EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Jadi Tahanan


__ADS_3

Walau mendapat bantuan dari Onyx saat melawan Ratfang, kenyataan bahwa Arcel Raine telah mencabut nyawa dua dari lima pendekar tingkat atas yang memburu Kelompok Bloodfeast tak bisa dipandang sebelah mata, apalagi dianggap remeh.


Karena itulah, tewasnya Ratfang dan Sand Jinx meruntuhkan nyali sebagian besar pemburu bayaran di lapangan basket tempat pertempuran itu dan mereka melarikan diri ke segala arah. Sudah yakin pasti kalah, mereka tak mau buang nyawa sia-sia.


Tinggal Nekho, Khaos the Klown dan Phantomime saja yang masih bertarung melawan para excommunicado. Namun tentunya tindakan para pembunuh kelas teri mengganggu konsentrasi para “pemimpin pasukan”.


Nekho berseru pada Khaos yang tak jauh dari posisinya, “Lihat, banyak yang melarikan diri! Lebih baik kita mundur juga!”


Tapi Khaos malah mencibir, “Khu, khu... Silakan mundur, hei pengecut. Biar aku yang meraup semua uang hadiahnya!”


“Cih! Dasar badut merepotkan!” Si topeng tato merangsek Cross lebih gencar lagi sebagai pelampiasan kekesalannya.


Lagipula Khaos tak berbohong. Ia tampak sangat menikmati pertarungannya dengan Dean Vizier. Walau luka-luka, tak ada yang bisa menandingi nikmatnya menghadapi lawan seimbang.


Di sisi lain, Arcel Raine memutuskan untuk membantu Dean dan Cross, sementara Onyx bahu-membahu dengan Faust untuk menghadapi Phantomime.


Namun, begitu dekat dengan para petarung, Arcel dikejutkan oleh derap langkah banyak orang yang mendekati medan tarung. Satu suara keras bahkan terdengar lewat corong pengeras suara, “Kami dari VOLSUNG! Hentikan pertarungan dan menyerahlah, kalian semua kami tahan!”


Sepasukan agen VOLSUNG yang berseragam hitam-hitam dan mengenakan kacamata dan atau masker hitam menutup semua jalur akses dari gang ke lapangan basket jalanan. Seperti halnya polisi, semua agen penegak hukum siap membidik dengan pistol masing-masing ke arah para pelaku pertarungan ilegal.


Kali ini Khaos yang berdecak kesal. “Agensi lagi! Pengacau! Hah! Pertarungan ini sudah tak asyik lagi! Aku pergi!” Tanpa basa-basi lebih jauh, Khaos melarikan diri dengan amat luwes. Karena dirinya sudah dekat dengan dinding gedung, ia tinggal memanjat dinding itu seperti cecak hingga menghilang di atap.


“Huh! Tadi katanya tak mau mundur!” gerutu Nekho. “Giliran dikepung, malah dia yang pertama melarikan diri! Kalau begitu, aku juga harus pergi!” Si topeng-tato melompat tinggi-tinggi sambil bersalto di udara, lalu diulanginya berkali-kali sampai ia sudah benar-benar jauh dan tak terlihat lagi. Gilanya, tak satupun tembakan para agen itu yang bisa mengenai, apalagi melukainya.

__ADS_1


Untunglah Phantomime sempat mengantisipasi gelagat dua saingannya itu. Tanpa bicara dan hanya melenggak-lenggok ke kanan-kiri ala pantomim. Lalu melarikan diri dengan cara paling unik, yaitu dengan seolah menghilang begitu saja.


Trik Phantomime yang sebenarnya adalah bersembunyi di balik punggung para lawan dan para agen sambil meniru gestur tubuh mereka. Dan itu dilakukan dengan amat cepat, ia jadi bagai bunglon yang berbaur dengan lingkungan yang menyamarkannya.


Tinggal Arcel, Cross, Dean dan Onyx saja yang masih berdiri di lapangan. “Ah, untunglah kalian datang tepat waktu,” kata Dean. “Aku benar-benar berterima kasih pada Agensi untuk...”


“Simpan saja ucapan terima kasihmu itu,” kata suara wanita dari balik barisan agen. Orang yang mengatakannya lantas maju, menampilkan diri sebagai Chloe Hewitt, si gadis berambut hijau. “Aku Agen Circe, dan kalian semua kami tahan.”


Malah Arcel yang protes, “Lho, apa salah kami? Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu? Seharusnya kalian menahan para pembunuh gelap yang mengincar Bloodfeast, bukan kami!”


Ekspresi wajah Chloe tetap dingin saat menatap Arcel dari sudut matanya. “Dan aku sudah memperingatkanmu, Agen Helios agar tidak ikut campur secara terang-terangan. Kini Sindikat tahu bahwa Agensi bermaksud melindungi para excommunicado dan ikut campur dalam urusan dalam kalangan pembunuh bayaran. Agensi VOLSUNG kini dalam posisi sulit berkat kecerobohanmu dan caramu yang urakan, dan kalian semua harus ikut kami untuk mempertanggungjawabkan ulah kalian itu.”


“Tapi, tetap saja...!”


Arcel baru saja hendak mendebat Chloe lagi saat Cross maju dan memalangkan lengannya yang terulur lurus di depan dada si pemuda berambut merah.


“Itu tergantung keputusan Ketua Zeus!” hardik Chloe. “Kau tak berhak tawar-menawar! VOLSUNG punya kepentingan dan posisinya sendiri terhadap Sindikat! Bilamana posisinya sebagai penegak hukum dilanggar dengan ikut campur dalam urusan internal jaringan Sindikat, apalagi berusaha menghancurkannya dengan mengungkap seluruh keberadaan pembunuh bayaran serta semua borok di dalamnya di mata hukum dan publik, perang besar akan meletus dan tak akan berhenti sampai seluruh Centronia, bahkan seluruh Everna luluh-lantak!”


Chloe mendadak menutup mulut sendiri dengan dua tangan, tanda ia telah kelepasan bicara panjang-lebar, mengungkap hal yang dirahasiakan dan sama sekali di luar wewenangnya.


Gadis rambut hijau itu cepat-cepat menutupinya dengan berkata, “Cukup bicara! Kalau ada yang ingin kalian sampaikan, katakan saja langsung pada para pengambil keputusan, termasuk Ketua Zeus sendiri atau Sekretaris Artemis!”


Yang dimaksud Chloe tentu adalah Alistair Kane dan Vorai Arantes y Parvaez. Namun kerahasiaan identitas asli mereka tetap harus dijaga, kecuali mungkin dalam pembicaraan pribadi yang amat rahasia dalam markas dan kalangan Agensi sendiri.

__ADS_1


Jadi, agar situasi kembali terkendali, agar tak kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup dari “kutukan dua puluh tujuh tahun”, Arcel Raine terpaksa bekerjasama dengan agensinya. Ia membiarkan diri digiring dengan tangan terbelenggu ke dalam kendaraan lapis baja bersama teman-teman barunya, yaitu Dean Vizier, Cross, Faust dan Onyx.


Arcel sempat menatap tajam dan mendengus kesal ke arah Chloe. Tapi gadis itu tak bereaksi dan masuk ke mobilnya sendiri, lalu berkendara untuk kembali ke Distrik Satu, markas VOLSUNG.


Karena status Arcel adalah tahanan Agensi, ia tak dibawa ke markas besar VOLSUNG di Distrik Satu Centronia.


Sebaliknya, iring-iringan mobil tahanan mobil tahanan kini memasuki distrik paling kejam, paling kelam, paling berbahaya di Centronia, yaitu Distrik Tiga Belas alias Distrik Penjara.


Arcel meringkuk dalam truk lapis baja yang menyerupai tank bersama empat orang pendekar sakti sesama tahanan lain. Semua mata Dean Vizier, Cross, Onyx dan Faust tertuju pada diri Arcel, seolah hendak menyalahkan si agen magang atas insiden penangkapan Agensi terhadap mereka.


Tanpa menoleh dan terus tertunduk, Arcel berkata, “Ya, aku tahu ini semua salahku. Kalau aku tak ikut campur lebih jauh, kalian pasti tak akan ada di sini.”


“Justru sebaliknya,” kata Dean Vizier dengan perlahan dan nadanya cenderung datar. “Andai kau tak membantu kami, bahkan sampai membunuh Sand Jinx dan Ratfang, kami mungkin bisa berakhir di kuburan.”


Cross mempertegas pernyataan Dean. “Benar. Karena itulah aku amat berterima kasih padamu dan pada dirimu seorang, Arcel. Seperti kataku tadi, aku hanya percaya padamu, Arcel, bukan pada VOLSUNG. Prinsip agensimu yang terlalu lurus bakal mendatangkan petaka bagi diri mereka sendiri.”


“Tapi kurasa Ketua Zeus bakal bersikap adil. Ia jauh lebih tua dan lebih matang daripada siapapun, bahkan mungkin pula para petinggi Sindikat,” sahut Arcel sambil mengangkat bahu.


Faust menimpali, “Yah, harap saja asumsimu benar, Arcel. Nasib kita bergantung pada kebijaksanaan Zeus. Kalau ia ternyata tak seperti yang kaukatakan itu, kita bisa jadi akan membusuk dalam penjara berpengamanan maksimum di Distrik Tiga Belas.”


Semua orang dalam truk lapis baja sontak terdiam.


Selanjutnya, tak seorangpun angkat bicara sepanjang sisa perjalanan. Mungkin sekali Cross, Onyx dan Faust yang pernah melarikan diri dengan sukses dari penjara di Indranara sedang merancang rencana dalam benak masing-masing.

__ADS_1


Andai ada Toxin, pria aneh yang mampu melelehkan pintu besi apapun dengan cairan kimianya itu akan membuat pelarian Bloodfeast jadi lebih mudah.


Andai saja Toxin masih hidup.


__ADS_2