
Menatap ke arah dua orang “aneh” di hadapannya, Arcel yang belum pernah bertarung melawan orang Arcapada, sejauh yang ia ingat tak berani gegabah, apalagi menyerang lebih dahulu. Borgol peredam tenaga dalam telah dilepaskan, yang berarti Arcel dapat mengerahkan energi tarung sekuatnya.
Rajadesh Singh, putra Narayanan Singh yang seperti ayahnya sama-sama bertubuh kekar, berbibir agak tebal dan cukup pantas untuk menjadi aktor film berpangku tangan dan menyindir, “Wah, entah Agen Helios ini pemalu, berhati-hati atau takut dikeroyok. Bagaimana menurutmu, Kak Shiva?”
“Sepertinya ia entah berpura-pura agar kita meremehkannya dan tak waspada atau memang benar-benar masih ‘hijau’, Vishnu,” kata Svida sambil menggoyang pinggulnya sedikit.
Wanita berambut ungu itu mendelik. Ia mengenakan baju sari hijau khas Arcapada yang menutupi dari leher sampai ke perut atasnya, celana panjang hijau yang melebar di bagian bawah.
Namun Arcel tak bergeming, matanya terus menatap kedua lawannya nanar bagai serigala yang dipojokkan dua pemburu. “Silakan maju, sekaligus berduapun boleh,” tantangnya.
Narayanan Singh tertawa. “Haha, semangat yang bagus, Agen. Aku jadi ingin lihat, apakah kekuatan dan kemampuanmu sebesar semangatmu. Kalian maju berdua saja!”
“Baik, ayah!” kata Svida dan Rajadesh bersamaan sambil maju serempak.
Rajadesh yang maju paling depan melesatkan tinju dahsyat berkekuatan penuh ke arah Arcel.
Refleks, Arcel berkelit ke satu sisi sambil memutar tubuh. Ia berhasil menjaga jarak cukup jauh dari lawannya dan mengambil posisi cukup bagus untuk melakukan serangan balik.
Tiba-tiba, dengan aneh Rajadesh berbalik arah dari sudut yang tak terduga. Tangan, pinggang dan kakinya menekuk ke sudut yang sama sekali tidak normal bagi manusia, yaitu lebih dari empat puluh lima derajat. Lalu ia mendaratkan dua tinjunya tepat di tubuh Arcel. Itulah jurus Yoga Lentur.
Arcel berteriak kesakitan dan terdorong mundur, tapi ia masih berdiri tegak dan berpijak mantap. Ia lantas memanfaatkan itu untuk melentingkan tubuhnya sendiri dengan gerakan berputar. Gerakannya jadi dua kali lipat lebih cepat daripada sebelumnya, sehingga ia berhasil mendaratkan tinju berkekuatan penuh di pipi Rajadesh. Si pria berkulit gelap dari Arcapada malah terpelanting dan jatuh terpuruk di lantai.
__ADS_1
Mendapat semangat baru dari keberhasilan serangannya tadi, Arcel merangsek maju tanpa bicara, hendak menyerang lawan lagi dengan sinar ungu di jari kelingkingnya.
Tiba-tiba seraut wajah wanita dengan kedua mata berpendar merah darah menyorot nyalang tepat di depan mata. Kedua mata Arcel sempat terbelalak dan mulutnya ternganga, ia terpaku. Itu adalah jurus Yoga Hipnotis, dan yang mengerahkannya adalah Svida Singh.
“Sekuat apapu tenaga dalammu, kau takkan bisa bertahan dari jurus yang langsung menyerang ke benak,” sesumbar Svida, kedua matanya tetap terbelalak dan bahkan pendarannya jadi seakan berkilauan. Gadis itu lantas melesatkan telapak tangannya dengan empat kuku hitam sepanjang dan seruncing mata tombak, mengancam bagian dada Arcel yang sedang tidak dijaga.
Di luar dugaan, Arcel malah tersenyum. “Tertipu kau, Shiva! Rasakan ini!” serunya.
Dengan energi Kristal Pelangi Biru di kakinya, Arcel melompat-tendang perut Svida, menerbangkan wanita itu hingga membentur tembok dan roboh di lantai.
Arcel baru akan merangsek maju lagi menghadapi Rajadesh yang baru bangkit saat sang ayah, Narayanan Singh berjalan maju ke tengah arena sambil bertepuk tangan.
“Cukup, Svida, Raja!” serunya tanpa peduli harus pakai nama sandi atau nama asli lagi. “Cukup, Agen Helios!”
Narayanan Singh lantas berjalan perlahan ke arah Arcel. Ia sempat menoleh sekilas ke arah Rajadesh, lalu ke arah Svida. Matanya terbelalak melihat kondisi putrinya, kemudan ia kembali berjalan, kali ini sampai ia cukup dekat dengan Arcel. Ekspresi wajah Singh masam bagai ditekuk seribu, membuat wajah Arcel sedikit lebih tegang daripada biasanya.
Tanpa bermaksud kurang ajar pada Singh, si agen senior, Arcel bertanya, “Boleh saya tahu hasilnya, Agen Brahma?”
“Seperti yang pernah diterangkan Ketua Zeus sebelumnya, kau sebenarnya telah mencapai taraf Mengkukir Kisah, tingkat kelima atau tertinggi dari Arung Dunia, tahap pendekar supranatural,” kata Singh. “Tapi karena energi sejatimu terkuras saat bentrokan terakhir melawan Mephistopheles, kekuaan tenaga dalammu jadi merosot ke tingkat ketiga, yaitu Mendobrak Gerbang.
Aku sudah memastikan itu karena kau unggul dari Vishnu dan Shiva, yang masing-masing berada di tingkat kedua, yaitu Mendaki Cadas. Jika penurunan energi sejatimu hanya sampai tingkat empat, Merebut Kota, bisa jadi kondisi kedua anakku akan lebih parah lagi daripada sebatas biru-biru saja.”
__ADS_1
Arcel terhenyak. Ia sama sekali tak menyangka pengorbanan yang telah ia lakukan demi mencegah si dedengkot iblis, Mephisto mencetuskan kembali Zaman Kegelapan.
Dengan bibir bergetar ia bertanya, “J-jadi, berapa lama lagi aku memiliki sisa waktu sebelum ‘Kutukan Kristal Pelangi’ merenggut nyawaku? Apakah aku bisa mencapai tingkat kelima, bahkan menyentuh tahap Arung Semesta sebagai musafir antar ranah sebelum batas waktuku tiba?”
“Entah Zeus sudah memberitahumu atau tidak,” kata Singh, “kau hanya punya waktu antara satu setengah sampai dua tahun saja. Dan dengan metode pelatihan dan meditasi biasa, aku tidak yakin kau akan bisa menjadi musafir antar ranah tepat waktu.”
Arcel tertunduk, bahunya menyurut lemas. Habis sudah, usaha si pewaris tujuh Kristal Pelangi bersatu selama ini sia-sia saja. Ia hanya bisa pasrah di hadapan nasib yang sudah hampir pasti ia alami. Satu-satunya keinginan Arcel kini hanya hidup sepenuh-penuhnya hingga batas waktunya tiba.
“Tapi tunggu dulu, ada satu cara yang sebenarnya mustahil untuk mempercepat laju perkembanganmu, Agen Helios.”
Arcel mendelik, sinar harapan di matanya terbit lagi. “Cara apa itu, Guru Singh?” tanyanya.
“Ada dua hal yang harus ada untuk membuat yang mustahil menjadi mungkin,” jawab Singh. “Pertama, karena kau pernah tiba di tingkat kelima, kau pastilah sudah bukan orang biasa lagi. Itu adalah tingkatan manusia luar biasa yang memiliki kekuatan yang nyaris atau setara dengan dewa. Itu akan amat membantu dirimu untuk menjalani cara kedua.”
“Apa itu?” Arcel penasaran sekali.
“Kau harus bertarung terus-menerus, berlatih dan mengasah diri tanpa henti. Kapan pun ada misi atau konflik yang terjadi, kau harus maju dan jadi yang terdepan untuk melibas tiap tantangan. Kau harus berani seberani-beraninya, menantang musuh-musuh yang lebih kuat dari dirimu agar kau bisa berkembang menjadi sekuat mereka.”
“Termasuk pendekar terkuat, pemimpin Sindikat dan musafir antar ranah bernama Dominion?”
“Termasuk dirinya, bilamana ada kesempatan,” ujar Singh. “Oh ya, ada satu hal yang harus kau lakukan andai kau berhadapan dengan Dominion atau pendekar-pendekar setarafnya kelak.”
__ADS_1
“Dan itu adalah...?”
“Bertahanlah hidup dan jangan sampai tewas.”