EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Tiga Jalan


__ADS_3


Terra Everna, dunia mirip Bumi dalam dimensi yang berbeda tak akan pernah sama lagi.


Bertelanjang dada dan berdarah-darah, seorang pria muda berdiri agak limbung sambil memegangi luka baru di perutnya. Luka itu tak terlalu dalam, tapi terus mengeluarkan darah.


Mata cokelat pria itu menatap nyalang bagai hewan buas yang tengah tersudut. Dari bibirnya yang berdarah terucap hardikan, “Jahanam kau, Mephistopheles!”


Yang dihardik si rambut merah adalah sesosok iblis berkulit merah darah, bertubuh setinggi kira-kira lima meter. Ia bertangan empat, bersayap enam dan bertanduk tujuh. Tubuh raksasanya melayang di udara, dengan latar belakang Yggdrasil, Pohon Hayat sebesar gunung yang tengah dilalap api.


“Terserah apa katamu, kau dan Laskar Terang sudah kalah, Arcel Raine!” sesumbar Mephistopheles sambil merentangkan keempat tangannya. Wajahnya yang tampan untuk ukuran iblis menyunggingkan senyum maniak.


“Zaman Sihir sudah berakhir, namun bukan beralih ke Zaman Mesin, melainkan Zaman Kegelapan! Aku, Mephistopheles telah menuntaskan misi besar yang tak bisa dipertahankan oleh kedua saudaraku, Lilith dan Vordac. Mulai detik ini, seluruh Everna tak akan menyembah Vadis, Adair atau bahkan Enia lagi, melainkan aku!” Disusul tawa kemenangannya.


Arcel Raine tersentak. Ucapan si Raja Iblis bukan mengada-ada. Seluruh energi Kristal Pelangi Merah dalam tubuhnya telah terkuras. Keenam rekannya yang lain, sesama pemegang Kristal Pelangi telah terkapar, bahkan salah satunya sudah tak bernyawa.


Dengan hanya mengandalkan Pedang Malaikat Keadilan di tangan, apa itu cukup untuk mengalahkan Mephistopheles?


“Nah, tak perlu menunda-nunda lagi! Terra Everna, sambutlah zaman baru yang sesungguhnya!” Sambil mengatakannya, sang iblis digdaya mengulurkkan keempat tangannya. Sebentuk bola hitam terbentuk di depannya dan mulai membesar.


Seiring pembesaran itu, energi kegelapan pamungkas bukan menyebar, melainkan makin dimampatkan hingga jadi berlipat ganda dengan kecepatan tak terkira. Bilamana telah mencapai titik jenuh, bola raksasa itu akan meledak, menebar energi gelap pemusnah ke segala arah dengan daya yang tak terukur. Itulah jurus pamungkas Aliran Kegelapan, Gelora Musnah Dunia.


Melihat itu, seluruh badan Arcel terasa lemah lunglai. “Astaga, bagaimana mungkin aku bisa mengatasi jurus itu sendirian?” batin sang Ksatria. “Dengan kekuatan penuh saja belum tentu aku bakal menang, apalagi dalam kondisi seperti ini!”


Tiba-tiba suara seorang pria bernada berat terdengar. “Jangan menyerah, Arcel! Tetaplah tegar!”


Disusul suara wanita yang agak melengking seperti kucing mengeong. “Usain sudah gugur, tapi masih ada kami!”


Arcel menoleh dan melihat kelima saudara seperjuangannya bangkit dari posisi terkapar ke posisi berdiri, setengah berlutut atau duduk.


Salah seorang dari mereka, wanita cantik berkacamata bulat berambut putih keperakan bernama Genna Kapadokios berseru lantang, “Ini, Arcel! Terimalah keenam Kristal Pelangi kami!” Ia melontarkan Kristal Pelangi Nila di tangannya ke arah si pewaris Kristal Pelangi Merah.


Keempat Ksatria Pelangi yang lain melakukan hal yang sama. Kylie Gurley, gadis bertubuh mungil dari Mincarlie mengambil Kristal Pelangi Hijau dari jenazah Usain Djisse dari Ubanga dan melemparkannya bersama Kristal Pelangi Ungu ke arah Arcel.


Kristal Pelangi Jingga dari Mahpiya Amitola, tabib wanita asal Benua Myriath.


Kristal Pelangi Kuning dari Zhu Yue, siluman setengah wanita, setengah kucing asal Wushu.


Kristal Pelangi Biru dari Sanjaya Tirtayasa, seorang pendekar pria bertubuh kekar dan pelaut ulung dari Jazirah Antapada.


Keenam kristal warna-warni itu beresonansi dengan Kristal Pelangi Merah milik Arcel Raine yang turut melayang di udara. Lalu semuanya seakan pecah dan melebur menjadi satu Kristal Pelangi Sejati, tujuh macam energi bersatu-padu menjadi energi terdahsyat di jagad raya, melebihi energi cahaya dan kegelapan.


Lalu kristal pamungkas itu melesat lagi seakan bernyawa dan meleburkan diri dalam tubuh Arcel Raine, tepat di jantungnya.


Mulai detik ini, tubuh Arcel bersatu penuh dengan Kristal Pelangi. Dalam hitungan detik, seluruh energi tujuh warna juga dimampatkan dan dipusatkan di satu titik, yaitu ujung Pedang Malaikat Keadilan, Excalibur Evangelis di tangan Arcel.

__ADS_1


Asupan energi tanpa batas dengan kekuatan setara dengan jurus Gelora Musnah Dunia mendorong Arcel untuk berseru, “Apapun yang terjadi, Zaman Kegelapan tak boleh terulang lagi! Aku harus menghentikanmu, Mephistopheles, walau aku harus menyeretmu kembali ke neraka jahanam bersama diriku!”


“Omong kosong! Mustahil kekuatan tujuh kristal saja dapat menghentikan kekuatan inti kegelapan dan ratusan ribu arwah penasaran! Zaman Kegelapan sudah keniscayaan, yang kuat akan bertahan hidup, yang lemah musnah! Sambutlah, Arcel Raine!”


“Mulai!” Berseru tepat di waktu bersamaan, kedua petarung melesat maju, memperpendek jarak di antara mereka berdua. Keempat tangan Mephistopheles seakan mendorong bola hitam raksasa, sementara Arcel menarik pedangnya ke samping, siap dihunjamkan lewat satu jurus sederhana tak bernama yang baru detik itu tercipta olehnya.


Setelah masuk jarak jangkauan pedang, Arcel menusukkan pedangnya ke bola hitam raksasa. “Senang bertarung denganmu, Mephistopheles!” serunya tanpa terduga.


Mephistopheles mendorong bolanya dengan segenap tenaga. “Sama-sama, Arcel Raine!” serunya. “Aku puas, sungguh puas!”


Entah apa sebabnya kata-kata aneh itu terlontar. Mungkinkah mereka berdua sadar takkan bisa salamat dari pertumbukan dua energi pamungkas yang tak terukur batasnya?


Pedang dewata dan bola hitam raksasa beradu.


Dalam sedetik, dua energi saling berlawanan saling serang, saling melahap dan hendak saling membuyarkan. Namun imbas pertumbukan itu malah membuat mereka mencapai titik jenuh dan meledak maha dahsyat dengan suara dentuman yang membahana ke seantero Hutan Yggdrasil.


Para petarung yang masih hidup dalam medan tarung itu lalu bertahan mati-matian dengan seluruh sisa energi mereka.


Namun yang terpapar paling parah tentunya kedua petarung di titik pusat ledakan. Tubuh Mephistopheles menyerpih, hampir mengabu. “Jadi, inilah pilihan Sang Zaman. Aku paham kini!” serunya, seiring raungan pilu dan hembusan napas terakhirnya.


Arcel Raine hanya bisa menyunggingkan senyum, mengiringi satu pikiran di titik nadir kesadaran terakhirnya.


“Tak apa hidupku harus berakhir di sini. Setidaknya segala misi yang harus kujalani di dunia ini sudah tuntas. Lestarilah Everna.”


 


 


\==oOo==


 


 


“Di mana aku?”


Kali berikut mata Arcel Raine terbuka, tampaklah sebuah jalan setapak. Pria muda bertelanjang dada itu menyusuri jalan yang membelah hutan gelap itu hingga mencapai tempat terbuka. Rambut merahnya berkibar diterpa angin malam.


Mata cokelat Arcel terbelalak. Di hadapannya terbentang sebuah kastel yang tak lebih besar dari kastel bangsawan kasta menengah. Anehnya, dinding kastel itu terbuat dari batu-batuan istimewa, hingga tampak gemerlap memantulkan cahaya rembulan. Firasat mendorong si rambut merah memasuki kastel yang gerbangnya terbuka itu.


Saat menyusuri koridor demi koridor, Arcel menatap dua deretan cermin yang tergantung sepanjang dinding. Uniknya, bukan bayangan dirinya yang terpantul dari cermin-cermin itu, melainkan beragam citra yang hampir semuanya tak ia kenal.


Hampir tiba di tengah balairung bundar kastel, Arcel terkejut oleh kemunculan seekor kuda hitam raksasa Seketika, segala kenangan buruk membanjiri benaknya, menderanya tanpa jeda.


Mendapat akal, Arcel memusatkan pikiran pada kenangan-kenangan termanis dan mimpi-mimpi terindah. Ia menatap mata kuda hitam itu sambil mengentakkan tenaga dalam. Kuda itu meringkik nyaring. Seketika, kenangan terburuk sepanjang hidup menyerbu benaknya. Itu adalah saat gurunya, Xavros Lenaviel membunuh ayahnya, Marc Raine di depan matanya.

__ADS_1


Teriring satu bisikan, “Menyerah sajalah! Kau takkan mampu mencegah hal-hal terburuk terjadi, termasuk kematianmu sendiri! Biarkanlah maut menjemput nyawamu!”


“Ini bukan akhirat, kan? Ini bukan akhir perjalananku! Aku tak menyerah pada Mephistopheles, mengapa aku harus menyerah padamu?” Arcel menghardik balik. Sambil mengentakkan energi, Ia memusatkan pikiran pada kenangan yang mengatasi kenangan terburuk itu, yaitu pesan terakhir Marc padanya.  Isi pesan Marc itu adalah agar Arcel memilih jalan hidupnya sendiri dengan bijaksana dan menjalaninya sampai akhir.


Tubuh si kuda hitam terhantam keras oleh energi Arcel hingga terpelanting dan tersuruk di lantai. Lalu ia bangkit, mengepakkan sayap dan terbang pergi lewat jendela besar balairung yang terbuka. “Sial, ia jauh lebih kuat dari dugaanku,” rutuknya.


Arcel menunduk sambil menghela napas lega.


“Wah, kau berhasil mengusir Nightmare, si penjaga mimpi buruk di Kastel Mimpi,” ujar seorang wanita yang menghampiri Arcel dari ujung balairung. Kulitnya sawo matang dan jubahnya berwarna-warni. “Kau sudah lulus Ujian Mimpi. Siapa namamu?”


“Arcel Raine,” jawab Arcel. “Tapi apa aku masih di Everna? Yang terakhir kuingat aku terjebak dalam ledakan saat bertarung melawan Mephistopheles.”


“Kini kau ada di Limbo, ranah antara alam baka, alam fana dan antar dimensi. Namaku Auryn, dan aku salah seorang dari lima Tetua Agung Kastel Mimpi.”


Arcel terkesiap. “Jadi, apa aku sudah... tewas?”


Auryn menggeleng. “Berkat kehendak Vadis kau kini masih hidup. Namun, kini kau harus memilih antara tiga jalan ini.”


Tiga cermin muncul di depan Arcel.


“Apa maksudmu?” tanya si pipi berajah hitam.


“Tiga jalan ini menuju tempat untuk melanjutkan hidupmu. Lihat baik-baik satu per satu.”


Saat menatap cermin pertama, tampak sosok Vanessa, gadis elf yang pernah jadi kekasih Arcel di Ishmina. Pilihan jalan hidup yang berbeda membuat mereka berdua terpaksa berpisah.


Di cermin kedua ada Genna Kapadokios, gadis berambut perak yang tengah meratap. Ia mengira Arcel telah tewas bersama Raja Iblis, Mephistopheles.


Di cermin ketiga, tampak seorang gadis manis berambut hijau panjang. Raut wajahnya pucat, seakan ia dalam bahaya.


“Nah, jalan apa yang akan kaupilih?” tanya Auryn.


Arcel terdiam sejenak, lalu menjawab, “Aku sudah tak bisa lagi bersama Vanessa. Dengan Genna, mungkin aku akan hidup tenang. Tapi kurasa aku terpanggil menolong gadis berambut hijau itu. Jadi, pilihanku adalah cermin ketiga.”


Auryn mengangguk sambil tersenyum. “Silakan, Arcel Raine. Ukirlah legenda baru di masa depan dan jadilah musafir yang jauh lebih kuat dari dirimu sekarang ini.”


“Terima kasih, Auryn,” jawab Arcel yang berjulukan Musafir Ishmina sambil melangkah ke dalam portal gaib di cermin ketiga.


Arcel belum paham kalimat terakhir Auryn tadi. Namun ia mendapat firasat, perjalanannya untuk menjadi sosok yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan dimulai.


Jauh di masa depan.


 


Ilustrasi karakter Arcel Raine dalam isi dan cover oleh Andrian Januar Adilia.

__ADS_1


__ADS_2