
Jalani Azim
Bagi kebanyakan peserta di pihak pejuang kebebasan, adanya pengaturan lawan di babak pertama Turnamen Penjara ini terasa amat tidak adil.
Sebenarnya pemikiran mereka cukup beralasan. Secara logika, seharusnya setiap tahanan atau narapidana mendapatkan lawan dengan kekuatan yang kurang-lebih setara dengannya.
Tapi kenyataannya tak seperti yang diharapkan. Hanya karena telah melakukan kejahatan berat, seorang pejuang kebebasan harus berhadapan dengan hakim yang jauh lebih kuat daripada dirinya. Kebebasan hampir mustahil diraih, bisa jadi pertarungan mereka sama saja dengan eksekusi hukuman mati.
Tapia pa daya? Para pejuang yang merasa tertipu hanya bisa gigit jari dan menatap ke orang-orang yang berstatus “tersangka” dengan penuh rasa iri dan dengki. Suasana di podium tahanan dengan cepat makin panas dan menegangkan.
Tekanan paling besar tentu saja tertuju pada tahanan paling terkenal dan mungkin memang yang terkuat, yaitu Dean Vizier. Namun, orang yang ditekan hanya diam saja. Ekspresi wajahnya yang semula nyalang jadi datar, seiring akal sehat yang kembali merajai akal budi dan hatinya.
Belum reda tekanan dari sesama pejuang, datang lagi ocehan dari pembawa acara. Kali ini yang muncul dan bicara bukan si Kepala Penjara, Marge, melainkan sosok holografis seorang gadis yang sangat cantik dan berkostum warna-warni nan serasi.
Salah seorang pejuang kebebasan yang rupanya cukup “gaul” seketika mengenali sosok yang amat populer di seluruh dunia itu.
“Astaga, dia… Vasty!” seru pria bertampang beringas dengan dagu dipenuhi janggut dan cambang kasar. “Goyangan tubuhnya yang khas dan suaranya yang manis-manis manja, aku pasti tidak akan bisa melupakannya!”
Si gadis virtual menanggapi komentar itu, “Terima kasih buat yang ingat saya. Nah, saya Vasty, pemandu virtual Anda sekalian selama ajang Turnamen Penjara ini. Tak berlama-lama lagi, sesuai jadwal, saya panggilkan pasangan petarung pertama! Dari pihak Pejuang Kebebasan, sang petarung yang pernah didaulat sebagai juara MAUL terkuat, terbanyak dan terpopuler sepanjang masa di Terra Everna, namun kini terjerat perangkap hukum. Inilah dia, Dean ‘Jolt’ Vizier!”
__ADS_1
Tak berlama-lama, Dean bangkit dan berjalan ke arah ring dengan gagah namun tenang, walau tangannya masih diborgol.
Vasty melanjutkan, “Daan, inilah hakim yang akan menyidang Dean Vizier. Seorang petarung yang kabarnya adalah mantan agen VOLSUNG yang bmembelot, dan kini adalah anggota sebuah organisasi rahasia. Inilah dia, Jalani Azim dari Jerian, negeri di Jazirah Antapada!”
Yang muncul adalah seorang pria yang cukup berotot. Kulit sawo matangnya memang khas penduduk asli Antapada. Selain itu, tak atak ada hal lain lagi yang menonjol atau bahkan luar biasa dari penampilannya.
Hanya kostum Azim saja yang tampaknya tak lazim. Baju hijau yang dipadu-padankan dengan rompi dan celana panjang jingga berhiaskan garis-garis ornamen hitam. Sekilas, ia seakan tampak seperti siluman manusia harimau, padahal bukan. Itu hanya kain saja yang sengaja dibuat loreng-loreng mirip harimau, hewan yang menjadi identitas Negara Jerian.
Entah tak kenal nama besar Dean Vizier atau memang Azim tak mengindahkan nama besar itu sebagai petarung profesional, Azim berjalan tegap dengan penuh percaya diri.
Hampir di saat bersamaan, kedua petarung sudah memasuki ring. Secara otomatis, sangkar di langit-langit diturunkan hingga menutupi setiap sudut dan sisi ring persegi enam tersebut.
Secara otomatis pula, borgol di kedua pergelangan tangan Dean terlepas menjadi dua gelang yang terpisah di pergelangan tangan kiri dan kanan. Gelang itu masih bisa membatasi tenaga dalam agar jangan berlebihan hingga bisa menghancurkan arena.
Sebaliknya, setiap hakim juga mengenakan sepasang gelang yang serupa, namun berbeda fungsi. Gelang itu bukan borgol, jadi hanya berfungsi sebagai pembatas tenaga dalam saja.
Tak ada wasit yang memimpin pertandingan dalam sangkar. Sebagai gantinya, Vasty si gadis holografislah yang berdiri tepat di titik tengah ring dan bertindak sebagai wasit virtual.
“Kedua petarung harap saling berhadapan di tengah ring,” ujar Vasty dengan suara lembut namun membahana. Tanpa banyak ribut dan buang tenaga sia-sia, Dean dan Azim berdiri berhadap-hadapan tanpa bicara.
Toh keduanya belum pernah saling kenal, apalagi bertemu secara langsung dalam pertarungan. Jadi wajar mereka bersikap sama-sama waspada. Satu kali saja salah langkah, bisa-bisa nyawa yang hilang sebagai bayarannya.
__ADS_1
Vasty lantas bicara dengan suara kecil pada kedua petarung, tak begitu jelas terdengar di posisi tempat duduk Arcel.
Yang jelas sesudahnya citra holografis Vasty menyerpih dan lenyap, teriring ucapan, “Penghakiman dimulai!” Jadi ini bukan pertarungan seperti biasa.
Satu aba-aba Vasty sudah cukup membuat kedua petarung maju serempak dan mulai jual-beli pukulan dan tendangan.
Karena kedudukannya sebagai “hakim” jelas lebih kuat dari pada lawannya yang “tersangka”, Azim memanfaatkan kedudukan itu dengan mulai menekan lawan. “Setinggi-tinggi tupai meloncat, toh bisa jatuh juga,” ujarnya menyisipkan pepatah. “Bedanya, kau bukan tupai dan di sini, sekali kau jatuh, mustahil kau bangkit dan meraih nama baikmu kembali.”
Namun, Dean Visier yang bermental juara sudah siap dengan jawaban gamblang. “Nama baik dan reputasi sudah tak penting lagi untukku. Yang penting adalah aku masih bernapas, serta anak dan istriku aman dan selamat, itu saja.”
“Bukankah Sindikat bisa saja menyandera keluargamu agar kau patuh pada mereka?”
“Mereka tak perlu melakukan itu, toh aku sekarang bertarung sesuai aturan. Tapi bila terjadi sesuatu pada keluargaku, Sindikat akan merasakan amukan seorang pria penasaran yang putus asa. Kalaupun tak hancur, mereka tetap akan rugi besar.”
Didebat seperti itu, Azim bungkam sesaat. Lalu, dengan bibir bergetar ia bicara lagi, “Kalau begitu maumu, kau harus kalahkan aku dulu agar dapat berkumpul kembali bersama keluargamu.”
“Tak masalah. Toh gelang-gelang pembatas tenaga dalam akan membantu agar kita berdua bisa pulang lagi ke keluarga masing-masing.”
Giliran Azim yang tersentak, lalu menjauh dan menjaga jarak dari lawannya. Ia telah terpancing argumen Dean yang sengaja membalas dengan berasumsi Azim memiliki keluarga pula. Dan reaksi Azim membuktikan asumsi Dean itu tepat sasaran.
Sadar dirinya tak bisa mengungguli Dean dalam tarung urat saraf, mau tak mau Azim hanya bisa menggunakan kekuatan saja. Sebentuk energi tanah melambari kedua kepalan tangan dan tubuh atasnya.
__ADS_1
“Huh! Jadi maksudmu kau bisa mencegahku kembali pada keluargaku? Kau berniat membunuhku? Coba saja kalau bisa!”
Ditantang seperti itu, Dean tak langsung terpancing. Ia hanya berdiri pasang kuda-kuda di tempat, menghimpun energi petir secukupnya di kedua kepalan tangannya.