EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
VOLSUNG


__ADS_3

Habislah sudah.


Perjalanan Arcel Raine untuk mengungkap takdir dan jati dirinya yang baru di masa yang baru sepertinya bakal terhenti di tempat ini.


Saat ini juga.


Betapa tidak, ia telah kehilangan kekuatan lamanya, berganti ke sebentuk kekuatan baru yang belum stabil dan bisa terbit, bisa tenggelam sembarang waktu.


Kekuatan baru itu langsung terkuras dalam ledakan terakhir akibat pertumbukan dengan energi Kristal Hitam Mephistopheles.


Akibatnya, kini Arcel dipermalukan oleh seorang pria tua berpenampilan santai yang menyerangnya tanpa tenaga dalam atau energi sama sekali.


Tiba-tiba, Chloe mengungkap jati diri Pak Tua eksentrik itu sebagai Alistair Kane, pemegang tampuk kepemimpinan VOCorp dan VOLSUNG.


Baru setelah itulah Arcel menyadari bahwa ia tidak lulus uji. Nasib akhirnya bisa terbayang, yaitu menggelandang sampai mati di zaman yang amat asing baginya ini.


Anehnya, si pria tua berjanggut putih malah tertawa. “Ya ampun, Chloe, kau sudah sukses merusak kesenanganku menjajal dan mengukur kekuatan salah seorang pahlawan terbesar Terra Everna ini. Karena Arcel sudah tahu namaku dan siapa aku yang sebenarnya, dia pasti sungkan untuk berlatih tanding denganku sekarang.”


“Lho, itu tadi latih tanding, bukan ujian?” Arcel pasang wajah kebingungan.


“Ya, tentu saja itu latihan untukmu dan hiburan untukku,” kata Alistair Kane, kelima jari telapak tangannya tertuju ke arah Arcel. “Aku tahu energimu sudah terkuras setelah mengalahkan Raja Iblis Mephistopheles.”


Chloe menambahkan, “Tapi kau lulus dari tantangan Brian Storm dan menjatuhkan puluhan preman dengan sekali gebrak. Itu jelas menunjukkan bahwa kau bukan pendekar kaliber biasa atau rata-rata. Kau pantas menyandang gelar Pahlawan Kristal Pelangi dan Pencetus Zaman Mesin.”


“Ah, benarkah?” kata Arcel.


“Lihatlah sendiri di bingkai lukisan dirimu.” Chloe menunjuk ke lukisan seorang pria berambut merah, berajah huruf T hitam di pipi dan mengenakan pakaian musafir pengelana ala Ishmina.


Arcel terpana melihat tulisan di bawah bingkai. “Arcel Raine, Pahlawan Kristal Pelangi, Pencetus Zaman Mesin.”


Tapi yang membuat dirinya lebih terperangah lagi adalah pengakuan dunia atas segala perjuangan dan pengorbanannya, juga semua rekannya selama Perang Kristal. Tepatnya sejak ia pertama kali terpapar Kristal Pelangi Merah saat bertarung lawan monster raksasa bernama Merkavah di Ishmina.


Arcel lalu mendapatkan Kristal Pelangi Merah lalu berjuang dan berlatih luar biasa giat untuk menguasai kekuatan gaibnya, bukan dikuasai oleh kekuatan kristal yang manipulatif itu.


Kini, ketujuh Kristal Pelangi telah menyatu dan melebur dalam tubuh Arcel. Energi gabungan itu memang sempat terkuras, tapi masih dapat diperbarui lagi lewat cara pelatihan yang tepat dan saat enerti itu dikerahkan dengan jurus-jurus yang sesuai dalam pertarungan.

__ADS_1


Masalahnya, satu-satunya insan di Terra Everna yang dapat mengajarkan cara-cara latihan dan jurus-jurus yang tepat itu hanya Alistair Kane. Arcel menarik napas sedikit lega karena ia bukan sedang diuji, tapi belum tentu Alistair Kane bersedia untuk menerimanya sebagai murid.


“Entah apapun statusku, aku minta maaf bila telah bersikap kurang sopan pada tuan rumah, yang adalah Musafir Agung dan Titisan Vadis,” kata Arcel sambil tertunduk, memberi hormat dengan tangan kanan di dada sebelah kiri layaknya pada raja-raja zaman kuno. “Kalau tidak ada lagi yang ingin Bapak sampaikan, aku mohon pamit...”


“Tunggu dulu, Anak Muda,” tegur Alistair. “Ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu. Ini amat penting, karena menyangkut nyawamu sendiri.”


Arcel mendelik. “Apakah itu?” tanyanya.


Dengan seserius mungkin, Alistair Kane bicara, “Arcel Raine, sebenarnya sebagai manusia alami usiamu sudah tak panjang lagi. Kau telah terlalu sering bertarung, terluka dan mengerahkan energi Kristal Pelangi Merah. Tapi energi gabungan Tujuh Kristal Pelangi yang terakhir kali itu kaukerahkan dengan cara yang salah. Akibat dari semuanya itu, usiamu tak akan lebih dari dua puluh tujuh tahun.”


Mata Arcel Raine terbelalak dan mulutnya ternganga. Ia sungguh tak menyangka kalau tubuhnya yang telah ia latih luar biasa keras selama pengembaraan dan petualangan bertahun-tahun tak mampu mengemban tujuh kekuatan dewata menyatu.


“Ah, aku tak tahu tentang hal itu,” sahut Arcel. “Tapi andai aku tahu, aku tetap menampung energi Tujuh Kristal Pelangi itu dan mengerahkannya. Harapan seluruh Terra Everna tertumpu pada diriku, jadi aku tak boleh mengecewakan para rekanku yang telah mempercayakan harapan itu padaku.”


“Ya, karena keberanian dan pengorbananmu yang melebihi hampir semua pahlawan yang lukisannya terpampang di ruangan inilah, aku menyelamatkanmu dari ledakan itu dan mengirimmu ke Kastel Mimpi. Baguslah kau memilih unuk pergi ke tempat baru di masa depan, jadi kita bisa bertemu lebih cepat dan aku bisa lebih dini menyampaikan solusinya padamu.”


“Solusi apakah itu, Bapa Kane?”


“Untuk mengatasi kutukan usia dua puluh tujuh tahun, kau harus menjadi manusia dewa, yaitu entitas yang dapat hidup abadi secara alamiah. Nama lainnya yang lebih selaras dengan keberadaan kami, termasuk aku dan Chloe adalah musafir antar ranah atau musafir dewata.”


“Ya, tapi elf paling saktipun belum tentu mampu mengemban Energi Tujuh Pelangi, walau dengan cara yang benar sekalipun. Lagipula, hanya segelintir dari mereka yang menjadi musafir antar ranah, jauh lebih sedikit daripada manusia.”


“Astaga, begitukah? Jadi apa yang harus kulakukan untuk menjadi musafir antar ranah?” tanya Arcel penuh minat.


“Ikut aku, akan kuterangkan lebih rinci sambil jalan,” jawab Alistair sambil berbalik dan pergi meninggalkan Arcel.


Arcel lantas berjalan bersisian dengan Chloe, mengikuti sang ketua meninggalkan ruang tamu. Pelbagai pikiran, terutama kecemasan apakah cara berlatih yang benar dan menjadi musafir antar ranah memang satu-satunya jalan untuk mengatasi kutukan keterbatasan usianya, dan apakah ia akan menjadi musafir antar ranah sebagai pekerjaan barunya?


Apakah Alistair Kane sedang membukakan jalan bagi Arcel untuk mencapai takdir sejatinya yang baru itu?


Arcel Raine, musafir antar ranah.


Kedengarannya terlalu muluk, tapi terasa amat nyata dalam firasatnya yang tergila.


Kalau memang ada jalan yang terbuka dan hanya itulah jalan satu-satunya, bukan dua, bukan tiga, Arcel sudah punya jawaban yang pasti pula dalam benaknya.

__ADS_1


Lebih baik bekerja untuk Alistair dan menjalani hidup penuh pertarungan lagi, daripada pergi ke akhirat yang rasanya bakal membosankan.


Entah apakah itu surga, neraka atau alam-alam roh di antara kedua alam baka itu.


\==oOo==


Beberapa hari kemudian...


Tak usah berpanjang-panjang, Arcel telah mengungkapkan keinginannya untuk membantu Sang Titisan Vadis. Maka, Alistair Kane menerimanya dengan senang hati sebagai murid dan calon agen baru VOLSUNG – tentunya dalam masa percobaan.


Dalam rangka itulah, Arcel Raine mendapatkan akses untuk berlatih secara intensif di markas besar VOLSUNG di lantai bawah tanah alias basement Gedung VOCorp.


Bila Gedung VOCorp mirip dan diibaratkan sebagai bilah Excalibur alias Pedang Malaikat Keadilan, maka lantai-lantai basement gedung itu ibarat lamdasan tempa tempat Excalibur pertama kali tertancap di Bumi. Pedang itu berhasil dicabut oleh Raja Arthur Pendragon dari kerajaan yang kini disebut dengan nama Britania Raya.


Markas besar dan fasilitas pelatihan yang amat luas itu sarat dengan fasilitas dan peralatan canggih. Konon segala peralatan di sini berteknologi jauh lebih tinggi daripada fasilitas pasukan elit militer Archelia yang digadang-gadang sebagai pusat pelatihan terbaik di dunia.


Untuk memaksimalkan teknik, Pusat Pelatihan di VOLSUNG menyediakan perangkat-perangkat simulasi virtual untuk agen-agen tipe petarung, penyihir dan penembak, semuanya berbasis Augmented Virtual Reality Simulator.


Sebenarnya, salah satu anak perusahaan VOCorp yaitu Vadis Omniuum Recreational Technologies yang disingkat menjadi VORTECH telah mengembangkan teknolgi AVR ini dalam online game AVRMMO Eversphere, yang dimainkan oleh kira-kira satu milyar orang di dua dunia, Everna dan Bumi.


Tentu AVR di pusat pelatihan ini tidak terhubung dengan game online, demi menjaga kerahasiaan identitas para agen. Gantinya, lawan-lawan bukan pemain dalam simulasi ini dibuat memiliki kecerdasan buatan dan tingkat kekuatan yang lebih tinggi daripada yang dimainkan oleh umum. Tentu saja itu semua disesuaikan dengan teknik, kemampuan dan kekuatan para agen VOLSUNG yang pastinya jauh di atas rata-rata kemampuan para pemain game, bahkan atlit e-sport sekalipun.


Ada tiga macam simulasi di fasilitas pelatihan VOLSUNG. Ada simulasi menembak, dengan pemain dan sasaran-sasaran bergerak dan terbang, simulasi misi di alam virtual reality, juga simulasi pertarungan, baik pemain lawan pemain atau pemain lawan karakter bukan pemain yang memiliki kecerdasan buatan.


Arcel Raine kini sedang berlatih dalam simulasi pertarungan. Chloe Hewitt mendampinginya untuk memberi pengarahan.


“Wah, bagus sekali!” puji Chloe tulus. “Baru tiga hari berlatih dengan simulasi ini, seiring refleksmu yang pulih dengan cepat kita telah mencapai level tertinggi!”


“Yah, aku hanya beruntung dan terbantu oleh pengalaman dan olehmu juga,” tanggap Arcel sambil merendah.


Chloe lantas mengetik di layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. “Baiklah, tentunya kau siap melawan lawan yang satu ini, bukan? Bersiaplah!”


“Baik!” Arcel pasang kuda-kuda.


Hampir seketika, satu sosok raksasa muncul lewat partikel-partikel digital. Itu adalah sesosok iblis berkulit merah darah. Ia tidak bersayap seperti iblis pada umumnya. Wajahnya tertutup seluruhnya oleh topeng berbentuk bagian wajah helm ksatria. Ia bertanduk lima, apa berarti sosok itu adalah ibils yang lebih lemah daripada Mephisto?

__ADS_1


Pada layar hologram transparan di depan sosok iblis itu ada teks, “Vordac, Penguasa Mutlak Kegelapan.”


__ADS_2