
“aaaaaaa!!! Sakit!!”
Dimulai dari kontraksi, setiap pembukaan mulesnya luar biasa. Rasanya gue mau mati, ibu sama ibunya Chan terus nyemangatin gue.
“ibu ini sangat sakit, aku gak kuat!”
“ayo sayang, kau bisa! Kau harus bisa hmm.”
“kepalanya sudah terlihat. Ayo dorong lagi!”
tenaga gue rasanya udah habis, tapi gue gak boleh nyerah gue harus kuat walaupun gue harus mati.
Suara tangis bayi memenuhi ruangan persalinan badan gue lemas nafas gue naik turun rasanya nafas gue udah mau habis, akhirnya....
“dia sangat sehat dan tampan, selamat bayimu laki-laki.”
Kedua ibu ini sangat bahagia, ibunya Chan akhirnya punya cucu laki-laki, ibu juga akhirnya punya cucu laki-laki, dan gue juga bahagia karena keinginan gue dan Chan punya anak pertama laki-laki terkabul.
Gue terbangun setelah gue ada di ruangan setelah persalinan gue langsung tertidur saking capenya, Chan sudah kembali dari Busan setelah menghadiri festival.
“maaf karena aku tidak bisa menemanimu. Aku sangat menyesal, dan terima kasih karena kau telah berjuang melahirkan pangeran kecil kita. Kau hebat!”
Chan mencium kening gue, “karena kau tidak menemaniku melahirkannya, jadi saat malam kau yang harus mengursnya.”
“tentu saja. aku akan lakukan apapun untuk Zeno.”
"Zeno?"
“kau ingin menamainya Zeno kan? Park Zeno.” Ucap Chan seraya tersenyum lembut.
__ADS_1
“kau tau? Padahal aku tidak memberitahumu.”
“jangan remehkan aku. dia sangat tampan, sangat sehat. Dia sangat mirip sepertiku.”
“kau taukan bagaimana aku sering kesal padamu. wajar saja kalau dia sangat mirip denganmu.”
Chan terkekeh geli, selama hamil memang gue jengkel banget sama Chan, bahkan gue pernah cemburu sama Bekkie karena Chan lebih fokus main game daripada sama gue.
Suara tangisan Zeno memenuhi ruangan, ibu menggendongnya dan memberikannya padaku.
“sepertinya dia lapar, kau harus memeberinya ASI.”
Meskipun awalnya Zeno kesulitan tapi akhirnya berhasil juga, ”ya ampun kau sangat kuat, apa kau benar-benar lapar?”
“sekarang aku harus berbagi.” entah Chan menatap Zeno yang sedang khusu meminum asinya atau arah yang lainnya,
“Lebih kuat mana aku atau Zeno?” ucap Chan setengah berbisik,
“aku akan mengambilnya lagi nanti.”
Entah gue harus bereaksi bagaimana, padahal sebelum Zeno dia sudah puas lebih dulu... ya ampun!
Sekembalinya dari rumah sakit, kerabat dan teman gue juga Chan datang ke rumah sehingga suasana jadi ramai.
“hyung, dia sangat lucu!” ucap Shen, gue yakin dia pengen banget menguyel-nguyel pipi Zeno.
“hebat sekali kau hyung bisa membuat bayi selucu ini.” ucap Kei sembari menatap gemas baby Zen, Chen dan Xi juga melakukan hal yang sama, sesekali mereka mengelus pipi Zeno.
“selamat ya! Kau sudah jadi ayah. Selamat bergadang!” Bekkie memberikan kado untuk baby Zen pada Chan.
__ADS_1
“Hyerim cepat pulih ya, kalau dia sudah besar sesekali ajak dia ke dorm ok?” ucap Seho
Gue ngangguk, meskipun banyak orang yang berbicara dan mengelus-ngelus pipinya berkali-kali Zeno masih tetap saja pulas di gendognan ibunya Chan.
Gak kerasa Zeno udah berusia 2 bulan, berat badannya semakin naik dan Zeno belajar menyamping. Setelah memberinya ASI sampai tertidur gue membaringkannya di kasur, melihatnya tertidur pulas gue jadi ikutan ngantuk. Gue sama sekali gak diijinin masak, nyuci, beres-beres sama Chan, dia ingin gue fokus jagain Zeno dan istirahat.
Entah yang keberapa kalinya gue nguap, mata gue mulai berasa berat padahal ini masih jam 10 pagi, ah~ terserahlah gue tidur aja. gara-gara Zeno sering bangun tengah malam sampai jam 2 atau 3 pagi gue gak bisa tidur lama dan nyenyak kaya dulu lagi.
Gue bangun meregangkan tubuh karena pegal, semenjak Zeno ada gue jadi gak bisa bebas dalam posisi tidur. biasanya posisi tidur gue gak karuan kini gue harus hati-hati banget. Memang iya kalau malam Zeno tidur dalam box bayi, tapi kalau semlaman gue gadang gimana? Kalau siang Zeno selalu tidur di kasur, sebenarnya Chan juga sering bantuin kalau tengah malam, tapi kalau dia udah pulang larut gue gak tega bangunin dia.
Gue melihat ke arah tempat tidur Zeno, “kemana dia?” gue panik Zeno gak ada di tempatnya, di sekitar kamar dan tempat tidur gak ada,
Chan juga belum pulang karena jadwalnya sampai sore. Apa pembantu membawa Zeno?
Gue keluar dari kamar dan dengan segera menuruni tangga ke arah dapur tapi langkah gue terhenti dan perasaan gue langsung lega liat Zeno di dalam gendong Chan. Awalnya dia takut menggendong Zeno, tapi lama kelamaan dia bisa juga. Sekarang Chan sedang belajar cara memandikan Zeno.
Chan tersenyum sambil sesekali berbicara sendiri, dan itu membuat gue juga ikut tersenyum. Orang bilang kalau lagi ngomong sama bayi baru lahir tuh seperti orang gila, soalnya bicara sendiri.
“kau sudah datang?”
Chan melihat ke arah gue, “aku panik saat melihat Zeno tidak ada di tempat tidur.”
“maaf, begitu masuk kamar aku lihat Zeno terbangun. Aku tidak mau mengganggu tidurmu karena pasti kau ngantuk sekali. Jadinya aku membawa Zeno keluar kamar.”
“uuuu~, suamiku pengertian sekali. Katanya kau pulang sore?”
“syutingnya selesai lebih cepat, aku juga sudah tidak tahan ingin sekali bertemu Zeno.”
__ADS_1
Kami berdua tersenyum melihat Zeno menatap kami bergantian, “di gendong daddy iya? Anak pintar kau sama sekali tidak pernah menangis saat bangun.” Gue mengusap pipi chubbynya dengan lembut.
Kebersamaan ini adalah momen terbaik gue selanjutnya, kehadiran baby Zeno yang membawa kebahagiaan di keluarga kecil gue, dan gue juga bersyukur banyak banget orang yang bahagia karena hadirnya baby Zeno, dan gue juga berterima kasih karena do’a terbaik yang mereka berikan untuk Zeno dan keluarga kecil gue. gara-gara Zeno, Chan juga jadi lebih sering di rumah meskipun dia capek dengan pekerjaannya gue bersyukur dia selalu ada dan siaga banget. Sehat-sehat terus ya kedua jagoan gue.