
Hari ini entah kenapa tiba-tiba gue kangen banget masakan Indonesia tapi gue males masak, akirnya gue milih pergi ke restoran khas makanan Indonesia di antar supir.
Alhasil gue membawa pulang banyak makanan, akhir-akhir ini nafsu makan gue lagi nambah. Chan bilang pipi gue makin chuby, tapi mau gimana lagi? Gue gak bisa ngerem.
Triiing!
From: Luna
Wah daebak! MV kolaborasi suami lo sama dia udah tembus 10 juta aja dalam sehari.
Kening gue berkerut, kolaborasi Chan?
To: Luna
Maksud lo apaan? Chan gak pernah bilang dia mau kolaborasi sama gue.
From: Luna
Lo gak tau!!? Lo bener istrinya kan? Nih lo liat aja. Youtube.com/xxxx
Jangan stres ya lo liat komentar netizen!
Gue buka link yang dikirimin Luna! Asli gue gak tau apapun karena akhir-akhir ini gue jarang buka sosmed dan Chan gak pernah ngasih tau kalau dia mau kolab, yang gue tau dia sering ke agensi karena emang lagi siapin buat come back album terbarunya.
Dari gue liat judulnya aja bikin emosi gue lansung perlahan naik, pas liat MV emosi gue udah naik ke titik tengah, dan pas liat komentar netizen emosi gue langsung meledak.
Padahal sih gue harusnya biasa aja, Chan udah jadi suami gue semua orang udah tau tapi yang buat gue marah adalah kenapa mereka berkomentar seperti gak punya perasaan, Chan lebih pantas sama dia lah, dan bla bla bla. Belum lagi Chan bohong sama gue, udah tau gue ga suka sama cewek itu dan dia malah kolab tanpa bilang pula sama gue!
Selera makan gue hilang! Dan entah kenapa gue sensi banget akhir-akhir ini, padahal menstruasi gue udah selesai. Harusnya gue biasa aja, tapi gue gak bisa!
“Hye-ya! Aku pulang!”
Mendengar suara Chan gue langsung matiin ponsel dan pura-pura makan lagi. Begitu datang dia langsung duduk di kursih depan gue.
“bagaimana pipimu tidak makin chubby, makanmu saja sebanyak ini.”
“aku memang tambah gendut, kenapa? kau tidak suka?! Maaf saja, aku bukan idol seprtimu yang harus selalu jaga berat badan! Kalau aku ingin makan aku akan makan walaupun itu tengah malam! Kalau kau tidak suka cari saja yang lain!”
Chan melongo mendengar kalimat panjang gue dengan penuh emosi yang gue lontarkan.
“Hye aku hanya---“
Tanpa permisi gue langsung pergi ke kamar.
“Hye-ya!” terserah, gue gak mau denger! Dia pura-pura lupa atau apa, padahal gue dah bilang lagi sensi tapi malah ngomong kaya gitu, dasar gak peka!
Bahkan sampai 3 hari gue masih kesal sama dia, berbagai cara Chan lakukan buat meluluhkan emosi gue tapi gue tetap kesal. Bahkan dia masih belum bilang masalah colabnya tempo hari, gimana gue gak marah! Dan gue lebih banyak menghabiskan di kamar, bahkan makan pun gue lakukan di kamar kalau Chan ada di rumah.
__ADS_1
Jam 10 malam gue tiba-tiba lapar, stok makanan di kamar gue udah habis dan terpaksa gue turun. Gue lihat Chan lagi minum bir, merasakan kehadiran gue dia tersenyum dan menyembunyikan bir di balik punggungnya.
Pandangan gue tertuju pada hidung Chan yang mancung, entah kenapa gue greget banget belum lagi pipinya. Tiba-tiba aja gitu gue juga gak ngerti.
“Hye aku... aku sedang pusing jadi... aaaaawww!!!”
tanpa permisi gue langsung nyubit hidungnya dengan keras.
“hye lepas! hye!” chan berusaha melepaskan tangan gue dari hidungnya, begitu terlepas tangan gue langsung menangkup kedua pipinya, gue bisa lihat hidungnya benar-benar merah sorot matanya terlihat bingung, kesakitan dan ketakutan secara bersamaan. Gue langsung cubit kedua pipinya, lagi-lagi dia mengerang kesakitan.
“HYERIM APA YANG KAU LAKUKAN!!”
Tangan gue terlepas dari pipinya, ini pertama kalinya dia ngebentak gue dan rasanya sakit banget. Tiba-tiba gue nangis, padahal harusnya gue biasa aja tapi ini rasanya sakit banget!
“Hye kau.... ya ampun maafkan aku. aku tidak bermaksud---“
Chan ingin menghapus air mata gue, tapi refleks gue tapis kedua tangannya.
“ada apa denganmu? Sejak hari itu kau tidak pernah bicara padaku, kau menghindariku bahkan kau menyuruhku tidur di kamar lain. Katakan biar aku tau diamana salahku! Jangan seperti ini!”
Tangisan gue makin menjadi, dasar gak peka!
“pergi dari rumah!”
Chan melongo, “mw-mwo? Kau menyuruhku pergi? Hye kau kenapa sebenarnya?”
Tanpa bicara lagi gue langsung pergi ke kamar dan mengunci pintunya, “dasar gak peka! Pembohong!”
Besoknya ibunya Chan datang ke rumah, sebenarnya gue gak enak banget minta di masakin bulgogi tapi gue pengen banget bulgogi buatan ibunya Chan.
“bisa jelaskan pada ibu apa yang terjadi? Semalam Chan datang dan bilang kau mengusirnya dari rumah.”
“dia berbohong! Dia bilang dia tidak akan kolaborasi dengan perempuan itu tapi buktinya? Dia bahkan tidak bilang padaku sampai sekarang. dia tau kalau aku cemburu dengan gadis itu tapi dia malah kolab dengannya. Dan lagi dia membentakku saat aku mencubit hidung dan pipinya, aku sangat ingin melakukannya tapi dia marah!”
Eommoni memperhatikan gue, kemudian tertawa kecil “aku tau itu salah Chan karena tidak memberitahumu, aku akan memberitahukannya nanti. Apa kau tidak sedang hamil?”
Gue tersedak, eommoni memberikan segelas air minum, “ha-hamil?”
“kau sama sepertiku dulu saat mengandung Chan.”
Gue raba perut gue, apa iya? “tapi menstruasiku baru saja selesai.”
__ADS_1
“bagaimana kalau kita periksa ke dokter? Ibu jadi penasaran.”
Selesai diperiksa gue bener-bener deg-degan, kalau iya gue hamil gue bakalan jadi seorang ibu.
Dokter datang membawa hasil tesnya, dokter itu tersenyum. “selamat, kandungan anda sudah berusia 5 minggu.”
Gue benar-benar gak nyangka, gue terharu gue bakalan jadi seorang ibu, “tapi aku baru saja selesai menstruasi.”
“adakalanya itu terjadi pada sebagian orang. Tapi itu tidak akan mempengaruhi kandunganmu. Sekali lagi selamat.”
Eommoni memeluk gue, air mata gue gak bisa ditahan. Bodoh banget gue gak tau apa-apa, gue elus perut datar gue “sehat terus ya sayang.”
Gue balik ke rumah sama ibu, gue lihat Chan sangat gelisah pasti ibu yang ngasih tau kalau gue ke rumah sakit.
“kau baik-baik saja kan? ibu katakan Hyerim kenapa?” benar-benar sangat panik.
“kau akan jadi seorang ayah.”
"ayah apanya ayah? ayah di rumahkan bu, aku tanya Hyerim kenapa--"
Chan terdiam, gue bisa lihat matanya mulai memerah dan linangan air mata itu menumpuk di pelupuk matanya.
“a-ayah?" ibu mengangguk "apa ibu serius? Ak-aku akan jadi seorang ayah?”
Eommoni mengangguk sambil tersenyum, Chan langsung meluk gue “terima kasih! Terima kasih! Maaf karena aku tidak tahu apaun, maafkan aku karena aku membentakmu kemarin, maafkan aku.”
Gue nangis lagi, “kenapa? apa ada yang sakit? Apa aku memelukmu terlalu erat?”
“itu karena kau tidak jujur padanya, kenapa kau tidak bilang tentang kolaborasimu itu hmm? Kau membuat cucu ibu jadi stres!”
“maafkan aku! aku mohon maafkan aku. aku tidak bermaksud membohongimu aku tidak bermaksud menyembunyikan hal itu darimu. Aku hanya takut kau marah karena aku tidak bisa menolak kolaborasi ini, aku tidak mau membuatmu terluka.”
“mendengar dari orang lain lebih menyakitkan kau tau! Harusnya kau jujur padaku. Dan maafkan aku untuk hidung dan pipimu.”
Chan meluk gue lagi, “kau boleh mencubitnya tapi jangan seperti kemarin. Itu sangat sakit. Kau tidak marah lagi padaku kan?”
Gue ngangguk dalam pelukannya, “syukurlah.”
Chanl berjongkok sehingga ia bisa sejajar dengan perut gue, “sayang, maafkan ayah. Jangan marah lagi ok? Mulai hari ini ayah akan menjagamu dengan baik.”
ia mengusap lembut perut gue “sehat terus ya sayang. Jangan menyusahkan ibumu hmm?” tanpa ragu Chan mengecup perut gue, sedangkan gue malu tingkat dewa di depan ibunya Chan.
__ADS_1