EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Sabung Nyawa Dalam Sangkar


__ADS_3


Dominion


Arcel Raine sungguh beruntung kali ini.


Nyawa pemuda yang abadi belianya itu hampir melayang setelah asupan energi yoganya bentrok dengan residu energi iblis dalam tubuhnya.


Untunglah Singh cepat tanggap memberi pertolongan pertama, ditambah asupan energi murni Dean Vizier untuk mempercepat pemulihan dan mengikis energi iblis. Dibantu juga pula dengan pengobatan modern nan canggih di klinik penjara.


Hasilnya, tepat di hari “penghakiman lewat pertarungan”, Arcel sudah kelihatan segar-bugar dan mampu berdiri tegak lagi. Ia bahkan melakukan pemanasan dalam sel dengan bergerak lincah samping-menyamping, depan-belakang, serta melakukan footwork dan shadow boxing layaknya petinju profesional.


Latihan tenaga dalam Arcel juga mengalami banyak kemajuan, setelah “hambatan” energi iblis berhasil dikikis. Hasilnya, di hari “pengadilan”, energi yang pulih dalam diri Arcel sudah lebih dari lima puluh persen.


“Pengalaman dan bakat tak bisa bohong,” ujar Singh yang kini bertindak sebagai pelatih sekaligus pengarah Arcel di samping medan tarung nanti. “Kecepatan pulihmu dari kondisi kerasukan iblis melebihi pendekar mana pun yang kukenal, bahkan diriku sendiri. Jadi, sebesar itulah bakat dan potensimu.”


Arcel menanggapinya, “Tapi mustahil kekuatanku bakal setara dengan Ketua Alistair Kane, ‘kan?” Tentu dengan nada setengah bercanda.


“Yah, sejauh yang bisa kuukur, kekuatanmu satu tingkat di bawah Kane yang musafir tingkat tujuh, Pencipta Semesta. Tapi perhitunganku bisa saja salah.”


“Jadi ada kemungkinan aku bisa jadi musafir tingkat tujuh?”


“Ngg... bukan. Jangan-jangan kau musafir tingkat dua atau tiga yang hanya prestasinya saja yang setara musafir tingkat lima.”


Arcel tertunduk, entah malu karena terlalu banyak berharap atau baru ingat kembali bahwa potensinya bukan tanpa batas.


“Lagipula,” tambah Singh, “kini kekuatanmu masih belum beranjak dari tingkat pendekar pahlawan. Jadi tahu dirilah dan jaga dirimu sendiri. Lawanlah bila lawan kira-kira setara atau sedikit lebih tinggi tingkat kekuatannya dibanding dirimu. Tapi, bila lawan terlalu kuat atau adalah musafir antar ranah, tak ada pilihan lain kecuali mundur teratur atau menghindar.”


“Bukankah itu adalah tindakan pengecut?” Arcel sengaja ingin memancing informasi tambahan lewat pertanyaan “kurang ajar”.


Untunglah Singh, yang sudah banyak makan asam-garam di beberapa dunia memberi tanggapan yang elegan. “Lebih baik kita dibilang pengecut daripada mati sia-sia karena kurang bijaksana.”


Arcel hanya terpaku saja, mengira-ngira alur logika paparan si musafir dari Arcapada.


Namun satu pikiran berhasil mengembalikan fokus Arcel pada pertarungan-pertarungan yang akan dihadapinya sebentar lagi.


Para lawanku nanti hampir pasti adalah pendekar-pendekar yang setara denganku. Mustahil ada musafir antar ranah yang mau mengotori tangannya dengan ikut campur, membuat proses “pengadilan lewat pertarungan” nanti jadi berat sebelah.


Jangan, jangan sampai ada yang segila itu.


Jangan pernah ada.

__ADS_1


\==oOo==


Status Penjara Adler von Bachmann adalah penjara dengan pengamanan maksimum, dikhususkan untuk narapidana sakti atau yang terlalu berbahaya untuk dipenjara dalam penjara biasa.


Karena itulah, bahkan lapangan untuk berolahraga atau pusat aktivitas-aktivitas luar ruangan lainnya berada dalam ruangan tertutup, tak tersentuh sinar matahari sedikit pun.


Kini, ruang lapangan yang amat luas itu telah disulap menjadi sebuah arena pertarungan. Arena itu terkesan profesional namun cenderung suram dan menakutkan ketimbang megah dan elegan.


Betapa tidak, di tengah arena tersebut ada sebuah ring tarung berbentuk bidang segi enam. Luas ring itu kira-kira setara dengan lapangan bulu tangkis atau bola voli.


Yang paling menarik perhatian adalah seperangkat pagar setinggi empat meter yang mengelilingi dan mengurung keenam sisi ring, bahkan di sisi atas pula.


Mungkin ada petarung yang “nakal”, ingin melarikan diri dari penjara dengan kesaktian yang tak diredam borgol khusus lagi. Namun usahanya itu pasti akan gagal karena ia akan lebih dahulu disengat listrik bertegangan tinggi yang dijalarkan pada kandang dalam keadaan darurat.


Hal yang paling menarik kedua di “arena bongkar-pasang” ini adalah adanya podium khusus yang menjulang di salah satu sisi ruang lapangan. Podium itu adalah tempat orang-orang penting, satu-satunya jenis yang diperkenankan menonton seluruh acara rangkaian pertarungan ini secara langsung.


Tentunya podium setinggi tiga meter dari tanah itu ditutup dan dilindungi dengan kaca jendela setebal tiga puluh sentimeter. Kaca itu juga diolah secara khusus, dengan memadukan teknologi canggih dan sihir, sehingga mampu meredam energi sekuat ledakan nuklir atau setara kekuatan musafir tingkat empat.


Biaya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan acara tarung ala gladiator ini luar biasa besar. Karena itu pihak penyelenggara, dalam hal ini manajemen penjara dan pihak Sindikat menyiarkan acara tarung ini secara komersil, baik lewat daring maupun lewat jaringan televisi dengan sistem pay-per-view.


Jadi, setiap orang yang ingin menonton siaran langsung atau rekaman tayangan ini harus membayar harga setara tiket konser musik penyanyi kelas dunia. Setelah pembayaran lunas, penonton diberikan kode akses menuju server eksklusif.


Server eksklusif itu telah terenkripsi dan dilengkapi pelacak ultra canggih. Jadi, bila si penonton “bandel” merekam acara ini, atau mencoba meneruskan rekaman itu ke tempat lain, apalagi pihak berwajib, koneksi akan terputus. Akses si penonton akan terblokir dan dia langsung masuk daftar hitam secara otomatis.


Tentunya keenam belas tahanan dan narapidana itu dikawal oleh sepasukan sipir khusus bersenjata dan berpelindung tubuh lengkap berkekuatan sedikitnya dua ratus orang.


“Hati-hati. Para sipir itu juga tergolong sakti, walaupun rata-rata kekuatannya di tingkat prajurit,” kata Singh yang jadi satu-satunya pendamping khusus untuk Arcel, Dean dan tim Blood Feast. “Justru komandan mereka, Kapten Rick Stryker lah yang paling perlu diwaspadai. Petarung berjulukan ‘the Warden’ itu memiliki kesaktian yang melebihi dirimu sekarang ini, Arcel.”


“Yah, toh aku juga tak berniat macam-macam,” sahut Arcel sambil mengangkat bahu.


Para tahanan lalu dikurung dalam sejenis podium khusus yang dikelilingi seratus sipir sakti, termasuk Rick, sang komandan yang berkulit hitam.


“Silakan duduk di tempat-tempat yang telah disediakan,” seru Rick Stryker, memberi pengarahan. “Silakan menonton semua pertarungan lain sambil menunggu giliran kalian. Jangan coba-coba melarikan diri dan membuat kekacauan, atau aku dan semua anak buahku akan membuat kalian ***** jadi rata dengan lantai. Paham, kalian semua?”


“Paham, Pak!” seru para tahanan hampir serempak.


Karena ditempatkan dalam sel yang sama, tentu Arcel Raine duduk bersebelahan dengan sahabat barunya, Dean Vizier. Juga tampak para excommunicado lainnya yaitu Cross, Onyx dan Faust. Keempatnya duduk menyebar, berselang-seling dengan para tahanan petarung lainnya yang Arcel tak kenal.


Satu-satunya hal yang melegakan bagi Arcel adalah melihat semua excommunicado baik-baik saja. Rupanya penjara khusus itu tak repot-repot menyiksa para tahanan dulu, agar mereka bisa menyajikan rangkaian pertarungan yang seru dalam acara akbar ini, Siksaan, penghakiman dan hukuman yang sebenarnya baru dijatuhkan saat para tahanan tersebut sedang bertarung melawan para “hakim”.


Sedangkan “hakim tertinggi” tentunya adalah Kepala Penjara, seorang wanita setengah baya bernama Margaret Griffons. Postur tubuhnya agak gempal. Keriput-keriput pada wajahnya ditutupi dengan make-up tebal. Bibirnya yang mulai menipis dan berkerut ditutupi lipstik merah tebal, sehingga terkesan masih “ranum”.

__ADS_1


Karena itulah, Marge masih tampak penuh wibawa saat bicara di depan podium lewat mikrofon mini berbentuk pin di kerah baju, yang diperkuat suaranya lewat beberapa speaker raksasa di keenam sudut arena.


“Sejak Zaman Purbakala, sepanjang Zaman Dewa-Dewa dan Zaman Peradaban Kuno di Everna, tak terhitung manusia yang dipaksa bertarung, menyabung nyawa demi hiburan atau gengsi semata,” seru Marge. “Para gladiator Valanis dan Parthenia Kuno, para pendekar dari Wushu, Shima dan hamper seluruh penjuru Everna bertarung untuk pelbagai alasan.


Kebanyakan dari mereka kehilangan nyawa sia-sia. Dan hanya segelintir petarung itu yang mencicipi kejayaan, kehormatan dan pengampunan yang mereka dambakan. Semua itu harus mereka pertahankan dengan bertarung terus dan terus, bertahan hidup hingga maut menjemput.


Karena itulah kami di Lembaga Pemasyarakatan Adler von Bachmann berinisiatif membangkitkan kembali ide ‘pertarungan demi pengampunan’ dengan menyelenggarakan acara ini…”


Arcel melewatkan sebagian paparan Marge dan menajamkan penglihatan jarak jauh, mencoba mengenali sosok-sosok di balik si Kepala Penjara dalam podium kaca.


Di antara sosok-sosok itu tampak sekilas seorang pria duduk santai di antara dua sosok pria tinggi-besar lainnya yang berdiri amat tegak, cenderung kaku.


Sosok itu berambut putih panjang dan kepalanya cenderung selalu miring ke sisi kanannya, entah saat ia sedang santai atau saat sedang duduk tegak. Sikapnya yang terlalu santai seakan acuh tak acuh dengan setiap kata yang diucapkan Marge dalam pidatonya.


Malah kepala dan kedua mata si rambut perak tertuju lurus pada Arcel. Ah, mungkin dia memperhatikan mantan juara MAUL, Dean Vizier yang duduk di sebelahku, batin Arcel. Kemunculan kembali Dean di ajang yang kontroversial ini pasti akan memantik ledakan kehebohan di kalangan penggemar sang bintang.


Sesaat sesudahnya, Arcel tiba-tiba merasakan tekanan hawa energi amat kuat menerpa auranya, membuatnya terperanjat. Saat sang pendekar membuka mata batinnya, ia melihat sepasang mata raksasa melotot lurus ke arah matanya, seolah-olah tengah menghipnotisnya.


Sebagai pendekar yang memiliki aura yang terlatih dan kuat, Arcel berhasil menepis tekanan dengan balas melotot. Tekanan energi batin Arcel balas melesat dan menerpa lawan. Alhasil, citra mata raksasa lenyap seketika dan tekanan pada dirinya pun sirna.


Namun kelegaan yang Arcel rasakan sesaat berganti di saat berikutnya dengan kegalauan. Untuk memastikan apa yang terjadi dan siapa lawan yang sedang ia hadapi, Arcel bertanya pada Singh di sebelahnya.


“Guru Singh, apakah Guru tahu siapa pemilik energi gelap yang menekan diriku tadi?”


Singh yang rupanya sejak tadi memperhatikan gelagat Arcel sudah mempersiapkan jawaban. “Pria berambut putih dalam podium anjungan tertutup itu bernama Dominion.”


“Apa?” sergah Arcel. “Diakah Ketua Sindikat?”


Singh mengangguk mantap. “Tak diragukan lagi. Walau jarang tampil di permukaan, kekuatannya sebagai musafir tingkat enam membuat wibawanya mutlak, tanpa batas dan tak terbantahkan.”


“Memang sekuat apakah musafir tingkat enam itu? Ada berapa banyakkah jumlah mereka di dunia saat ini?”


“Setahuku jumlah mereka kini ada sepuluh orang, termasuk Dominion dan Gregor Engelsohn. Kekuatan mereka setara maha dewa atau pemimpin para dewa, jadi rata-rata mereka adalah pemimpin tertinggi suatu organisasi. Misalnya, Dominion adalah Ketua Sindikat dan Engelsohn adalah Ketua Ordo Gregorian.”


“Mengapa Bapak menyebut soal Engelsohn? Apakah ia punya kaitan erat dengan Sindikat?”


“Oh, tidak juga,” jawab Singh sambil menggeleng-geleng khas orang Arcapada. “Kau akan menghadapinya suatu saat dalam satu misi lain di masa kini, tak terlalu lama setelah urusanmu dengan Dominion selesai. Tapi aku tak bisa meramalkannya lebih jauh dulu, supaya kau dapat berkonsentrasi pada Dominion saja.”


“Oh, baiklah kalau begitu.” Arcel menaikkan pundak. “Lantas, siapakah dua orang di sisi kiri dan kanan Dominion?”


“Mereka adalah dua jawara terkuat di Sindikat, merangkap ajudan dan pengawal pribadi Ketua. Mereka kakak-beradik Garth Hauser dan Karl Hauser, dan mereka berasal dari Borgia.”

__ADS_1


Arcel tercenung sejenak. Benaknya sedang mencerna asupan informasi baru dari Singh. Dan ia baru sadar telah melewatkan seluruh sisa pidato panjang lebar Kepala Penjara saat Margaret Griffons berseru, “Dengan ini, acara ‘Tarung Pengadilan’ dimulai!”


Catatan: Borgia adalah Jerman versi Everna, sedangkan Arcapada adalah India dan Myriath adalah Amerika Utara versi Everna.


__ADS_2