
Kalaupun nasibnya harus berakhir di sini, Arcel tetap akan mencoba mengubah nasib hingga titik darah penghabisan. Pada Raja Iblis saja ia tak menyerah, apalagi pada yang masih manusia.
Yang membuat Arcel sedikit heran adalah, tak seperti semua anak buahnya, tak ada tato sangar di wajah dan tubuh pria kekar berambut cepak-pirang itu. Gantinya, ada tato-tato biru seperti body painting yang membuatnya tampak lebih mirip manusia robot alias cyborg daripada manusia pada umumnya.
“Karena kau menarik, aku ingin tahu namamu,” kata si muka belang biru. “Panggil aku Brian Storm. Kau mungkin akan ingin mengingatnya di gerbang akhirat sebentar lagi.”
“Haha, anehnya, aku baru saja dari ranah antara dunia dan akhirat,” tanggap Arcel. “Namaku Arcel Raine, dan aku tak berniat untuk kembali lagi ke sana terlalu dini.”
Mata Brian mendelik, “Begitukah? Kau makin menarik saja. Karena itu aku ingin menjajal kekuatanmu, satu lawan satu.”
Mempertegas niatnya, Brian lantas berseru ke arah semua anak buahnya, “Jangan ada yang ikut campur! Atau aku sendiri yang akan mematahkan semua tulang siapapun yang melanggar!” Ia melepaskan sanderanya, si gadis rambut hijau begitu saja, biar anak buahnya saja yang mencegah gadis itu melarikan diri.
Si gadis malah berdiri dengan sikap tenang, bahkan terkesan santai. Ia tersenyum tipis, seakan menonton pertunjukan seru.
Segera saja, kepungan terhadap Arcel mengendur. Pasukan preman memberi ruang yang cukup luas agar si kepala geng dan lawannya dapat berduel dengan leluasa.
Arcel tetap saja was-was terhadap Brian Storm. Walaupun sikapnya terkesan cukup ksatria, dalam pertarungan nanti ia bisa jadi akan melakukan hal-hal tak terduga, semacam menikam dari belakang. Itu wajar saja bagi kaum preman seperti dia yang sudah biasa menghalalkan segala cara.
“Begini perjanjiannya,” kata Brian. “Kalau kau mengalahkan aku atau bertahan dari tiga jurusku, kau dan gadis itu bebas untuk pergi. Tapi kalau tidak...!” Ia menempelkan jari telunjuk di depan lehernya dan membuat gerakan mengiris. “Bagaimana?”
Melihat isyarat yang cukup jelas itu Arcel menjawab, “Setuju!”
Kedua petarung yang terpaut beberapa langkah satu sama lain ambil ancang-ancang dan pasang kuda-kuda.
Si gadis bertindak sebagai wasit dan menempatkan diri di antara kedua petarung. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi hingga di atas kepala, lalu menurunkan tangannya mendadak sambil berseru, “Mulai!”
__ADS_1
Arcel dan Brian menerjang maju di saat bersamaan, terlibat dalam jual-beli pukulan dan tendangan. Tinju-tinju Brian yang sedahsyat badai diimbangi dengan teknik Arcel.
Arcel tentu lebih banyak mendaratkan tinju dan tendangan, bahkan juga dengan bersalto dan melompat-tendang dari sudut-sudut tak terduga. Namun tubuh Brian bagai benteng hidup, pria kekar itu tak kunjung tumbang.
Kedua petarung lalu mengakhiri “ronde pertama” itu dengan sama-sama melancarkan tinju. Kedua tinju mereka beradu, dan imbasnya membuat Arcel dan Brian terdorong mundur. Arcel yang terdorong dua langkah lebih jauh daripada Brian lantas memegangi telapak tangannya sambil meringis kesakitan.
“Wah, tak pakai tenaga dalam ya?” sindir Brian. “Kau tak sedang meremehkanku, bukan?”
“Tidak. Kau bertarung secara adil dan jantan. Kalaupun tak bisa mengalahkanmu, aku harus terus bertahan hidup. Ada sesuatu yang besar yang menantiku di sini, aku tak boleh mati sebelum tahu apa itu dan menjalaninya hingga tuntas,” jawab Arcel sambil terus bergerak selincah yang ia bisa.
“Oh, rupanya kau tahu diri juga. Kalau begitu aku juga tak akan menunda-nunda lagi. Coba, apakah kau bisa bertahan dari jurus pertamaku ini!”
Sambil mengatakannya, Brian Storm merangsek maju. Saat masuk jarak jangkauan tangan, ia melancarkan serentetan tinju berdaya tenaga dalam yang mengandung unsur angin. Itu jurus pembuka rangkaian Ilmu Tinju Badai, Badai Pemindah Gunung.
Gilanya, badai rentetan tinju Brian makin menggila, mendera tubuh Arcel dari banyak arah. Arcel tak diberi kesempatan sama sekali untuk menyerang balik. Akhirnya satu tinju uppercut Brian menghantam dari perut sampai dagunya. Arcel terpelanting tanpa kendali, melayang dan ambruk di tanah.
Melihat itu, Brian berdecak. “Huh, ternyata hanya keroco. Buang-buang waktu dan energiku saja.” Ia berbalik hendak pergi, membiarkan anak buahnya yang “bekerja”.
Namun Arcel bangkit berdiri seraya berseru, “Tunggu, Brian Storm! Tarung ini... belum selesai!”
Menyeringai lagi, Brian berbalik ke arah lawan yang sudah memar-memar. “Baik, jurus kedua!” serunya.
Kali ini, Brian mengentakkan satu tinjunya, menembakkan selarik angin badai bagai gelombang kejut. Itu adalah jurus jarak jauh, Tembakan Meriam Badai.
Tak sempat menghindar, lagi-lagi Arcel menangkis serangan dengan sepasang lengan. Tanpa ampun, badai gelombang kejut membuatnya terdorong mundur lagi. Punggung Arcel membentur dinding gedung. Ia roboh lagi dan tengkurap di tanah, bergeming.
__ADS_1
Lagi-lagi Brian berdecak kesal. Ia mengangkat bahu dan dua tangannya. Ditambah wajahnya yang cemberut, ia jelas-jelas menunjukkan ketidakpuasan.
“Aku sudah cukup berlatih dengan orang itu,” kata Brian pada para anak buahnya. “Terserah mau kalian apakan dia dan...”
“Tunggu dulu!” teriak Arcel lagi. Kali ini ia di posisi setengah berlutut, satu tangannya memegangi dadanya sekujur tubuhnya makin berdarah. “Kau masih hutang jurus ketiga padaku, Brian!”
“Sudahlah, pecundang sepertimu tak berhak menuntut. Kau dan gadis itu pasrah sajalah di tangan para anak buahku!”
“Huh, kalau begitu kau ini sama saja dengan keroco biasa,” sindir Arcel. “Kalau kata-katamu dan janjimu tak bisa dipercaya, aku tak yakin kau adalah pemimpin mereka semua.”
“Sudah kalah, masih bermulut pedas juga!” Brian mendengus. “Begini saja, coba kautahan satu tinju berkekuatan penuh dariku ini! Menghindar berarti pengecut!”
“Silakan!” Arcel mengepalkan kedua tangannya dan meraung, mengumpulkan segala daya-upaya dan energinya. Samar-samar, terlihatlah bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya sejak ia menjadi ksatria dulu. Kedua kakinya membentang ke depan dan belakang, siap menyangga tubuhnya yang bakal menahan daya serangan.
“Sambut ini!” Tinju Brian Storm berdesir, seolah membelah udara. Ia memusatkan energi secukupnya di kepalan tangannya, memutar tubuh setengah lingkaran, menambahkan daya kinetis untuk melipatgandakan daya pukulan.
Inilah salah satu jurus andalan Brian Storm, Inti Pusaran Badai.
Arcel menghimpun seluruh sisa tenaga dalamnya ke tengah tubuhnya, lalu menyambut tinju lawan bulat-bulat. Perlawanan yang ia lakukan hanya dua tangannya meninju pergelangan tangan lawan dengan amat cepat.
“Percuma saja! Ledakkan!” Brian Storm menambah tenaga tinjunya dengan memutar tubuh lagi. Daya entakan kinetis yang dihasilkannya memicu ledakan yang tidak besar, tapi jauh lebih dahsyat.
Terhantam ledakan, tubuh lawan terpelanting tinggi-tinggi, bahkan seperti bersalto dulu di udara sebelum jatuh di jalanan. Setelahnya, sama sekali tak ada gerakan dari Arcel.
Mungkinkah Arcel Raine telah tewas?
__ADS_1