EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Sisi Kelam Centronia


__ADS_3


Setelah memasuki Cermin Portal Antar Ranah, Arcel Raine menemukan dirinya melayang-layang dalam sebuah ruang serba hitam yang tak terukur luasnya dan tak tampak ujungnya.


Inilah jalan raya di Limbo, Dunia Roh. Lebih tepatnya, ini adalah ranah antara ragam dimensi, ruang dan waktu. Seseorang dapat berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain, bolak-balik antara alam baka dan alam fana maupun antara masa lalu, masa kini dan masa depan.


Arcel melayang karena dikendalikan kekuatan gaib yang memenuhi ranah antara ini, bukan tanpa arah atau bisa terbang. Tampaklah olehnya garis-garis cahaya warna-warni melintas ke arah yang sama, yaitu berlawanan dengan arah terbangnya. Juga tampak benda-benda, bahkan pelbagai macam makhluk termasuk manusia melayang-layang di tempat.


Yang menarik perhatian Arcel adalah, makin jauh ia terbang, benda-benda dan penampilan orang-orang dalam Limbo yang ia lihat makin aneh dan tak ia kenali.


Karena berangkat dari permulaan Zaman Mesin, Arcel mulai merasa aneh saat para pria mulai mengenakan jas, topi tinggi dan dasi. Lalu tampak benda-benda aneh yang nantinya akan ia kenali sebagai radio, mobil dan telepon. Juga ada jendela-jendela yang menggunakan kaca dan banyak pernak-pernik modern lainnya.


Arcel merasa lebih heran lagi saat melihat smartphone dan komputer untuk pertama kalinya, juga wanita yang mengenakan tank top dan hot pants. Lalu ia melihat sebuah pintu yang terbuka. Seberkas cahaya remang-remang keluar dari ambang pintu dan Arcel melayang masuk ke dalam cahaya itu.


“Aduh!” Arcel jatuh dan mendarat di tumpukan sampah.


Arcel amat kelelahan karena belum sempat beristirahat sejak berpindah dari permulaan Zaman Mesin dan melintasi Limbo tadi. Ia butuh waktu beberapa detik untuk mengumpulkan tenaga dan memusatkan pikiran, lalu bangkit.


Tapi saat hendak mengambil napas panjang, Arcel cepat-cepat menahan napas. “Ya ampun! Aku sudah pernah ke tempat-tempat kumuh dan bau sejak jadi musafir pengelana dulu, tapi tak pernah sebau ini!” pikirnya. Ia lantas menutup mulut, menahan rasa ingin muntah dan cepat-cepat bergegas pergi menyusuri gang sempit, menjauhi tumpukan sampah.


“Bagus, baru saja tiba entah di mana ini, badanku sudah bau sampah.” Arcel mengernyitkan dahi, sifat penggerutunya kumat lagi. Lalu mendadak ia menggigil. “Bodohnya, aku lupa minta baju di Kastel Mimpi tadi. Mana udara malam ini dingin sekali. Jangan-jangan ini di Benua Aurelia atau semacamnya.”


Tiba-tiba Arcel mendengar teriakan seorang wanita dari jauh. Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat ke arah sumber suara.


Menjejakkan kaki di sebuah tempat yang cukup terbuka, yang dikelilingi bbagian belakang gedung-gedung bertingkat tiga dan empat, di bawah penerangan lampu remang-remang Arcel melihat seorang wanita yang dikepung oleh sedikitnya sepuluh orang. Ia terkesiap saat tahu bahwa wanita itu adalah gadis cantik berambut hijau yang ia lihat lewat cermin ajaib di Kastel Mimpi.

__ADS_1


Para pengepung itu bertampang dan berpenampilan garang dan beringas, dengan tubuh penuh tato dan memegang pelbagai macam senjata tumpul dan tajam.


Kabar baik satu-satunya adalah, tak satupun dari mereka menggunakan senjata api. Arcel tak bertanya-tanya tentang itu karena ia berasal dari zaman yang hanya kenal busur-panah dan tongkat sihir saja sebagai senjata tembak yang bisa dibawa dengan tangan.


“Hei, hei, gadis manis, kau ke tempat seperti ini untuk cari kesenangan, bukan?” kata salah seorang preman dengan rambut bergaya punk, berdiri di tengah dan sisa kepalanya botak.


Satu lelaki lain yang bertubuh kekar dengan tato memenuhi kepala botaknya menambahkan, “Tak perlu teriak, ada kami di sini untuk memberimu kesenangan sepuas-puasnya, gratis pula!”


Si gadis berambut hijau sepinggang dan bermata biru melirik kesana-kemari seakan mencari seseorang. Saat melihat Arcel, wajahnya berubah tersenyum manis.


Arcel mendelik heran, apa iya gadis itu sengaja ke tempat penuh penjahat seperti ini untuk mencari dirinya?


Ekspresi wajah si gadis mendadak berubah jadi ketakutan, persis seperti yang dilihat Arcel di Cermin Portal Gaib. “A-ampun!” pintanya. “A-aku tersesat saat mengambil jalan pintas pulang dari kantor. I-ini, ambillah semua uangku. Kumohon, biar aku pergi!”


Si botak penuh tato yang berlagak seperti pemimpin geng berkata, “Oh, tentu kami terima uangmu, nona, ditambah sedikit ekstra. Seharusnya kau tahu, di Hiperpolis Centronia ini kamilah serigala pemangsa. Kau yang selemah domba masuk liang serigala sama saja cari celaka! Pasrah sajalah kau jadi obyek kesenangan kami, percuma saja memohon!”


Cukuplah sudah, Arcel berdehem keras. “Tak semudah itu!” serunya. “Kalau kalian ingin ‘memangsa’ dia, hadapi aku dulu!”


“Wah, ada lagi orang bodoh yang muncul,” sergah si botak tato sambil menoleh ke belakang. Lalu ia mengernyit dan tertawa. “Pantas saja ada bau busuk yang menyengat. Ada gelandangan yang numpang lewat dan bosan hidup!”


Giliran Arcel yang tersenyum dan mendengus. “Mengambil kesimpulan tanpa pengamatan, meremehkan lawan yang hanya punya satu rajah kecil di pipi.” Ia menunjuk ke rajah berbentuk huruf T hitam di bawah matanya. “Kalian bakal selamanya jadi keroco, tak lebih daripada itu!”


Amarah para preman berotak sederhana itu tersulut dengan satu sindiran pedas saja. Si pemimpin berseru, “Kalian berdua, jaga dulu si nona menu utama kita agar tak melarikan diri! Yang lain, ayo kita garap kudapan dulu! Keroyok si gelandangan bermulut dan berbau busuk itu dan habisi dia!” Hampir serempak, gerombolan preman berbalik dan mengejar Arcel.


Walau kelelahan dan kehabisan tenaga dalam, Arcel masih bisa berpikir jernih. Ia lantas berbalik dan lari ke gang sempit.

__ADS_1


“Woi, jangan lari kau, pengecut! Dasar banci!” Mengikuti si pemimpin, para preman berpendidikan rendah itu terus-menerus melontarkan sumpah-serapah.


Tapi Arcel yang banyak makan asam-garam pertarungan tak terpengaruh sama sekali dengan ejekan-ejekan picisan itu. Tahu dalam kondisinya kini ia belum tentu bisa mengimbangi semua preman, Arcel berbalik dan lari ke gang sempit terdekat.


Para preman paling depan terus lari mengejar bagai serigala. Tapi entah mereka tak menyadarinya atau memang terlalu bodoh, mereka tak tahu bahwa si penantang bukan gelandangan berbau sampah, melainkan seorang pemburu, panglima perang dan juga pahlawan tulen. Mustahil gelandangan biasa nekat melontarkan tantangan tanpa perhitungan yang matang.


Sambil terus berlari, sesekali Arcel menengok ke belakang. Tampak para pengejar masuk satu demi satu, membuat mereka jauh lebih mudah dihadapi dari satu arah saja, meminimalisir resiko dikepung dan dikeroyok dari segala arah.


Saat lebih dari sepuluh orang sudah berada di lorong, tiba-tiba Arcel berbalik dan merangsek ke preman terdepan. Preman itu ternganga, tak mengira si gelandangan bisa bereaksi teramat cepat. Sebelum ia sempat melakukan sesuatu, tinju Arcel telak menghantam dahinya, merobohkan lelaki beringas itu seketika.


Lebih gilanya lagi, dalam hitungan detik Arcel melancarkan puluhan tinju dan tendangan secepat kilat. Alhasil, semua preman di lorong itu terhantam, terkapar dan mengerang kesakitan, ada pula yang bahkan pingsan di tempat.


Inilah jarak perbedaan kekuatan antara keroco dan ksatria. Dalam kondisi kelelahan saja si Ksatria Pelangi berhasil melukai dan merobohkan puluhan lawan, apalagi bila ia dalam kondisi prima dan tenaga dalamnya pulih.


Sesampainya di lapangan semula, Arcel berhenti melangkah dan ia terpaku, terpana melihat pemandangan di depannya. Ada kira-kira lebih dari seratus preman tampak memenuhi lapangan yang tak terlalu luas itu. Bahunya melorot seketika.


“Kalau hanya sepuluh aku masih sanggup, tapi ini...?”


Parahnya, Arcel melihat seorang preman yang lain daripada yang lain, memancarkan aura energi yang kuat menekan dirinya. Preman berambut pendek-cepak pirang itu sedang meringkus si gadis berambut hijau di depannya, satu tangannya memegang leher si sandera.


“Wah, hebat juga kau, mampu merobohkan banyak preman dalam sekali entakan,” kata si cepak sambil menyeringai. “Tapi mustahil kau bakal bisa mengalahkan kami semua sendirian.”


Arcel terenyak. Haruskah riwayatnya terhenti di tempat ini?


Ilustrasi Hiperpolis Centronia, Archelia

__ADS_1


Sumber gambar: ze-robot.com


__ADS_2