
Tinju Halilintar Dean Vizier berdesir deras ke arah Arcel. Sebagai petarung terlatih, Arcel sempat berkelit dan tinju itu lewat kira-kira sejengkal dari pipi si rambut merah.
Tak berhenti di sana, Dean menyusulkan berondongan tinju dan tendangan dengan jurus Rentetan Halilintar Berantai.
Kali ini tak semua tinju dan tendangan Dean bisa dihindari oleh Arcel, jadi ia memusatkan tenaga dalam pada kedua lengan bawahnya, yang diangkat dan berfungsi seperti perisai.
Semula, Arcel mencoba bertahan dari berondongan Dean, tak kunjung menyerang balik. Pikirnya, ini kesempatan bagus untuk mengukur kekuatan dan mengamati pola serangan lawan.
Namun Dean Vizier jelas menunjukkan kelasnya sebagai salah seorang petarung papan atas dunia persilatan di Centronia. Berondongan tinju dan tendangannya jadi makin cepat dan makin bertenaga, seakan-akan ia sudah betekad menghabisi lawan.
Arcel tak sempat memikirkan penyebab ulah Dean karena pertahanannya sudah banyak ditembus. Darah mulai terpercik dari hidung dan mulutnya. Rasanya ingin mengamuk dan marah, tapi mengingat misinya, Arcel bisa meredam amarahnya itu. Ia membalas dengan berondongan tinju dan tendangan pula, sarat dengan tenaga dalam Kristal Pelangi Tujuh Warna.
Kedua petarung tak bertahan dan tak banyak menghindar lagi. Inilah adu serangan, kekuatan dan daya tahan tubuh, seakan-akan keduanya sudah bertekad untuk mati. Siapa yang roboh lebih dahulu, dialah yang kalah. Anehnya, keduanya tersenyum, seakan baru bertemu kawan lama dan menikmati pertarungan.
Di ambang batas dan ujung adu kekuatan itu, Dean dan Arcel secara bersamaan melesatkan tinju dengan segenap kekuatan, dalam satu pertaruhan terakhir. Arcel berhasil menghantamkan tinju pada wajah Dean dan tinju Dean mendarat di perut Arcel.
Alhasil, kedua petarung sama-sama terdorong mundur dan jatuh tersuruk di jalanan gang atau membentur dinding gedung. Keduanya terkapar dan bergeming sejenak.
Saat berikutnya, Arcel dan Dean perlahan bangkit dengan susah payah. Arcel meludahkan darah ke samping, menatap Dean dengan nyalang bagai serigala, siap menyerang lagi gila-gilaan.
Sebaliknya, Dean yang berdiri lebih tegak daripada Arcel malah mengacungkan telapak tangan lurus ke depannya sambil berkata, “Cukup!”
Mengerutkan dahi, Arcel tetap bergeming dari posisi kuda-kuda. “Apa maksudmu?” sergahnya.
Dean menyeka darah di mulut dengan lengannya lalu bicara lagi, “Tadi sebenarnya aku memang ingin menguji hatimu. Tapi aku terlalu asyik karena sudah lama tak bertarung dengan lawan yang seimbang. Sebelum jadi keterlaluan, aku harus hentikan pertarungan ini.”
“Nah, apa kau sudah siap bicara sekarang, atau aku harus meyakinkanmu lagi?” tanya Arcel, siapa tahu Dean Vizier bakal menyerang secara mendadak lagi.
Dean tercenung sejenak, lalu berdiri sambil bersandar pada dinding terdekat. Wajah dan sikapnya tak tegang lagi seperti tadi.
Menyadari gelagat itu, Arcel mendekat, berdiri berhadap-hadapan dengan si rambut pirang. Ia juga diam, menunggu hingga Dean bicara lagi.
Dean berkata, “Belum lama ini, ada empat orang pendekar mendatangi warung pizzaku, Vizzy’s Pizzeria. Mereka mengaku dari kelompok Bloodfeast dan mereka sedang diburu sindikat pembunuh gelap yang amat berbahaya, yaitu Ultimatum.”
Arcel terperangah. “Wah, lagi-lagi organisasi kriminal,” batin si rambut merah. Lalu ia bertanya, “Memangnya ada masalah apa antara Bloodfeast dan Ultimatum?”
__ADS_1
“Bloodfeast telah melanggar kode etik Sindikat dengan tak membunuh, malah melepaskan dan merekrut anggota teranyar mereka, yaitu Faust. Bersama ketiga anggota lainnya, Cross, Toxin dan Onyx, Faust lari dari Indranara, mengelak dari kejaran para pembunuh-pembunuh gelap sepanjang jalan.
“Kok bisa?” tanya Arcel.
“Tentu saja. Mereka telah dicap sebagai para excommunicado, yaitu para pembangkang yang masuk daftar hitam Sindikat dan harus dilenyapkan karena berbahaya bagi Sindikat Ultimatum.
Lagipula, Bloodfeast berusaha membongkar persekongkolan busuk dalam Sindikat, jadi mereka butuh sekutu kuat yang bisa mereka percaya. Pilihan satu-satunya jatuh pada VOLSUNG, maka mereka jauh-jauh datang dari Indranara ke Centronia untuk menghubungi kalian.”
Arcel menanyakan satu hal penting, titipan Vorai padanya, “Tapi apakah Kelompok Bloodfeast ada kaitannya dengan partai petarung terbesar di Centronia, yaitu Bloodshed?”
Dean menjawab, “Aku tak tahu pasti. Tapi karena nama dua kelompok itu mirip, belum tentu Bloodfeast adalah bagian dari Bloodshed. Yang pasti, setahuku Bloodshed adalah salah satu anggota Sindikat Ultimatum. Jadi entah apa ada hubungan antara kelompok Cross dengan mereka sebelumnya atau tidak, kini para anggota Bloodfeast diburu oleh para pendekar, pemburu dan pembunuh bayaran paling berbahaya, termasuk Bloodshed.”
Arcel mengangguk. Penjelasan Dean tadi cukup logis dan tegas, ia hanya terpana karena pertentangan antar partai ternyata tetap rumit dari zaman ke zaman.
Karena itulah Arcel yang belum paham betul cara kerja dunia hitam modern bertanya, “Jadi, di mana Bloodfeast kini?”
Yang menjawab Arcel bukan Dean, melainkan suara seorang pria yang serak dan berat. “Kami di sini,” kata suara itu.
Menoleh ke arah sumber suara, Arcel melihat empat sosok bermunculan dari pelbagai penjuru. Dua orang berjalan langsung dari ujung jalan, satu keluar dari tempat persembunyiannya di antara peti-peti di pinggir gang, dan yang satu lagi, seorang ninja wanita bersalto dari tangga yang menempel di dinding gedung dan mendarat mulus di jalanan gang.
Keempat pendekar itu lantas berjalan bersisian ke arah Arcel dan Dean dengan gaya yang diusahakan tak berlebihan.
Yang pertama adalah seorang pria kurus berambut hitam acak-acakan dengan rantai yang membelit saling-silang di badan.
Orang kedua, si wanita ninja membuka cadarnya dan memperlihatkan wajah bulat nan aneh seperti boneka. Di kedua tangannya tergenggam dua buah pisau lempar yang disebut kunai.
Orang ketiga bertubuh lebih kurus daripada orang pertama dan berkulit gelap. Di mulut pria itu selalu ada sedotan plastik yang bertengger, tak jelas apa maksud kebiasaannya itu.
Orang keempat yang sepertinya adalah ketua tim, seorang pria tinggi-besar berambut hijau kebiruan dengan bagian tengah berwarna ungu yang memanjang sebagai ekor kuda ke belakang. Di wajahnya ada tato tanda salib patah berwarna ungu. Pria yang tadi menjawab komentar Arcel tadi bicara, “Kami telah menunggu dan mengawasimu, Agen Helios dari VOLSUNG.”
Sebaliknya, Dean Vizier malah menegur si tato salib ungu. “Kau ini bagaimana, Cross? Bukankah sudah kubilang, biar aku saja yang menangani ini sendirian! Kalian sembunyi saja!”
“Yang pasti dia bukan pembunuh bayaran atau mata-mata dari Sindikat, kan?” sanggah Cross. “Lagipula aku tadi juga sudah memperhatikan caranya bertarung dan aku yakin betul kita bisa percaya pada dirinya. Entahlah dengan VOLSUNG. Kalaupun mereka mau membantu kami, mereka pasti akan mengutus Agen Helios bersama satu-dua agen lain.”
“Terserah,” kata Dean sambil mendengus kesal.
__ADS_1
“Kaliankah Tim Bloodfeast?” tanya Arcel.
“Tentu. Namaku, seperti yang disebutkan oleh Dean tadi adalah Cross.” Cross menyilangkan dua jari di depan pelipisnya sendiri. Apa itu berarti ia suka berbohong atau ingkar janji, atau hanya gaya salam khas saja?
Si wanita ninja berwajah boneka tersenyum dan berkata, “Namaku Onyx, salam kenal.”
Si kulit gelap dengan sedotan di mulut berkata, “Aku Toxin. Dan seperti namaku, aku ini amat beracun.”
Hanya si rambut acak-acakan penyandang rantai menatap Arcel dengan wajah skeptis dan masam. “Faust. Satu kali saja kau macam-macam, Helios, bom-bom arwahku dan rantaikulah yang akan menghabisimu.”
Arcel tak tahu harus berkata apa pada keempat orang itu. Di satu sisi, ini seperti sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Di sisi lain, intuisi dan pengalaman Arcel seolah-olah menggelitiknya untuk berujar, “Ini terlalu cepat dan mudah, aku tak percaya pada kalian.” Tapi kata-kata itu terus menggantung di lidahnya, tak pernah diutarakan.
Yang Arcel belum tahu, Cross si ketua Bloodfeast dikenal sering membuat keputusan tak terduga berdasarkan intuisi saja, sehingga terkesan impulsif. Termasuk saat ia malah melepaskan dan merekrut Faust, bukan membunuhnya dalam penjara dengan pengamanan maksimum di sebuah situs hitam di Indranara.
Melihat sikap Arcel yang agak canggung dan skeptis, Cross berdecak dan bicara, “Kami nekat muncul dan mempertaruhkan nyawa kami karena kami percaya padamu dan pada dirimu saja, Agen Helios. Tolong jangan sia-siakan kepercayaan itu.”
“Maaf bila sikapku menyinggungmu, Cross,” kata Arcel alias Helios. “Hanya saja, pengalaman membuatku selalu membuat perhitungan sebelum bertindak atau membuat keputusan, dan tindakan kalian tadi benar-benar di luar perhitunganku.”
Giliran Toxin berdecak. “Wah, wah, memangnya sebanyak apa pengalamanmu dan sejauh apa pengetahuanmu, bung? Aku jadi penasaran ingin ‘menggalinya’ lebih dalam.”
“Jaga sikapmu, Toxin,” ujar Cross. Lalu ia bicara lagi pada Arcel. “Satu hal lagi. Menilik rajah di wajahmu dan juga energi yang terpancar dari tubuhmu saat bertarung tadi, aku yakin kau pasti seorang musafir antar ranah dan pahlawan dari zaman dulu, dan nama aslimu adalah... Arcel Raine.”
Arcel terperangah bukan buatan. Benarkah reputasi dan penampilannya begitu mencolok? Ataukah pengetahuan Cross memang amat luas sehingga dapat mengenali identitas aslinya dalam waktu singkat? Atau kedua-duanya?
“Aku sungguh salut, bahkan identitas asliku bisa terungkap olehmu dengan sekali lihat saja,” kata Arcel, ekspresi tegangnya mengendur seketika, seolah ia sudah pasrah.
Mau apa lagi, menyanggahpun sudah percuma kini. Sekarang mau tak mau Arcel harus percaya pada Cross untuk merahasiakan identitasnya, juga pada Bloodfeast dan bahkan Dean Vizier.
“Menyebalkan juga kau, Cross,” batin Arcel.
Dean Vizier mencoba menengahi dengan berkata, “Nah, kini ayo kita cari tempat yang lebih aman untuk bicara...”
Tiba-tiba orang-orang yang tak terhitung banyaknya datang bermunculan di gang belakang gedung, mengepung Arcel, Dean dan Kelompok Bloodfeast.
Pemimpin gerombolan orang itu, seorang pria kurus dengan kepala dan wajah seluruhnya tertutup topeng bertanduk dua. Gaya berdiri tubuh pria itu agak miring, dan di kedua telapak tangannya mencuatlah tiga pasang cakar runcing berbilah tiga.
__ADS_1
Arcel, Dean dan Bloodfeast bersiaga seketika dalam posisi saling membelakangi satu sama lain, siap menangkal serangan dari segala arah. Arcel sempat berkomentar, “Astaga, langsung ada serangan begitu Bloodfeast muncul? Parah sekali!”
Si pemimpin menanggapi Arcel, “Oh ya, tapi yang akan kami kerjakan pada kalian ini lebih parah daripada kata ‘parah sekali’. Namaku Nekho dari Bloodshed, sebaiknya kalian ingat-ingat itu di perjalanan menuju akhirat sebentar lagi.”