
Berada dalam ruangan serba putih dan diadili oleh lima sosok serba hitam sungguh adalah pengalaman yang sama sekali baru bagi Arcel Raine.
Apalagi wajah dan ciri-ciri lain kelima sosok itu sama sekali tak jelas. Yang jelas terlihat hanya bentuk kepala, hidung dan atau tubuh mereka saja. Mereka duduk santai seolah-olah berada di kantor masing-masing.
Karena memang tak tahu harus berkata apa, Arcel bersikap sama dengan teman-temannya, menunggu saja di tempat sampai seseorang selain mereka bicara lebih dahulu.
Sosok hitam pertama, seorang pria yang kepalanya mungkin botak atau berambut tipis dan pendek angkat bicara, “Aku yakin Zeus sudah menerangkan apa saja pelanggaran kalian beserta akibatnya. Jadi kutegaskan sekali lagi, konsekuensi untuk para excommunicado dan siapapun yang membantu mereka sudah jelas, yaitu mati.
Karena VOLSUNG telah membantu para excommunicado, ikut campur dalam urusan Sindikat dan bahkan membunuh Sand Jinx, Ratfang dan para anggota Sindikat lainnya. Dengan ini Sindikat menyatakan perang terbuka melawan VOLSUNG...”
Zeus tiba-tiba menyela, “Keberatan!”
Salah seorang anggota dewan lain yang adalah seorang wanita bersanggul menanggapi Alistair dengan ketus, “Dilarang menyela saat Ketua Dewan Tetua bicara! Kau tak berhak...!”
“Oh, aku sangat berhak!” kata Alistair, sorot matanya menyala-nyala. “Aku adalah pemimpin VOLSUNG, pemegang kekuasaan yang melebihi Gubernur Centronia, bahkan Presiden Archelia dan Ketua Perserikatan Pan Everna! Justru kalian yang seharusnya mendengarkan dan patuh pada setiap ucapanku kapanpun aku memutuskan untuk memaksakannya pada kalian semua!”
“Tidak!” kata orang ketiga yang berperawakan tambun. “Ketua Eksekutif Dominion sejajar denganmu dalam hal kekuatan. Kami, para atasannya lebih berhak untuk...!”
“Tetap saja, kekuasaan kalian di Everna tidak lebih besar dari milikku!” tegas Alistair. “Kalau aku mau, detik ini juga aku akan membantai kalian berlima, lalu Dominion dan seluruh Sindikat. Tapi tenang saja, aku tak menghendaki demikian, demi menjaga keseimbangan dunia.”
“Mengapa begitu?” kata anggota keempat Dewan Tetua sambil membetulkan kacamatanya dan bersedekap. “Katakan saja apa alasanmu. Kalau kami puas dan bisa menerimanya, kita tak perlu berperang.”
Alistair mengangguk. “Baik, biar kusampaikan. Helios adalah agen magang yang sedang menjalankan misi pertamanya. Ia telah mengklaim ikut campur dalam urusan Sindikat sebagai oknum saja, bukan mengatasnamakan organisasi VOLSUNG. Lagipula, para excommunicado juga telah berkata mereka percaya pada Helios seorang, bukan VOLSUNG. Ini buktinya.”
Satu layar hologram muncul di hadapan Alistair. Ia melambai dan layar hologram itu terbang, terpampang di hadapan kelima anggota Dewan Tetua. Itu adalah rekaman kamera CCTV di gang belakang Headbangers’ Club.
Dari gerak bibir Cross, siapapun bisa menduga bahwa kata-kata Alistair memang benar. Bloodfeast hanya percaya pada satu orang saja, yaitu Agen Helios.
Arcel terperangah melihat pertunjukkan “sihir” spektakulaer itu. Tapi yang pasti, gertakan sang musafir terkuat di Everna berhasil meruntuhkan dinding keangkuhan Dewan Tetua Sindikat.
Buktinya pula, si anggota kelima Dewan Tetua, pria berambut agak panjang bicara dengan suara serak layaknya pria setengah baya bicara, “Jadi, apa yang kau usulkan sebagai solusi adil dan damai bagi kedua belah pihak, Ultimatum dan VOLSUNG?”
“Aku mengusulkan agar diadakan pertandingan dua lawan dua tiga hari lagi, dihadiri dan disaksikan oleh aku, kalian dan para narapidana dalam kompleks Penjara Adler von Bachmann. Pihak Sindikat dipersilakan menunjuk tim-tim petarung untuk melawan para wakil kami. Pertandingan baru berakhir bila semua tim dari pihak Sindikat atau semua excommunicado dan semua petarung dari tim-tim kami tewas, pingsan atau knock out. Entah apakah hasil akhirnya adalah eksekusi atau pembebasan, kita tak perlu lagi berperang dan masalah selesai hari itu pula.”
__ADS_1
Kelima anggota Dewan Tetua berembuk di antara mereka dengan suara yang sengaja tak diperdengarkan pada Arcel.
Usai berembuk, si tegap rambut pendek ambil giliran bicara, “Baik, kami menyetujui usulmu, Zeus. Dengan syarat, pertarungan harus diadakan dalam semacam ring gulat yang dibatasi jeruji besi di keempat sisinya. Jadi tak akan ada pihak yang ikut campur kecuali para petarung dalam ring berjeruji itu. Satu syarat lagi, salah seorang dari kedua petarung dalam tim excommunicado harus Agen Helios.”
“Tidak masalah,” kata Alistair sambil menoleh ke arah Arcel. “Aku yakin ia pasti mampu mengatasi tantangan ini, tentu dengan bantuan rekan-rekan satu timnya.”
Sebaliknya, Arcel mengerutkan dahi. “Bagaimana bisa begini?” pikirnya. “Aku membiarkan Alistair Kane mengatur segalanya bagi kami, seakan kami tak punya kehendak bebas untuk membela diri kami sendiri!”
Arcel melayangkan pandangan ke arah teman-temannya yang juga bergeming, tak melancarkan protes sekalipun. Lagi-lagi ia membatin, “Rupanya seperti inilah pengaruh pancaran kharisma dari kekuatan musafir antar ranah. Mungkin aku akan bisa meraih kekuatan seperti itu pula, tapi bagaimana caranya?”
\==oOo==
Ini bukan pertama kali Arcel Raine meringkuk dalam penjara. Sejak memulai sepak terjangnya sebagai bandit gurun di Ishmina, sudah sedikitnya dua kali kebebasan Arcel terenggut, walaupun hanya sebagai tahanan dalam waktu singkat saja.
Kali ini, sel penjara yang Arcel tempati jauh lebih rapat, lebih tertutup dan lebih sulit dijebol daripada sebelumnya, dengan hanya sedikit celah persegi panjang yang cukup untuk para sipir melihat kondisi tahanan di dalam sel, dan ada satu celah berpintu tempat memasukkan atau mengeluarkan makanan dan minuman tiga kali sehari.
Bedanya, dalam sel berukuran sepuluh kali sepuluh meter itu ada tempat tidur yang dilengkapi kasur spring bed yang cukup empuk, ditambah kaks duduk yang bersih dan meja besi yang menempel di dinding beserta kursinya. Sel penjara ini jauh lebih manusiawi daripada penjara jorok di Zaman Sihir Akhir dan awal Zaman Mesin, namun keduanya sama-sama membuatnya jenuh.
Ada satu perbedaan paling mencolok antara saat Arcel baru pertama kali dalam penjara di Ishmina dengan sekarang. Kali ini, ia tak marah-marah, menggedor-gedor jeruji besi dan berteriak-teriak memaki seperti dulu. Pengalaman yang kaya membuat ia malah lebih tenang sekarang.
Karena itulah Arcel tak langsung menyahut saat seorang sipir penjara memanggil dengan suara keras, “Tahanan Nomor 4257, harap ikut saya sekarang juga!” Ia masih butuh sesaat untuk menuntaskan meditasinya, lalu baru melangkah mendekati pintu sel setelah si sipir mengulangi panggilannya dengan suara yang lebih keras dan nada yang lebih kasar.
Ingin rasanya Arcel memuntir leher si sipir sampai patah, tapi ia kembali mengendalikan dirinya dengan berkata, “Maaf, Pak” dan ikut tanpa bicara apa-apa lagi.
Sang sipir menggiring Arcel memasuki sebuah ruangan yang kosong, tanpa perabot sama sekali, tapi itu bukan ruangan serba putih seperti saat ia bertemu Alistair Kane dan Dewan Tetua Sindikat kemarin.
Yang Arcel lihat kali ini bukan hologram, melainkan tiga orang, dua pria dan satu wanita berkulit agak gelap. Dugaannya, mereka bertiga berasal dari Jazirah Arcapada.
Salah satu dari ketiganya, seorang pria kekar bertampang separuh baya dengan rambut, kumis dan janggut putih, kontras dengan kulit gelapnya melangkah maju, memposisikan dirinya di depan kedua orang lainnya yang masih muda.
Setelah si sipir pergi, pria tua itu menyambut Arcel dengan berkata, “Namaste, kau pasti Agen Helios, bukan? Atau kau lebih suka dipanggil dengan nama aslimu, Arcel Raine?”
Mata Arcel terbelalak, lalu ia bicara dengan nada datar, “Itu tergantung siapa yang bicara denganku ini.”
__ADS_1
“Oh, maafkan kekurangsopananku. Namaku Narayanan Singh, dan mereka yang bersamaku itu adalah anak-anakku, Rajadesh dan Svida Singh. Kami adalah para agen VOLSUNG dengan nama sandi Brahma, Vishnu dan Shiva.” Agar meyakinkan, ketiga orang itu memperlihatkan lencana identitas masing-masing.
“Salam kenal,” kata Arcel, ia tersenyum mengetahui ketiganya sama-sama dari VOLSUNG. “Sebenarnya aku lebih suka dipanggil dengan nama asli, tapi sebaiknya kita gunakan nama sandi saja.”
“Baiklah. Walaupun aku tahu di ruangan ini tak ada kamera atau mikrofon tersembunyi, ada baiknya kita tetap berjaga-jaga sesuai protokol Agensi.” Senyum Singh melebar. “Kita langsung saja ke urusan kita. Ketua Zeus menugaskanku untuk memberimu pelatihan kilat untuk pertarunganmu dua hari lagi.
Untuk mempercepat prosesnya, aku menyertakan kedua anak kandungku yang juga adalah asistenku untuk berlatih tanding denganmu, Agen Helios.”
Arcel tak tahu harus bersikap apa terhadap “pelatihan kilat” ala Singh, akan sekeras atau sekilat apa pelatihan itu nanti. Toh ia tak punya pilihan selain menjawab, “Silakan, Agen Brahma.”
“Oh ya, ada titipan dari Ketua Zeus untukmu,” kata Singh. “Yang pertama adalah dua jurus baru Jari Pelangi Dewata untuk kaukuasai dalam dua hari. Dan yang kedua adalah menerangkan padamu tentang Jalan Musafir Dewata.”
“Jalan Musafir Dewata? Apa maksudnya?” tanya Arcel.
“Itu adalah sebuah pedoman, sebuah sistem untuk siapapun yang hendak mengembangkan diri hingga menjadi musafir antar ranah dengan kekuatan setara dewa. Informasi tertulisnya telah kami kirimkan ke e-mail-mu, silakan membacanya andai kau sempat membukanya di smartphone-mu andai kau bebas nanti.”
Arcel belum kenal betul dua istilah terakhir yang disebutkan Singh tadi, tapi ia berkata, “Baiklah, silakan terangkan padaku, Agen Brahma.”
Singh mulai menerangkan, “Sistem Jalan Musafir Dewata yang kini tengah kaujalani itu terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yang disebut Darah dan Daging adalah golongan pendekar biasa yang hanya mengandalkan kekuatan fisik dan mental alami saja untuk bertarung. Kau pasti sudah jauh melewati tahap ini, kan?”
“Ya, kurasa begitu,” jawab Arcel mantap.
“Tahap kedua yang disebut Arung Dunia adalah jalur pendekar atau penyihir supranatural dari taraf murid sampai pahlawan. Ada lima tingkat di tahap ini, yaitu Menapaki Jejak, Mendaki Cadas, Mendobrak Gerbang, Merebut Kota dan Mengukir Kisah. Saat kau bertarung untuk terakhir kalinya melawan Mephistopheles, kau jelas sudah mencapai tingkat Mengukir Kisah dan memiliki energi dewata, tapi kau belum jadi musafir antar ranah.
Lagipula, saat Zeus menyelamatkan nyawamu dan membawa dirimu ke zaman ini, energimu sudah terkuras sampai turun ke entah tingkat keberapa. Di tingkat mana dirimu sekarang, itulah yang harus kauketahui agar tahu harus mendaki berapa tingkat lagi agar menjadi musafir antar ranah seperti diriku.”
“A-apa?!” Mata Arcel terbelalak. Ia sama sekali tak menduga bahwa pelatih dirinya ini memiliki kekuatan dewata.
“Aku memang satu dari lima musafir antar ranah di VOLSUNG,” kata Singh, kedua matanya menyipit. “Aku meraihnya setelah bertapa selama kurang-lebih lima puluh tahun dengan mengikuti sistem yang sama. Namun dengan bakat besar, pengalaman melimpah dan pelatihan beladiri yang tepat, kau mungkin bisa menjadi musafir dalam waktu kurang-lebih satu tahun saja.”
“Benarkah?” Arcel mengerutkan dahi, selalu bersikap skeptis tiap kali dipaparkan pada hal-hal yang menurut logikanya terlalu muluk untuk jadi kenyataan. “Apa iya aku seberbakat itu?”
“Yah, satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan mengukur kekuatanmu lewat latih-tanding,” jawab Singh. Lalu ia merentangkan dan mengibaskan kedua telapak tangan, sebagai isyarat agar kedua putra-putrinya maju. “Tentunya dengan cara menghadapi Agen Vishnu dan Agen Shiva sekaligus.”
__ADS_1
Arcel terperangah. Satu lawan dua, apakah ini benar-benar latih-tanding saja atau sebenarnya ini sebuah eksekusi?