EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Jalur Rekonsiliasi


__ADS_3

Setibanya di kompleks penjara berpengamanan maksimum, Arcel terperangah. “Astaga, penjara itu seperti benteng saja, tapi besarnya seperti satu kompleks istana!”


“Aku tak tahu apa maksudmu, tapi penjara ini memang jauh lebih besar daripada yang kami susupi di Indranara,” kata Onyx untuk pertama kalinya setelah sejak tadi diam seribu bahasa saja.


“Tepatnya tiga kali lebih besar,” timpal Cross. “Tapi tenang saja, kali ini kami tak akan mencoba melarikan diri kecuali tak ada pilihan lain sama sekali.”


Arcel menghela napas dalam-dalam. “Ya, semua tergantung dari kebijaksanaan Zeus alias Alistair Kane,” batinnya sambil satu kali lagi mengintip lewat celah jendela kaca anti peluru dari dalam truk lapis baja.


Sekilas, Arcel baru sadar bahwa ada daerah kosong yang cukup luas di antara kompleks penjara dengan pemukiman kumuh di sekitarnya. Mungkin daerah itu tak benar-benar kosong, melainkan penuh dengan jebakan tersembunyi atau semacamnya untuk mencegah pelarian dari penjara mencapai pemukiman.


Yang tampak berikutnya adalah tulisan besar-besar di papan besar yang menempel di gerbang terluar kompleks penjara, yang baru ia tahu adalah Pusat Rehabilitasi Adler von Bachmann.


Turun dari kendaraan lapis baja, Arcel dan kawan-kawan digiring oleh sepasukan pengawal bersenjata lengkap. Setiap pria dan wanita berseragam serba hitam dengan tutup kepala hiitam, membuat mereka terlihat seperti ninja.


Para tahanan lalu menjalani pengecekan tubuh dengan Sinar X, segala senjata diambil dulu untuk disimpan di tempat aman.


“Rantaiku!” seru Faust yang lalu langsung tersenyum aneh pada sipir yang membawa rantainya. “Tolong simpan baik-baik ya Pak, nanti kuambil lagi saat aku keluar dari sini.”


“Nanti saja kalau kau memang keluar, karena kau akan diam di sini dalam waktu yang amat lama,” sergah si sipir.


Senyum Faust makin lebar. “Lihat saja nanti,” katanya.


Pemandangan berikutnya yang Arcel lihat adalah dinding-dinding beton tak dicat yang serba kelabu dan terkesan monoton, memanjang sepanjang koridor demi koridor yang mereka lalui.


Sang sipir komandan pasukan lantas berseru, “Sebelum masuk ke sel-sel kalian, kalian semua harus masuk ke ruangan ini dulu.” Ia berbelok ke sebuah koridor buntu, lalu berjalan lurus ke arah pintu di ujung koridor tersebut.


Para penggiring membukakan pintu. Para tahanan masuk, tentunya semua tangan mereka terbelenggu borgol tebal yang hanya bisa dibuka secara elektronik dengan kode kombinasi yang berubah-ubah dari waktu ke waktu.


Arcel terperangah bukan buatan kali ini. Tak disangkanya, ruangan yang lumayan luas ini berdinding dan berlantai serba putih dan suasananya amat terang, berbeda bagai langit dan bumi dengan koridor-koridor suram tadi. Ia melihat ke kiri-kanan dan baru sadar kedua tahanan lain juga terperangah, kecuali Faust yang mengerutkan dahi, merasa terganggu.


Para sipir menggiring para tahanan ke tengah ruangan putih, lalu meninggalkan ruangan tak berjendela itu dan menutup pintu rapat-rapat. Andai ada salah seorang dari para tahanan itu nekat meninggalkan “ruangan interogasi istimewa”, ia akan disambut todongan puluhan senjata api dan entah apa lagi dalam sistem pengamanan penjara ini.

__ADS_1


Memperhitungkan hal itu dan hal-hal lainnya pula, Arcel, Cross, Dean, Faust dan Onyx memilih tetap berdiri di tempat.


“Coba kutebak, sebentar lagi ada satu regu yang akan masuk untuk menginterogasi kita, hendak mengorek keterangan dari kita dengan segala cara,” kata Dean. Ia hendak melemaskan otot-otot lengannya, tapi borgol besar menghalangi gerakannya.


“Itu tergantung segala tindakan kalian mulai detik ini dan seterusnya,” kata sebuahh  suara yang tiba-tiba terdengar. Lalu sosok sumber suara itu muncul seketika di hadapan Arcel dan yang lainnya sebagai wujud holografis seorang pria setengah baya yang berpakaian dan bertudung serba putih.


Arcel mengenali hologram itu. “K-ketua Zeus!” serunya.


Ketua Umum VOLSUNG, Alistair Kane alias Zeus mendelik dari sudut matanya dan mengerutkan dahi saja ke arah Arcel. Itu pertanda jelas bahwa ia kecewa pada muridnya itu.


Sikap sang guru membuat Arcel tertunduk. Raut wajahnya tegang, ia jelas takut bakal kehilangan segala kesempatan yang ia dapatkan dan yang sedang ia jalani di VOLSUNG.


Andai segala konflik di Zaman Modern jadi lebih sederhana seperti halnya di Zaman Sihir Akhir, di mana pihak hitam dan putih lebih jelas terlihat dan satu kesalahan saja mungkin bisa dijadikan utang untuk dibayarkan dengan jasa di kali lain.


Namun kini, tampaknya tak ada toleransi untuk satu kali pelanggaran saja, itupun Arcel lakukan karena terdorong oleh intuisinya untuk ikut campur tanpa persetujuan Agensi lebih dulu.


Citra hologram Alistair tak mengatakan apa-apa. Sejenak ia hanya mengamati sosok-sosok para tahanan selain Arcel saja.


Cross menjawab, mewakili semuanya, “Ya. Andai kami tak melibatkan agen VOLSUNG, kami semua tak akan berdiri di sini.”


Alistair menggeleng. “Salah. Andai kalian tak mencari suaka di VOLSUNG sejak awal, kalian para excommunicado tak akan bisa berdiri, apalagi bernapas di manapun dan kapanpun.”


Si pemimpin Bloodfeast ternganga, lalu tertunduk. “Maafkan aku, kurasa kami tak punya pilihan lain. Selama ini kami berhasil menangkal semua serbuan Sindikat, tapi kami tak tahu sampai kapan kami bisa terus hidup seperti ini, selalu diburu, dirundung rasa takut dan tak bisa tidur nyenyak tiap malam.”


“Dan itu semua karena Cross memutuskan untuk merekrut aku, bukan membunuh diriku yang tertangkap, dipenjara dan jadi excommunicado lebih dahulu,” kata Faust.


Dean Vizier menambahkan, “Demi sahabatku, Cross, aku tak ragu untuk membantunya untuk menjadi penghubung antara Tim Bloodfeast dan VOLSUNG, walau harus mempertaruhkan nyawa dan reputasiku. Dan Agensi mengirimkan Agen Helios yang mau membantu kami sepenuh hati.”


Onyx melengkapi pembelaan mereka dengan berkata, “Kami dari Bloodfeast sudah jenuh diburu. Kini saatnya kami menyerang balik, menghancurkan Sindikat dengan mengungkap boroknya pada dunia. Dan tak ada organisasi lain sekuat VOLSUNG, yang memiliki segala teknologi, sumber daya untuk menjalankan tugas ini sampai berhasil.”


“Nah di situlah akar masalahnya.” Alistair mengusap janggut putihnya. “Sindikat Ultimatum beranggotakan tokoh-tokoh yang kaya-raya dan amat berpengaruh di seantero Terra Everna. Mereka adalah lawan, rival terberat dan musuh abadi Assassin, yang sama-sama organisasi pembunuh gelap yang menggunakan cara-cara kejam untuk membunuh tapi memiliki tujuan akhir yang sangat berbeda.”

__ADS_1


“Apa saja tujuan mereka?” tanya Arcel.


“Sederhananya, prinsip Assassin adalah ‘melayani terang dalam kegelapan’, sedangkan prinsip Ultimatum adalah ‘melayani kegelapan dalam terang’, itu saja.”


Arcel dapat menangkap maksud Alistair walaupun ia belum paham sepenuhnya. Yang pasti, ia dapat mengambil kesimpulan. “Berarti, demi menjaga keseimbangan dunia kita, Ultimatum tidak boleh dihancurkan, hanya dilemahkan saja. Tapi mereka tak dapat dilemahkan dengan cara-cara biasa, walaupun boroknya dikorek amat dalam dan dipaparkan pada dunia sekalipun.”


“Benar,” kata Alistair sambil tersenyum kepada Arcel untuk pertama kalinya di ruangan ini, membuat muridnya agak tenang. “Kita harus mencari cara lain yang tak biasa dan menunggu saat yang tepat untuk melemahkan mereka.”


“Bagaimana jika kita langsung menyerang markas besar Sindikat dan membasmi semuanya?” tanya Dean. Rupanya ia juga masih agak awam tentang inti dunia hitam di Everna.


“Itu bukan ide yang baik. Markas besar Sindikat tak pernah diketahui keberadaannya dan tak dapat dilacak dengan teknologi secanggih apapun, mungkin itu adalah sebuah kendaraan yang terus bergerak tanpa henti. Para petingginya hampir tak pernah berkumpul di satu tempat, kecuali dalam rapat-rapat akbar yang sangat rahasia.


Lagipula, Dominion, pemimpin eksekutif tertinggi di Sindikat, di bawah Dewan Lima Tetua pasti sudah bertindak. Bloodshed sebagai cabang Sindikat yang membawahi kaum pendekar sakti, penyihir, tentara bayaran dan lain sebagainya menempatkan para penjaga yang sakti dan cukup mumpuni di markas itu dan, maaf sekali, kalian bukan tandingan mereka.”


Cross lantas bertanya, “Jadi, apakah Ketua punya solusi agar nyawa kami selamat dan status excommunicado kami dicabut? Sekaligus mengamankan posisi VOLSUNG pula?”


“Ya dan tidak,” jawab Alistair. “Di posisi kalian, satu-satunya cara adalah aku membawa kalian menghadap Dewan Lima Tetua Sindikat, lalu mengajukan petisi Jalur Rekonsiliasi pada mereka.”


Arcel mengangguk. Ternyata Alistair Kane kini bertindak sebagai pengacara dan pembela dirinya, teman-temannya dan Agensi untuk mencari solusi damai dengan Sindikat. Ia tak ingin masalah Bloodshed yang melibatkan VOLSUNG memantik perang antara Agensi dan Sindikat, yang nantinya hanya akan memberi keuntungan bagi Assassin dan organisasi-organisasi lainnya.


“Selanjutnya, tergantung mereka apakah akan setuju dengan petisi dariku atau tidak. Mereka pasti akan mengajukan syarat-syarat yang amat berat. Kalaupun kalian berlima memenuhi itu semua, mereka belum tentu mencabut status excommunicado Bloodfeast dan melepaskan Arcel dan Dean. Itu bakal jadi solusi tersulit, tapi itu solusi satu-satunya agar kalian berlima bisa terus bertahan hidup. Dan kalian harus percaya penuh padaku mulai sekarang. Nah, apa jawab kalian?” tuntut si janggut putih.


Arcel dan keempat tahanan lainnya bertukar pandang dan kelimanya lantas mengangguk bergantian. Itu jawaban yang pasti karena situasi ini memang tak memberi mereka pilihan lain.


Kali ini Dean Vizier yang mewakili semuanya menjawab, “Ya, kami setuju. Silakan, Ketua Zeus.”


Alistair alias Zeus tersenyum lagi. “Baiklah,” katanya. “Kini sebaiknya kalian berlima bersiap-siap, karena aku akan membuka jalur komunikasi dengan Sindikat... sekarang.”


Dengan satu jentikan jari Alistair saja, muncullah lima sosok holografis lainnya. Tapi kali ini sosok kelima orang itu tidak jelas, seolah-olah mereka adalah siluet, bayangan atau hantu. Mereka duduk di kursi masing-masing dengan cukup santai, seolah-olah merekalah hakim yang akan menentukan keputusan pengadilan yang akan digelar sebentar lagi.


Tak ayal jantung Arcel berdegup kencang. “Mereka inikah... Lima Tetua Sindikat Ultimatum?” batinnya.

__ADS_1


__ADS_2