
Pada suatu pagi, seorang wanita berjalan di koridor sekolah dan tengah berjalan menuju ke salah satu kelas di jurusan IPA.
"Kalau tidak salah, kelasnya itu disini bukan? Duh~ gimana nih? Apa aku tersesat?" ucap wanita tersebut.
Lalu pada saat dia hampir menyerah, dia pun akhirnya menemukan kelas yang dia cari. Wanita tersebut segera membuka pintu kelas, membuat seisi kelas melihatnya dengan tatapan bingung. Bahkan guru yang tengah mengajar pun, menatapnya dengan kebingungan.
"Duh~ maaf, tapi apa benar ini kelas X IPA 4?" tanya wanita tersebut.
Guru yang menatapnya bingung tadi pun segera sadar dan membalas pertanyaannya. "Ah, yah. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Syukurlah~ duh~ kupikir tadi aku salah kelas! Wah~ maaf, hampir saja lupa! Saya datang ingin menyerahkan surat ini, apa saya bisa menitipkannya kepada anda?" Wanita tersebut mengeluarkan sebuah surat dan menyerahkan pada guru yang ada dihadapannya.
"Ah, baik. Tapi, dari siapa surat ini?"
"Tentu saja dari putra saya, Heru Pratama. Dia tidak bisa menghadiri kelas selama beberapa hari, karena itulah saya harap, anda bisa memaklumi hal ini."
"Begitu yah, baiklah. Kalau boleh tahu, siapa nama ibu ini?"
"Tentu, Silvia Vira Pratama. Itu adalah nama saya," ucapnya dengan menunjukkan senyuman manisnya.
***
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang aku tahu, aku telah sadar dengan kondisi hutan yang menghitam dan gundul disekitar ku. Sisanya samar-samar, itulah yang ingin aku katakan. Tapi Gorgo dan Zeldra datang, lalu menceritakan semua yang terjadi kepadaku.
Mereka mengatakan kalau aku hilang kendali dan mengamuk, menyebabkan semua hal ini terjadi dan membunuh semua yang ada di dekatku saat mengamuk. Bahkan Gale pun menjadi korban tersebut. Aku menanyakan sesuatu pada mereka, dimana Fina. Jawaban yang kudapat adalah sebuah cincin. Aku mengambil cincin tersebut dan menangis sejadi-jadinya. Aku merasa kecewa pada diriku sendiri, karena gagal menyelamatkannya, karena gagal menepati janjiku padanya, juga karena diriku yang gagal dan lemah ini.
Suara tetesan air terdengar dari tempat cuci piring, membuat suasana sunyi di kamarku menjadi lebih terasa. Aku mengurung diri di apartemen dan meminta ibuku untuk menulis surat sakit untuk dikirim ke sekolahku. Adikku menanyakan keadaanku dan meminta ayah untuk mengizinkannya pergi ke apartemenku. Tentu saja aku segera menenangkannya, aku mengatakan kalau aku hanya menderita demam saja dan aku terbatuk untuk membuatnya terlihat seperti benar-benar sakit. Lagipula saat itu sudah sangat malam, jadi aku tidak ingin dia kenapa-kenapa.
Alasanku melakukannya bukan karena ada mereka berdua disekolah. Melainkan, aku membutuhkan waktu untuk menyendiri agar bisa kembali seperti semula. Sungguh, alasan yang sepele bukan?
Bel apartemen ku berbunyi, menandakan kalau ada seseorang yang datang untuk mengunjungi ku. Tapi, siapa? Dengan tubuh lemas, aku memaksakan diri menuju depan pintu dan membukanya. Jika dia bukan orang yang ku kenal, aku akan segera menutupnya kembali.
"Ya! Bagaimana kabarmu?" sapa seorang pria dengan rambut hitam pendek dan wajah sedikit ramah. Dia mengenakan pakaian santai berupa kemeja yang tidak dikancingkan, serta mengenakan T-shirt merah dan memiliki sebuah logo yang agak ku kenal. Tapi karena dia orang asing, aku pun menutup pintunya.
"Maaf, mungkin kau salah orang."
"Tunggu! Kenapa kau malah menutup pintunya, Hema?"
Hema? Darimana dia tahu Nickname game yang kupakai? Setelah aku interogasi dirinya, ternyata dia adalah Gorgo. Nama aslinya adalah Vishka Brama. Dia 7 tahun lebih tua dariku, jadi aku sedikit menghormatinya, walau masih agak acuh sih.
"Tapi, aku tidak menyangka kalau kau adalah orang yang bisa hidup di tempat yang berantakan ini yah. Mungkin aku harus menilai kembali tentang dirimu," komentarnya terhadap kamarku yang dipenuhi dengan baju kotor, buku, serta berbagai sampah lainnya.
"Berisik! Aku tidak mau mendengarnya darimu!" sahutku sembari terus berjalan dan mencoba menggapai saklar lampu, tapi Vishka mengatakan untuk tidak perlu menghidupkan lampu, karena dia hanya sebentar disini. Aku pun memutuskan untuk terus berjalan dan duduk diatas kasur, sedangkan Vishka sendiri mengambil salah satu bangku dari meja makan dan meletakkannya didekat kasur.
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" tanyaku dengan serius.
"Ya ampun, seharusnya kau menawarkan ku minuman terlebih dahulu sebelum bertanya begitu, Hema."
"Kalau kau kesini tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan, silahkan keluar sekarang!" balasku kesal.
"Dingin sekali yah. Kalau begitu langsung saja, 3 Minggu," ucapnya menunjukkan 3 jarinya kepadaku. Kemudian, dia pun melanjutkan penjelasannya, "Dalam waktu 3 Minggu, pihak Eternal Company akan menyebabkan bencana besar."
"Huh? Tunggu, apa yang kau ingin katakan? Bencana? Bukankah itu hal yang wajar, mengingat merekalah pembuat game tersebut."
"Bukan bencana itu yang ku maksud! Ribuan, tidak, jutaan player akan terjebak didalam Eternal World Online dan tidak bisa melakukan Logout," jelas Vishka.
Aku membelalakkan mata saat mendengar hal tersebut. Lalu bertanya bagaimana mereka melakukannya. Vishka menjelaskan lagi kalau Eternal Company akan menghapus Logout dari sistem dan menjebak mereka semua didalam game tersebut. Aku benar-benar tidak percaya dengan hal tersebut, bagaimana mereka bisa berbuat seperti itu seenaknya?
"Aku sudah memberitahukan hal ini pada anggota guild ku, serta meminta mereka untuk menandatangani kertas perjanjian, jika mereka melanggarnya dengan cara menyebarkan berita tersebut, akun mereka akan dihapus langsung oleh sistem," ucapnya dengan wajah seriusnya.
"Tunggu, bukankah kau malah melakukan hal yang sama? Mungkinkah kau berada di pihak mereka?" tanyaku mencurigainya. Yah, aku memang mencurigai dirinya. Kenapa dia melakukan hal tersebut pada anggota Guildnya sendiri, lalu darimana dia mendapatkan informasi tersebut. Aku memang benar-benar belum bisa percaya kepadanya.
"Berita ini belum menyebar, jika mereka tahu ada kebocoran informasi, ada kemungkinan mereka dipaksa tutup oleh berbagai pihak," jelas Vishka padaku.
"Bukankah itu bagus? Itu berarti aku tidak perlu berurusan lagi dengan mereka, haha." Aku tertawa pelan saat mendengarnya, entah kenapa ada rasa puas mendengarnya. Tapi itu hanya sesaat, sebelum Vishka melanjutkan penjelasannya.
"Itu benar. Tapi, itu berarti kau sudah siap kalau dunia itu dihapus bukan?"
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Maksudku adalah, jika mereka tahu ada kebocoran informasi, mereka akan menghapus dunia tersebut beserta isinya. Selebihnya kau bisa menduganya bukan? Apa yang akan terjadi pada mereka yang tinggal disana, Hema?"
__ADS_1
"Mereka akan ikut lenyap..." Benar, jika dunia Eternal World Online dihapus, maka semua penghuninya juga akan ikut lenyap. Lalu kenapa? Bukankah itu bagus? Bukankah dengan begitu aku bisa berbaikan lagi dengan mereka? Bukankah dengan begitu aku tidak akan lagi tersiksa? Bukankah dengan begitu aku bisa kembali lagi ke kehidupanku yang biasanya? Lalu kenapa.. kenapa.. kenapa hatiku tidak ingin melepaskannya!
"Sebelumnya aku memang menanyakan ini padamu, lalu kau menolaknya. Tapi, biarkan aku menanyakan ini satu kali lagi, untuk memastikan keputusanmu saat ini. Bergabunglah dengan Guildku dan bersama, kita akan melindungi dunia tersebut. Apa keputusanmu, Hema? Tidak, Heru Pratama?"
Vishka mengulurkan tangannya padaku, aku pun perlahan mulai meraihnya dan dengan penuh keyakinan aku menerima permintaannya untuk bergabung dengan Guildnya.
Merasa urusannya sudah selesai, dia pun memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang dia mengatakan sesuatu kepadaku.
"Huh!? Kau memberitahu alamatku pada adikmu dan dia sedang dalam perjalanan menuju kemari!?"
"Yah, begitulah. Karena urusanku sudah selesai, jadi aku pergi dulu yah. Selamat berjuang dan semoga berhasil!"
"Oy! Tunggu! Apa maksud perkataanmu itu? Memangnya apa yang ingin kulakukan terhadap adikmu?"
Mendengar pertanyaanku, Vishka berhenti sejenak sebelum membuka pintu. Lalu dengan santainya berkata, "****, mungkin?"
"Dasar bodoh!" sahutku, Vishka pun segera keluar dan menutup pintu. Aku hanya bisa menghela nafas sembari membereskan kamarku yang berantakan saat ini.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana dia dengan mudahnya memberikan kepercayaannya padaku untuk melakukan itu terhadap adiknya sendiri," keluhku mengambil beberapa pakaian kotor yang ada dilantai dan mulai membawanya ke mesin cuci.
"Tapi, yah. Aku juga penasaran dengannya sih."
Tidak lama setelah itu, lagi-lagi suara bel pun berbunyi.
"Maaf, tapi saat ini aku sedang sibuk. Jadi kembalilah lain kali!" teriakku memberitahu pada orang yang membunyikan bel tersebut. Bukannya berhenti, dia malah terus-menerus membunyikannya. Perlahan-lahan membuatku kesal dan membuka pintu untuk mengeluh padanya.
"Aku sudah mengatakan untuk mengunjungi ku lagi lain kali bukan!!"
"Wah~ begitukah cara kamu menyambut ibumu sendiri, Tuan Heru Pratama?"
Saat ini dihadapan ku telah ada sosok wanita muda dengan rambut hitam panjang terurai yang terdapat sebuah jepitan bunga, memakai jas hitam, rok panjang berwarna hitam. Dia menunjukkan senyum dengan wajah yang berkerut karena menahan marah.
"Geh, I-ibu?" Benar, dia adalah ibuku. Silvia Vira Pratama.
***
Saat ini aku tengah duduk seiza dengan wajah tertunduk. Yah, aku merasa bersalah jika sudah seperti ini.
Aku yang sudah tidak bisa berkutik karena sudah ketahuan berbohong. Lalu aku bertanya darimana dia mengetahuinya.
"Oh, ibu tadi menanyakan keadaanmu pada temanmu. Dia mengatakan kalau kamu itu baik-baik saja. Lalu ibu bertanya lagi, "apa itu artinya kamu sudah sembuh?" Lalu dia malah balik bertanya pada ibu. "Apakah Heru sedang sakit?" Seperti itu," jelas ibuku.
Sialan kau Vishka!! Saat aku login nanti, akan ku bunuh kau! Tapi, apa aku bisa mengalahkannya? Entahlah...
"Lalu, bisakah kamu menjelaskan maksud dari ruangan ini, Tu-an He-ru?"
Gawat! Aku sebelumnya ingin merapikan tempat ini, karena Zeya akan datang. Selain itu, aku tidak tahu kalau malah dia yang akan datang.
"Eh.. ah.. itu.. anu.. aku tidak tahu!!" Sebuah pukulan pelan mengenai kening ku, aku mengerang pelan karenanya.
"Apa maksudmu dengan kata "Aku tidak tahu" huh!? Ce-pat ra-pi-kan, se-ka-rang!! Paham!?"
"Baik!!" Dengan segera aku berdiri dan merapikan seluruh kekacauan ini.
Pertama, aku mengambil baju-baju kotor yang tersisa dan memasukkannya ke keranjang cucian. Kedua, aku merapikan semua buku-buku yang bergeletakan di lantai dan juga beberapa komik serta majalah dewasa ku masukkan ke kardus, lalu ditaruh dibawah tempat tidurku (Note: Kalian tahu lah, apa kegunaan Majalah Dewasa tersebut, serta alasan kenapa diletakkan dibawah kasur :v). Ketiga, aku mengambil sapu dan kain pel untuk membersihkan ruangan ini.
Selepas melakukannya, aku segera berbaring dikasur dengan nafas yang tersengal-sengal. Kemudian ibuku datang dengan membawa sebuah mangkuk yang berisikan bubur.
"Bubur?"
"Kamu lapar bukan? Makanlah?"
"Yah, aku memang lapar sih. Tapi ibu, kau tahu aku tidak sedang sakit kan?
"Di-ma-kan! Yah?" Ibuku tersenyum dengan wajah menyeramkan, aku pun dengan segera memakan bubur itu.
Hal pertama yang kurasakan bukanlah rasa makanan, melainkan sebuah rasa terbakar yang dirasakan oleh lidahku. Aku segera menelannya, kemudian meminum segelas air untuk sedikit meredakannya.
"Duh~ harusnya kamu tiup dulu sebelum dimakan!"
Tanpa disadari, ibu sudah mengambil mangkuk tersebut dan mengambil sesendok bubur, kemudian meniupnya dan menyondorkannya kepadaku.
__ADS_1
"Aaaa~"
"Uhuk.. uhuk.. ibu, aku bisa memakannya sendiri."
Aku pun menolaknya dengan lembut. Namun ibu malah mengulangnya lagi dengan tatapan menyeramkan bersamanya kali ini. Aku pun dengan terpaksa memakannya, lalu ibu pun bertanya rasa masakannya padaku. Aku hanya menjawab "Itu enak" padanya. Dia pun mengucapkan "Terimakasih atas pujiannya" padaku.
Ibu pun kembali menyuapiku, lalu berkata, "Menyuapimu seperti ini, membuatku teringat masa lalu. Saat kamu masih kecil, kamu selalu meminta ibu untuk menyuapi dirimu. Sedangkan saat Ayah melakukannya, kamu segera memalingkan wajahmu. Seolah-olah kamu tidak ingin dia menyuapimu. Fufu, saat itu kamu benar-benar sangat imut!"
Mendengar itu, wajahku segera memerah karena malu.
"Hentikan ibu, itu memalukan!"
"Wajahmu yang malu-malu itu juga cukup imut," ucapnya kemudian tertawa.
"Ibu!!"
***
Selepas makan, ibu membawa mangkuk bekas bubur itu ke dapur dan membersihkannya.
"Ibu, apa aku boleh tidur di pangkuanmu lagi?"
"Eh? Bukankah kamu bilang itu memalukan?"
"Yah, itu benar sih. Tapi aku menginginkannya, apa tidak boleh?"
Ibu yang baru saja menyelesaikan cucian piring, menghela nafas dan berjalan kearah kasur. Ibu lalu duduk dan menepuk kedua pahanya dengan pelan, menandakan kalau aku boleh tidur di pangkuannya.
Tanpa ragu, aku pun berbaring dan meletakkan kepalaku di pangkuannya. Ibu lalu mengusap lembut kepalaku, membuatku jadi teringat masa lalu. Ketika masih kecil, saat aku mendapat masalah, aku akan berbaring dipangkuan ibu.
"Heru, jika kamu mendapatkan masalah, jangan ragu untuk mengatakannya pada kami! Bagaimanapun, kami ini juga keluargamu, kamu mengerti bukan?"
Mataku mulai berkaca-kaca, aku lalu menutupnya untuk mencegah air mataku mengalir. Setelah merasa puas, aku mengangkat kepalaku yang tertidur di pangkuannya, membuat dia agak terkejut.
"Duh~ padahal lebih lama lagi juga tidak masalah lho!"
"Hahaha, aku sudah lebih baik sekarang. Oh, yah ibu. Bukankah sekarang sudah waktunya untukmu kembali?"
Aku mengingatkannya tentang pekerjaannya di cafe. Bagaimana pun juga, dia adalah wanita yang sibuk yang harus mengerjakan banyak tugas sekaligus.
"Ah! Kamu benar! Kalau begitu, ibu pergi bekerja dulu yah!"
Aku hanya mengangguk, sedangkan ibu membuka pintu dan menutupnya kembali setelah berada diluar apartemenku. Aku menghela nafas lega dan berniat untuk tidur. Tapi saat aku ingin memejamkan mata, ibu kembali dengan membuka pintu apartemenku dengan kencang. Aku segera duduk terbangun karena terkejut.
"Apa ibu tertinggal sesuatu?" tanyaku bingung.
Namun ibu sama sekali tidak menjawab, dia hanya mendorong seorang gadis untuk masuk kedalam apartemenku lalu memberikan acungan jempol padaku.
Aku yang mengerti maksudnya segera berteriak, "Itu salah paham!!"
"A-anu.. apakah kamu yang bernama Hema?" tanyanya dengan sedikit ragu.
Gadis yang ada di hadapanku ini, dia menggunakan sweater pink dengan kaos putih polos didalamnya, dia juga menggunakan rok dengan panjang selutut berwarna pink, juga menggendong tas berwarna pink dengan rantai perak sebagai talinya. Rambutnya berwarna putih sebahu, dengan sebuah pita berwarna pink yang terikat di rambutnya pada bagian kanan, di atas daun telinganya.
Mata kami saling bertemu satu sama lain, aku sedikit terpesona dengan kecantikannya. Walaupun dia masih kalah dengan seorang yang ku kenal baru-baru ini. Ini adalah awal pertemuan dua orang yang memutuskan untuk menjadi sahabat.
Epilogue Volume 1 - End
Chapter 1: Permulaan (End)
Chapter 2: Penculikan (End)
Chapter 3: Penyergapan (End)
Chapter 4: Pembantaian (End)
Chapter 5: Keputusasaan (End)
Epilogue (End)
Volume 1 - Side Story I: Hema dan Alicia, Tujuan Alicia (Begin)
__ADS_1
Volume 1 - Side Story II: Devi adik yang Brocon, Kunjungan Alicia (Begin)