
Gue berlari ke arah pintu, berusaha membukanya tapi tetap tidak terbuka, “Chan, Luna tolong aku! Chan--- Aaaaaaaaaahhh!!!!!”
gue masih bisa menghindar dan gue kembali menaiki tangga, langkah kaki gue semakin melambat, kaki gue udah lemas buat berlari lagi tapi gue gak tau harus pergi kemana lagi di dalam rumah ini...
bugh
tanpa sadar sesuatu mengenai kepala gue. pandangan gue buram, kepala gue pusing rasanya juga sakit dibagian belakang dan akhirnya gue terjatuh di tangga.
Tangan Hyerim memegang leher gue dan menekannya dengan keras membuat gue sesak nafas! ‘Chan!’ pisau di tangan yang satunya lagi sudah ada di atas gue, hidup gue berakhir sampai di sini, nafas gue tersenggal-senggal semua yang gue lihat mulai jadi hitam!
gue bisa mendengar derap langkah kaki yang menaiki tangga, “aaarrrgghh!” Hyerim tiba-tiba berteriak kesakitan, tubuhnya berguling menuruni tangga
“Hyerim kau bisa dengar aku? Hyerim sadarlah! buka matamu!”
Gue terbatuk-batuk karena hampir kehabisan oksigen, ”syukurlah... ayo kita pergi!” Chan membantu gue berdiri.
“Hyerin, bagaimana Hyerin?”
“Luna sedang mengeluarkan Hyerin, sekarang jangan pikirkan itu kita keluar--.”
saat hampir mendekati pintu, “Chan oppa awas!!!”
Teriakan Luna membuat gue berbalik dan tepat saat itu juga Hyerim memukul bagian belakang kepala Chan dengan keras. Melihat Chan ambruk dunia gue rasanya hancur,
tubuh gue merosot ke lantai sambil berusaha menahan tubuh Chan yang lemah tak bertenaga, gue melihat darah segar mengalir dari kepalanya, “Cha-Chan, Chan ireona! Chan ireona!!!”
“sekarang giliranmu!” tongkat itu kembali terangkat dengan tinggi bersiap untuk memukul kepala gue, gue udah pasrah sama hidup gue, gak papa gue mati asal dia jangan nyakitin orang-orang yang gue sayangi.
Teriakan Luna mungkin akan gue dengar untuk yang terakhir kalinya. Gue pun memeluk Chan yang kini tak sadarkan diri di tangan gue. 'Ya Tuhan selamatkan hidup Chan. Aku mohon...'
Praaaang!!!
Tongkat itu terjatuh begitu pula tubuh Hyerim yang ikut ambruk, Hyerin terlihat gemetar dengan pecahan vas bunga di tangannya. Hyerin kemudian terduduk tak lama kemudian dia menangis.
“Chan ireona! Kau dengar aku kan? Chan ireona, aku baik-baik saja jadi kau harus bangun! Chaaaaaannn!”
Chan di turunkan dari ambulance langsung di bawa ke ruang operasi, “ini salah gue! Chan terluka gara-gara gue!”
“Hye kepala lo terluka, lo harus di obati.”
“enggak, sebelum Chan sadar gue gak mau pergi dari sini.”
__ADS_1
menunggu cukup lama di depan ruang operasi, gue bisa dengar suara langkah kaki mendekat, member AXE datang dan itu buat tangisan gue pecah lagi. Seho mendekat dan meluk gue.
“oppa ini salahku! Ini salahku Chan—“
“bukan, ini bukan salahmu! Jangan menyalahkan diri sendiri!” Seho mengusap kepala gue agar gue tenang,
“Chan akan baik-baik saja! percayalah.” Gue nangis sesegukan dalam pelukan Seho.
“Hyerim kepalamu?” Seho melihat tangannya yang berdarah
“kau harus diobati, bagaimana kalau kau kehabisan darah!” ucap Bekkie
“aku tidak mau pergi sebelum Chan keluar. Aku—“ pengelihatan gue mulai menghitam, tubuh gue rasanya lemas,
dan kepala gue mulai berdenyut terasa sakit. Batin gue benar-benar lelah.
“Hyerim, sadarlah! HYERIM!” perlahan suara Seho mulai tidak terdengar dan gue gak ingat apapun.
**
Perlahan mata gue terbuka, orang yang pertama kali gue lihat adalah ibu. “kau sudah sadar?” dan hal pertama yang gue ingat adalah Chan.
“Chan! Chan dia—dia bagaimana?”
Gue ngerasa lega karena operasinya berjalan lancar, tapi gue gak bisa tenang sebelum Chan bangun. Ibu meluk gue “maafkan ibu. Karena ibu kau dan Chan seperti ini. maafkan ibu!”
Gue nangis sesegukan di pelukannya, “ini salahku ibu, harusnya dia tidak bersamaku harusnya aku tidak menerimanya—“
“ini salah ibu, ibu yang salah. ibu tidak memberitahumu dengan cepat. kau harus terluka karena ibu Chan juga terluka karena ibu, jangan menyalahkan dirimu.”
“ini semua salah ibu, harusnya ibu tidak bersamanya harusnya ibu memikirkan perasaanmu harusnya ibu tetap memilih bersama ayahmu tapi ibu malah memilih orang lain, maafkan ibu maafkan ibu sayang.”
‘kenapa harus aku? kenapa harus Chan? Kenapa takdir berubah seperti ini. ini benar-benar menyakitkan.’
Saat ibu tidak ada, gue beraniin diri buat lihat Chan di ruangannya, body guard sama sekali gak menghalangi gue, Tapi langkah gue terhenti di depan pintu masuk, tangisan gak bisa gue tahan melihat ayah, ibu dan kakak Chan benar-benar terluka, apalagi Nyonya Park yang terus menangis di pelukan suaminya, Yona eonni yang duduk di disamping ranjang Chan juga terlihat menangis.
Perlahan langkah gue mundur, gue gak berani bertemu dengan mereka, rasa bersalah ini begitu besar gue mending pergi, “ini semua salah gue!”
**
“sayang ayo makan!”
__ADS_1
Ibu berusaha nyuapin gue, tapi gue sama sekali gak selera buat makan apapun!
“kau harus minum obat! Jadi ayo makan dulu!”
“aku tidak mau!”
“Chan akan sembuh jika kau juga sembuh. Dia tidak akan suka jika kau seperti ini. dan ibu mohon! Jangan membuat ibu lebih terluka.” Melihat ibu menangis lagi membuat gue sakit, akhirnya gue nyerah dan nurut buat makan.
Tak lama Bekkie datang “Chan sudah sadar. Dan dia menanyakanmu.”
Gue hampir bangkit dari ranjang, tapi gue urungkan niat buat nemuin dia. mengingat kesedihan keluarganya gara-gara gue, gue gak punya keberanian untuk bertemu dengan mereka.
“kanapa Hye? Kau mau menemuinya kan? dia bahkan berusaha pergi buat datang ke kamarmu, tapi kami melarangnya.”
Perkataan Bekkie membuat gue tambah sedih tambah terluka, “tapi oppa, kepalaku masih pusing. Jadi aku tidak bisa menemuinya sekarang. katakan padanya kalau aku sangat senang karena dia sudah sadar, dan jangan memaksakan dirinya untuk bertemu denganku saat ini.”
“baiklah, aku akan menyampaikan pesanmu.”
Harusnya gue punya keberanian, harusnya gue minta maaf secara langsung, tapi gue gak berani bertemu dengannya, karena gue dia terluka. Seharusnya waktu itu gue gak usah nerima perasaan dia, andai gue bisa putar ulang waktu. Mungkin sekarang dia baik-baik saja. “maafkan aku Chan!”
Paman Lim datang menemui gue di rumah sakit, dia minta maaf atas perbuatan purinya.
“harusnya paman jadi ayah yang baik untuk Hyerim dan Hyerin. mereka tidak akan seperti itu kalau paman menjadi sosok ayah yang baik. ibuku tidak ditakdirkan untuk paman jadi jangan dekati ibuku lagi. Jangan pernah muncul lagi dihadapanku atau ibuku. Karena sampai kapan pun aku tidak akan merestui hubungan kalian.”
“jika itu keinginanmu aku akan lakukan. sekali lagi aku minta maaf. Maafkan juga putriku Hye-ya.”
“aku akan memaafkan paman kalau paman berjanji tidak akan menemui dan tidak akan pernah berkomunikasi dengan ibuku lagi.”
Ibu menyentuh tangan gue, sebenarnya gue terluka karena kenyataannya orang tua gue bercerai karena ibu lebih memilih paman Lim dari pada ayah yang sampai sekarang masih mencintai ibu dan selalu menghkawatirkannya.
“maafkan aku bu. Tapi aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa setuju jika ibu bersama pria seperti itu.”
“ibu akan turuti keinginanmu, ibu tau ibu yang salah. ibu tidak akan bertemu lagi dengannya ibu tidak akan berkomunikasi dengannya ibu janji.”
‘maafkan aku ibu, tapi aku benar-benar tidak bisa menerima dia untuk menjadi ayahku’
“jika ibu ingin marah padaku maka ibu bisa marah sepuas ibu, aku tau keputusanku memberatkan ibu, aku tidak akan menyalahkan ibu jika ibu benar-benar membenciku.”
“tidak sayang, tidak! Ibu tidak membencimu, ibu tidak akan pernah marah padamu, tidak akan. Karena hal ini orang yang kau cintai terluka dan itu sudah cukup untuk membuat ibu sadar kalau semuanya harus sampai di sini, dia bilang putri dan mantan istrinya akan baik-baik saja, dia bilang dia bercerai secara baik-baik ibu pikir itu benar tapi ternyata...”
lagi-lagi ibu menangis, menangis untuk akhir kisah cintanya dan pernikahannya yang gagal, dan menangis untukku dan juga Chan yang terluka karena pilihannya yang salah.
__ADS_1
‘sekali lagi maafkan putrimu ini ibu.’