EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Vordac


__ADS_3


Vordac, Penguasa Mutlak Kegelapan muncul dan tampil di hadapan Arcel Raine.


Walaupun sudah paham bahwa sosok iblis digdaya itu bukan sungguhan, tetap saja Arcel ternganga. Ukuran, wujud, bahkan setiap detil jengkal tubuhnya sama persis dengan aslinya, dan itu terkesan amat nyata bagi pemuda yang masih belum melek betul tentang teknologi itu.


“Hati-hati, Arcel,” kata Chloe. “Walaupun simulasi tarung ini tak akan membuatmu celaka, rasa nyeri yang dihasilkan dari tiap pukulan tetap terasa, walau sudah diredam kecerdasan buatan.”


“Ya, aku mengerti,” tanggap Arcel. “Ukuran dan penampilan Vordac setara dengan Mephisto. Tak heran ia dianggap ‘saudara tua’ yang sempat mewujudkan Zaman Kegelapan di Everna.”


“Oh, kau tahu cukup banyak rupanya. Baiklah, kalau kau sudah siap, simulasi ini... dimulai!” Chloe menyentuh tombol di panel holografisnya.


Vordac lantas maju seperti meriam yang baru ditembakkan, menyabetkan Sabit Gagak Neraka andalannya ke arah Arcel.


Arcel kini menggenggam senjata pilihannya, yaitu Excalibur alias Pedang Malaikat Keadilan. Pedang bermuatan energi cahaya suci itu persis seperti yang pernah digunakan oleh Arcel untuk melawan Mephisto dulu.


Maka, pedang dan sabit saling berbenturan, jumlah benturan itu tak bisa ditentukan lewat pendengaran manusia awam belaka. Kecepatan lawan kekuatan brutal, kegelapan lawan terang dan tujuh warna di antara kedua unsur ekstrim itu.


Karena pertarungan ini adalah simulasi, diasumsikan baik Arcel maupun Vordac berada dalam kondisi prima dengan tenaga dalam yang tak ada habisnya.


Di satu sisi, Arcel jadi bebas berlatih mengerahkan ketujuh Energi Kristal Pelangi dengan kedelapan jurus Jari-Jari Pelangi Dewata yang baru saja ia pelajari teorinya.


Namun, di sisi lain Vordac jadi terkesan terlalu kuat sejak awal. Di atas kertas, mustahil Arcel dapat mengalahkan Vordac sendirian. Dulu, di akhir Zaman Sihir Awal para Ksatria Cahaya harus melawan Vordac bersama-sama, padahal Vordac baru saja berubah wujud dan belum mencapai kekuatan maksimumnya.

__ADS_1


Arcel memang belum pernah dan mustahil bertemu musuh yang pernah merajalela di akhir Zaman Sihir Awal, beda zaman dengannya, Arcel butuh waktu. Ia melakukan gebrakan-gebrakan tanpa mengerahkan jurus andalan untuk mencari tahu titik lemah dan keunggulan utama lawan.


Dengan kecerdasan buatan yang cukup akurat, yaitu dengan wataknya yang asli, Vordac terus merangsek dan bertahan secara berimbang. Mau tak mau Arcel harus mengakui, secara teknik Mephisto mengungguli Vordac. Namun dari segi kekuatan Vordac tetap tanpa tanding di segala zaman.


Lewat serangan-serangan balik yang dahsyat, Vordac malah balik menekan lawannya. Bahkan hawa dari sabetan saja melukai “tubuh virtual” Arcel begitu parah. Akhirnya simulasi terhenti dengan suara tanda peringatan dan teks pada layar hologram yang bertuliskan “Helios is eliminated. Retry?”


Helios adalah nama sandi untuk menyamarkan identitas asli Arcel Raine saat ia dalam misi sebagai agen VOLSUNG. Begitu pula Chloe yang nama sandinya adalah Circe, tapi jarang digunakan karena Chloe lebih nyaman menggunakan namanya sendiri.


“Kau mau mencoba simulasinya lagi kan, Arcel?” tanya Chloe.


“Tentu saja, aku tinggal menyentuh tombol ‘yes’ di layar, bukan?” Tanpa menunggu jawaban dari instrukturnya, Arcel menyentuh tombol yang ia maksudkan itu.


Sosok raksasa Vordac muncul lagi. Simulasi dimulai lagi dan si iblis merangsek maju lagi.


Kali ini Arcel mengerahkan jurus yang baru saja ia pelajari dari Alistair Kane. Ia menyalurkan energi dari jari kelingkingnya ke dalam Pedang Excalibur, lalu menembakkan energi itu dalam wujud Jarum Kristal Ungu berkali-kali, hendak memberondong si iblis raksasa bertangan dua itu.


Sambil mengatakannya, Vordac mengatupkan kedua telapak tangannya dan mengulurkannya lurus-lurus, menembakkan satu larik besar Sinar Hitam Pelumat Sukma.


Gilanya, kali inipun Arcel tak cukup cepat untuk berkelit, apalagi menghindar penuh dari tembakan lawan. Sinar hitam itu tanpa ampun menghantam, menelan dan melumatkan selubung digital tubuh Arcel. Lagi-lagi simulasi berakhir dan si calon agen dan musafir antar ranah kalah lagi.


Tak ingin membuang waktu, Arcel mengulang simulasi yang sama lagi berkali-kali, tapi setiap kali pula ia tumbang oleh lawan yang jauh lebih kuat daripada dirinya itu. Paling lama Arcel bisa bertahan dari dua jurus andalan Vordac saja, tak pernah lebih.


Hingga di percobaan yang sudah entah keberapa kalinya, si rambut merah sudah amat kelelahan secara fisik. Vordac, yang adalah sosok rekaan yang tak kenal lelah terus saja menyerang Arcel dengan ganas.

__ADS_1


Sadar diri, kali ini Arcel memusatkan seluruh perhatiannya untuk berlari saja terus, tak menyerang balik sama sekali.


Entah berapa kali Vordac mengejar sambil terus-menerus menyabetkan Sabit Gagak Nerakanya. Bahkan sesekali Vordac menembakkan energi kegelapan dalam wujud arwah penasaran yang tak terhitung banyaknya, berharap satu atau beberapa di antaranya menghantam lawan. Itu adalah jurus Selaksa Arwah Menyerbu Kota.


Dihujani peluru arwah yang deras dan menyebar itu, Arcel terpaksa membiarkan beberapa peluru menghantam dirinya, toh energi pelindung virtualnya masih penuh. Setidaknya, ia bisa berkonsentrasi untuk hal yang sebenarnya hendak ia lakukan, yaitu mendekat terus agar lawan masuk dalam jarak jangkauan bilah pedangnya.


Saat berondongan dari Vordac reda, Arcel yang sudah cukup dekat dengan lawan melompat tinggi-tinggi. Bilah pedang sucinya berpendar keunguan, siap dihunjamkan ke celah berbentuk huruf T di tengah-tengah topeng besi si iblis.


“Seranganmu mudah sekali terbaca!” seru Vordac yang lalu mengulurkan tangannya lurus-lurus ke arah Arcel, memunculkan sebentuk bola hitam raksasa yang hendak menelan manusia itu *****-*****. Ini persis seperti gerakan pembuka jurus Mephisto, yaitu Gelora Musnah Dunia.


Anehnya, bola itu hanya menyentuh udara kosong. Ternyata, Arcel tadi melakukan gerak tipu seolah-olah hendak menyerang kepala Vordac. Begitu melihat tangan merah raksasa terulur, Arcel lantas menolakkan kakinya pada tubuh Vordac, bersalto ke belakang dan mendarat di lantai.


Begitu ujung telapak kakinya menyentuh lantai, Arcel lantas melompat lagi sambil memutar tubuhnya, lalu menghunjamkan pedangnya yang sarat energi Kristal Pelangi Ungu ke perut bawah, menyilang sampai ke jantung Vordac.


Hasil akhirnya jelas sudah, tubuh raksasa Vordac menyerpih hampir seketika menjadi partikel-partikel digital yang melayang dan berpendar sesaat dan akhirnya lenyap tanpa sisa.


Mendarat kembali ke posisi setengah berlutut di lantai ruang simulasi, Arcel Raine kembali berdiri dan menghela napas lega. Ia menatap hasil simulasi tadi di layar holografis, namun wajahnya tak kunjung mengulas senyum.


“Lho, kenapa, Arcel?” tanya Chloe dengan ekspresi terheran-heran. “Apa kau tak puas dengan hasil simulasi tadi? Kau tahu kan, Vordac adalah salah satu tokoh paling kuat dalam database kami!”


“Ya, Vordac memang kuat, tapi di pertarungan tadi ia kalah dengan gerak tipu dan satu jurus sederhana saja. Sedetil apapun ia dirancang, ia tetap adalah karakter rekaan. Vordac yang asli pasti tak akan tumbang semudah itu.”


“Setidaknya itu cukup untuk simulasi latihan bagi para calon agen VOLSUNG. Ujian yang sebenarnya adalah lewat misi nyata di lapangan, yang bakal kaujalani sebentar lagi.”

__ADS_1


Arcel terkesiap. Baru beberapa hari berlatih, ia sudah akan diterjunkan ke lapangan? Bukankah itu sama saja menyuruhnya untuk bunuh diri? Apa maksud Alistair Kane ini?”


Ilustrasi "Vordac" oleh Andry Chang


__ADS_2