EVERNA Arcel Raine

EVERNA Arcel Raine
Lapangan Merah Darah


__ADS_3

Tertinggal di paling belakang, Arcel Raine sudah sibuk lagi menghalau gerombolan pembunuh yang menyerangnya.


Para pembunuh bayaran itu tak peduli apakah Arcel sudah masuk alam Daftar Hitam Sindikat karena membantu para excommunicado atau belum. Yang pasti, siapapun menghalangi mereka, pasti akan mereka terabas tanpa pandang bulu.


Itulah perbedaan mencolok antara pendekar kelas keroco dan pendekar kelas tinggi.


Ironisnya, pemikir kelas keroco malah jauh lebih banyak daripada lima jagoan yang cenderung tahu dan mengincar para excommunicado, sasaran utama mereka saja. Akibatnya, Arcel jadi tertahan di belakang, di tengah keroyokan puluhan orang.


“Gawat! Kalau begini terus, saat aku menyusul aku pasti sudah terlambat! Aku tak boleh mengecewakan Dean, Cross, Onyx dan Faust! Kehilangan Toxin saja sudah menyakitkan!” batin Arcel.


Namun, dilihat dari sisi positifnya, Arcel tahu bahwa tak ada yang menggunakan senjata api di antara para pembunuh itu. Dari apa yang ia pelajari selama pelatihan, Arcel menyimpulkan bahwa para pembunuh bayaran tidak mau meninggalkan barang bukti berupa selongsong peluru, shuriken, pisau lempar, anak panah atau senjata proyektil sejenis.


Tak heran di zaman modern ini para pendekar atau petarung jalanan malah merajalela. Hanya polisi atau penegak hukum saja yang menggunakan senjata api, itupun ditembakkan sebagai jalan terakhir sesuai protokol yang berlaku.


Untunglah ada bantuan yang datang di saat yang tepat. Chloe Hewitt bergabung membantu Arcel, sehingga keduanya berhasil menerobos kepungan musuh. Kini mereka lari untuk membantu “teman-teman baru” Arcel.


“Kau sudah terlalu lama di dalam, jadi aku berinisiatif untuk masuk dan menjemputmu. Ada kerumunan orang di dekat pintu lorong pintu belakang, membicarakan pertarungan yang tengah berlangsung di belakang gedung. Aku menyelinap masuk dan lalu melihat dirimu,” kata Chloe. “Tidakkah sebaiknya kita kembali ke markas saja? Tugasmu mendapatkan informasi dari Dean Vizier sudah tuntas, bukan?”


“Ya, tapi kini Dean dan Bloodfeast sedang dalam kesulitan besar!” sergah Arcel. “Kalau kita tak membantu mereka, bisa jadi informasi yang kita dapat akan sia-sia saja!”


“Ketua Alis... Zeus selalu berpesan, usahakan VOLSUNG tidak terlibat dalam pergolakan apapun dalam Dunia Hitam, baik di Centronia atau di manapun juga di dunia. Kita adalah penegak hukum, keadilan dan kebenaran.”


“Tapi bila kita menjalankan informasi Dean Vizier, bukankah kita sama saja sudah ikut campur dalam pergolakan Dunia Hitam? Lagipula Bloodfeast hendak minta perlindungan dari VOLSUNG, apa Agensi sudah berniat untuk menolak permintaan itu? Mereka sudah percaya padaku, pada VOLSUNG! Aku tak boleh membuat mereka kecewa pada kita!”


“Aku tak tahu niat Zeus, Artemis dan para petinggi lain. Cara kerja kita bukan terang-terangan, melainkan dengan misi rahasia. Hilangkan kata ‘rahasia’, dan itu berarti kitalah yang menabuh genderang perang dengan Sindikat pembunuh bayaran. Dan itu semua gara-gara ulah para excommunicado, Kelompok Bloodfeast itu! Ayo Arcel, kita sudahi saja misi ini dan kembali ke markas!”


“Tidak!” Nada suara Arcel mendadak jadi emosional. Lalu ia melampiaskannya pada salah seorang pembunuh, merobohkan wanita malang itu seketika dengan satu tinju. “Aku melakukan ini sebagai seorang pendekar! Aku sadar dengan apa yang kulakukan dan segala akibatnya, jadi jangan halangi aku!”

__ADS_1


Hardikan Arcel yang tak disangka-sangka itu melukai hati si gadis berambut hijau itu. Mungkin suatu hari nanti Chloe mampu memahami sifat temperamental Arcel yang sewaktu-waktu bisa kambuh di saat-saat yang kurang tepat. Tapi untuk sekarang, Chloe hanya bisa kesal sendiri dan terus bertarung membantu rekannya, menuruti tuntutan profesinya.


Kedua agen VOLSUNG itu lantas terus berlari. Untuk tahu ke mana “teman-teman baru” mereka pergi, mereka hanya perlu mengikuti jejak pengrusakan, kematian dan darah yang tertinggal dari bekas pertarungan-sambil-lari yang terjadi sejak tadi.


Beberapa saat kemudian, Arcel terkesiap. Ternyata Dean dan para pendekar Bloodfeast tak berhasil melarikan diri dan lolos sepenuhnya dari kejaran. Mereka tertahan di satu tempat, yaitu sebuah lapangan kosong di antara kerumunan gedung bertingkat. Bagian tengah lapangan itu cukup lapang sehingga dicat dan lalu dijadikan lapangan bola basket yang penuh, bukan satu sisi atau separuh saja.


Biasanya, tim-tim basket jalanan memakai lapangan untuk latihan atau menggelar pertandingan bola basket jalanan, yang ilegal karena kerap jadi ajang taruhan.


Tapi kali ini yang terjadi adalah pertarungan, atau lebih tepatnya adalah pertempuran. Empat pendekar, yaitu Dean Vizier, Cross, Onyx dan Faust tengah dikeroyok oleh sedikitnya lima puluh orang yang kebanyakan bersenjata. Dengan formasi cukup rapi, mereka menyebar ke empat arah dan melawan “jatah” lawan masing-masing, yaitu sekelompok pembunuh dan satu jagoan.


Dengan amat piawai, Faust mengayunkan rantai panjang yang dipasangi pemberat di kedua ujungnya. Rantai bermuatan energi Bola Arwah Kegelapan itu menyapu ganas ke semua musuh yang dilandanya.


Musuh yang terkena telak dan memiliki aura pelindung pas-pasan hampir pasti tewas dengan tulang remuk. Hanya para pendekar yang cukup tangguh saja yang mampu menghindar atau terluka ringan saja. Phantomime yang menghadapi Faust masuk dalam kategori terakhir. Gerakan tubuhnya terlalu lentur, hingga sulit dipatuk oleh rantai Faust yang meliuk-liuk bagai ular.


Onyx melawan Ratfang dan kelompoknya. Ratfang, pria buruk rupa dengan wajah seperti tertindih dari atas dan bawah dengan ganas menyerang dengan cakar-cakarnya. Jurusnya, Wabah Tikus Hitam menyerang bagai badai hitam yang terpusat pada satu sasaran saja, yaitu si ninja wanita.


Sedangkan Dean Vizier bahu-membahu dengan Cross untuk melawan dua pendekar terkuat di pihak musuh, yaitu Khaos dan Nekho. Walaupun banyak pembunuh lain ikut campur, Dean dan Cross tetap dapat mengimbangi semua musuh.


“Cih! Dasar pengganggu!” cerca si bungkuk berwajah tikus tertindih. Ia lantas bangkit kembali dan balik menyerang Arcel, sementara para pembunuh lain tetap mengeroyok Onyx yang tak lagi terdesak.


Bedanya dengan Sand Jinx tadi, jurus Wabah Tikus Hitam lebih fokus mencecar tubuh Arcel. Arcel mencoba berkelit, namun dua cakar sudah terlebih dahulu menggores lengan dan rompi merahnya. Ia berteriak sekilas untuk menahan nyeri, lalu ia maju dan mencecar lawan lagi.


Kali ini, Arcel mencoba mengerahkan jurus yang cepat, yaitu dengan menembakkan beberapa Jarum Pelangi Ungu sekaligus.


“Huh! Serangan-serangan kecil itu tak berarti bagiku!” cerca Ratfang. Membuktikan kata-katanya, ia berhasil menghindar dan menangkisi jarum-jarum energi Arcel dengan cakarnya, sisanya dibiarkan menerpa tubuhnya bagai sedang kehujanan biasa saja.


“Serangan besar itu yang seperti ini!” Sambil mengatakannya, Ratfang menembakkan selarik besar Sinar Hitam Pelumat Sukma.

__ADS_1


Refleks, Arcel lagi-lagi meangkis dengan tenaga dalam yang dipusatkan seadanya di kedua lengannya bagai perisai. Gilanya, kali ini jurus yang sudah berkali-kali ia hadapi itu terasa lebih kuat daripada sebelumnya.


Kenyataannya, pertahanan ARcel yang kurang mantap hanya bisa meredam kira-kira dua per tiga daya sinar hitam, sisanya menghantam telak tubuhnya. Tak ayal, Arcel jadi terdorong jauh ke belakang, lalu tersuruk jatuh.


“Haha, matilah kau, pendekar setengah takar!” seru Ratfang sambil melesatkan cakar-cakar mautnya yang sarat energi wabah kegelapan ke arah jantung Arcel. Itulah jurus yang amat keji bernama Setan Lapar Merogoh Jantung.


Arcel sempat terkejut, wajahnya pucat-pasi karena ia tak sempat balas menyerang, apalagi menghindar dari maut. Satu jari telunjuknya secara refleks terulur, tapi cakar Ratfang pasti akan menghunjamnya lebih dahulu sebeluim sinar dahsyat terpancar dari jarinya.


Arcel telah mati langkah dan bakal mati sungguhan.


Anehnya, saat cakar maut tinggal sejengkal lagi dari leher Arcel, cakar itu terhenti di tempat. Terkejut, Arcel butuh waktu sesaat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Ternyata ada ujung bilah pedang jenis kodachi yang mencuat dari perut Ratfang. Lalu, tampak pula wajah bercadar Onyx yang berkata, “Ini pembalasan dendam untuk Toxin, bedebah.”


Sadar Ratfang tak langsung tewas karena tusukannya tidak mengenai organ vital, Onyx cepat-cepat mencabut kodachi, yang lebih pendek dari katana tapi lebih panjang dari belati wakizashi dari tubuh lawan dan bersalto ke belakang untuk menjauh.


Benar saja, Ratfang yang sekarat masih bisa mengamuk. “Menyebalkan! Biar kubawa serta kalian ke akhirat!” Sambil mengatakannya, ia memutar tubuh, hendak mencakar Arcel dan Onyx sekaligus dengan racun Hawa Penyakit Pes.


“Masih ada aku!” Sambil mengatakannya, Arcel mengulurkan jari telunjuknya dan menembakkan sinar Telunjuk Pelangi Jingga tepat menembus jantung Ratfang sampai lewat dari punggungnya.


Ratfang tetap berdiri di tempat, matanya terbelalak. Suara si pria pendek itu seperti tersedak. “Jurus itu... seperti pistol! I-ini tidak adil...!”


Bahkan di tarikan napas terakhir, Ratfang tetap saja mencari alasan. Padahal jurus-jurus kebanyakan pendekar yang mumpuni tak sedikit yang seperti tembakan pistol atau meriam, dan ia sendiri tadi menggunakan jurus yang bagai meriam pula. Sampai matipun ia akan selalu menyalahkan orang lain.


Arcel dan Onyx menatap hasil kerjasama mereka dan hanya mengangguk ke satu sama lain. Tak ada guratan ekspresi bangga di wajah keduanya, apalagi Arcel yang sudah menyingkirkan dua pendekar tangguh dalam semalam.


Itu pertanda bahwa jalan hidup seorang pendekar sungguh keras dan kelam, sama sekali tak dapat disamakan dengan orang normal dan kebanyakan. Makin kaya pengalaman, makin dalam pula dia terjerumus dalam kutukan, nuraninya terus dikikis dan disiksa rasa bersalah yang mendalam.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, hati nurani sang pendekar mati dan ia menjadi mesin pembunuh atau psikopat.


Haruskah Arcel jatuh dalam lubang tak berdasar yang sama?


__ADS_2