Falling For You

Falling For You
Ep 3. Perhatian


__ADS_3

Seperti perintah tuan besar gue pagi-pagi sekali datang ke asrama, gue masak sup rumput laut walaupun memang gak ada yang ulang tahun karena di Korea sup rumput laut biasanya disajikan saat ada kerabat, keluarga, atau teman yang berulang tahun. “selesai.” Gue taruh sup rumput laut di meja makan,


“waaah, baunya enak sekali”


gue balik badan dan Bekkie sudah berdiri di belakang gue, wajah cerianya bikin gue pengen senyum selebar-lebarnya, senyumnya nular ih 😍 gue pegang dada gue yang udah jelas gak pernah bisa normal kalo lagi deket sama mereka, ini memang sudah lebih dari seminggu lebih tapi jantung gue masih gak bisa diajak kompromi,


“aku mengagetkanmu ya?” tanya Bekkie


“tidak, hanya aku tidak mendengar kalian datang!”


“jelas saja kau tidak dengar, telingamu saja di sumbat bagaimana bisa dengar!” ucap Chan, memang benar gue lagi dengerin musik, tapi gak haru gitu juga kan? 😑 gue sumpal pake cabe baru tau rasa, tapi tetep aja gue gak nyesel dia jadi suami online gue, malah gue makin cinta karena menurut gue makin hati dia makin tampan 😍 .


“kau masak apa?” tanya Seho


“sup rumput laut dan yang lainnya.”


“ini kan bukan hari ulang tahun siapa-siapa!” ucapnya


“sebagai ucapan selamat datang?” Seho tersenyum begitu juga yang lainnya, pagi ini indah banget buat gue, memang bener ya setelah hujan pasti ada pelangi, gula darah gue nambah lagi ini mah!


“aku sudah sangat lapar!” ucap Xi


“aku juga, aku juga!” ucap Kei


“lebih baik kita ganti baju dulu, membersihkan diri baru kita sarapan!” mereka mematuhi ucapan sang leader, satu persatu mulai pergi dari dapur tapi orang paling jangkung diantara mereka masih berdiri menatap gue dengan tatapan yang entah bagaimana gue jelasinnya gue gak tau,


“ada apa?” bukannya jawab dia langsung pergi. Gini ya rasanya di kacangin? nyesek.


Di ruang makan kini menjadi ramai “waaaaah!! Ini benar-benar enak! Hyerim kau benar-benar jago masak!” ucap Chen, Bekkie ikut mengiyakan ucapannya.


“syukurlah kalau kalian menyukainya.” gue tersipu malu mendengar pujian mereka, i'm fly~


“ini masih kurang!” lagi-lagi perkataan Chan membuat kebahagiaan gue hilang. pinter banget dia bikin gue kesal.


“tapi tetap saja kau makan banyak dan lahap hyung!” ucap Shen, gue senyum lagi mendengar ucapan Shen.


Chan berdehem canggung “jangan puji dia, nanti dia besar kepala!” sebenci itu kah dia sama gue Tuhan 😭


“bilang saja kau iri padanya” ucap Xi


“masakannya enak. Aku mengakuimu!” ucap Kyung ya ampun, gue berasa jadi koki kelas dunia mendengar pengakuan Kyung, gue bisa membanggakan diri karena banyak yang ngebela gue dari pada dia 😎


“sudah tenang, sekarang nikmati saja sarapannya.” Ucap Seho,


Gue benar-benar senang mereka makan dengan lahap dan mereka mengakui masakan gue enak, gomawoyo eomma sudah mengajarkan putrimu ini masak makanan Korea.


“Hyerim, karena kemarin kau sudah membereskan asrama, jadi kau bisa pulang lebih cepat.” ucap Seho


“tidak bisa!” ucapan Chan membuat senyum gue tenggelam, semua mata menatap kepadanya

__ADS_1


“wae?” tanya Seho


“bukankah Hyerim masih harus mencuci pakaian kita. Jadi kau boleh pergi setelah kau mencuci menjemur dan menyetrika pakaian kami.”


“bukankah itu bisa besok?” ucap Seho


“aku ingin sekarang! lagi pula bukannya akan bertambah banyak kalau ditunda, jadi sekarang saja!”


Apa segitu dendamnya kah dia sama gue? Gue bener-bener gak nyangka sifat aslinya begini, gue saranin mending kalian ganti bias aja, tapi gue sendiri gak bisa ganti bias dia udah tertancap sempurna di hati gue. ini kah rasanya cinta... oh ini kah cinta... jangan nyanyi!!


“Aku hanya membantumu saja. aku meringankannya, iya kan?” Chan mengerluarkan evil smriknya, gue senyumin ajalah biar dia senang, 😊😧


“Hyerim jika kau keberatan kau bisa lakukan besok saja. hari ini tugasmu sudah cukup, kau bahkan datang pagi sekali untuk menyiapkan sarapan.” Ucap Bekki


“tidak apa-apa, ini kan pekerjaanku. Aku harus menyelesaikannya. Dan perkataannya ada benarnya juga.” Chan menggerakkan telunjukknya isyarat bahwa perkataanya benar.


“kalau begitu biar aku saja yang mencuci piring.” Ucap Kyung


“biar aku saja, kalian pasti cape istirahat saja!”


“tidak papa, kau pergi saja mencuci pakaian.”


“aku akan membantumu hyung.” Ucap Shen.


Malaikat yang sesungguhnya 😍


Akhirnya gue berakhir di atap dengan setumpuk baju para cogan, matahari memang sudah menampakan dirinya tapi tetep aja suhunya masih kerasa dingin banget, rasanya ada penghalang yang menghalangi kehangatan sinar matahari itu untuk masuk ke bumi. “gue paling benci musim dingin, hidung gue pasti perih lagi kalo napas.”


“hey!”


“astaga!! kau mengagetkanku.” Gue lihat Chan gak bereaksi


“aku sudah menjemur semuanya, apa ada yang haru aku kerjakan lagi?”


Chan melangkah maju otomatis gue jalan mundur “a-ada apa?” gue rasa jantung gue mau copot beneran, lo bakalan sama kaya gue kan kalo cowok ganteng macem dia tiba-tiba deketin lo?


“diamlah!” gue turutin perintah Chan, perlahan tangan dia melilitkan syal di leher gue, dan itu sukses buat gue gak bisa bereaksi, gue sesek nafas, gue berasa di dalam freezer gue beku.


“cuaca semakin dingin, jangan sampai sakit.” Mendengar Chan bicara gak seperti biasanya bikin jantung gue berdetak gak normal gue gak bakalan mati di tempat kan? gue masih pengen hidup!


Gue pegang syal yang kini menutupi leher gue “ini... untukku?”


“kalau untuk orang lain aku tidak akan memakaikanya padamu.”


“kenapa?” iya kenapa? Kenapa lo tiba-tiba baik tiba-tiba perhatian setelah tadi lo bikin gue kesel.


“kalau kau sakit, siapa yang akan membersihkan rumah?!” Chan malah pergi ninggalin gue setelah mengeluarkan kalimat itu, apa-apaan ini? kenapa gue ngerasa dia ngasih harapan buat gue? tiba-tiba kok jadi gerah ya? apa tiba-tiba matahari jadi semakin mendekati bumi? tapi.. Salah gak sih gue mikir kaya gitu, berpikir kalau Chan ngasih gue garapan meskipun kemungkinannya kecil segede biji wijen?


Balik dari atap gue papasan sama Bekkie di tangga “Hyerim bisa tolong buatkan teh madu hangat? Aku rasa badanku mulai tidak enak.”

__ADS_1


Gue ngangguk “aku akan mengantarkannya ke kamarmu nanti.”


Gue anterin teh madu ke kamar Bekkie, “mana untukku?” tanya Chan


“kau tidak memintanya, jadi aku hanya membuat satu.”


“ya! kau seharusnya membuat untukku juga, kau tau di dalam satu kamar itu ada 2 orang. Kau harus adil.”


“bagaimana aku tau dia mau atau tidak?” Bekkie menatap kedua orang yang sedang berdebat dihadapannya ini


“ya pokoknya kau buatkan saja, masalah mau atau tidaknya ya gimana nanti!”


“kalau dia tidak mau?”


“ya kau bisa berikan pada yang lain.”


“kalau yang lain tidak mau juga?”


“kau saja yang meminumnya!”


“kalau aku tidak mau?”


“ya buang saja gampang!”


gue bener-bener kesel, tapi gue musti tetep sabar dia majikan gue. “jadi kau mau aku buatkan atau tidak?”


“tidak usah. Telat!” gue pengen banget mukul wajah tampannya, udah tadi debat ujung-ujungnya tetep gak mau. Mancing banget emosi. Mama Park... anda ngidam apa sih pas lagi hamil dia? 😔


**


Setelah Hyerim keluar, Bekkie mendekati Chan


“Chan?”


Chan menatap Bekkie


“kau menyukai Hyerim?”


Chan yang sedang bermain game menghentikan aktivitasnya “apa yang kau bicarakan?”


“aku melihat syal yang kau beli di NY di pakai Hyerim. Itu syal benar darimu kan?”


“kalau iya memangnya kenapa?” Chan berusaha tetap tenang


“kau menyukainya kan? biasanya kau tidak sebaik itu pada pekerja di asrama kita.”


“aku hanya takut dia sakit, kalau dia sakit siapa yang akan mengurus kita. Tidak ada yang spesial.”


“benarkah?” tanya Bekkie penuh selidik “aku bukan hanya sekali memergokimu memperhatikan Hyerim.”

__ADS_1


“terserah kau saja. jangan menggangguku.”


__ADS_2