EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Debora Wren


__ADS_3


Beda dengan sikapnya setelah  jurus pertama dan kedua tadi, kali ini Brian melangkah mendekati Arcel. Mungkin ia penasaran bagaimana hasil akhir jurus ketiga tadi, apakah lawan akhirnya tewas atau hanya pingsan?


Setelah dekat, Brian terkejut melihat Arcel perlahan-lahan bangkit dan hendak berdiri. Padahal tubuh si rambut merah itu gemetar bagai terguncang hebat dan ia bisa roboh setiap saat.


Dengan darah yang memenuhi wajahnya Arcel memaksakan senyum, membuat tampangnya jadi menyeramkan. “Ternyata... aku masih... hidup... setelah menerima... jurus ketiga. Silakan... tepati janjimu... Brian Storm.”


Si wajah biru terpaku sejenak, hendak mencerna kenyataan di depan matanya ini. Arcel Raine menggunakan sisa energi sejati miliknya hanya untuk bertahan saja, dan mungkin untuk satu kali serangan balik saja. Tapi dengan energi seminim itu, dia berhasil bertahan dari ketiga jurusnya. Apa Arcel bukan manusia?


Daripada berlarut-larut memikirkan sesuatu yang belum tentu bermanfaat, Brian Storm menghela napas dan berbalik ke arah lain, membelakangi Arcel. “Baiklah. Kau dan gadis berambut hijau itu bebas untuk pergi.”


Kata-kata tegas Brian Storm itu memicu bukan reaksi Arcel, melainkan orang lain. Orang itu adalah si gadis rambut hijau yang melesat amat cepat bagai terbang, lalu memapah tubuh Arcel yang mulai limbung.


Aksi itu mengundang decak kagum Brian. “Wah, ternyata kau amat sakti, Nona...”


“Hewitt, Chloe Hewitt,” jawab si gadis berambut hijau. Dari logat bicaranya, sepertinya ia bukan berasal dari negeri yang sama dengan Brian. “Terima kasih atas kemurahan hatimu, Brian Storm. Aku akan melaporkan ini pada atasanku dan kita mungkin akan berjumpa lagi.”


Brian Storm tersentak. “Tunggu, Chloe. Siapa atasanmu?”


“Itu rahasia. Mungkin kau akan mengerti di pertemuan kita yang berikutnya. Sementara itu, berlatihlah lebih giat lagi dan rawatlah cedera di pergelangan tanganmu itu. Kami pamit.”

__ADS_1


Sebelum Brian sempat bertanya lebih lanjut, Chloe sudah membawa Arcel Raine pergi, lari menghilang ke dalam lorong gang seperti ninja.


“Apa kita kejar mereka, Bos?” tanya si botak berwajah penuh tato, komandan preman.


“Jangan!” hardik Brian. “Daar bodoh, apa kau tak menyadari itu sejak awal? Si gelandangan dan si gadis kantoran itu bukan orang biasa! Apa kau tak lihat para anggota regumu yang terkapar di gang sebelah sana?” Ia menunjuk ke arah gang sempit tempat Arcel menjebak dan menumbangkan puluhan preman tadi.


“I-iya, maaf Bos.” Si botak menyurut mundur.


Brian hanya menghela napas saja dan tak menghukum si komandan. Wajar saja para preman yang adalah manusia biasa kalah dari Arcel, Chloe atau keduanya.


“Kalau mereka bukan pendekar biasa, lantas siapa mereka?” gumam Brian sambil memegangi pergelangan tangan kanannya dan meringis, menahan nyeri.


\==oOo==


Tak sampai satu jam setelah bertarung dengan Arcel, Brian Storm kembali tiba, pulang di rumahnya di Distrik Dua Belas. Ia mendengar suara-suara cetar lecutan cemeti di ruang latihan dan tersenyum.


Brian melangkah dan berhenti di ambang pintu ruangan yang tak ditutup itu dan menonton seorang wanita yang sedang berlatih di sana. Wanita berkulit cokelat gelap dari ras Ubanga-Myriath dan berambut kribo itu sedang bergerak kesana-kemari dengan amat lincah melecut-lecutkan senjatanya, yaitu cemeti berujung tiga.


Sesekali, wanita kribo itu melecutkan cemeti besarnya ke satu arah dan menghancurkan satu buah semangka sasaran tanpa ada dari ketiga ujung cemeti itu yang meleset.


Untunglah Brian sudah cukup terbiasa untuk tahu, jangan memasuki ruangan latihan saat ada yang berlatih, supaya jangan sampai tubuhnya tercabik oleh lecutan ganas cemeti itu tadi. Puas dengan yang menurutnya adalah tontonan biasa dan rutin itu, Brian meninggalkan ruang latihan dan menjatuhkan diri di sofa empuk di ruang tamu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, wanita yang berlatih cemeti tadi datang ke hadapan Brian Storm. Dari penampilannya yang hanya mengenakan kaus kutang sepusar dan celana yang amat pendek dan lebih tipis daripada hot pants, jelas wanita itu adalah pemilik rumah tempat Brian tinggal. Ia banyak berkeringat, pertanda ia baru saja selesai menjalankan latihan yang cukup intens.


“Ah, Debora. Aku senang melihatmu tetap terjaga saat aku pulang,” kata Brian, tak lupa menyunggingkan senyum lembut di sela-sela ekspresi wajahnya yang kendur akibat kelelahan, juga meringis akibat cedera.


“Dan aku senang melihat wajahmu yang lebih ceria daripada biasanya,” tanggap wanita bernama Debora Wren itu. “Apa geng kita mendapat jarahan yang melimpah malam ini?”


Brian menggeleng. “Tidak juga. Dari segi hasil, itu malam yang biasa. Yang membuatnya beda adalah aku bertemu dengan orang-orang yang menarik dan luar biasa.”


Kedua mata ungu Debora terbelalak. “Wah, benarkah?” seru wanita itu. “Ceritakanlah padaku.”


Maka Brian menceritakan tentang pertarungannya melawan seorang gelandangan bertelanjang dada dan bercelana aneh yang bernama Arcel Raine. Arcel bertarung dengan nekat dan tenaga dalam yang amat minim untuk menyelamatkan seorang gadis berambut hijau. Gadis itu ternyata bernama Chloe Hewitt dan ia juga amat sakti.


“Saat hendak pergi, Chloe berkata bahwa aku akan bertemu dengan mereka lagi tak lama lagi. Apakah itu berarti mereka juga akan ikut Turnamen Bela Diri Internasional, MAUL?” tanya Brian.


“Kemungkinan besar ya, kalau memang mereka sesakti yang kauceritakan,” jawab Debora sambil duduk di pangkuan Brian dan membelai lembut dagu kekasihnya itu. “Dan aku yakin benar, mereka akan respek padamu berkat tindakanmu yang bijaksana, yaitu melepaskan mereka berdua.”


“Haha, itu karena mereka telah membuatku terhibur, hitung-hitung kemarin itu latihan tanding yang bagus untuk turnamen. Aku jadi terdorong untuk berlatih lebih keras lagi. Kalau lawan-lawanku nanti rata-rata sekuat mereka atau lebih kuat lagi, aku harus mengerahkan kekuatan, kecepatan, teknik dan kegigihan yang melebihi mereka semua.”


Debora mencium bibir Brian dengan lembut, lalu berkata, “Kalau kita bersekutu dengan mereka, apalagi merekrut mereka dalam tim kita, itu akan menguntungkan bagi partai beladiri kita, Storm Harbingers. Dengan demikian, kita akan mendapat peluang lebih besar untuk menang nanti.”


Ia lantas berdiri dan melenggok-lenggok genit. Nada suara Debora juga terkesan manja. “Nah, sekarang bawa aku ke kamar. Di sana, aku akan memberimu pijatan yang nyaman... ditambah sedikit ekstra.”

__ADS_1


Seakan mendapat asupan semangat ekstra, Brian bangun sambil membopong kekasihnya, Debora. Entah apakah mereka adalah suami-istri atau bukan, pasangan itu tetap lanjut menuju ke acara selanjutnya di dini hari ini.


__ADS_2