EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Jalani Azim


__ADS_3

Dua-tiga detik berikutnya, kedua petarung menebar jurus masing-masing. Walaupun kedua petarung tak menyebutkan nama-nama jurus-jurus tersebut dalam pertarungan sungguhan, bukan seperti dalam film-film laga dengan gaya tertentu.


Justru dari pola serangan, gerakan dan energi yang mereka kerahkan, tampak jelas bahwa Dean mengerahkan jurus andalan, Halilintar Sambut-Menyambut. Sedangkan Azim mengerahkan kombinasi cakar-cakar maut Cakar Harimau Lapar.


Tak terhitung berapa kali tinju petir dan cakar harimau yang bertumbukan. Kedua petarung tanpa henti terus mencari celah kelemahan dan membongkar pertahanan lawan masing-masing. Ada beberapa kali erangan kesakitan, tak jelas dari mana saja asalnya. Tetap saja, yang terpenting adalah hasil akhir bentrokan pertama ini.


Dean Vizier tempat goyah, darah memercik dari luka-luka goresan di tubuhnya. Namun dengan cepat ia berdiri tegak lagi dan berbalik menghadap lawan.


Sedangkan tubuh Azim malah terpental ke belakang hingga jatuh tersuruk di lantai ring yang berlapis terpal. Si Pendekar Harimau dari Jerian butuh waktu sedikit lebih lama untuk bangkit berdiri daripada lawan. Namun reaksi dari adu jurus pembuka tadi sudah cukup untuk menunjukkan perbedaan kekuatan antara si pembelot dan si mantan juara.


Walaupun dihadapkan pada kenyataan di depan mata, Azim tetap saja membentak geram, “Jangan harap aku bakal menyerah begitu saja, tahanan! Hanya dengan mengalahkanmu, aku akan mendapat bonus besar yang dijanjikan oleh panitia, demi untuk meningkatkan taraf kehidupan keluargaku!”


“Oh, ternyata kita sama-sama kepala keluarga, ya,” ujar Dean. Ia lantas berseru bagai gelegar halilintar ke arah Kepala Penjara di anjungan. “Maaf saya bertanya, Bu Kepala Penjara! Apa akibat bila seorang hakim kalah dari lawannya?”


Margaret Griffons tak langsung menjawab. Wanita setengah baya itu memposisikan diri dulu tepat di jendela agar ia dapat dilihat dan meihat lawan bicaranya dengan jelas, lalu menentukan jawabannya.


“Asalkan dia tidak tewas, hakim yang kalah tetap menerima honor dan bonus sesuai dengan yang dijanjikan dan boleh pulang tanpa tuntutan apa pun juga,” kata Marge tegas.


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Bu Kepala Penjara.” Dean menunduk dengan sopan, lalu kembali pasang kuda-kuda ke arah lawan. “Silakan kerahkan jurus andalanmu, Azim. Biar aku yang akan mengerahkan jurus yang sepadan.”


“Huh, jangan meremehkanku, Bung! Bonus besarlah yang aku incar! Kau pasti akan menyesal setelah mencicipi seranganku yang satu ini!”


Sambil mengatakannya, Azim menerjang maju, menumpukan segala daya kinetik, tenaga dalam dan bobot tubuhnya ke kaki dan meluncurkannya sebagai tendangan beruntun. Inilah jurus andalan Jalani Azim, Terkaman Harimau Menerpa Mangsa.


“Wah, bagus! Kebetulan aku punya jurus yang setara, baik dari pergerakan maupun kekuatannya!” seru Dean. Ia lalu melompat tinggi-tinggi, lalu sambil terjun ia mencurahkan rentetan Hujan Tendangan Halilintar kea rah lawan.

__ADS_1


Pada awalnya, dari pertumbukan antara dua jurus tendangan ini terdengar dan terlihat seimbang, tak menyisakan celah untuk diterobos. Entah berapa tendangan yang telah dikerahkan dalam setarikan napas pertama.


Namun, di tarikan napas berikutnya, keseimbangan berubah di antara kedua jurus. Posisi Dean yang baru mendarat membuat tendangan-tendangannya diperkuat dengan gaya gravitasi. Tapi sebaliknya, tendangan-tendangan Azim yang ke atas cenderung melemah, seakan teredam karena harus melawan gaya gravitasi.


Hasil akhirnya sudah bisa ditebak. Pertahanan Dean dan Azim sama-sama jebol, namun Azim terkena lebih banyak tendangan daripada Dean. Akhirnya keduanya mendarat di lantai ring.


Semula posisi Dean dan Azim sama-sama berdiri. Beberapa detik kemudian,  hanya Jalani Azim yang jatuh berlutut dan lalu mengerang, memegangi perutnya yang kesakitan. Masih untung ia tak sampai muntah darah didera tendangan beruntun lawan.


Jelas sudah, di gebrakan ini pula lagi-lagi Dean berhasil unggul dari lawannya. Sepertinya hasil akhir pertarungan sudah tertebak.


Sambil meraung di puncak amarahnya, Jalani Azim memaksa diri bangkit dari posisi terduduk di pembatas ring yang elastis.


Tahu dirinya sulit menang adu jurus secara frontal dengan Dean, ia sengaja mengurangi tenaga hingga kurang dari separuh di jurus sebelumnya dan bertahan sambil menyerang. Hasilnya, Azim mampu melancarkan serangan mendadak saat Dean belum siap. Pasalnya, Dean sedang menghimpun energi setelah terkuras di jurus terakhir tadi.


Terkena telak di dada, tubuh Dean Vizier melesat terbang dan membentur jeruji pembatas ring. Gilanya, daya listrik tegangan tinggi yang terkandung dalam jeruji sangkar seketika menjalar ke sekujur tubuh manusia yang bukan dewa itu.


Dean kejang-kejang hebat layaknya tersetrum listrik. Tampak ujung riwayatnya akan segera mendatanginya. Tersetrum seperti itu, manusia biasa pasti mati.


Kenyataannya, walaupun bukan dewa, Dean bukan manusia biasa. Entah karena lupa atau tidak tahu tentang itu, Jalani Azim hanya bisa ternganga melihat gelagat lawan.


Dean berteriak amat keras, tapi itu bukan teriakan kesakitan.


Apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya?


Ternyata memang Dean bukan manusia biasa. Manusia tanpa kekuatan supranatural pasti tewas tersambar listrik bertegangan tinggi, tubuh Dean malah menyerap dan menghantarkan energi listrik bagaikan kabel hidup.

__ADS_1


Tak hanya itu, berkat ilmu dan teknik yang tepat, pelatihan yang amat intensif serta pengalaman yang berlimpah, Dean mampu mencerna, menampung, bahkan menyalurkan tambahan asupan energi yang amat berlebih saat ini tanpa harus merusak diri dan tubuh sendiri secara langsung.


Di saat yang tepat, Dean berhasil melepaskan diri dari jeruji. Ia lantas melesat amat cepat dengan tinju petir langsung terarah ke sasaran. Inilah jurus pembuka Ilmu Tinju Halilintar Digdaya, yaitu Sambaran Secepat Kilat.


Gawatnya, kali ini Azimlah yang tidak siap. Ia sudah menguras cukup banyak energi di serangan jurus mendadak tadi, jadi butuh waktu beberapa saat saja untuk kembali menghimpun energi tanah dan mengantisipasi serangan balik.


Masalahnya, serangan Dean Vizier terlalu cepat, bahkan lebih cepat daripada jurus Azim tadi, Harimau Keluar Gua. Jadi, tanpa ampun perut si pria Jerian terhantam keras.


Sambil memuntahkan entah apa, Azim jatuh tertelungkup di lantai ring dan tak bergerak lagi. Rupanya ia tak sadarkan diri.


Gilanya, Dean tak lantas menghentikan aksinya, dan malah mengarahkan kedua telapak tangan tegak lurus ke atas kepalanya. Tanpa peringatan, si pendekar petir menembakkan kelebihan energi berupa selarik pilar petir ke langit-langit arena, variasi dari tingkat empat ilmunya, jurus Badai Halilintar Menggelegar. Akibatnya, langit-langit itu jebol.


Untunglah bahan langit-langit itu mampu meredam petir, bila tidak akan ada lubang sedalam dua meter dan para petarung berikutnya akan kerepotan bila turun hujan. Serpihan-serpihan dari pecahan langit-langit saja sudah cukup membuat kerusakan pada arena dan kerepotan dari sisi para sipir sakti.


Yang pasti, hasil akhir pertarungan sudah jelas, ditegaskan lewat suara lembut Vasty yang membahana, “Keadilan ditegakkan. Dean Vizier telah memenangkan pertarungan, lulus dari hakim pertama, Jalani Azim.”


Mendengar itu, Dean hanya berdiri mematung sambil diam-diam menarik napas lega.


Ia tahun, masih terlalu dini untuk berlega hati kalau belum menghirup udara kebebasan.


Pertarungan ini secara positif bisa dianggap pemanasan, tapi tak keliru pula bila dianggap suatu taktik untuk melemahkan dirinya, Arcel dan para anggota Bloodfeast. Toh mereka sudah dianggap sebagai excommunicado dan ancaman besar bagi pihak Sindikat, yang dalan hal ini adalah Geng Bloodshed dan Dangerous Playmates.


Dean Vizier lantas menengadah dan menatap lurus ke arah Margaret Griffons si Kepala Penjara, yang menatap balik ke arah dirinya dengan tatapan tak kalah tajam, tersenyum sinis penuh kebencian dan dendam kesumat.


Ini mengerikan, Dean tak hanya punya hubungan dendam dengan Khaos de Klown saja. Ada apa antara Dean dan Marge?

__ADS_1


__ADS_2