
Sadarkan diri, Arcel Raine terbangun dalam ruangan selnya di Penjara Adler von Bachmann.
Yang pertama ia rasakan adalah nyeri dan pegal luar biasa yang menjalari seluruh tubuhnya. Arcel mengerang perlahan, cedera dalam dari akibat kesalahan dalam latihan energi yoga masih menderanya. Namun setidaknya nyeri ini tak terlalu parah seperti nyaris sekarat.
“Ah, rupanya kau sudah sadar,” kata suara seorang pria dari belakang punggung Arcel.
Arcel tak menoleh ke arah sumber suara. Ia hanya meringis.
Mengira Arcel tak mengenali dirinya, si pria yang baru bicara itu beringsut ke hadapan si pemuda berambut merah. Kali ini Arcel baru mengenali pria tampan berambut pirang di depannya.
“D-Dean... Vizier?” ujar Arcel lemah.
“Wah, ternyata entah ingatanmu bagus atau penampilanku yang agak mencolok sehingga mudah dikenali orang,” kata Dean sambil tersenyum dan mendengus. “Tapi tak apa, terus terang aku senang melihat kau ternyata masih hidup.”
“Lho, mengapa begitu? Aku ‘kan bukan siapa-siapamu!”
“Memang bukan. Tapi coba pikirkan mengapa kita berdua ikut terseret sampai terpenjara seperti ini, dan kini aku dijadikan satu sel denganmu. Padahal, sebagai petarung jalanan aku tak pernah harus berurusan dengan pihak berwajib.”
“Bagaimana bisa? Bukankah setahuku petarung jalanan bukan profesi yang diakui dan legal di Centronia?”
“Memang bukan. Setidaknya, berdasarkan pengalaman aku hanya muncul di distrik-distrik tertentu yang rawan untuk tarung, misalnya di Distrik Hiburan. Tapi ternyata dalam pertarungan terakhir aku tak menyangka Sindikat bakal bertindak sejauh itu, dengan menjebloskan kita dalam penjara yang penuh dengan kroni-kroninya.”
“Yah, aku memang belum paham betul cara kerja intrik politik dan hukum di kota ini, dan kadar penegakkan hukum di masing-masing distrik,” ujar Arcel. “Tapi aku ‘kan bertindak dalam misi atas nama Agensi. Jadi, kalau bukan Sindikat yang bermain di belakang ini semua, aku tak akan tersentuh hukum di distrik mana saja di Centronia. Bisa jadi bahkan di seluruh Archelia dan di seluruh dunia.”
“Ya, tapi kau terikat oleh segala aturan dan kode etik Agensi, sedangkan aku adalah seorang agen lepas dan informan. Jadi kita sama-sama tak sepenuhnya bebas. Andai kita memang sungguh bebas, mungkin kita berdua takkan ada di tempat ini. Dan yang telah merenggut kebebasan kita tak lain dan tak bukan adalah...”
“Sindikat,” sahut Arcel dan Dean bersamaan.
__ADS_1
Setelahnya, terjadilah keheningan.
Mendadak, tawa kedua pria itu meledak.
Sedewasa apa pun mereka, seberlimpah apa pun pengalaman kedua pria itu, baik Arcel Raine maupun Dean Vizier tentu merasa senang dan terhibur ketika mengetahui keduanya ternyata sehati sepikiran, seiring sejalan. Walau tak cukup untuk membuktikan apa pun, setidaknya suasana dalam sel berdinding beton amat tebal ini jadi tak menjemukan.
Setelah ledakan tawa mereka reda, Arcel kembali mengerang sakit dan suasana kembali hening.
Sambil duduk agak bungkuk dengan sikap agak santai di tepi ranjang bajanya, Dean kembali melanjutkan pembicaraan. “Yah, setidaknya aku tadi sempat mengajukan diri sebagai sukarelawan dan memulihkan dirimu dengan asupan tenaga dalamku. Tentu setelah kau mendapat pertolongan pertama dari si pria Arcapada di klinik tadi.”
Arcel mengerutkan dahi. “Bagaimana bisa kau tahu tentang cederaku? Bukankah latihan yang kujalani sama sekali tertutup dan rahasia bagi orang luar Agensi, apalagi dirimu?”
“Itu karena salah seorang sipir penjara yang rupanya adalah salah seorang narahubungku dengan Agensi VOLSUNG sengaja memberitahukan perihal kondisimu pada diriku dan para anggota Bloodfeast. Ia memperingatkan, andai kau tewas kami para excommunicado akan kekurangan dukungan untuk bertahan hidup dari ‘pengadilan lewat pertarungan’ gaya Sindikat nanti.”
“Jadi karena itulah kau menolongku tepat waktu, ya,” sergah Arcel, nadanya agak sedikit sinis dan menohok perasaan Dean. “Agar kau mendapatkan peluang yang lebih besar untuk mempertahankan nyawa.”
“Terus terang salah satu alasannya memang demikian. Dan aku punya alasan yang amat kuat dan lebih dari sekadar bertahan hidup,” jawab Dean dengan mata terpejam.
“Aku ingin membantu dan menolong sebanyak mungkin orang, mulai dari keluargaku sendiri, bahkan hingga orang asing yang membutuhkan pertolongan.”
“Kalau boleh tahu, apakah kau kesal dengan Cross, Faust, Onyx dan Toxin karena telah menjerumuskanmu di dalam penjara ini?”
“Ya, tapi mereka bukan teman-temanku,” kata Dean. “Cross pernah menyelamatkan nyawaku ketika aku baru pertama kali bertanding di Turnamen MAUL, Martial Arts Ultimate League. Waktu itu aku kalah di semi final dan sekarat. Tapi Cross, sesama petarung memberiku pertolongan pertama dengan tenaga dalam sehingga nyawaku selamat. Setelah itu aku tak pernah kontak dengannya lagi, tapi aku masih ingat punya utang budi padanya.
Maka, setelah aku terkenal, Cross menghubungiku dan lalu menemuiku bersama kelompok Bloodfeast yang sama sekali tak kukenal sebelumnya. Ia meminta pertolonganku, tapi ia tak lantas mengungkit utang budiku padanya. Tetapi kalaupun aku tak ada utang apa pun padanya, aku memilih mengikuti nuraniku dan tetap membantunya.”
“Tapi apa keluargamu tak keberatan?” tanya Arcel. “Bukankah kabarnya kau punya bisnis yang sudah mapan pula?”
“Ya. Istriku, Melinda Carter-Vizier adalah mantan petarung profesional seperti diriku, jadi dia tak keberatan. Dia sendiri cukup untuk menjaga kedua anak kami, Wynn dan Michael. Sekaligus mengurus bisnisku, restoran pizza Vizier’s Pizzeria.
__ADS_1
Sejak awal pertemuan kami, Mel sudah maklum pertarungan adalah jalan hidupku dan segala resikonya. Tapi aku harus berusaha bertahan hidup supaya bisa pulang pada keluarga yang amat membutuhkan peran seorang ayah. Jadi kuputuskan untuk menolongmu agar kemungkinan bertahan hidup lebih besar. Dan aku ingin jadi sahabatmu.”
“Oh, jadi begitu rupanya.” Arcel mengangguk, “Kini aku paham situasinya. Aku sungguh berterima kasih padamu, Dean. Tapi apa itu berarti aku punya utang budi padamu?”
Dean menggeleng. “Punya sahabat tangguh sepertimu sudah cukup bagiku. Aku tak berminat pada perhitungan utang budi dan untung dan rugi. Ini adalah strategi pertarungan dan aku tak mau melangkah lebih rendah daripada itu.”
Arcel tertawa lemah. “Oh, jadi begitu rupanya. Ternyata kau amat menarik, Dean, karena kau telah memperhitungkan segala sesuatunya di masa depan dalam merencanakan perjalanan hidup. Aku harus mencoba itu pula.”
“Bagus untukmu, Arcel. Aku tak keberatan kau mencontoh jalan hidupku, asal jangan kau bajak saja.”
“Tentu tidak!”
Kedua pria itu tertawa lepas. Keasyikan karena menemukan teman dengan pemikiran yang sejalan adalah bagian dari dunia yang mungkin hanya bisa dipahami sesama petarung yang saling menghormati satu sama lain.
“Nah, kalau begitu sekarang giliranmu untuk bicara,” ujar Dean Vizier. Gaya duduknya berganti jadi bersandar pada dinding, seolah-olah ia sudah siap mendengarkan cerita panjang-lebar semalam suntuk.
“Ceritakanlah tentang asal-usulmu dan bagaimana kau bisa menjadi agen VOLSUNG. Karena kulihat kau masih agak canggung menggunakan perangkat berteknologi tinggi. Kurasa kau berasal dari luar Archelia. Logatmu seperti orang Lore, tapi bisa jadi kau bukan dari daerah perkotaan, melainkan pedesaan atau daerah yang agak terpencil.”
“Yah, aku ini pendatang baru di Hiperpolitan Centronia, tapi aku berasal dari zaman dan tempat yang tak pernah kau duga, bahkan dari imajinasimu yang terliar sekalipun.”
Sontak si rambut pirang terkejut. “Apa maksudmu?”
“Kurasa kau belum pernah membaca buku sejarah Kerajaan Lore, Negeri Para Pahlawan di Zaman Sihir. Tak apa, kuceritakan saja asal-usulku sejak awal. Tapi ini cerita yang sangat panjang.”
Dean Vizier mendengus, lalu duduk bersandar di dinding, masih di atas ranjangnya. Masih pasang ekspresi antusias, ia lalu berujar, “Tak masalah, toh aku ada waktu semalaman ini untuk mendengarkan cerita seru, aneh tapi nyata. Silakan, buatlah aku tercengang dan ternganga.”
Arcel yang masih agak lemah bersandar pula di ranjangnya dan mulai bercerita.
“Aku berasal dari Lore, tepat di titik peralihan antara Zaman Sihir Akhir dan Zaman Mesin. Malah, aku dianggap sebagai pencetus Zaman Mesin karena telah memusnahkan Raja Iblis, Mephistopheles saat ia menumbangkan Yggdrasil, Pohon Hayat yang adalah pusat keberadaan dan kejayaan Zaman Sihir Everna.”
__ADS_1
Di titik awal cerita saja, Dean Vizier sudah ternganga.