
Malam ini akan menjadi malam yang panjang.
Ironisnya, para petarung yang ramai berkumpul di jalanan gang di belakang Gedung Headbangers’ Club malam ini mungkin tak akan pernah bisa melihat matahari dan langit biru lagi.
Apalagi saat Arcel Raine mengamati para musuh yang terus berdatangan. Beberapa di antara mereka berpenampilan unik dan menebar aura energi yang lebih pekat, lebih besar dan lebih menekan daripada yang lain.
Salah seorang pengepung itu, si topeng bertanduk bernama Nekho bahkan menyatakan terang-terangan bahwa ia adalah satu anggota Bloodshed, partai petarung paling berkuasa di Centronia, yang sekaligus adalah anggota Sindikat Ultimatum.
Tak hanya Nekho, sedikitnya empat orang “petarung unik” lain juga tampil terdepan.
“Sand Jinx dan Ratfang dari Partai Dangerous Playmates,” kata Cross yang rupanya memiliki jaringan yang luas di kalangan petarung dan pembunuh bayaran di seluruh dunia. “Phantomime dari Arcadia, dan astaga... Khaos the Klown, pentolan Bloodshed!”
Cara Cross yang amat beda saat menyebut nama si petarung terakhir menunjukkan kesan bahwa pria bertubuh langsing dan lentur itu adalah yang terkuat di antara kelima pendekar sakti yang mengepung Bloodfeast, Arcel dan Dean.
“Khu, khu... Baguslah kau masih mengenali kami,” kata Khaos si badut berkostum dari bahan spandex ketat dan beriasan wajah yang terkesan menyeramkan dan tidak lucu sama sekali. “Tapi itu tak akan mengubah kenyataan bahwa kami harus melenyapkan kalian, excommunicado, serta semua yang membantu kalian pula.”
“Untuk lima ribu arthium per kepala,” timpal Phantomime, pria lentur-langsing berbaju putih bergaris-garis biru horisontal, bertopi fedora, berwajah putih, anggota Dangerous Playmates itu.
Arcel berdecak. “Wah, sebesar itu?” komentarnya. “Jadi bila ada seseorang yang ingin menebus nyawa mereka dengan cara membayar uang hadiah yang diminta, mereka akan dibebaskan dari daftar hitam excommunicado, bukan?”
“Itu tergantung keputusan Dewan Tertinggi Sindikat, yang mana Dominion, ketua kami juga duduk di dalamnya,” kata Nekho. “Tapi sebelum ada yang mengajukan petisi itu, lebih baik kami yang mengambil hadiah sebesar itu untuk diri sendiri, bukan?”
“Kalau begitu, sudah sewajarnya kami membela nyawa kami sendiri dengan melawan mati-matian,” ujar Cross sambil pasang kuda-kuda. “Dean dan Arcel, maaf kami melibatkan kalian berdua.”
“Tak apa, aku lebih senang mati bersama sahabat daripada sendirian,” ujar Arcel sambil tersenyum, karena ia sudah berkali-kali mengalami hal tersebut sejak berkiprah di zaman asalnya.
“Tapi kita tak harus mati di sini dulu,” kata Dean yang paling mengenal Distrik Enam di antara teman-temannya. “Ikut aku. Kita terobos mereka dan bertarung sambil melarikan diri.”
__ADS_1
“Baik! Setuju!” Kelima pendekar lain menyahut atau hanya mengangguk. Kecuali sebagai pilihan terakhir, tak ada gunanya bertarung habis-habisan di tempat ini.
“Sudah puas bicaranya? Sudah bertukar salam perpisahan dengan dunia? Kalau begitu serbu! Keroyok para excommunicado!”
Semua pengepung menyerbu maju. Hanya dua pendekar dari Bloodshed, yaitu Nekho dan Khaos saja yang berdiri di tempat. Entah apakah mereka bermaksud memberi kesempatan pada para anggota Sindikat yang lain untuk meraup hadiah uang dan jasa besar, atau dengan liciknya membuat para sasaran kelelahan dulu, baru memancing di air keruh.
Tim Arcel kini berfokus untuk menerobos kepungan ke satu arah saja, yaitu mengikuti arah pergerakan Dean Vizier.
Yang paling naas adalah para pembunuh di titik terobosan. jadi bulan-bulanan enam pendekar tangguh. Banyak dari mereka yang roboh, bahkan tewas diterjang senjata dan tangan kosong.
“Hei, hei! Jangan lari, pengecut!” seru Sand Jinx, satu-satunya wanita dari kelima pentolan pengepung dari Sindikat. Bersama Phantomime dan Ratfang, ketiganya mengejar Tim Arcel.
“Biar kami yang menahan mereka! Kalian lari terus!” seru Toxin, sementara ia dan Onyx melambatkan lari mereka untuk menghadapi para pengejar.
Mendapat firasat buruk, Arcel berseru, “Kubantu mereka!” Ia melambatkan larinya juga, kini bersisian dengan Toxin dan Onyx.
Firasat Arcel tepat. Saat berikutnya Sand Jinx melancarkan jurus tembakan jarak jauh, yaitu Badai Pasir Scirocco. Yang tak terduga adalah, badai pasir berdaya rusak tinggi itu menerjang ke siapapun dalam jangkauannya, tak pandang teman atau lawan.
“Gila! Harus kutahan!” rutuk Arcel dalam hati. Ia cepat-cepat berbalik, pasang badan melindungi Onyx dan Toxin dan menahan energi badai pasir itu dengan kedua telapak tangan terulur. Tentu di depan kedua telapak tangan itu ada semacam perisai Energi Tujuh Kristal Pelangi yang ditebar bagai perisai.
Untunglah Arcel dulu pernah menangani badai pasir yang serupa dengan Scirocco, yaitu Khamsin di Ishmina. Jadi ia tahu cara untuk meredam energi angin panas yang menyebar itu. Arcel hanya meringis nyeri tanpa mengalami luka-luka yang berarti berkat prana pelindung tubuhnya, sedangkan Onyx dan Toxin baik-baik saja.
“Terima kasih!” kata Onyx dengan tulus, lalu ia terus berlari bersama Toxin sambil menghajar musuh-musuh yang menyerang tanpa henti, termasuk Phantomime dan Ratfang.
Gilanya, saat Arcel belum siap, Nekho dan Khaos melesat melewatinya. Itu cukup masuk akal, yang mereka incar adalah para excommunicado yang hadiah uangnya jelas.
Tapi Arcel jadi terkesiap dan cepat-cepat mengejar kedua sosok terkuat di pihak musuh dalam pasukan pembunuh itu. Ia berteriak, “Awas Toxin, Onyx! Bahaya!”
__ADS_1
Kedua anggota Bloodfeast masih sibuk lari sambil bertarung, seakan-akan tak menyadari bahaya yang lebih besar daripada Sand Jinx, Ratfang dan Phantomime sedang mengincar mereka.
Seakan menegaskan bahaya itu, cakar maut Nekho menusuk tepat ke arah jantung di balik punggung si ninja wanita, Onyx.
Menyadari peringatan saja bakal terlambat, Toxin berputar mendadak dan menendang cakar Nekho hingga melenceng. Ia sebenarnya sudah tahu mereka berdua sedang diincar musuh yang amat kuat, tapi memilih untuk terus lari saja, menghindari pertarungan yang sama sekali tak seimbang.
“Hehe, ini ada satu yang jadi sasaran empuk!” kata Nekho dari balik topeng prostetiknya.
Namun, Toxin yang malang kini menghadapi dua petarung kelas atas, Nekho dan Khaos sendirian.
“Toxin, tidaak!” Sambil berteriak dan berderai air mata, Onyx sempat berbalik hendak membantu Toxin seolah Toxin itu adalah kekasihnya. Tapi Ratfang menyerang, seakan menghalangi Onyx.
“Terus lari, Onyx! Jangan hiraukan aku!” seru Toxin. “Tenang saja, aku tak akan mati semudah itu!”
Terpaksa Onyx berdecak sambil berbalik lagi, kini menjauhi Toxin. Air matanya berderai makin deras membasahi cadarnya, seolah terbang dari belakang punggungnya. Sesaat kemudian, ia mendengar teriakan pilu Toxin, tapi ia terpaksa tetap berlari.
Arcel juga hendak membantu Toxin, tapi ia masih melawan dan menangkal badai pasir Sand Jinx sambil terus lari.
Melihat Arcel agak lengah, Sand Jinx berseru, “Ha! Tewaslah kau oleh jurus andalanku!” Ia lantas melakukan tendangan putar, energi badai pasirnya dipusatkan di telapak kaki dengan efek seperti bor. Inilah jurus andalan utama Sand Jinx, Scirocco Sengat Kalajengking.
Malangnya, Sand Jinx tak tahu bahwa Arcel adalah Musafir Ishmina, dan ia mendapatkan gelar itu lewat banyak asam-garam pengembaraan dan pertarungan di gurun pasir dan rajah di wajah Arcel bukan sekadar hiasan agar tampak lebih sangar saja.
Dengan refleks tak terduga Arcel berhasil menghindar dari tendangan maut itu. Tak hanya itu, ia juga merunduk, beringsut ke samping dan menempatkan dirinya di posisi yang tepat dan tak terduga lawan. Bagai kalajengking menyerang mangsa dengan ekor beracunnya, ia lantas menjulurkan jari telunjuknya dan menembakkan selarik sinar Telunjuk Pelangi Jingga.
Tak ayal, sinar jingga maha tajam yang seharusnya untuk tembakan jarak amat jauh itu jadi amat kuat saat mengenai target di jarak dekat. Betapa mengenaskan, Arcel sendiri tak menyangka sinar yang ia maksudkan hanya untuk melukai lawan malah menghunjam pinggang kiri wanita kelahiran Negeri Quwais di Jazirah Al-Kalam itu dan tembus sampai ke pundaknya.
Teriring satu lengkingan pilu, nyawa Sand Jinx dari Partai Dangerous Playmates melayang di udara, lalu tubuhnya jatuh ke posisi tergeletak dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
__ADS_1
Arcel sudah terlalu sering menghilangkan nyawa orang lain, termasuk gurunya sendiri, sehingga ia tak sempat lagi ambil pusing, apalagi menyesali nyawa pertama yang ia hilangkan di zaman yang masih baru bagi dirinya ini, dalam peran barunya sebagai Agen Magang Helios dari VOLSUNG.
Yang pasti, Arcel tak akan pernah melupakan nama dan sosok Sand Jinx seumur hidupnya.