
[Anda berada di Barren of Grissea!]
"Fina! Apa kau baik-baik saja?" tanyaku khawatir.
Fina mengangguk. "Fina baik-baik saja, berkat Tuan Pahlawan, Fina tidak terluka. Tapi, Tuan Pahlawan terluka parah karena Fina," ucapnya dengan murung. Aku lalu mencabut anak panah yang menancap dipundak ku dan meminum Potion untuk memulihkan HP yang telah hilang.
Kemudian aku pun mengusap rambutnya dan menenangkannya. "Yosh, yosh. Fina gadis yang baik, jadi jangan khawatirkan aku yah. Karena aku baik-baik saja," ucapku dengan tersenyum.
"Hema! Kau baik-baik saja?" Aku menoleh kearah belakang, ternyata suara itu adalah Souma.
"Souma! Rin! Kenapa kalian ada disini? Lalu dimana Party kalian?" tanyaku bingung.
"Kami memisahkan diri dengan mereka, saat melihatmu berlari entah kemana," balas Rin.
"Begitu yah, jadi dimana kita?"
"Kita ada diperbatasan antara Barren of Grissea dan Grissea Forest. Bisa dibilang kita cukup dekat dengan area pertempuran," jelas Souma.
Sebelumnya aku memang tidak terlalu memperhatikannya, tapi aku menyadari kalau tubuh Fina gemetar ketakutan dan menggenggam erat tanganku. Aku pun mencoba menenangkannya, "Tenanglah, Fina. Semuanya akan baik-baik saja, aku pasti akan membawamu kembali ke Paman Raven. Selama ini aku tidak pernah mengingkari janji bukan?"
Mendengar pernyataanku, Fina pun mulai sedikit tenang. Tidak lama setelah itu, kami mendengar suara pertarungan. Setelah mencari tempat yang aman, kami pun menyaksikan pertarungan tersebut. Guild Burst Return sedang mencoba mempertahankan markasnya dengan segenap tenaga, begitu pun sebaliknya. 10 Alliance, aku menyebutnya begitu, mencoba menggempur mereka dengan segala yang ada.
Aku berhasil menemukan keberadaan Party milik Zeya membantu dengan cukup baik. Dea mengayunkan pedang barunya dengan cepat, bahkan semua serangan miliknya ada yang memberikan Critical Damage. Gray membantu lini depan untuk melindungi mereka yang berada di lini menengah dan belakang, setiap kali ada serangan sihir datang, dia lah yang akan maju dan menyerap semua serangan sihir itu hingga tak bersisa dan menggunakan Counter saat pasukan musuh dilanda keterkejutan. Zeya menembakkan panah kearah titik vital para anggota PK Guild Burst Return, bahkan tidak jarang serangannya memberikan Instant Death pada mereka. Sedangkan Vera, dia menyembuhkan Player yang terluka dan mendapatkan cukup banyak terimakasih. Aku lalu tidak sengaja mendengar pujian mereka terhadap peralatan yang kuberikan sebelumnya.
Dea •Red Player Hunter•
[Pedang ini luar biasa! Kecepatan seranganku bahkan lebih cepat dari biasanya!]
Gray •Red Player Hunter•
[Kau benar! Bahkan perisai ini bisa memberikan damage besar dalam satu ayunan saja.]
Zeya •Red Player Hunter•
[Hampir semua seranganku memberikan efek Instant Death! Akurasi dari busur ini sangat bagus!]
Vera •Healing Master•
[Kalau begitu, sepertinya kita harus mengucapkan terimakasih kepada Hema.]
Mendengar itu aku cukup senang, jadi aku berharap, mereka bisa menggunakannya dengan baik. Lalu sekarang aku pun melihat ketempat lain, dimana para Pillar bertarung. Mereka dengan mudah mengatasi semua Red Player tersebut tanpa masalah, yang lebih mengejutkannya lagi adalah, pedang milik Vector mengeluarkan cahaya keemasan, seolah menandakan kalau pedang itu memiliki Attribut Divinity. Sedangkan saat aku melihat kearah Zereth, dia hanya membutuhkan satu serangan saja untuk bisa membunuh 2 hingga 5 Red Player sekaligus dan itu sangat menakjubkan!
"Hema, sepertinya kita kedatangan tamu," bisik Souma padaku. Aku pun segera menoleh kebelakang, puluhan Red Player sudah siap menyerang kapanpun diperintahkan.
"Aku mendapatkan perintah untuk menjaga wilayah ini, tapi siapa sangka aku akan menemukanmu disini, Hema!!"
"Kau.. kau.. bukankah, kau.. Pembunuh Kaki Lima?"
"Siapa yang kau panggil Pembunuh Kaki Lima, huh!? Namaku Jimmy! Setidaknya ingatlah nama orang yang kau bunuh dengan baik, bodoh!!" kesal Jimmy menunjukku dengan pedang miliknya.
"Ah, maaf. Aku hanya tidak ingat namamu, bukan berarti aku melupakanmu," balasku. Aku melirik kearah Rin dan Souma, mereka terlihat menahan tawa dengan lelucon yang aku buat.
"Itu sama saja, bajing*n!! Cih, lupakan," sahutnya. Jimmy lalu melirik kearah Fina, aku pun menaruh tangan kiri ku ke depan Fina. Jimmy mengerti apa yang kulakukan, dia pun menghela nafas dan mengirimkan Whisper Chat kepadaku.
Jimmy •Destroyer Blade•
[Gadis itu, mungkinkah yang Zeldra ceritakan pada kami? Seorang Super AI?]
Hema •Serious Player•
[Zeldra memberitahu dirimu?]
__ADS_1
Jimmy •Destroyer Blade•
[Yah, begitulah. Kami memang sekumpulan Red Player. Tapi sasaran kami bukanlah NPC normal seperti dirinya, yang kami incar adalah para bangsawan dan para player yang memiliki hubungan dengan Bright Revolution saja. Jadi mengertilah.]
"Karena itulah aku akan menculik gadis itu!" Setelah mengatakannya, aku mengerti apa yang direncanakan oleh Jimmy. Dia berniat menculik Fina dan kemudian membiarkannya pergi melalui Teleport Gate milik Guildnya.
Jimmy kemudian langsung melesat maju ke arahku dan mengangkat pedangnya cukup tinggi. Aku memasang kuda-kuda dengan kaki kanan didepan, tangan kananku siap menarik pedang, serta posisi tubuh agak condong ke depan.
"Terimakasih atas tawarannya, Jimmy. Tapi aku harus menolaknya!!" Aku menarik Iris Blue Sword dengan cepat, membuat suara nyaring saat kedua pedang kami saling bersentuhan.
"Begitu yah, baiklah, terserah apa yang ingin kau lakukan. Tapi, aku akan tetap menculiknya!" Jimmy menekan pedangnya jauh lebih kuat, membuatku menjadi sedikit kewalahan dan harus menggunakan dua tangan untuk bisa menggenggam pedangku agar bisa melawan balik.
Kemudian sebuah tembakan sihir melesat kearah Jimmy, membuatnya harus melompat mundur kebelakang. Tidak sampai disana, Souma lalu berlari dengan cepat dan melempar beberapa pisau miliknya. Menyadari Jimmy dalam situasi bahaya, Red Player lain yang dibawa oleh Jimmy langsung bergerak melindunginya, terutama seorang Tanker yang secara mendadak muncul didepan Jimmy. Sepertinya dia menggunakan Skill Cover Move yang akan langsung membuatnya berteleportasi ke dekat orang yang dia ingin lindungi.
"Souma! Menjauh dari sana!! Bakar habis musuhku, Giga Flare!!" Rin mengeluarkan sihir api, Souma segera menjauh dari tempat itu, sedangkan aku membawa Fina ketempat aman.
"Fina, apapun yang terjadi tetaplah disini! Jika ada seseorang yang mencurigakan, berteriaklah! Kau mengerti?" pintaku pada Fina. Ia pun mengangguk tanda mengerti, jadi aku memutuskan untuk masuk kembali kedalam pertarungan.
Rin dan Souma saling menutupi celah satu sama lain, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan kerjasama tim mereka, sehingga aku bisa fokus terhadap Jimmy. Tapi sepertinya tidak akan semudah yang dibayangkan, itu karena Tanker yang melindungi dirinya sebelumnya masih berdiri disana. Bahkan setelah serangan api kuat milik Rin. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan kemampuan dari perlengkapan milikku.
"Iris Ballack!!" Akar sulur keluar dari tanah dan memberikan efek Immoblize padanya, aku pun menambah kecepatan dan menggunakan Slash. Berkat Passive Judgement dan Thunderbolt, aku berhasil memberikan True Damage yang cukup besar padanya.
[Thunderbolt terpicu! Memberikan 10% True Damage dari Total HP target yang telah hilang!]
[Anda memberikan 12629 True Damage pada Player Gulma!]
[Judgement terpicu! Memberikan 30% True Damage dari Damage sebelumnya!]
[Anda memberikan 11829 True Damage pada Player Gulma!]
Karena dia seorang Tanker, aku tahu kalau ini tidak akan mudah. HP yang dia miliki cukup banyak, mengingat dia adalah orang yang memiliki peran di lini depan. Jadi aku mengaktifkan Ice Cloak dan menancapkan Iris Blue Sword ke tanah dia berdiri dan menggunakan Freeze Prison yang mana merupakan sihir tingkat lanjut dari Ice Prison.
Skill Level: I
Category: Crowd Control, Element, Magic
Cost: 1000 MP
Cooldown: 320s
Memberikan efek Freeze kepada mereka yang terkena skill ini selama 30 detik.
Kemudian, aku mengeluarkan Chaos Sword dan memberikan serangan beruntun, sebelum membunuhnya dengan satu tebasan yang telah diperkuat dengan Chaos Soul.
[Anda memberikan 45854 True Damage pada Player Gulma!]
[Anda telah membunuh Red Player, Gulma!]
[Selamat! Anda mendapatkan +500 Fame!]
Setelah berhasil membunuhnya, aku memasukkan kembali Chaos Sword kedalam Inventory, sembari berkata, "Kau tahu, Jimmy? Sekarang ini aku sedang ingin menguji pedang baruku ini. Jadi, aku tidak akan menahan diri lho." Aku menarik kembali Iris Blue Sword dari tanah, membuat tanah yang membeku tadi segera pecah berkeping-keping.
"Heh, menarik! Sekarang tunjukkan padaku, sudah sekuat apa dirimu, Hema!!" Jimmy lalu menyiapkan kuda-kudanya, dia terlihat seperti seorang pemain Baseball dengan kuda-kuda sepeti itu. Sedangkan aku sendiri menyiapkan kuda-kuda untuk serangan tusukan. Aku juga menyelimuti pedangku dengan Fire Cloak, serta menyiapkan Firebolt berukuran kecil yang terus-menerus ku padatkan, setiap kali aku memberikan MP kedalamnya.
Kami berdua melesat bersamaan, aku menggunakan Fire Thrust, tapi segera diblokir dengan Sonic Slash miliknya. Jimmy segera melakukan putaran dari kanan ke kiri, namun dia terkejut dengan Firebolt yang sudah ku siapkan sebelumnya. Sebuah ledakan terjadi, Jimmy pun segera melompat kebelakang untuk menghindari serangan lanjutan. Aku mengibaskan pedangku untuk menghilangkan debu yang bertebaran dan langsung memasang kuda-kuda lainnya.
"Seperti sebelumnya, kau benar-benar licik yah?"
"Huh? Apa yang kau katakan? Itu adalah strategi kau tahu?"
"Kalau begitu, aku juga tidak akan menahan diri. Release Limiter!!" Pedang miliknya mengeluarkan aura terang yang cukup tajam. Sedangkan aku mengaktifkan Sword Dance dan Swing.
__ADS_1
Kami berdua pun melesat bersamaan dan mengadu pedang dengan cukup intens. Berbagai serangan berupa tebasan, tusukan, Skill, maupun Sihir ku kerahkan semuanya. Tapi Jimmy berhasil menahannya, dia juga beberapa kali berhasil mengenai ku.
"Impact Crush!!" Jimmy mengayunkan pedangnya cukup kuat dari atas kebawah. Aku yang melihat itu segera mengaktifkan sihir perlindungan, Shadow Protection. Setelah berhasil menahannya, aku mengganti Shadow Protection dengan Shadow Hands dan berhasil menangkapnya.
Tentunya aku tidak akan melewatkan kesempatan ini dan mulai melakukan serangan beruntun kepadanya. Lalu aku menggunakan Wind Brigade untuk mendorongnya cukup jauh, serta menggunakan Flare Accel untuk memperpendek jarak dan melepaskan Fire Wave, Ice Wave, Wind Wave dan Dark Wave secara bergantian. Namun dengan mudah Jimmy menghancurkannya hanya menggunakan satu ayunan kuat saja.
Aku melempar pedang kearahnya, lalu Jimmy menangkisnya hingga terlempar keatas langit dan itu sesuai dugaan ku. Aku lalu berlari kearahnya dan melepaskan Firebolt, sedangkan Jimmy melepaskan Skill kuat miliknya kearah ku. Hal ini membuat Firebolt terbelah menjadi dua dan menimbulkan ledakan hingga debu-debu bertebaran. Setelah beberapa saat, debu pun menghilang dan aku sudah tidak berada disana, membuat Jimmy menoleh kesana-kemari untuk mencari keberadaan ku.
"Apa kau mencari ku?" ucapku yang saat ini tengah berada di langit dan menggenggam pedang yang ku lempar sebelumnya. Jimmy segera menoleh keatas, tapi aku dengan segera melakukan sekali putaran disana sebelum melepaskan hembusan angin kuat yang membuatnya jatuh tersungkur.
[Skill Air Stomp, berhasil dipelajari!]
Air Stomp (Active)
Skill Level: I
Category: AoE, Charge, Crowd Control, Damage, Element, Impact, Magic
Magic Damage: 800+ (MP)
Cost: MP
Cooldown: 300s
Melepaskan sebuah angin kencang dari atas target dan memberikan Debuff Shock, serta Stun disaat bersamaan selama 3 detik.
Setelah berhasil mendarat, aku segera menancapkan pedangku tepat disamping kepalanya, menandakan kalau semua ini sudah berakhir.
"Haha, sudah kuduga aku masih belum bisa mengalahkanmu. Tapi aku tidak masalah jika kau yang membunuhku daripada mereka," ucapnya.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Yah, kau tahu. Mereka itu sebenarnya adalah--" Belum selesai dia menjawab, sebuah tembakan mengenai tepat dijantungnya. Perlahan, Jimmy berubah menjadi partikel cahaya kemudian menghilang.
"Kau terlalu banyak bicara hal yang tidak penting," ucap Rin, memasukkan kembali Handgun miliknya.
"Apa yang kau lakukan, Rin!? Kenapa kau malah membunuhnya?" sahutku bertanya.
"Kenapa kau malah marah? Dia itu Red Player kau tahu? Mungkinkah kau memiliki hubungan dengan mereka?" balasnya balik bertanya. Sial, aku tidak bisa mengatakan padanya, kalau aku berteman dengan Guild Master mereka.
"Rin, hentikan mencurigai temanmu sendiri. Lebih baik kita pikirkan cara, bagaimana kita bisa mengatasi mereka, jika ada gelombang kedua," jelas Souma. Aku berterimakasih padanya karena telah mengalihkan pembicaraan.
"Ehm, kau benar. Kalau begitu kita--" kali ini ucapan Rin terhenti karena sebuah getaran tiba-tiba terjadi.
"Sebuah gempa?" gumamku.
"GROOAAA!!!" Sebuah auman terdengar cukup kencang dan memekikkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Kami semua menutup telinga untuk mengurangi dampak dari auman tersebut.
"Apa itu tadi? Seekor monster?"
"Entahlah, tapi kita harus pergi dan memeriksanya! Aku juga khawatir dengan Fina," ucapku menyahuti perkataan Rin. Kami pun berlari ketempat dimana Fina berada dan sesampainya disana, Fina menunjukkan wajah ketakutan yang bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya, badannya juga bergetar hebat. Aku menanyakan keadaan dan apa yang terjadi padanya, tapi Fina malah menunjuk kearah dimana perang tengah terjadi.
Saat kami memeriksanya, kami terkejut. Sesosok mahluk besar dengan tanduk dua dan memiliki 4 kaki, mirip sekali seperti Naga tanah, tapi dia bukanlah Naga biasa.
Behemoth (Legendary)
HP: ???
Level: ???
"Itu.. Behemoth!!"
__ADS_1