
Andai Chloe meladeni dan menjawab semua pertanyaan Arcel, bisa-bisa mereka terlambat dari batas waktu check out dari hotel, yaitu jam dua belas siang.
Untunglah si penyihir berambut hijau panjang itu berhasil mengalihkan perhatian si “pemuda ketinggalan zaman” dengan berkata, “Cukuplah istirahat untuk pagi ini. Kau telah sarapan dan sudah cukup segar oleh tambahan sihir penyembuhan dariku tadi. Ayo kita temui atasanku, Alistair Kane, tapi tidak dengan pakaian seperti itu.” Ia menunjuk ke arah celana boxer pendek dan ketat yang dikenakan Arcel.
“Bagaimana dengan celana musafirku?” tanya Arcel.
“Oh, aku sudah menyimpannya di kantung kain. Sebaiknya kita menyimpannya, karena itu bisa jadi pusaka bersejarah yang amat bernilai, ya bukan?”
“Terserah. Memangnya ada pakaian yang cocok untukku?”
“Harap saja ada. Tadi aku sempat ‘menyita’ pakaian dari beberapa lelaki hidung belang di kamar-kamar lain. Silakan dicoba, siapa tahu ada yang cocok untukmu,” kata Chloe sambil mengedipkan sebelah mata.
Ternyata selain sebagai tabib penyihir, Chloe juga adalah seorang penyusup dan pencuri ulung. Pantas saja ia menjadi salah satu agen andalan di VOLSUNG.
Tak membuang waktu lagi, Arcel mengepas pakaian-pakaian barunya di depan cermin besar di lemari. Chloe membantu Arcel berpakaian sambil menerangkan cara membuka dan menutup ritsleting, kancing dan mengenakan ikat pinggang.
Akhirnya pilihan Arcel jatuh pada t-shirt putih, rompi merah yang senada dengan warna rambutnya, celana jins biru tua, ikat pinggang kulit asli dan sepatu sneakers merah-putih.
“Wah, ternyata selera fashion-mu boleh juga, Arcel,” puji Chloe. “Apalagi rompinya, cocok sekali untukmu.”
“Terima kasih. Tapi apa sih ‘fashion’ itu?”
Lagi-lagi Chloe menepuk dahinya.
\==oOo==
Sesuai yang diterangkan sekilas oleh Chloe Hewitt, Centronia adalah kota yang terlalu luas dan besar.
Contoh buktinya, butuh waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai Distrik satu dari Distrik Dua Belas dengan menumpang kereta bawah tanah.
Apalagi Arcel Raine yang belum pernah menggunakan moda transportasi umum modern perlu banyak diajari oleh Chloe dulu.
Kabar baiknya, VOLSUNG telah menyediakan kartu identitas elektronik dan smartphone berisi dana dalam rekening untuk Arcel. Namun kabar buruknya, Arcel sama sekali belum paham cara menggunakan smartphone. Terpaksa Chloe membelikan tiket biasa di kasir.
Jadi, setelah keduanya tiba di stasiun dekat pusat kota dan berjalan agak jauh sampai ke permukaan, Chloe menjatuhkan diri di kursi tunggu terdekat untuk mengistirahatkan otaknya yang kelelahan sebentar.
“Menjawab pertanyaan dan mengajari pendatang dari zaman kuno ternyata lebih melelahkan daripada perkiraanku,” komentar Chloe sambil bersandar sampai menegadah.
__ADS_1
“Bersabarlah dulu, Chloe,” kata Arcel. “Sebentar lagi kita akan bertemu pemimpinmu dan tugasmu akan tuntas. Aku tak akan merepotkanmu lagi.”
“Yah, tak ada yang bisa menandingi istirahat dengan duduk-duduk di sofat, menonton serial ‘Everna: Legenda Ksatria Cahaya’ sambil minum cokelat panas di kamar apartemenku sendiri.”
“Hah? Apa itu sofa, Legenda Ksatria Cahaya, cokelat panas dan apartemen?”
Chloe tertunduk lagi sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. “Ya ampun,” gumamnya.
\==oOo==
Distrik Satu, yaitu pusat pemerintahan dan komersil utama adalah distrik paling elit di titik tengah Centronia.
Bila dilihat dari udara, Hiperpolis Centronia tampak seperti pizza raksasa yang terdiri dari tujuh juring. Setiap juring pizza itu dibagi menjadi dua bagian, sehingga jumlah seluruhnya adalah empat belas potong. Distrik satu adalah potongan kelima belas yang bundar di tengah pizza.
Menyusuri jalan-jalan raya Distrik Satu dengan taksi setelah dari stasiun kereta bawah tanah, Arcel tak hentinya memandangi setiap detilnya. Segala sesuatunya tampak serba asing bagi si pemuda zaman kuno itu.
Namun Arcel sama sekali tak menanyakan hal-hal itu pada Chloe. Gadis yang duduk di sebelahnya itu sudah bersandar lemas dengan wajah amat pucat. Lagipula jalanan macet dan padat siang itu, padahal belum sampai jam pulang kantor.
Hingga tibalah mereka berdua di tempat yang dituju. Arcel menegadah, melihat gedung yang bagai bilah pedang yang seakan mencuat dari dalam tanah dan menusuk langit.
“Nah, kita sudah tiba di Kantor Pusat VOCorp, singkatan dari Vadis Omniuum Corporation. Itu adalah badan usaha terpenting di Archelia, bahkan di Terra Everna,” kata Chloe yang sudah lebih bersemangat sambil menunjuk ke pintu masuk gedung berbentuk pedang itu. Ia lantas terus berjalan bersama Arcel.
Chloe menyentuhkan jari di dahinya lagi. “Nanti tanyakan saja langsung pada Ketua Umum, Penasihat sekaligus Komisaris Utama kelompok usaha ini, Alistair Kane. VOCorp memproduksi persenjataan canggih, eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi dan sumber-sumber energi alternatif lainnya, juga mengerjakan proyek-proyek pembangunan khusus untuk pemerintah pelbagai negara di Terra Everna. VOLSUNG adalah salah satu unit VOCorp yang sifatnya amat rahasia. Nah, lift sudah terbuka, ayo masuk.”
Arcel masih belum paham betul kata-kata Chloe tadi, walau ia bisa menangkap sebagian konteksnya. Jadi, sambil mengikuti gadis itu memasuki lift, ia bergumam, “VOCorp adalah saudagar besar yang bekerja untuk banyak negeri.”
Tiba-tiba Arcel merasakan sensasi aneh seperti ditarik ke atas atau diangkat terbang amat cepat oleh sebentuk kekuatan besar. Ia melihat ke depan dan melihat permukaan tanah seakan menjauh dengan amat cepat.
Yang mengherankan pula, Arcel melihat angka-angka yang menyala dan terus bertambah dengan cepat di dinding lift. Hingga akhirnya laju lift melamban dan berhenti total saat layar dinding lift menunjukkan angka seratus enam puluh tiga.
“Nah, kita telah sampai di penthouse. Di sinilah Alistair Kane tinggal. Harap jaga sikap dan emosi saat bicara dengan musafir teragung di Everna, titisan Vadis,” kata Chloe sambil melangkah keluar dari lift.
Arcel ikut keluar dengan mengerutkan dahi. “Titisan Vadis? Apa Chloe sedang mengada-ada?” batinnya.
“Silakan duduk,” kata Chloe. “Silakan tunggu di sini. Aku akan memberitahukan kedatanganmu pada Pak Alistair.”
Arcel duduk di sofa yang lebih empuk daripada ranjang di Love Motel dan melihat ke sekeliling. Gaya penataan ruang yang minimalis, juga warna-warna dan corak perabot yang hampir senada, memancarkan kesan mewah dan konsisten, juga terkesan lebih lapang, banyak ruang untuk bergerak dengan leluasa.
Tentu saja ada beberapa pernak-pernik modern di ruang tamu itu. Ada alat pengatur suhu ruangan, ada “kotak ajaib” yang disebut televisi juga.
__ADS_1
Namun yang paling menarik perhatian Arcel kali ini adalah lukisan-lukisan mahakarya yang tersebar rapi di empat penjuru dinding. Semuanya adalah lukisan potret sepinggang dari orang-orang dari pelbagai zaman, menurut gaya pakaian masing-masing.
Yang paling dekat dengan televisi adalah lukisan-lukisan dua orang pria. Pria pertama berambut putih dan menyandang golok jingga bergagang kepala naga merah. Di bagian bawah bingkai ada tulisan, “Robert Chandler, Pahlawan Perang Suci”.
Pria kedua berambut merah dan mengenakan zirah putih bersih yang sepertinya pernah Arcel lihat sebelumnya. Tulisan di bawah bingkainya adalah “Sage Kelima, Pemimpin Laskar Terang.” Anehnya, wajah dan rambut pria itu amat mirip dengan wajah dan rambut Arcel. Bedanya hanya warna bola mata Arcel cokelat, sedangkan Kaisar Sage jingga kemerahan.
Melayangkan pandangan pada lukisan di sebelah Kaisar Sage, Arcel terpana. Itu adalah sosok seorang wanita separuh baya yang sisa-sisa kecantikan masa mudanya masih membuatnya tampak mempesona, penuh kharisma. Mata birunya dan rambut pirang yang tersanggul rapi membuatnya tampak lebih cantik lagi. Tulisan di bawah bingkai adalah “Ratu Anne Pertama, Pencetus Zaman Modern.”
Tiba-tiba Arcel merinding. Firasatnya berkata suatu hari ia bakal bertemu dengan Ratu Anne, entah di mana, kapan dan apa itu mungkin. Anne pasti hidup di zaman dahulu.
Selagi mata Arcel tak lepas dari sosok sang Ratu dan larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba satu suara pria yang agak serak menyela, “Oh, kau tertarik pada mereka, ya? Mereka itu adalah para pahlawan pengukir sejarah terpenting di Everna, lho.”
Arcel menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pria berambut, berjanggut dan berkumis putih. Si pria tua itu menatapnya dengan satu mata menyipit dan satunya lagi melirik.
Penampilan Pak Tua itu amat santai, mengenakan kemeja pantai sutera bermotif pelbagai macam bunga dan celana merah yang menutupi tiga perempat kakinya sampai tulang kering. Ekspresi wajahnya yang masih terhitung tampan itu cenderung terkesan santai, sedang mabuk atau sedang di awang-awang.
Tersentak, Arcel bertanya-tanya, apa benar ini Alistair Kane? Bukankah seharusnya beliau tampil penuh wibawa dan kuasa layaknya titisan mahadewa?
Si pria tua kembali menegur, “Oi, anak muda, kok melamun? Siapa namamu? Ada perlu apa dan sedang cari siapa di sini?”
“Oh, maaf, Pak. Namaku Arcel Raine. Chloe Hewitt membawa aku kemari untuk menemui Alistair Kane. Apakah Bapak beliau?”
Tanpa diduga, Pak Tua berbaju pantai itu malah terkekeh. “Aku kenal Alistair Kane,” jawabnya. “Tapi sebelum kau menemui beliau, coba apa kau bisa mengelak dari seranganku ini?”
Seiring kata terakhir, Pak Tua merangsek ke arah Arcel dan menusuk lurus dengan jari telunjuknya.
“A-apa?” Arcel cepat berkelit, berlari kesana-kemari dengan amat lincah. Tapi jari telunjuk lawan menyentuhnya dan Pak Tua berkata, “Kena kau. Lagi!” Gilanya, Arcel tak merasakan sakit atau apa pun. Telunjuk Pak Tua hanya menyentuhnya saja. Jelas sudah, kini Arcel sedang diuji sebelum berhak bertemu Alistair Kane.
Karena memang tak sakit, Arcel berkelit lagi, kali ini dengan gerakan yang lebih lincah daripada sebelumnya. Tetapi, Pak Tua malah lebih lincah lagi dan mendaratkan tiga, empat sentuhan lagi di tubuh dan kepalanya.
“Ayo, anak muda, tunjukkan kemampuanmu yang terbaik. Mana semangat kepahlawananmu? Apa iya kau adalah penakluk Raja Iblis Mephistopheles? Jangan-jangan kau hanya penipu yang menyamar sebagai Arcel Raine, Pahlawan Perang Kristal!”
Karena terlalu sibuk menghindar, Arcel masih belum sempat menebak identitas penyerangnya. Pasalnya, makin lincah Arcel bergerak, makin luwes dan licin gerakannya, makin sering pula jari Pak Tua tetap menyentuhnya.
Kalau ini berlangsung terus, bisa-bisa Arcel gagal bertemu dengan Alistair Kane dan harus berakhir sebagai gelandangan di kota hiperpolitan, Centronia. Bagaimana ia bisa bertahan hidup tanpa pengetahuan yang cukup tentang Zaman Modern, hanya bermodalkan energi tenaga dalam baru yang belum matang saja?
Saat sudah tak terhitung lagi sentuhan yang mengenai Arcel, tiba-tiba Chloe Hewitt memasuki ruang tamu dari bagian lain dalam penthouse dan berseru, “Arcel masih lemah, tolong jangan mengujinya terus, Pak Ketua!”
“Pak Ketua?” Arcel terperangah, mulutnya ternganga. “J-jadi yang sedang mengujiku ini adalah... Alistair Kane?!”
__ADS_1
Ilustrasi "Alistair Kane & Arcel Raine" oleh Andry Chang