
Kali ini, Arcel Raine terbangun di atas satu-satunya ranjang dalam sebuah kamar. Sebenarnya itu adalah kamar sebuah hotel di Distrik Dua Belas, yaitu distrik kumuh tempat para penjahat, sampah masyarakat dan sampah sungguhan berbagi ruang.
Tapi tentunya Arcel belum tahu tentang Centronia, baik struktur maupun persebaran penduduk, bahkan segala pernak-pernik modern yang menghiasi kamar ini.
Arcel hendak bangun, tapi sekujur tubuhnya masih nyeri akibat terjangan tinju-tinju badai Brian Storm kemarin malam. Terpaksa ia memutuskan untuk duduk saja di ranjang sambil mengamati sekelilingnya.
Kamar yang ditempati Arcel ini tampak sangat aneh. Dinding, langit-langit, lantai dan ranjangnya dipenuhi kombinasi warna merah jambu muda dan tua. Lemari kaca di sudut kamar berwarna merah jambu, begitu pula dengan meja dan kursi-kursi berbentuk aneh, membulat seperti bentuk hati.
Yang paling menarik bagi Arcel adalah sebuah kotak tipis persegi panjang yang menempel pada salah satu dinding. Ada gambar-gambar bergerak, juga suara-suara orang dan musik berlangsung dalam “kotak ajaib” itu.
Tetap saja benak Arcel tak hentinya bertanya-tanya. Siapa yang membawanya ke tempat aneh ini? Terakhir yang ia ingat, ia dan gadis bernama Chloe sedang lari sampai ke jalanan besar, lalu Arcel jatuh lemas di tengah jalan. Chloe menyembuhkan sebagian luka Arcel dengan sihir dan si pasien segar kembali.
Tapi begitu Arcel dan Chloe memasuki sebuah gedung yang bertuliskan “LOVE MOTEL” besar-besar yang berpendar warna merah jambu di atas pintu masuk, Arcel jatuh pingsan lagi.
Akhirnya, Arcel menemukan dirinya telah dimandikan dan terbaring tenang di ranjang. Tiba-tiba ia terkesiap, lalu melihat ke bawah selimutnya dan membatin, “Astaga! Siapa yang sudah mengganti celanaku dengan celana pendek ketat tapi nyaman ini?! Jangan-jangan...!”
Saat menoleh ke kanan dan kiri lagi mencari-cari seseorang, Arcel mendengar suara air pancuran dari pintu tepat di depan ranjangnya. Tak pernah kenal kata “kamar mandi” sebelumnya, ia melangkah menghampiri pintu itu.
Namun Arcel terkesiap. Yang ia lihat berikutnya adalah siluet seorang wanita dalam posisi berdiri dan menegadah, mengusap-usap tiap bagian tubuhnya. Lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas, membuat wajah Arcel bersemu merah seperti tomat matang. Dari gelagat itu, Arcel berkesimpulan bahwa wanita itu pasti sedang mandi dan ia berniat menunggu di ranjang saja.
Tak lama kemudian, tampak Chloe Hewitt kelaur dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dibebat sekeliling tubuh sintalnya. Sambil mengeringkan rambut hijau panjangnya dengan handuk kedua, Chloe mendelik ke arah Arcel sambil berkata, “Oh, kau sudah sadar? Baguslah, kita jadi bisa check out dari hotel ini tepat waktu dan aku bisa pulang ke rumahku sendiri.”
Arcel protes, “Tunggu dulu! Aku sama sekali tak mengerti. Siapa kau, di mana aku berada dan di zaman apa? Dan mengapa aku mendarat di tumpukan sampah di gang, bukan tempat lain?”
“Tenang sajalah, toh kita tak akan keluar sekarang juga,” sergah Chloe. “Setidaknya tunggu sampai aku selesai berpakaian, oke? Baru setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu.”
__ADS_1
Karena memang masih asing sama sekali dengan Zaman Modern ini, dan karena Arcel tak bisa kemana-mana lagi selain mengikuti Chloe, mau tak mau ia menunggu lagi.
Kali ini Chloe berdiri di balik sekat, sedang mengenakan satu demi satu pakaiannya. Posisinya memang terhalang sepenuhnya bila dilihat dari arah ranjang, tapi lagi-lagi Arcel melihat siluet lekuk tubuh gadis itu, membuat imannya lagi-lagi tergetar.
Terdengarlah suara Chloe dari balik sekat, “Nah, Arcel Raine, silakan bertanya. Pertanyaannya satu per satu, ya, atau aku tak akan menjawabnya sama sekali!”
Gelagapan, Arcel jadi salah tingkah. “B-baik! Kemarin malam kudengar namamu adalah Chloe Hewitt. Tapi siapa kau?”
“Aku adalah agen Vadis Omniuum League of Superhumans and Guardians, disingkat menjadi ‘VOLSUNG’. Ketua Penasihat kami adalah Alistair Kane, musafir antar ranah tertinggi, terkuat di seantero Everna. Ketua menugaskan aku untuk menjemputmu dan membawamu padanya. Namun aku tak menyangka kau bakal mendarat di Distrik Dua Belas, apalagi di tumpukan sampah. Memandikanmu butuh banyak waktu dan usaha, apalagi harus menahan bau busuk itu, urgh...”
Siluet Chloe tiba-tiba tertunduk, lalu terdiam seolah-olah ia baru saja salah bicara, mengungkapkan sesuatu yang tak pantas ia ungkapkan.
“Jadi benar dia yang memandikan aku. Malunya itu lho,” batin Arcel, tangannya menutupi wajahnya yang makin merah padam.
Chloe lalu keluar dari balik sekat, sudah berpakaian rapi dalam kostum yang sama dengan kemarin malam. Dengan pipi yang juga bersemu merah ia bicara lagi dengan ketus, “Silakan, pertanyaan berikutnya.”
“Kau kini di kota terbesar di Negara Serikat Archelia, yaitu Hiperpolis Centronia. Karena wilayahnya amat luas, lebih dari seribu kilometer persegi, Centronia sudah diakui sebagai Negara Bagian dan Daerah Istimewa tersendiri.
Sebagai Negara Bagian, Centronia dipimpin oleh seorang Gubernur. Hiperpolis ini terbagi menjadi lima belas distrik yang masing-masing dipimpin oleh seorang Walikota. Kita kini berada di Distrik Dua Belas alias Distrik Sanitasi, distrik paling kumuh nomor dua setelah Distrik Tiga Belas alias Distrik Rehabilitasi.”
“Pantas saja bau sampah tercium di mana-mana, sampai di kamar ini juga,” celetuk Arcel.
“Benar juga katamu.” Ini untuk pertama kalinya Chloe Hewitt tertawa mendengar candaan Arcel, menjadi awal bagi tawa-tawa riang berikutnya yang bakal mewarnai hidupnya.
Saat itulah, entah untuk berapa lama, Arcel dan Chloe terlena. Mungkin ini yang sebenarnya mereka perlukan, istirahat sejenak dari segala tekanan pekerjaan, pemenuhan takdir, bertahan hidup dan semacamnya.
Biarlah semua terlupakan sejenak, walau untuk beberapa menit, bahkan beberapa detik saja, agar mereka kembali menjadi diri sendiri, pribadi yang bebas merdeka. Bebas dari misi, bebas dari atasan, bebas pula dari tekanan status sebagai pahlawan dan panutan bagi dunia segala generasi, segala zaman.
__ADS_1
Biarlah kini mereka tenggelam dalam lautan asmara, dengan dasar mau sama mau, kagum sama kagum, suka sama suka.
Biarlah... untuk tak membiarkan situasi ini jadi berlarut-larut hingga melampaui batasan norma dan kesusilaan.
Lagipula, Arcel dan Chloe baru saja bertemu. Walau sama-sama masih kelihatan muda belia, sepercik kedewasaan yang terbit membangunkan, menyadarkan keduanya dari keterlenaan. Kembali ke jalur yang benar dari ketersesatan dari tujuan mereka yang semula, yang sejati.
Sambil berdehem, Arcel berkata, “Aku ada satu pertanyaan terakhir untuk sekarang, kalau kau tak keberatan.”
“Oh, sama sekali tidak,” kata Chloe, matanya menyipit dan ia menyunggingkan senyuman canggung. “Silakan.”
“Di zaman apa aku berada? Aku tak paham satupun benda-benda yang menyala itu. apakah sumber energinya dari kristal gaib?” Arcel menunjuk-nunjuk ke arah televisi, alat pengatur suhu ruangan, lampu disko di langit-langit dan lemari es.
Chloe lantas menekan-nekan smartphone-nya, mencocokkan informasi dari media dengan ingatannya. “Kau berasal dari awal Zaman Mesin bukan, Arcel? Nah, ini adalah Zaman Modern Akhir. Saat ini, secara keseluruhan Terra Everna relatif damai, kecuali letupan-letupan dan gejolak-gejolak kecil di sana-sini. Sebagian letupan itu terjadi secara global dan sebentar lagi akan terpusat di sini, di Centronia.”
“Apa maksudmu?”
“Nanti biar atasanku, Alistair Kane yang akan menjelaskan seluruhnya padamu. Misi pertamamu di sini akan berhubungan erat dengan letupan mendatang di kota hiperpolitan ini.”
“Bagaimana dengan benda-benda yang bergerak ataupun menyala sendiri itu?”
“Berkat penemuan-penemuan dan inovasi baru sejak akhir Zaman Mesin, kini hampir semua perangkat di Zaman Modern ini menggunakan listrik. Nanti aku akan mengajarimu cara mencari informasi lewat jalur internet. Segala jawaban untuk kebanyakan pertanyaanmu itu tersedia di sana.”
“Ngg... Apa itu internet?” tanya Arcel dengan ekspresi lugu.
“Ya ampun...” Chloe menepuk dahinya sendiri.
Gambar referensi untuk Chloe Hewitt dari Pinterest.com
__ADS_1