayangnya tidak seperti itu," jelas Gorgo. Aku yang mendengarnya merasa terkejut. Kemudian Gorgo pun melanjutkan perkataannya, "Saat kita melakukan Logout, tubuh ini akan tetap berada disini. Sedangkan jiwanya akan kembali ke tubuh Player di dunia nyata."


"Tunggu, apa maksudmu? Jiwa? Kembali? Dunia nyata?" sahutku dengan bingung.

__ADS_1


"Apa kau tidak berpikir, kenapa saat kita melakukan Login selalu dalam keadaan lapar?" tanya Gorgo kembali dan membuatku berpikir. Selama ini status yang kudapatkan tersebut diberikan untuk meninggalkan kesan realitas, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi jika itu benar maka game ini, tidak dunia ini, adalah dunia itu sendiri? Dunia yang tercipta di dunia virtual?


"Lima tahun yang lalu, sebuah alat bernama Ether Maxy berhasil diciptakan. Alat tersebut adalah alat Full-Dive generasi pertama untuk bisa menyelam kedalam dunia virtual. Lalu sebuah game bernama Dragon Hunter Online dirilis dan berhasil menarik minat jutaan orang di dunia. Tapi enam bulan setelah dirilis, ada sebuah masalah." Gorgo menatapku seolah memintaku mencoba menebak masalah yang terjadi. Aku tahu apa masalah itu, karena aku selalu tidak ketinggalan berita.


Jadi aku mencoba menebaknya, "Ribuan hingga ratusan player mengalami koma?"


"Benar sekali," ucapnya seolah membenarkan tebakanku. "Tapi bukan hanya koma saja, beberapa dari mereka juga ada yang mengalami kematian. Karena hal ini pihak pengembang berencana untuk melakukan yang terbaik agar mereka yang koma bisa kembali. Hasilnya, mereka pun berhasil membangunkan mereka yang koma dengan bantuan seseorang."


"Lalu apa hubungannya dengan dunia ini?" tanyaku penasaran.


"Pihak pengembang sama sekali tidak tahu, kalau sebelum para player yang koma tersebut dibangunkan, seseorang telah melakukan copy terhadap jiwa-jiwa tersebut."


"Tunggu sebentar! Melakukan copy terhadap jiwa? Bukankah hal itu mustahil?" potongku.


"Memang terdengar mustahil, tapi tidak bagi orang tersebut. Setelah melakukannya, dia pun memutuskan keluar dari perusahaan pengembang tersebut. Lalu dia mencoba menciptakan sebuah dunia baru bagi jiwa yang telah dia copy tersebut, kemudian membuat mereka berpikir kalau itu adalah dunia baru mereka.


Beberapa setelahnya, dia pun diam-diam mencoba untuk merekrut beberapa orang yang dia percaya. Lalu menceritakan proyek besarnya itu dengan bangga. Beberapa dari mereka ada yang tertarik, lalu ada juga yang tidak tertarik dan memutuskan untuk kembali. Karena ini adalah proyek besar yang dia miliki dan dia juga tidak ingin ini menyebar. Orang tersebut mengancam akan membunuh mereka semua yang tidak tertarik dengan proyek miliknya tanpa tersisa, jika salah satu dari mereka ada yang menyebarkannya secara diam-diam.


Empat dari mereka akhirnya memutuskan untuk bertemu dan membuat sebuah rencana pengamatan. Jika proyek tersebut berbahaya, maka proyek itu harus dihentikan. Karena itulah, setelah beberapa kali bertemu dan melakukan rapat, mereka pun memutuskan untuk mengirim salah satu dari mereka sebagai pengamat disana." Gorgo menceritakan hal tersebut, kemudian dia memandang daerah sekitar karena merasakan ada seseorang yang sedang mengawasi. Aku juga merasakan hal yang sama, aku mencoba melihat sekitar. Tapi, Gorgo segera memberitahuku kalau itu adalah Zeldra. Itu artinya Zeldra ada disekitar sini dan benar saja, aku menemukan keberadaannya di sebuah kargo sedang melambai-lambaikan tangannya.


"Chaos Sword? Tapi kenapa dia malah membuat kekacauan?"


"Itu karena dia mendapatkan ingatan masa lalu miliknya. Ingatan kalau dia seharusnya berada di dunia nyata dan bukan di dunia ini. Alhasil, dia pun menjadi buronan setiap kerajaan selama beratus-ratus tahun dan bahkan jasadnya tidak ditemukan. Dia bersembunyi sembari mencari penerus yang bisa dia andalkan agar bisa melindungi dunia ini. Dia tidak lagi memutuskan untuk mencoba keluar saat para player mulai bermunculan dan membunuh AI di dunia ini.


Bukan hanya itu saja, para player yang tidak tahu apapun terus melakukan kerusakan dan kekacauan pada dunia ini. Para penjaga kota selalu berusaha menghentikan mereka, tapi para player malah melawan balik. Dia ingin sekali membantu mereka, tapi saat ini dia masih menjadi buronan walau sudah ratusan tahun. Karena itulah dia memutuskan untuk mencari penerus. Pertama adalah dia memberikan Chaos Sword dan menjualnya dengan harga yang tinggi, kemudian kau membelinya. Lalu saat ada AI yang dalam masalah, kau datang dan tetap membantu walau dia tidak bisa memberikan hadiah apapun sebagai balasannya. Dia memutuskan untuk memberikan Chaos Light Armor padamu."


"Kemudian kau menyuruh anak buahmu untuk menculik Fina, apa dia juga memberikan Chaos Crown pada Paman Raven?" ucapku.


"Aku sudah menjelaskan padamu kalau itu hanyalah kesalahpahaman bukan? Huft.. yah, dia juga memberikannya. Apa orang yang kau maksud itu ayah dari Nona muda tadi?" balasnya bertanya.


"Yah, begitulah. Hey Zeldra! Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, jadi bisakah kau datang kesini sebentar?" sahutku dan berteriak memanggil Zeldra. Dalam sekejap, dia sudah berada tepat di depanku. Aku pun sedikit terkejut dan mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Apa dirimu memanggil diriku?"


"Bisakah kau jangan membuatku terkejut? Hey Gorgo, apa dia tidak bisa bicara dengan normal? Jika iya, bolehkah aku membunuhnya?" tanyaku dengan bercanda.


"Tunggu! Apa yang dirimu katakan!?"


"Yah, tentu saja. Aku sama sekali tidak keberatan," balas Gorgo memberi izin.


"Gorgo kenapa dirimu juga!?" Zeldra langsung menunjukkan wajah murung setelah mendengar perkataan kami.


"Yah, mari abaikan candaan tadi. Bisakah kau beritahu aku darimana kau mendapatkan Chaos Armlet ini?" tanyaku.


"Huft.. kejam sekali kalian pada diriku. Jadi apa diriku harus memberitahu dirinya?" tanya Zeldra pada Gorgo. Gorgo pun hanya mengangguk tanda setuju.


"Baiklah diri--"


"Bicara yang normal!" potongku mengacungkan Chaos Sword padanya.


"Yang tadi itu bukan candaan!!" ucap Zeldra, melihat itu Gorgo hanya menahan tawanya. Setelah dia setuju, aku memasukkan kembali Chaos Sword ke sarungnya dan memperbolehkannya bicara untuk menjelaskan semuanya.


Zeldra mengatakan kalau dia hanya disuruh oleh seorang pria dengan jubah hitam. Tapi setelah mengetahui apa yang dia inginkan dan menyerahkan Chaos Armlet, Zeldra pun berpikir kalau itu adalah Super AI tersebut. Namun saat dia ingin bertanya lebih lanjut, pria itu lenyap seketika.


"Begitu rupanya," ucapku setelah mendengar penjelasan darinya.


"Ah, aku hampir lupa mengatakan ini padamu. Tapi Gorgo, saat itu aku bertemu dengan adi--"


"Kau bertemu dengan adikku! Kenapa kau tidak mengatakannya!!" potong Gorgo saat mendengarnya.


"Tunggu, adik? Dia punya adik?"


"Yah, kalau tidak salah namanya disini adalah Zeya," jelas Zeldra. Sekilas aku mencoba mengingat namanya dan saat aku mengingatnya aku menatap datar Gorgo seolah tidak percaya.

__ADS_1


"Maaf menanyakan ini. Tapi Gorgo, mungkinkah kau seorang ga--"


"Aku ini seorang pria!" potongnya.


__ADS_2