
note : bacanya coba sambil dengerin lagu Huh Gak - Cosmos :D
----------------------------------------
Gue kembali ke kehidupan gue yang semula, berusaha melupakan semuanya dan berusaha buat ceria seperti sebelumnya.
Bedanya kali ini gue gak kerja part time lagi, gue nurutin apa kata ayah dan ibu yang juga larang gue buat kerja saat beliau tau sebenarnya gue kerja part time di cafe. Hubungan gue sama Ryu juga kembali seperti semula begitu juga sama teman gue yang lain.
“Luna, baju lo mantap banget hari ini!” ucap Ryu
“gue congkel mata lo baru tau rasa!”
Untung ada mereka yang selalu buat gue tersenyum, mereka udah cukup buat menyingkirkan awan mendung di hati gue.
“lo beneran gak tau tempat ya. Ini tuh kantin omongan lo masih aja. Ugh!”
“sayangnya aku cemburu!” gue rasa dia salah minum obat. Lama gak ketemu pacar tuh kaya gini efeknya, kurang belayan dia!
Nonton bareng, makan bareng, jalan bareng. Akhirnya gue bisa lagi lakuin hal itu setelah sebelumnya gue gak sempat karena gue sibuk kerja, dan cuma bisa di waktu tertenu saja. tanpa sengaja gue liat iklan produk yang di bintangi member AXE, gue terdiam natap layar besar itu jujur gue kangen sama mereka.
Memang sih beberapa hari yang lalu Chen sempat nyuruh gue buat main ke dorm mereka, tapi gue bilang gue lagi sibuk ngerjain tugas. Luna megang pundak gue, dia pasti tau apa yang gue rasain.
“hey para gadis-gadis! ngapain masih di sana. Nanti restorannya penuh.” Ucap Dae Wong
Gue dan Luna langsung nyemperin ke empat sahabat terbaik gue “sabar kenapa sih? Kelaparan ya lo?” tanya Luna
“cewek tuh ya kalo jalan lama bener. Lirik sana lirik sini, ini lah kenapa gue gak mau nemenin cewek jalan keluar.” Ucap Sang Chul
“benar! Gue setuju! Apalagi kalo udah liat barang-barang yang euh!” Kang Min ikut nimbrung.
Mereka udah mulai debat, apalagi Luna orangnya cerewet dan gak mau kalah kalo dia udah merasa benar. “udah jalan aja. Itung-itung latihan buat nemenin istri kalian nanti.” Mending gue akhirin perdebatan daripada terus jadi bahan tatapan orang-orang lewat.
Selesai makan daging dengan segala keberisikan yang kami buat di dalam restoran, kami kembali kehabitat masing-masing dengan perut kenyang.
“Hye, lo bisa pulang sendiri kan?” tanya Luna tiba-tiba
“kenapa emang? Lo mau pergi kemana?”
“Hyun Jong maksa ngajak gue buat nganter dia.”
__ADS_1
“hati-hati, jangan-jangan lo mau di culik.”
“gak bakalan lah. Dia orangnya baik ko.”
“jadi lo sebenarnya gimana sih sama dia? lo suka sama dia?”
“gue gak tau, yang gue tau dia orangnya baik.” beberapa detik kemudia Luna melambaikan tangannya, gue bisa lihat Hyun Jong udah ada di pinggir jalan di samping mobilnya.
“maafin gue ya. Gue bakal beliin kue coklat yang lo suka!”
“gue gak maafin tapi gue gak nolak kue nya.” Gue senyum dan dia mukul lengan gue. setelah Luna pergi baru gue lanjutin jalan, sendirian tanpa teman.
Setelah jalan cukup jauh, gue bisa lihat titik-titik putih berjatuhan semakin lama semakin banyak, gue membuka telapak tangan dan berhenti berjalan merasakan dinginnya butiran salju yang turun.
“salju pertama.”
Gue senang, karena tahun ini gue bisa rasain salju pertama di luar rumah walaupun tanpa sahabat gue. ya meskipun gue gak tau dia nyesel apa enggaknya gak nikmatin salju pertama tanpa gue.
Baru beberapa langkah gue jalan lagi mata gue menangkap sosok yang gak pernah ingin gue lupain. Dia berdiri di depan gue dan pandangan kami saling bertemu. Gue nunduk dan nutup mata “enggak, ini cuma halusinasi, ini gara-gara gue lihat pasangan berkelian dan gue cuma sendiri. Tapi kenapa dia yang muncul? Hyerim sadar, Lo.Harus.Sadar!”
Gue buka mata lagi, mencoba mencari sosoknya lagi di depan tapi sosok itu menghilang. Tapi hati gue sakit saat mata gue gak bisa menemukan sosoknya lagi.
setelah berjalan lagi cukup lama, Gue pukul dada yang terasa sesak sejak tadi. gue terus berusaha buat menyangkal semuanya, tapi perasaan gue semakin tersiksa... Gue...! gue rindu dia!
Gue lari buat nyari dia, gue gak peduli orang yang gue tabrak. Gue cari ke setiap penjuru jalan, tapi hasilnya nihil. Napas gue terengah-engah, gue cari diantara orang-orang di sekitar gue,
‘kalaupun dia hanya halusinasi, aku mohon Tuhan ijinkan aku melihatnya lagi. Aku mohon!’
air mata gue tumpah, gue hanya berharap Tuhan mau mengabulkan keinginan gue di malam salju pertama ini. gue gak tau rasanya bakalan sesakit ini.
Entah berapa lama gue berdiri di taman ini, yang gue tau taman ini udah mulai sepi.
“lo mengharapkan yang gak bakalan mungkin terjadi.” Gue tersenyum miris “gue udah gila! Mimpi lo terlau tinggi!”
Perlahan gue balik, berharap dia ada di belakang gue tapi ternyata harapan tinggal harapan yang gue lihat cuma pohon yang daunnya udah mulai putih ketutup salju. Gue tau, ini pelajaran buat gue supaya gue gak pernah berharap lagi.
gue coba hubungi Luna, siapa tau dia udah ada di rumah.
“gue masih sama Hyun Jong. Kami lagi di cafe.” Jawab yang gue dapat gak sesuai lagi sama harapan gue
__ADS_1
“oh, ya udah. Kirain udah pulang.” Jawab gue lesu
“lo baik-baik aja kan? lo sekarang di mana?” dia emang teman paling peka, dari suara aja dia tau kalau gue lagi ada masalah.
“gue baik ko. Bentar lagi nyampe rumah. Gue tungu lo di rumah ya.”
“ok, gue udah beli kue nya nih. Jangan dulu tidur!”
Orang bilang kalau stres nafsu makan nambah, ada juga sebagian orang malah jadi males buat makan. Kalo gue kadang nambah kadang males. Tapi malam ini gue mau minum sepuasnya “kue dan soju sepertinya cocok.”
Kali ini gue gak tau halusinasi lagi atau enggak. Dia udah berdiri lagi di hadapan gue, tapi kali ini gue gak mau diambil hati, palingan halusinasi gue lagi seperti tadi, “pergi aja lah. Gue udah gak mood. Lo udah terlalu sering mempermainkan perasaan gue. gak nyata gak halusinasi sama aja.”
Gue balik arah pergi ke minimarket buat beli soju, tapi gue merasakan kehangatan dari punggung gue dan tangan kekar itu meluk gue dengan erat dari belakang. Gue terkejut dengan pelukan tiba-tiba ini,
‘ini bukan mimpi. Dia nyata.’ Tapi gue gak boleh kehilangan kesadaran.
bisa saja dia Ryu yang lagi jailin gue, gue bisa aja salah lihat kan?
“a-apa yang kau lakukan?” gue coba melepas pelukannya, tapi dia lebih kuat daripada gue.
"diam. aku mohon."
suara ini... ini bukan halusinasi, dia... nyata... Ya Tuhan gue beneran pengen nangis.
“Chan-ssi, bagaimana kalau ada orang yang lihat? tolong lepas!”
‘tolong katakan kata yang ingin gue dengar, katakan kalau kau lo punya perasaan yang sama.’
“aku menyukaimu.”
Satu kalimat yang bikin tangan gue lemah buat berontak dari pelukan dia, satu kalimat yang buat air mata gue ngalir, satu kalimat yang buat gue yakin kalau gue gak memiliki perasaan ini seorang diri.
“aku mencintaimu.” Satu kalimat lagi yang buat gue merasa kalau gue adalah orang paling bahagia di dunia ini. tangis gue pecah.
Chan melepaskan pelukannya, dia membalikan tubuh gue hingga kami bisa saling berhadapan.
“katakan sekali lagi! Sekali lagi!” suara gue bergetar nahan tangis.
"aku mohon katakan sekali lagi, aku takut ini hanya mimpi, aku takut ini hanya kesalahan pendengaranku aku mohon... katakan sekali lagi..."
__ADS_1
“aku mencintaimu, aku menyukaimu.” Senyum hangat dan tulus itu terukir di wajah tampannya. Gue gak bisa gak meluk dia, kalau ini mimpi gue gak mau bangun. Gue lebih milih buat tidur selamanya.