EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Dean Vizier


__ADS_3


Distrik Rekreasi, Hiburan dan Kebudayaan di Centronia yang lebih dikenal dengan sebutan Distrik Enam adalah salah satu distrik yang paling glamor, paling menipu dan paling kejam.


Betapa tidak, tampilan luar dan pemandangan distrik ini terkesan gemerlap. Pendaran cahaya warna-warni dari gedung-gedung yang masing-masing dibentuk seunik mungkin dan tematik, juga hingar-bingar dunia gemerlap yang baru terasa saat malam tiba membuat Distrik Enam jadi bagai wanita cantik yang sensual, penuh pesona.


Namun, di balik semua itu ada kebobrokan moral, ketiadaan iman, manipulasi, kejahatan terselubung, pelecehan dan lain-lain.


Demi setitik hiburan dan kesenangan, demi melupakan dan lari sejenak dari stres dan segala tekanan dalam pekerjaan dan kehidupan, atau hanya sekadar menikmati hidup dan mencari nafkah, orang-orang, baik pria maupun wanita rela menistakan, menjual harga diri, mempertaruhkan kehormatan bahkan rela harta bendanya terkuras di Distrik Enam ini.


Distrik Enam dipenuhi dengan kasino penguras harta orang-orang kaya, kelab malam, gedung pertunjukan konser musik atau panggung sandiwara atau stand up comedy. Bahkan ada tempat-tempat paling bobrok seperti kelab gay, kelab striptease, rumah-rumah bordil berselubung kelab malam dan lain sebagainya.


Arcel Raine dan Chloe Hewitt tiba di depan salah satu kelab malam yang cukup terkenal di Distrik Enam, yaitu Headbangers’ Club. Bentuk gedungnya terkesan futuristik, dengan deretan sinar dari lampu-lampu LED merambat kesana-kemari dengan teratur, membentuk formasi-formasi indah yang pastinya sudah diatur dengan komputer sebelumnya.


“Nah, aku akan menunggu di luar sini,” kata Chloe. “Kau hati-hatilah di dalam sana. Kita tak akan tahu kapan ada tembakan atau tikaman yang melayang.”


“Ya, aku akan ingat itu,” kata Arcel sambil mengedipkan satu matanya. “Terima kasih sudah mengantarku kemari dan juga semua wejangannya, termasuk cara membuka informasi dan gambar dari benda ini.” Arcel mengacungkan smartphone-nya sekali lagi, lalu menyelipkannya dalam kantung di balik rompinya.


Arcel menyentuh lembut pangkal lengan Chloe dan bicara lagi, “Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik, ya.” Lalu berbalik dan melangkah ke pintu masuk. Ia sempat melihat wajah manis gadis itu memerah, mungkin karena terharu oleh perhatian Arcel.


Di pintu masuk, Arcel dihadang seorang wanita bertubuh kekar. Ternyata ia adalah penjaga pintu atau bouncer. “Tunjukkan kartu identitasmu, bung,” katanya dengan nada galak.


Karena Chloe sudah mengajarinya, tanpa canggung Arcel memperlihatkan kartu dalam dompetnya pada si bouncer.


“Ah, seorang agen rupanya,” kata si bouncer. “Anda kemari untuk tugas atau kesenangan?”


“Aku sedang bertugas, Jane,” kata Arcel yang sempat melihat papan nama yang tersemat di baju si wanita kekar bagai pegulat sambil tersenyum lembut. “Tapi melihat wajahmu saja aku sudah mendapatkan kesenangan yang kucari.”


“Rayuan maut” Arcel mengena telak. Pipi si bouncer merona merah seperti Chloe tadi. Lalu ia membuka penghalang jalan dan mempersilakan Arcel masuk. “Selamat bertugas, Agen,” katanya.


Arcel masuk dan baru menghela napas lega di dalam gedung. Sebenarnya ucapannya tadi cukup tulus karena wajah Jane cukup cantik, dan Arcel senang melihat sisi lembut dalam diri wanita yang sepertinya menjalani hidup yang keras itu.


Tanpa larut memikirkan si bouncer, Arcel menyusuri lorong utama menuju ruang utama Headbangers’ Club.


Suara musik yang keras, berirama cepat dan mengentak yang dimainkan oleh disc jockey alias DJ seakan merangsang, memacu jantung dan seakan menyeret kaki-kakinya agar segera melantai. Tapi karena Arcel hanya mengerti tari-tarian dari Zaman Sihir Akhir, ia hanya mengangguk-angguk dan bergoyang sedikit saja ikut irama.


Tak hanya musik saja, perhatian Arcel segera beralih pada orang-orang yang lalu-lalang dan berdiri di sepanjang koridor. Semua pengunjung itu, terutama para wanita cantik mengenakan pakaian-pakaian yang tipis, indah, berwarna-warni, mewah atau bahkan minim. Beberapa dari mereka melakukan hal-hal yang tak pantas satu sama lain, tapi Arcel hanya bersikap biasa-biasa saja.


Melihat para wanita itu saja sudah menggoda iman, apalagi bila Arcel meladeni saat ada satu-dua wanita menjalarkan telapak tangan mereka, membelai bagian tubuh si agen tampan di mana saja yang bisa mereka jangkau.

__ADS_1


Memasuki aula dansa, Arcel tak hentinya terpukau melihat pemandangan yang tak pernah ia lihat di zaman asalnya. Musik keras mengentak seakan menggerakkan lebih dari seratus orang di lantai dansa itu bagai benang menggerakkan boneka untuk bergoyang, menari dengan dinamis.


Hampir semua wanita pengunjung klab menari dengan cara meliuk-liukkan tubuh dan pinggul dengan amat sensual, bergerak sebebas dan seluwes mungkin, mengekspresikan diri sebebas dan sepenuh-penuhnya.


Tak hanya itu, semua orang di lantai dansa itu sepertinya amat menikmati suasana yang ada, terus menari tak kenal lelah. Mungkin mereka harus mengkonsumsi semacam zat tertentu agar bisa terus menari berjam-jam tanpa banyak jeda, melebihi kemampuan normal manusia biasa. Tapi Arcel sama sekali belum tahu dan takkan pernah berminat mencari tahu lebih lanjut.


Teringat lagi pada tugasnya, Arcel terus berjalan menerobos kerumunan penari di lantai dansa. Ia menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan pria yang ia cari.


Kebetulan tak ada pria berambut pirang panjang di antara kerumunan orang-orang yang bergoyang. Lagipula, menurut data yang Arcel baca, Dean Vizier hampir selalu tampil mengenakan t-shirt atau kaus singlet tak berlengan. Jadi, ia terus saja menerobos kerumunan hingga tiba di dekat bar.


Tiba-tiba seorang wanita berdada besar dan bibirnya berona lipstik merah tebal muncul tepat di hadapan Arcel. Arcel berhenti melangkah mendadak, hampir menabrak wanita itu.


“Wah, tak usah buru-buru, pria manis,” kata wanita itu. “Ayo temani aku minum, atau kau mau langsung melantai?”


Terdorong wataknya yang tak bisa dibilang ramah, Arcel hanya mendengus kesal dan berputar sedikit untuk melewati wanita cantik penggoda itu.


“Wah, kasarnya! Tolong hargailah bila wanita sedang bicara...” Wanita itu turut berbalik dan merapatkan dadanya pada punggung Arcel.


Mendadak, Arcel juga berbalik dan mencengkeram lengan wanita itu. “Jangan coba-coba mencopetku!” hardiknya.


Si wanita malah berteriak-teriak kalap, “T-tolong! Tolong! Orang ini ingin melecehkanku!”


“Cih!” Berdecak kesal, Arcel mendorong si wanita penggoda menjauh dengan agak kasar, lalu pasang kuda-kuda siaga.


“Hei, bung! Beraninya kau melecehkan Lita!” teriak salah seorang pengepung sambil pasang badan di depan Lita.


Preman kedua juga menghardik, “Ayo teman-teman, kita beri si bocah kemayu itu pelajaran! Serbu dia!”


Hampir serempak, keenam pria preman maju ke arah Arcel. Gilanya, dua dari mereka menggunakan gelang baja pelindung kepalan tangan. Tiga lagi menggunakan belati lipat yang dikibas dulu untuk membuka lipatannya, seperti kucing memunculkan kuku-kuku runcing dari cakarnya.


Karena tenaga dalamnya sudah pulih lebih dari separuhnya, Arcel makin percaya diri. Dengan mudah ia menghindari tikaman dua orang, lalu balas menjegal kaki satu preman sampai jatuh. Tapi musuh melakukan serangan bergelombang, satu belati lipat menyerempet lengannya.


Luka kecil itu tak membuat Arcel menyurut. Sekali gebrak, ia menjatuhkan tiga preman lagi tanpa mengerahkan jurus dan hanya dengan sedikit tenaga dalam saja.


Dua preman yang melihat aksi itu ketakutan dan berbalik untuk melarikan diri. Tapi mereka terjungkal oleh dua tangan yang terjulur seperti palang portal.


Arcel terkesiap, orang yang menjungkalkan dua preman sekaligus itu ternyata adalah pria berambut pirang panjang yang ia cari. Pembawaan dan hawa yang dipancarkan si pirang itu jelas menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa, preman atau bouncer. Pria itu berpakaian kaus singlet putih, membuat Arcel jadi makin yakin untuk maju dan menegurnya.


“Maaf, apakah kau Dean Vizier?” tanya Arcel.

__ADS_1


“Ya, aku Dean,” jawab pria berwajah tampan, bertubuh kekar namun ramping itu. “Apa kau datang mengantarkan kacamata VR CHASE yang kupesan?”


Arcel terkejut. “Ah, bukankah kau pemain Eversphere? Aku tak salah antar, kan?”


Dean Vizier tersenyum. Walaupun penampilannya seperti seorang petarung jalanan tulen, ada kesan tulus dan bersahabat terpancar dari senyuman itu. “Kau tak salah. Ayo, kita bicara di tempat yang lebih sepi saja.”


Arcel berjalan bersisian dengan pria muda yang sepertinya sebaya dengannya itu. Kelihatannya misi pertama Arcel ini akan berjalan dengan lancar dan akan segera tuntas. Tapi ia belum bisa bernapas lega sampai ia telah menyampaikan hasil dan laporan misi pada Vorai di markas.


Namun Arcel merasakan ada satu hal yang janggal. Bukan duduk di pojokan yang agak sepi di bar atau di meja-meja dekat bar, Dean malah berjalan terus dan keluar dari pintu di salah satu sudut ruang aula dansa.


Tanpa terlalu curiga, Arcel terus berjalan dengan was-was, mengikuti Dean menyusuri koridor yang agak sempit. Kontras dengan koridor antara pintu masuk dan lantai dansa, tempat ini amat sepi. Hanya satu-dua orang saja yang lalu-lalang, tapi semua mengangguk hormat saat berpapasan dengan Dean.


“Sepertinya Dean Vizier adalah sosok yang dihormati dan diidolakan di klab ini... Atau bisa jadi ia cukup terkenal sebagai petarung,” pikir Arcel. “Bahkan para preman dan bouncer saja tak berani macam-macam di hadapannya.”


“Nah, tak ada orang lagi, jadi kita bisa bicara,” kata Dean sambil menghentikan langkahnya. “Siapa namamu? Kau agen dari VOLSUNG, bukan?”


“A... Helios. Agen Helios.” Arcel yang hampir kelepasan tadi cepat-cepat membetulkan kata-katanya.


“Huh, kau orang baru, ya.” Dean mengerutkan dahi sejenak. “Tapi kurasa orang barupun tak bakal secanggung itu.”


“Tak ada sedikitpun gerak-gerikku yang luput dari matamu,” kata Arcel sambil tersenyum kagum. “Nah, kita langsung saja ke urusan kita. Kau pasti punya informasi penting yang ingin kau sampaikan pada VOLSUNG, bukan?”


“Ya,” jawab Dean. “Tapi sebelum itu ikutlah aku ke depan dulu. Lihat, ada orang lagi yang lewat.” Dean menunjuk dengan dagu ke arah orang yang memang sedang melewati koridor itu.


“Oh, baiklah.”


Arcel mengikuti Dean lagi menyusuri lorong. Dean membuka pintu di ujung lorong itu dan melaluinya bersama Arcel. Kedua pria itu tiba di luar gedung.


Bagian belakang gedung Headbangers’ Club itu adalah gang yang sepi dan lumayan lebar, bisa dilalui mobil sampah seukuran minibus atau minivan.


“Nah, di sini baru kita bisa bicara lebih leluasa,” kata Dean sambil berjalan sedikit lebih jauh. Lalu ia berhenti dan berdiri membelakangi Arcel, tanpa menoleh ke belakang.


Terkesiap, Arcel Raine merasa ada sesuatu yang tak beres. Ia ikut berhenti, menjaga jarak dari si rambut pirang. “Ada apa, Dean?” tanyanya.


“Tak ada apa-apa. Hanya mendadak aku ingin mengujimu... Agen Helios!”


Di kata terakhir, tiba-tiba Dean Vizier berbalik, menghantam ke arah Arcel dengan tinju sarat energi halilintar yang berkilauan dan berkekuatan penuh.


Tak menduga serangan itu, Arcel Raine terkesiap dengan mata terbelalak. “Ha-ah!?”

__ADS_1


Sumber gambar: Wallpaperflare.com


__ADS_2