
Margaret Griffons
Tak jadi mengantuk oleh pidato bertele-tele, Arcel Raine kini menyimak kata-kata Kepala Penjara Margaret Griffons berikutnya.
“Nah, kini perkenankan saya memperkenalkan para pejuang kebebasan, yaitu para tahanan dan narapidana yang sebentar lagi akan berjuang meraih kebebasan dan pengampunan kembali… atau setidaknya tetap bertahan hidup. Inilah mereka!”
Sambil menatap podium tahanan, Marge menyebutkan nama-nama para “pejuang kebebasan” satu per satu. Tentu saja yang ia sebut lebih dahulu adalah mereka yang kurang terkenal atau yang tidak dikenal oleh Arcel.
Baru di akhir nama-nama Cross, Faust, Onyx dan Arcel sendiri disebut. Nama Arcel disebut tanpa keterangan apa-apa. Mungkin identitasnya memang harus dirahasiakan atas permintaan pihak VOLSUNG, atau pengetahuan sejarah Everna Marge agak minim.
“Nah, rupanya ada kejutan dalam acara kali ini, para pemirsa sekalian. Di antara para tahanan ada seorang petarung legendaris. Dia adalah mantan juara MAUL, Martial Arts Ultimate League yang kabarnya telah mengundurkan diri dari dunia tarung profesional. Namun ternyata ia terlibat dalam pertarungan jalanan berdarah dan ditahan bersama keempat rekannya di penjara ini. Mari kita sambut juara tiga kali MAUL, Dean Vizier!”
Demi kesopanan dan karena terpaksa, Dean Vizier bangkit dan berdiri di posisi tempat duduknya di podium tahanan. Karena acara ini tertutup bagi para penonton yang hendak menyaksikan langsung, tak ada sorak-sorai, sambutan atau bahkan cemoohan untuk menyambut sang jawara legendaris.
Pasalnya, yang “meledak” pasti adalah dunia maya dan nyata di luar sana. Dan yang rugi adalah Dean Vizier sendiri, baik dari segi nama baiknya sendiri, reputasi keluarganya dan bisnisnya, yaitu Vizzy’s Pizza, restoran yang sedang dikembangkan menjadi sebuah waralaba.
Jadi, entah bagaimana pun mekanismenya nanti, Dean harus menang. Kalaupun tak jadi juara, setidaknya ia harus mendapat kebebasan dan pengampunan, demi pulihnya nama baiknya dan masa depan keluarganya.
Untuk tahu reaksi Dean, Arcel menoleh ke arah si pria rambut pirang dan melihat sorot mata dan ekspresi wajahnya terkesan nyalang. Ia jadi bagai serigala yang sanggup melibas apa pun, baik kawan maupun lawan demi nyawa dan kebebasannya sendiri.
Bisa jadi, bila perlu Dean Vizier akan melibas Arcel Raine, sang sahabat barunya sendiri.
__ADS_1
Selesai menyebutkan nama-nama para pejuang kebebasan, suara Kepala Penjara Marge kembali berkumandang. “Dengan adanya para pejuang kebebasan, tentunya harus ada pihak lain yang memegang kunci pintu-pintu menuju kebebasan tersebut.
Nah, berikut ini adalah keenam belas hakim yang akan menentukan apakah para penjang akan melewati tahap pertama menuju kebebasan atau tidak.”
Tak ayal, Arcel terperanjat. Tahap pertama? Batinnya. Jadi ada berapa tahap lagi hingga kebebasan dapat diraih? Berapa orang yang nantinya mendapatkan kebebasan? Apa kami harus melawan sesama tahanan dan narapidana juga? Menghakimi sesama?
Bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam benak Arcel itu dengan penjelasan, Margaret terus saja bicara, menyebutkan nama-nama para hakim sambil yang namanya disebut tampil satu per satu dari latar belakang arena. Arcel hanya mengenali satu atau dua di antara nama-nama itu dan pernah melihat segelintir dari mereka, walau hanya sekilas saja.
“Phantomime, pendekar super dari Arcadia!”
Seorang pria bertubuh jangkung nan langsing, mengenakan topi fedora hitam dan baju lengan panjang bergaris-garis hitam-putih horisontal dan celana terusan berwarna hitam.
Di bawah sorotan banyak lampu, kali ini tampak jelas wajah Phantomime putih pucat permanen, bukan karena dicat. Bibirnya yang tipis dan hitam legam mungkin juga permanen akibat reaksi kimiawi. Tampangnya jadi lebih mirip mayat hidup ketimbang manusia.
“Nekho, petarung merangkap pembunuh gelap dari Mish’ra!”
Uniknya, seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki terbungkus rapat dengan topeng dan baju-celana terusan berbahan sejenis spandex papirus merah darah, dihiasi belang-belang hitam berbentuk rumit seperti huruf-huruf kaligrafi atau hiroglif ala Mish’ra.
Lalu, masuklah pula seorang pendekar tangguh lain. “Inilah Khaos de Klown, petarung asal Archelia yang seperti halnya Dean Vizier, pernah malang-melintang di Turnamen MAUL. Namun, ‘kegilaan’-nya membuatnya jadi tak terduga.”
Penampilan badut yang satu ini tak kalah aneh dengan kedua petarung lainnya, Phantomime dan Nekho. Warna dasar kostumnya biru, dengan pola-pola merah yang melingkar-lingkar, memberi efek mental pada lawannya.
Tiba-tiba, suara napas tertahan membuat Arcel terkesiap. Ia menoleh dan melihat Dean pasang wajah amat tegang dengan mata melotot.
__ADS_1
Didorong pengalaman, Arcel tak lantas bertanya pada Dean perihal reaksinya itu. Ia hanya pasang telinga saja mendengar suara Dean yang berdesis. “Kembalikan nyawa Alain Carter, Khaos! Dasar bedebah jahanam...!”
Lagi-lagi ingatan Arcel tergelitik. Carter, Carter... Bukankah istri Dean bernama Melinda Carter-Vizier? Mungkin sekali orang yang dibunuh Khaos punya hubungan dekat dengan Melinda. Pantas saja Dean sebegitu dendamnya. Kita lihat saja, apakah Dean akan berkesempatan balas dendam di ajang ini? Bilamana ya, bagaimana ia akan menindaklanjuti kesempatan itu?
“Dan akhirnya, dua ‘hakim agung’, Garth dan Karl Hauser!”
Seruan Marge seketika mengalihkan perhatian Arcel dari Dean ke arah pintu masuk arena. Benar saja, Arcel langsung mengenali kedua pria tinggi-besar, amat kekar dan bertelanjang dada itu. Merekalah yang berdiri di sisi kiri dan kanan Dominion, Ketua Sindikat di anjungan istimewa tadi.
Walaupun wajah keduanya mirip layaknya saudara kembar, Garth berambut hitam, panjang dan berombak, sedangkan Karl berambut pirang, pendek dan tegak. Ekspresi wajah mereka berdua kaku dan datar, seolah-olah Hauser Bersaudara bukan manusia, melainkan semacam android atau mesin pembunuh.
“Baiklah, karena semua pencari dan penentu kebebasan telah tampil, langsung saja saya memberitahukan tentang tahap-tahap yang harus ditempuh menuju kebebasan. Tak ada jalan pintas, yang ada hanyalah keberuntungan. Bila anda beruntung, anda bisa saja melenggang melewatisatu tahap tanpa bertarung. Namun, bila seorang pencari kebebasan tiba di babak terakhir, sudah pasti ia harus menghadapi petarung terkuat, entah dia dari pihak hakim atau sesama pejuang kebebasan pula.”
Salah seorang pejuang kebebasan angkat bicara, “Jadi, demi kebebasan, kami harus siap menjegal, mengkhianati bahkan kalau perlu membunuh teman sendiri?”
“Tentu saja!” jawab Margaret Griffons tegas. “Itulah hukum keras yang berlaku di dunia hitam, dunia penuh kejahatan tempat kalian malang-melintang, bukan?”
Si penanya seketika bungkam. Mungkin ia baru sadar, tadi ia hampir saja kehilangan kesempatan untuk meraih kebebasan, bahkan bisa jadi hampir kehilangan nyawanya sendiri.
Mengamati hal itu, Arcel teringat banyak hal di masa asalnya, di mana kata-kata penguasa tak terbantahkan oleh rakyat jelata. Hanya Senat yang terdiri dari para wakil rakyat yang boleh – dengan banyak batasan – mendebat penguasa. Itu pun kalau fungsinya dapat dijalankan lewat sistem yang sempurna. Rupanya ada unsur-unsur otoriter semacam itu yang masih berlaku di tempat-tempat tertentu, termasuk di sini, di Zaman Modern ini.
Tak berlama-lama lagi, Kepala Penjara mengerahkan suaranya yang paling lantang. “Baiklah, berikut ini adalah sistem kompetisi dalam ‘turnamen’ ini. Di babak pertama, yaitu babak penyisihan, para pejuang kebebasan melawan hakim masing-masing yang ditentukan menurut bobot kejahatan dan hukuman mereka.”
Karena tak ada penjelasan lebih lanjut dari Marge, Singh jadi yang memberitahu Arcel dan Dean. “Itu berarti tak peduli sebesar apa pun kekuatan mereka, para narapidana dengan hukuman paling berat harus menghadapi hakim-hakim terkuat, sedangkan para tersangka seperti kalian akan kebagian hakim-hakim yang tak terlalu terkenal.”
__ADS_1
“Mungkin kami bisa disebut beruntung,” tanggap Arcel tanpa mengubah ekspresi wajahnya. “Tapi aku sendiri tak berminat meremehkan siapa pun, mengingat masih terlalu banyak hal yang belum kukenal dan kupahami di zaman ini. Jadi, aku akan tetap berusaha sebaik mungkin dan jangan sampai memprovokasi Sindikat terlalu jauh sebelum saatnya tepat.”
Dengan demikian, penjelasan lebih lanjut untuk babak-babak perempat final, semi final dan final tidak diperlukan lagi.