EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Misi Pertama


__ADS_3


Setelah pertarungan simulasi melawan Vordac, Arcel Raine tak langsung diterjunkan dalam misi hari itu juga. Karena itulah, ia melakukan persiapan lebih jauh dengan lebih fokus pada pemulihan tenaga dalamnya.


Selama empat hari ke depan, Alistair Kane mengajarkan satu lagi jurus dari rangkaian ilmu Jari Pelangi Dewata, yaitu Telunjuk Pelangi Jingga.


“Ini adalah jurus untuk menembak secara tepat dan akurat dari jarak jauh. Jadi kau harus berlatih teknik tembakan jarak jauh seperti seorang sniper alias penembak jitu,” papar Alistair. “Dengan demikian, kau akan menjadi petarung serba bisa yang sulit dicari tandingannya di dunia ini.”


Jadi, kali ini Arcel berada dalam simulasi lapangan tembak berbasis Augmented Virtual Reality atau AVR. Tugasnya adalah, ia harus menembak dengan berbagai teknik, termasuk menembak sasaran yang bergerak cepat, menembak jitu dari jarak jauh, memberondong banyak sasaran sekaligus dan lain sebagainya.


Karena sudah pernah beberapa kali berlatih dengan simulasi menembak, Arcel sudah paham cara membuka tuas pengaman di dua pistol semi otomatis virtualnya, sekaligus membidikkannya dengan cukup akurat ke arah sasaran dengan tangan lurus, tak jauh beda dengan memanah.


Yang pertama-tama muncul adalah sasaran-sasaran yang lari cepat di tanah, baik itu pelbagai macam monster, bahkan ada juga orang-orang yang bisa menembak balik. Dengan lincahnya, Arcel mengelak dari tiap tembakan dan balas menembak dengan cepat dan tepat.


Sembilan dari tiap sepuluh peluru digital yang dimuntahkan kedua pistolnya mengenai sasaran. Arcel bahkan bergerak cepat untuk berlindung di balik dinding hologram, mengganti magasin kedua pistolnya dengan yang masih penuh dan langsung bergerak lincah sambil menembak lagi.


Lalu tingkat kesulitan ditingkatkan dengan munculnya para monster terbang seperti kelelawar raksasa, lebah hornet raksasa dan lain sebagainya. Walau tak seakurat sebelumnya, setidaknya peluru-peluru Arcel berhasil mengenai para penerbang sebelum mereka sempat menyengat atau menggigit tubuh si “pemain”.


Lalu, muncul serombongan musuh penerbang, pejalan kaki dan penunggang yang menyerbu serempak sambil menembaki Arcel. Arcel kembali berlindung di balik dinding hologram. Kedua pistol di tangannya lenyap dalam serpihan-serpihan digital, lalu ia berseru, “Double Hand Machine Gun!”. Seketika, dua pistol mesin ringan mirip Uzi di Bumi muncul di genggaman kedua tangannya.


Arcel muncul sambil berguling, lalu memberondong ke arah gerombolan besar di udara dan darat itu. Tak terhitung jumlah musuh yang berguguran.


Ada beberapa monster terbang dan peluru yang menerjang dan menyerempet tubuh Arcel, tapi tak ada yang fatal, membuat dirinya tereliminasi dan harus mengulang simulasi dari awal lagi.


Sepasang pistol mesin Arcel menyalak lagi, menyapu bersih semua penerbang dan gerombolan musuh yang tersisa.


“Fiuh!” batin Arcel. “Itu tadi nyaris saja. Tapi aku masih harus menyingkirkan sasaran terkuat dan tersulit sekarang.” Ia cepat-cepat mengganti kedua pistol mesinnya dengan sepucuk senapan laras panjang.


Segera saja, terdengarlah sebuah suara berkuak melengking. Seperti dugaan, dari langit-langit ruang simulasi yang kelihatan ditayangkan sebagai langit sungguhan, dari balik awan putih yang tebal muncullah seekor burung sejenis elang raksasa sebesar naga yang dikenal dengan nama roc.


Tegang, Arcel mengintip lewat teroping di atas senapannya dan membidik ke arah si roc. Dari simulasi sebelumnya, ia tahu bahwa ia harus menembak tepat di mata hitam si roc agar bisa membunuhnya seketika.

__ADS_1


Si roc terbang memutari Arcel dulu sebelum ia menukik mendadak ke arah Arcel, seakan memberi kesempatan pada Arcel untuk menembaknya lebih dahulu.


Gawatnya, pendekar mantan ksatria zaman kuno itu sama sekali tak paham cara menggunakan senapan sniper ultra canggih yang dilengkapi perangkat komputer pemandu bidikan, secara pemahamannya tentang komputer masih amat awam.


Terpaksa Arcel membidik berdasarkan intuisi, perkiraan dan perasaannya saja, mengabaikan petunjuk dari komputer. Alhasil, tembakan jarak jauhnya hanya mengenai tubuh dan sayap si roc saja dan burung raksasa itu tak kunjung tumbang.


Lebih gawat lagi, si roc melakukan satu putaran cepat lagi sambil membubung, lalu mulai menukik ke arah Arcel.


Mustahil menghindar dari si burung raksasa, Arcel terpaksa menembak terus ke arah kepala sasarannya. Beberapa tembakan itu luput, dan beberapa telak mengenai kepala si roc.


Gilanya, si roc tak kunjung tumbang. Dua cakar raksasanya siap meremukkan tubuh virtual Arcel. Nyaris putus asa, Arcel menembak berkali-kali lagi. Cakar roc yang sudah dekat membuat wajah Arcel pucat seketika.


Saat cakar itu tinggal beberapa jengkal lagi dari kepala Arcel dan peluru senapan Arcel tepat habis, tubuh si roc mendadak menyerpih menjadi partikel-partikel digital.


Setelah musuh pamungkas itu lenyap tak berbekas, barulah Arcel jatuh terduduk di tanah. Tanah itu cepat berganti menjadi lantai, begitu pula langit menjadi langit-langit dan dinding beton.


Lalu, sebuah layar hologram terpampang, melayang di depan Arcel. Tulisan di layar itu adalah sebagai berikut.


Arcel jatuh berlutut dan memukulkan kedua tinjunya di lantai. Sifat aslinya yang pemarah dan emosional kambuh.


“Tak usah marah begitu, Arcel,” kata Chloe sambil tersenyum. “Kita tak perlu harus ahli dalam segala hal, bukan?”


“Ya, aku setuju,” jawab Arcel. “Tapi yang harus kulatih untuk mematangkan penguasaan jurus baru Telunjuk Pelangi Jingga justru adalah teknik menembak tepat jarak jauh.”


“Nanti saja kau mematangkan jurus itu. Sekretaris Arantes menunggumu di ruang kantornya, sekarang.”


Tak perlu berlama-lama, Arcel pergi sendirian menemui Sekretaris Arantes. Nama sandi si sekretaris adalah Taskmistress Artemis. Sesuai dengan nama sandinya, wanita berusia tiga puluh enam tahun bernama lengkap Vorai Arantes, asal Escudia itu bertugas memberikan tugas dan misi pada setiap agen VOLSUNG.


Status Arcel sebenarnya adalah agen dalam masa percobaan dan pelatihan, jadi wajar saja ia ditugaskan dalam misi-misi yang relatif ringan. Tidak ada misi yang mudah di agensi ini, jadi Arcel harus siap untuk kemungkinan apapun.


“Selamat siang, Bu Sekretaris. Adakah yang bisa kubantu?” tanya Arcel sambil menunduk hormat.

__ADS_1


Vorai Arantes mengamati Arcel dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dengan dua matanya yang amat jeli bagai mata burung elang. Wanita berambut hitam, pendek di depan dan panjang di belakang dan berponi rata itu lantas angkat bicara, “Ya, tentu saja. Karena itulah aku memanggilmu, Agen Helios... alias Arcel Raine.”


Arcel membalas, “Sepertinya para agen di sini tidak saling berahasia satu sama lain, ya. Tak terkecuali Ibu yang lebih suka dipanggil Arantes daripada nama sandi Taskmistress Artemis.”


“Ya, karena kalau kita melakukan itu, para agen lain pasti bisa membongkar identitas asli yang kita rahasiakan. Tapi nama sandi amat penting di luar sana, terutama saat sedang dalam misi. Apalagi dirimu adalah pahlawan di zaman dahulu kala, yang jadi amat terkenal hingga ke masa kini karena alasan-alasan tertentu yang tak bisa kujelaskan.”


“Ya, aku paham dan akan selalu kuperhatikan itu, Bu.”


“Bagus,” kata Vorai. “Nah, kita langsung saja ke pokoknya. Terus terang aku telah memonitor perkembanganmu selama ini. Setelah melihat simulasi menembak yang kaulakukan tadi, aku baru cukup yakin dan menunjukmu untuk menjalankan satu misi yang penting.”


“Misi apakah itu?”


“Tadi pagi, seorang informan mandiri bernama Dean Vizier menghubungi kami dan mengatakan ia ingin menyampaikan satu informasi yang amat penting perihal sebuah tim pembunuh gelap asal Indranara yang disebut Bloodfeast yang sedang merajalela di Distrik Enam Centronia.


Karena mungkin Bloodfeast terkait dengan partai petarung terbesar dan terkuat di Centronia yaitu Bloodshed, Dean tak bisa menyampaikan data-data tentang geng itu lewat alat komunikasi. Jadi dia minta agar pihak VOLSUNG mengirimkan satu orang agen yang tangguh dan bisa dipercaya untuk menemuinya. Dean akan memberikan data-data informasi penting itu pada si agen yang bersangkutan.”


Banyak dari istilah-istilah yang disebutkan Vorai tadi yang tak dimengerti oleh Arcel. Namun ia tetap menyerap semuanya. Kalaupun ada yang tak ia pahami, ia bia bertanya pada Chloe.


Vorai melanjutkan, “Nah, apakah kau siap diutus untuk pergi menemui Dean Vizier? Tak apa kalau belum, kami akan menunjuk agen lain...!”


“Aku sudah siap, Bu Sekretaris,” jawab Arcel mantap.


“Bagus. Nah, lihatlah ke layar di sebelahku ini,” kata Vorai sambil menunjuk ke layar monitor amat lebar yang tergantung di dinding di sebelah mejanya.


Arcel menoleh ke arah monitor itu dan melihat seraut wajah pria berambut pirang panjang dan bermata biru cerah, tersenyum tampan penuh kharisma.


“Semua data tentang Dean Vizier telah kukirimkan ke ponsel pintarmu, Arcel. Temuilah dia di Headbangers’ Club, Distrik Enam. Alamat lengkap beserta peta petunjuk jalannya telah tersedia juga. Kau boleh pergi bersama Chloe ke sana, tapi kau harus masuk dan menemui Dean sendirian saja. Nah, persiapkan dirimu dan segera berangkatlah. Ia hanya akan muncul malam nanti saja, setelah itu, kita harus menebak-nebak bila menghadapi Geng Bloodfeast.”


“Baik, Bu Sekretaris. Aku akan melaksanakan misi ini sebaik-baiknya.” Arcel memberi hormat lagi, lalu berbalik meninggalkan ruangan Vorai.”


Setelah menutup pintu, Arcel membatin sendiri, “Wah, aku tak tahu cara membuka gambar yang tadi! Terpaksa aku harus mengganggu Chloe lagi.”

__ADS_1


Catatan: Vorai Arantes pernah tampil dalam Antologi Everna: Hikayat Tiga Zaman, tepatnya cerpen “Pemburu Khusus” karya Wiendi Lauwinder. Contoh referensi gambar untuk Vorai, sumber dari Google.


__ADS_2