EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Energi Yoga


__ADS_3


Arcel masih berdiri terpaku dan terpana dalam ruang latihan di Penjara Adler von Bachmann.


Ini jauh lebih parah dari perkiraannya semula. Alistair Kane pernah memberitahunya bahwa energi gabungan Tujuh Kristal Pelangi dalam tubuhnya akan merenggut nyawanya di usia ke dua puluh tujuh, padahal seingatnya usianya kini baru dua puluh dua tahun dan tampangnya seperti tak pernah beranjak dari setara usia tujuh belas tahun.


Kini, Narayanan Singh alias Agen Brahma berkata bahwa sisa usia Arcel tinggal kira-kira kurang dari dua tahun lagi. Arcel jadi tak habis pikir, siapa yang berbohong di antara kedua orang musafir antar ranah itu?


Masakah Alistair Kane yang adalah pemimpin semua musafir antar ranah di seluruh semesta sengaja berbohong? Masa Singh sebegitu nekat melangkahi pemimpinnya sendiri, memberikan informasi seakan-akan kata-kata si pemimpin salah total dan tak bisa dipegang lagi? Siapa yang benar? Kata siapa yang seharusnya Arcel turuti?


Melihat wajah kebingungan Arcel, Singh berdehem, memberi penjelasan lebih lanjut, “Ketua Zeus bukan dewa, jadi iapun bisa membuat kesalahan. Jadi, beliau mempercayakan penanganan dirimu, yang adalah kasus amat istimewa baginya padaku.


Beliau baru melihat sekilas kondisimu karena ujian darinya tak termasuk analisis tenaga dalam secara menyeluruh dan mendalam. Lagipula, dengan cara latihan biasa kau justru malah memperpendek sisa waktumu dari lima tahun menjadi kurang- lebih dua tahun saja. Jadi, selain banyak bertarung, kau butuh metode pelatihan yang jauh lebih sulit dan lebih ekstrim daripada biasanya. Dan kau beruntung karena aku amat ahli dalam metode pelatihan ekstrim tersebut.”


Arcel mendelik. “Benarkah? Apa nama metode pelatihan itu?”


“Di Arcapada kami menyebutnya yoga. Itu adalah metode pelatihan dan kultivasi tenaga dalam secara spiritual lewat pose-pose meditasi fisik. Aku sendiri adalah seorang yogi, praktisi ilmu yoga. Dulu aku adalah seorang fakir, pertapa yang meraih tingkat kekuatan musafir antar ranah setelah membantu tiga bersaudara bernama Bahman, Perviz dan Perizade dan bertapa setengah abad. Baru setelah jadi musafir aku mempelajari yoga secara lebih mendalam daripada siapapun.”


Arcel ternganga. “Haah? Apa aku harus bertapa setengah abad pula dengan ilmu yoga agar menjadi musafir antar ranah?”


Svida dan Rajadesh juga ikut mendelik ke arah sang ayah, seolah-olah mempertanyakan hal yang sama dengan Arcel.


Dengan tertawa kecil Singh menjelaskan, “Kurasa tak perlu sampai selama itu, Arcel. Ingat, dulu aku seorang fakir, bukan yogi. Lagipula Ketua Zeus – ah, aku lebih suka menyebut nama aslinya saja, Alistair Kane – menunjukku karena beliau tahu kau akan bisa menjadi musafir sebelum batas waktu kutukanmu tiba. Jadi yakinlah dan jangan kuatir, kurasa bakat besar dan pengalaman yang banyak sudah memangkas waktu pelatihanmu menjadi kira-kira satu tahun saja.”


Svida menimpali, “Dulu ayahku pernah melatih satu orang lagi bernama Zet di dunia Terra Revia, dan ia berhasil mencapai status sebagai Master of Arcana dalam waktu satu-dua bulan saja. Itu adalah gelar yang setara dengan musafir tingkat pertama, Memindahkan Gunung.”


“Benarkah?” tanya Arcel. “Apakah Zet itu manusia dewa atau titisan dewa yang lebih kuat daripada aku?”


“Belum tentu,” jawab Singh. “Dari segi prestasi, kiprahmu jauh melebihi Zet. Kau adalah pahlawan besar yang telah menaklukkan Mephistopheles. Andai energi sejatimu tak terkuras, kau amat mungkin bisa menjadi musafir lebih cepat daripada Zet, nama aslinya Amazeta Dionisos. Kau mungkin ingin mengingatnya.”


Arcel menghela napas lega. “Baiklah, aku akan belajar metode pelatihan yoga, Agen Brahma. Kapan aku bisa mulai?”

__ADS_1


“Hari ini aku akan mengajarimu pose-pose dasarnya,” jawab Singh. “Tapi sebelum itu, kau harus menyanggupi dua syarat dari diriku lebih dahulu.”


“Syarat apakah itu?” tanya Arcel.


“Satu, sebaiknya kita tak memanggil satu sama lain dengan nama sandi. Mengingat nama-nama yang tak biasa kita ingat akan mengganggu konsentrasi masing-masing dan membuat pelatihan kita jadi lebih lamban.”


Arcel mengangguk. “Setuju.”


“Bagus. Syarat kedua, karena kini aku adalah gurumu, Arcel, sudah sepantasnya kau memanggilku dengan sebutan ‘Guru’. Aku menghargai bakatmu, jadi sebaiknya kau menghargai usahaku untuk melatihmu, sebagai murid yang bagai anakku sendiri.”


“Baik, Guru Singh. Mohon bantuan kalian juga kakak-kakak seperguruan, Rajadesh dan Svida.”


 


 


\==oOo==


 


 


“Jadi pada dasarnya ilmu yoga sama dengan ilmu meditasi dan kultivasi lainnya, bukan? Perbedaannya hanya di pose saja, kan?” tanya Arcel.


“Tak hanya itu. Dengan pose-pose ‘aneh’ di luar kebiasaan kita, energi akan lebih sulit dihimpun. Tapi kalau sudah terbiasa, kau akan bisa melakukan itu jauh lebih cepat daripada meditasi biasa.”


“Baik, aku akan melakukannya sesuai petunjuk Guru,” kata Arcel sambil mengangguk antusias.


“Nah, aku akan memperagakan pose pertama.” Singh lantas berdiri tegak, dua lengan diangkat lurus ke atas, lalu merapatkan kedua telapak tangan tepat di atas kepala jadi agak mirip puncak gunung. Itulah pose paling dasar dalam ilmu yoga, yaitu Tadasana.


Arcel meniru pose Singh dengan posisi tubuh selurus mungkin. Tanpa harus berusaha keras, Arcel melakukan Tadasana dengan sempurna dan mencoba menghimpun energi untuk disimpan sebagai tenaga dalam.

__ADS_1


Namun, energi yang terkumpul amat sedikit, bagai mendulang emas di tepian sungai. Lima menit usai, energi yang terkumpul baru cukup untuk pemicu saja, bagai api lilin atau lebih lemah lagi.


Melihat raut frustrasi di wajah Arcel, Singh menerangkan dengan nada tenang, lembut dan berwibawa, “Perlu kau tahu, pose ini setingkat lebih tinggi daripada pose bertapa biasa. Kalau kau menggunakan pose ini terus, baru setengah abad lagi kau menjadi musafir antar ranah seperti halnya diriku dulu.”


“Pantas saja,” kata Arcel sambil menghela napas lega. “Baiklah, ayo kita lakukan pose-pose lainnya.”


Untuk menghemat waktu, Singh mengurangi jatah tiap pose dasar menjadi tiga menit saja masing-masing. Arcel berhasil menghimpun tenaga dalam dari Pose Pohon, Vrikshasana dan Pose Segitiga, Trikonasana, semuanya setara dengan cemilan bergizi.


Lalu Arcel mencoba beberapa pose lainnya, di antaranya Pose Anjing Menghadap Bawah, Adho Mukho Svanasana, Pose Kursi atau Kursiasana, Pose Perahu atau Naukasana dan Pose Ular Kobra atau Bhujangasana. Karena baru pertama kali, ia belum bisa menuai energi yang cukup banyak seperti yang ia butuhkan. Yang didapat baru kurang-lebih setara roti isi atau sandwich saja.


Saat keringat makin membasahi sekujur tubuh Arcel, pemuda itu bertanya, “Adakah pose-pose yang bisa lebih cepat mendulang energi, Guru?”


“Tentu ada, tapi kau harus mencapainya secara bertahap,” jawab Narayanan Singh. “Karena tadi kau sudah menguasai pose-pose tingkat dasar, kini saatnya mempelajari tingkat kedua.”


Sebelum Arcel sempat mengatakan sesuatu, Singh sudah memperagakan Pose Ikan, Matsyasana. Arcel langsung mengikuti pose itu. Tiga menit kemudian, giliran Rajadesh memperagakan Pose Busur, Dhanurasana.


Kedua pose ini membutuhkan keseimbangan lebih daripada pose-pose tingkat pertama tadi agar tidak jatuh dan semua energi yang telah dikumpulkan buyar. Sebagai kompensasinya, tenaga dalam yang terkumpul selama enam menit itu jadi lebih banyak, setara dengan satu kali makan pagi dan satu kali makan siang, lengkap dengan lauk-pauknya.


Tetap saja, ini masih jauh dari memadai untuk menuju tingkat musafir antar ranah, memperpanjang batas waktu hidup Arcel di dunia fana ini.


Arcel lalu mencoba meniru Pose Sirsasana yang diperagakan oleh Svida Singh. Ia berdiri jungkir-balik dengan dua kaki di atas dan dua tangan di bawah, bersama kepalanya sebagai tumpuan bagi tubuhnya. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala.


Arcel mengerahkan sedikit energi untuk “memantik” proses penghimpunan energi sejati. Tiba-tiba ia kejang-kejang hebat, lalu jatuh terkapar di lantai dan berteriak amat kesakitan. Tampaklah berkas-berkas energi hitam menjalari seluruh tubuhnya. Itukah yang namanya salah latihan?


Masalah utamanya adalah, seberapa parahkah efek dari salah latihan itu? Apakah hanya rasa nyeri biasa, cacat permanen, atau bahkan kehilangan nyawa?


Melihat reaksi Arcel yang tak terduga itu, tak ayal Narayanan Singh berseru, “Arcel, tidaak!”


 


Catatan Penulis: Ada referensi dari dua novel, yaitu EVERNA Seribu Satu Malam (Vadis Publisher) dan The Master of Arcana (NovelToon Original) dalam episode kali ini.

__ADS_1


__ADS_2